Kisah Para Pemabuk

Saat malam minggu tiba, para pemuda di desaku biasanya bergadang hingga hampir larut malam. Kami berkumpul di sebuah tempat yang dulu digunakan sebagai pos dari salah satu partai politik saat musim pemilu tahun 1999 yang lalu, yang terletak di sebelah pojok perempatan desaku. Di tempat itu biasanya kami hampir sepuluh orang bermain domino, catur, atau karambol sembari bercanda hingga kami lupa waktu. Namun malam ini ada yang berbeda, kami hanya bertiga saja. Aku, Salim, dan Agus. Sementara itu Amir, Udin, serta sahabat-sahabat kami yang lain entah kemana mereka malam ini, mereka sama sekali tidak menampakan batang hidungnya.
“Sepertinya mereka sedang kelelahan sep, merekakan sekarang seperti kakak iparmu juga, ikut menggarap proyek pembangunan gedung yang minggu ini katanya akan diresmikan itu.” Kata Salim setelah aku menanyainya.
“Dari pada bengong bagaimana kalau kita main domino atau catur saja.” Timpal Agus yang dari tadi diam.
“Ok.” Aku dan Salim menyetujuinya.
Sahabat-sahabatku kini memang mulai jarang keluar malam, rutinitasnya sebagai kuli bangunan dari pagi hingga menjelang adzan maghrib memang sangat menguras tenaga. Tapi tak mengapalah, paling tidak mulai saat ini satu-persatu pemuda disekitar kampung kami tidak lagi menjadi pengangguran. Mereka kini memiliki pekerjaan baru, semenjak lahan sawah milik Pak Darto dibeli oleh investor dari Ibu Kota dan mulai ditanami besi-besi yang menjulang ke atas, banyak dari sebagian masyarakat di kampung kami yang sangat mensyukuri akan hal ini, sebab investor dari Ibu Kota itu telah membuka lahan pekerjaan baru bagi mereka. Meskipun proyek pembangunan gedung itu dijadwalkan hanya tiga bulan saja, namun paling tidak setiap sabtu sore mereka kini menerima bayaran yang cukup lumayan, itu jika dibandingkan dengan hanya menjadi petani.
Sayang sekali aku bukanlah termasuk dari salah satu pemuda yang beruntung, kata kawan-kawan dan keluargaku. Sebab aku tidak ikut bekerja menjadi kuli bangunan yang menanam besi dan tembok yang tinggi itu. Aku masih lebih memilih menjadi petani yang senangnya bukan main ketika musim panen tiba, namun sedikit bingung ketika musim tandur, karena uang hasil panen sudah habis satu minggu sebelumnya. Bahkan dulu Emakku juga pernah menannyai hal ini.
“Kamu nggak ingin seperti Mas Fais, sep? Ikut kerja di proyek pembangunan gedung.”
“Kalau Asep ikut kerja di situ, lalu siapa nanti yang akan menggarap sawah mak.”
Emak pun menyadari hal ini, sebab enam tahun yang lalu Abah telah menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya, maka aku pun harus menggantikan Abah pergi ke sawah. Padahal, jika Abah masih hidup aku juga memang kurang berminat untuk bekerja di proyek pembangunan gedung itu.
***
Tiga bulan bukanlah waktu yang lama, proyek itu kini sudah akan mulai selesai. Tanah lahan para buruh tani yang begitu luas kini telah disulap menjadi bangunan yang kokoh dan tinggi. Panen uang dengan jumlah jutaan sudah siap digelar, tinggal menunggu hari peresmiannya saja. Bahkan menurut cerita yang berkembang di masyarakat, acara peresmian itu akan dihadiri oleh salah satu orang penting dari Ibu Kota. Hebat bukan, kampungku yang jauh dari peradaban kini mulai dilirik oleh orang-orang elit dan berduit. Katanya, kampungku ini sudah berada diambang pintu kemajuan. Setelah proyek ini selesai, para investor itu juga akan membangun beberapa gedung-gedung yang lebih tinggi dengan berbagai macam fasilitas.
Beberapa hari kini telah terlewati, peresmian gedung itu siang ini akan segera dimulai. Namun disela-sela waktu pelaksanaan peresmian, ternyata masih ada beberpa kaca fentilasi yang masih belum terpasang. Sebab itulah pagi-pagi betul Mas Fais sudah keluar rumah dan menuju tempat dia bekerja. Mas Fais adalah kakak iparku yang juga ikut bekerja menggarap gedung itu, tiga tahun yang lalu dia menikahi kakak perempuanku, Mba saroh namannya, dan mereka berdua kini telah dikarunia seorang putra. Pagi ini Mas Fais terlihat sangat tergesah-gesah, dia aku sapa saja sepertinya tak mau.
“Mau kemana Mas.” Tanyaku.
Mas Fais tak menjawabnya, dia terus saja berjalan sembari melambaikan tangannya kearahku, aku pun kembali meneruskan duduk di jerambah rumah dan menikmati segelas kopi hitam bikinan Emak.
Ini bukan dimusim hujan, langit pun nampak begitu terang. Namun tiba-tiba pagi ini air dari lagit perlahan membasahi tanah di depan rumahku. Aku kira suasana seperti ini adalah penambah rasa nikmatku meminum kopi dan menghisap rokok sembari menghayal tentang kesuksesan masa depan. Namun tiba-tiba lamunanku dibuyarkan oleh seorang wanita yang berlari kencang menghampiriku dan meminta tolong. Perasaan takut dan gugup terlihat dari wajahnya. Kedua matanyapun terlihat mulai berkaca-kaca.
