Aroaytalladzi Yukadzzibu Biddiyn (Murod-Alim #6)

"Ko bisa sampai kaya gini si roood roood. Muharrom muharrom gini bukannya malah tirakat kenapa malah jadi kaya gini roood".
"Ebay kamu yim, byaza aja, hehehe. Aduh duh jangan di teken juga ndesh".
Muka Murod bonyok, bibir sisi kanan bawahnya sobek, pipi kanannya melar lebam biru, dan mata kirinya bengkak hampir tertutup separuh, mata kepalan tangan kanan-kirinya mengelupas, babak belur pokoknya. Untung ada Kang Mus yang entah memungut Murod darimana. Geram, marah, jengkel kenapa ada yang berani mengusik sohibku satu ini.

"Ini gimana Kang ceritanya, dia keluar bareng sampean? dia bikin ulah sama siapa? umm, engg, anu, emm, pokoknya saya terima kasih njenengan sudah menyelamatkan Murod".
"Aku cuma ketemu di pesawahan mas Lim, niatnya mau ke Pondok Yatama di sana, terus ada rame-rame. Mas Murod malah lagi duduk nyandar pohon dikerumuni warga, minum air mineral, sudah babak belur".
"Berarti njenengan tidak tahu kronologinya mas?".
"Udud yiim, uduuud". Murod bangun, bersandar di tembok lesehan warung Yu Sumi. Kami berdua miris melihat wajah Murod, dia malah cengengesan minta rokok, padahal bajunya sobek-sobek dan ada cipratan darah banyak di sarungnya. Murod tidak peduli dengan pandangan kami, malah mengambil rokokku. "Kowreeek, kowreeke ndi?"
"Jian raimu, sudah bonyok tetap saja banyak tingkah"
"Sing pwenting UDIN, udud dingin"

Satu batang sudah di bibir lebamnya, dan terpaksa pula aku membantu dia menyulut rokok tersebut. Dia menghisapnya dalam-dalam dan ngesesssss mengeluarkannya.
"Kiye tembe suwargaaa, hehehe. Uhuk-uhuk"
"Modiar raimu rod, udah babak belur masih saja cencang-cenceng" Murod tidak menggubris, malah asyik sendiri menyanyikan tembangan sluku bathok.

Kang Mus menarik bajuku, isyarat ada yang mau disampaikan, aku mengikuti Kang Mus. "Kata salah satu warga, Mas Murod gelut Kang"
"Masya Allaaaah, ngapain juga dia, kalau Kyai Khasan sampe dengar Murod bisa kena hukuman berat karena itu Kang"
"Nah itu bagianmu yang menjelaskan ke Kang Masku. Kata warga, Mas Murod berantem sama preman kampung situ, awalnya mereka cuma bertiga, tidak tahu gimana masalahnya, tiba-tiba ribut sama Mas Murod, dan si Parjo langsung menyerang Murod"
"Parjo??? yang biasa ngajakin tawuran anak kampung itu? yang kalau main bola sering ngajakin berantem santri kang? Parjo itu?"
"Iya, parjo itu"
"Gendeng, edan, kenthir, ngapain juga murod bikin masalah sama Parjo"
"Nah itu dia! Parjo nyerang Mas Murod, tapi si Parjo malah yang dibikin main-main katanya, tidak ada satu pukulan atau tendanganpun yang berhasil mendarat di tubuh Mas Murod. Dua temen Parjo lari, waktu Parjo sudah kehabisan nafas mas Murod langsung serang balik, pas ulu hati tepat dan jatuhlah Si Parjo" Aku bingung, lantas bagaimana Si Murod sampai babak belur seperti ini.
"Disitulah Mas Murod lengah, dan tidak bisa lari katanya, karena dibelakangnya ada dua santri kecil seumuran anak SD. Dua orang teman Parjo yang lari ternyata bawa empat orang lagi, Mas Murod dikeroyok. Mas Murod ndak bisa lari, akhirnya milih ngadepin mereka semua, blas belum ada orang, cuma satu saksinya karena kebetulan bapak itu lagi ngarit".
"Astaghfirullah, aku ga terima asli Kang, tapi ngapain juga Murod bikin masalah sama Si Parjo? arrrgh! Yasudah yang penting Murod berhasil diselamatkan Kang, itu sudah lebih dari cukup".
"Kebalik Mas Alim". Aku mengerenyit bingung.