“Ada apa Mba Saroh?” Tannyaku penasaran.
“Mas Fais di gedung itu sep.”
“Iya, Mas Fais di gedung itu kenapa Mba?”
Mba saroh tak menjawab pertanyaanku, dan dia pun tak mampu lagi membendung air matanya. Suara isak tangisnya pecah bagaikan suara petir yang menyambar hatinya. Emak yang dari tadi di dalam rumah keluar menghampiri kami. Sementera itu aku sendiri juga masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan Mas Fais.
Lho, ada apa ini? Saroh, kamu kan tadi pamit mau ke pasar.” Tanya Emak penuh penasaran.
Melihat Emak di sampingku, Mba Saroh buru-buru memeluk beliau. Dipelukan Emak, tangisan Mba Saroh terdengar semangkin lirih. 
“Mas Fais mak, dia jatuh dari gedung itu.”
Setelah mendengarkan apa yang dikatan Mba saroh kepada Emak, tak mau menunggu lama aku pun bergegas pergi melihat keadaan Mas Fais. Meskipun mentari nampak begitu terang, namun ternyata gerimis pagi tadi masih menyisakan dinginnya untukku, dan tubuhku pun mendadak gemetar. Aku berjalan pelan-pelan menghampiri Mas Faiz, begitu terkejutnya saat aku berusaha membalikan tubuh Mas Faiz, ternyata ruh yang selama ini berada dalam tubuh Mas Faiz telah keluar dari sangkarnya. Di atas pangkuanku, aku tutup kedua bola mata Mas Fais, dan dengan nada yang lirih serta diiringi tetesan air mata aku pun mengucapkan kalimat tarji’.
Innalillahi wa inna ilairoji’un
Tak lama setelah itu, Mba Saroh dan beberapa orang sudah berada di belakangku. Mereka membantu mengangkat jenazah Mas Fais, ada juga sebagian dari mereka yang masih berada di depan gedung, membersihkan bekas darah yang masih berceceran.
“Kamu urus jenazah masmu saja sep, ini nanti biar aku dan Udin yang membersihkannya.” Pinta Iwan kepadaku.
“Baik wan, aku pulang dulu, terimakasih yah.”
Awan hitam menyelimuti hati Mba Saroh dan putranya, seorang lelaki yang selama ini mereka cintai telah mendahului pergi meninggalkannya. Setibanya di rumah kami pun memandikan, mensholati, dan melantunkan beberapa kalimat do’a yang dipimpin oleh Kiai Sholeh. Suara petasan tanda peresmian dibukanya gedung tersebut ikut mengiringi kepergian Mas Faiz menuju pemakaman untuk disemayamkan. Begitu juga dengan suara isak tangis dari orang-orang yang mencintainya. Keranda jenazah berhenti sejenak menanti rombongan mobil-mobil mewah melintas menuju gedung itu.
***
Beberapa tahun setelah kepergian Mas Fais kampungku kini sudah tidak seperti dulu lagi. Hijaunya padi yang terhampar luas kini telah digantikan oleh perumahan dan gedung-gedung milik para tuan pemodal. Sudah tidak ada lagi tanah lapang tempat putra-putri kami bermain. Untuk sekedar bermain bola saja mereka kini harus mengeluarkan uang sebagai ganti dari ongkos sewa gedung futsal. Beningnya air sungai tempat dulu kami memancing ikan pun sudah tak nampak lagi, tertutup oleh jejeran ruko. Pasar tempat Emak dulu berjualan kamir dan bolu kukus lambat waktu mulai sepi, mereka lebih senang pergi ke Mall dan Swalayan. Inilah  kampungku, yang kini telah memasuki ambang pintu kemajauan. Para pemuda dikampungku pun tak seramai dahulu, satu persatu dari mereka harus merantau bekerja di Ibu kota sebab sudah tidak ada lagi proyek yang mereka bangun, dan minimnya lahan sawah yang mereka garap. Diantara luasnya lahan sawah yang pernah ada dikampungku, satu-satunya yang tersisah adalah milikku sendiri, itupun hanya beberapa petak saja.
Di pagi yang cerah ini aku masih seperti dulu, selalu duduk di jerambah depan rumah sembari menikmati kopi bikinan Emak, dan sesekali asap putih dari rokok yang aku hisap membumbung kelangit besama sejuta harapan dan hayalan tentang kesuksesan di masa depan. Namun tiba-tiba aku teringat apa yang dulu pernah dikatakan oleh Abah. Bahwa diakhir zaman nanti manusia akan berlomba-lomba untuk membangun gedung-gedung yang tinggi, pertokoan berjejer berdekat-dekatan, lahan pertanian sudang jarang kita jumpai. Bukit-bukit yang tinggi dikeruk habis, dan hutan pun dibakar untuk kepentingan pembangunan. Hingga alam tak mampu menanggung derita. Pada saat itulah, badai bencana datang tak mampu terbendungkan, nyawa manusia pergi dalam jumlah yang mengerikan. Ini semua sebab ulah para pemabuk kekuasaan.
“Mas Fais. Mungkin Abah benar, dan nanti engkau tidak akan sendirian. Karena sebentar lagi nyawa manusia akan pergi dalam jumlah yang mengerikan.” Gumam dalam hatiku sembari menghisap rokok.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Kisah Para Pemabuk"

Posting Komentar