Assalamualaikum.
"Wa'alaikumussalam" Kami menjawab salam Pak Pi'i, beliau salah satu petugas kepolisian yang tinggal di kampung kami. Umurnya jauh lebih tua ketimbang Kang Mus, dan masih familiy dengan Yu Sumi. Pak Pi'i melongok ke dalam, mencari sesuatu sepertinya, beliau datang berseragam lengkap ke tempat ini.
"Gimana lek Pi?"
"Bentar, Ponakanku mana? Murodnya mana juga Mus?"
Aku khawatir kalau-kalau urusan ini bakal ruwet. Ada Pak Pi'i berarti bakal berurusan dengan pihak Kepolisian.
"Sumi masih di pasar  lek, kalau Murod lagi rokokan didalam"
"Hahaha, cah edan! Sumpah Edan! Kalau orang lain pasti sudah mati"
Aku tersinggung dengan ucapan Pak Pi'i.
"Jangan ngucap gitulah pak, dia sohib baikku soalnya, umur dia harus panjang"
"Lho? salah paham kamu Lim. Maksudku kalau orang lain preman-preman itu sudah mati pastinya, aku datang telat saja, bakal repot ngurusi kasus ini"
"Maksudnya Pak, kok malah preman-preman itu?"
"Warga melapor ke rumahku ada keributan, katanya ada tawuran, aku langsung menuju kesitu setelah kontak kantor minta bantuan Lim. Sampai disana malah pemandangan yang kulihat justru adegan film silat. Salahku juga malah terbengong, tak kira siapa? ada pemuda bermuka bonyok lagi ngelawan tiga orang sekaligus, ternyata pemuda itu Murod dan Salah satu dari tiga itu Si Asu Parjo!" Aku menghela nafas panjang menyimak.
"Ternyata juga ada empat orang lainnya kesakitan tersungkur, sumpah kaya film silat. Murod jatuhin dua orang sekaligus dengan cepat. Pertama yang satu terpukul telinganya, waktu dia bingung Murod langsung jambak kepalanya dan dihantamkan muka satu itu ke dengkulnya, sangat cepat. Satunya sama, waktu mau bantuin temannya yang dihajar oleh Murod, malah Murod berbalik langsung pukul lehernya sekali dan dilanjutkan berkali-kali, hancur mungkin sekarang tulang leher orang itu"
Pak Pi'i sangat bersemangat dan antusias menceritakan kejadian yang dia lihat, bahkan Pak Pi'i mempergakan adegan perkelahian itu dengan gesture tubuhnya, dan aku yakin itu tanpa dia sadar.
"Kemudian yang terakhir si Parjo, yang paling apes bisa dibilang, Murod kaya kesetanan, dia NYENGIR,  asli Nyengir pas mukulin si Parjo, bukan di bagian muka tapi di bagian perut berkali-kali berulang kali, telat sadar dikit aja buat misah Murod, mati pasti si Parjo!!! Aku aja hampir kena pukul, tapi Murod langsung sadar, walaupun giginya masih terlihat jelas karena dia masih nyengir. Baru setelah mobil operasi datang kami bawa tujuh orang itu, Parjo pingsan. Dan aku titipkan Murod ke warga"
"Terus kelanjutannya sekarang gimana Lik?"
"Kalau salah satu keluarga dari tujuh orang itu ada yang menuntut Murod bakal panjang urusanny Mus, sekarang mereka bertujuh di rumah sakit. Ah ya, saya perlu ngomong sama Murod, kalian disini dulu sebentar"

Pak Pi'i masuk kedalam menemui Murod, Kang Mus memilih menata warung sedang aku sendiri bingung tak karuan, cemas dan khawatir. Setelah beberapa menit Pak Pi'i keluar dengan wajah cemberut.
"Gimana Pak?"
"Mus mana lim?"
"Lagi beli Gas pak, Murod gimana Pak?"
"Temenmu satu ini ko njengkelin ya?"
"Lho maksudnya pak?"
"Tak suruh cerita malah di balik ngajarin saya, kan sinting. Katanya kalau nama dia muncul di BAP (Berita Acara Perkara) dia bakal minta ijin Kyai Khasan untuk tapa geni di polsek 40 hari 40 malam, dan bakal ngusilin seluruh petugas kantor setiap harinya. Kan jangkrik! Kamu tahu sendiri Murod kalo sudah jahil kaya apa kan?" Aku cuma nyengir kecut mengangguk. Pak Pi'i pamit menuju kesibukannya kembali. Antara miris dengan kondisi Murod tapi juga heran sejak kapan Murod jago kanuragan, lawan tujuh orang? sekaligus?  menang? Ah, yang terpenting saat ini aku harus melapor ke Kyai Khasan.

***
Keesokan paginya Murod yang masih bonyok itu malah mencermahi Maman dan Sholeh. Padahal mereka berdua datang ke rumah Kang Mus untuk membesuk Murod. Awalnya ntah bagiamana Si Maman terlihat bahagia melihat keadaan Murod. 
Mau ngomong apa lu Man?"
"Kaga cong! cuma mau bilang, kalau mau operasi plastik ati-ati, banyak yang palsu, ntar jadinya KAYA MUKA LU COOONG! hahahaha"
"Eitdaaah, mending gue Man, oplas, operasi plastik, lha Elu, lahirnya aja udah jadi kresek lu!"
"Nah kamu juga leh"
Soleh terperanjat kaget, dia masih malu atas kejadian beberapa hari yang lalu dan memilih menghindari Murod, Aku dan Kang Mus, katanya dia mau nenangin hati dulu agar identitas Kang Mus tidak bocor ke santri lainnya. Tapi hari ini dia muncul dengan Maman karena kukabari kalau Murod sedang sakit dan beristirahat di rumah Kang Mus. "Kamu sendiri kenapa tidak pernah menelaah jawaban adzan, di lafadz hayya 'ala sholah, hayya 'ala falah, kenapa justru hanya di dua itu kita malah menjawab LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH, dan apa pula makna Hayya 'alal Falah yang justru menjadi lafadz adzan?"
"Duh, salah lagi, aku udah diem sejak datang tadi lho Kang" 
Murod berganti melirik Maman, "Gimane temen lu man, pesimis banget ngadepin idup, lanang kok galauan, semangat dong, yang penting hepi, gitu kan man?" Dengan nada datar, rendah dan ogah-ogaham Maman menjawab "Bodo amat cong! gua do'ain biar lu cepet boyong dari pondok ini biar idup gua tenang lagi"
Murod malah terkekeh, Maman manyun, dan Soleh mikir keras mendengar pertanyaan itu, duduk khusyu' didepan Murod yang masih bonyok.

Disebelah kanan Maman ada koran hari ini yang Soleh beli pagi tadi. Dihalaman depan, headline berita utama koran tersebut tertulis :

"7 ORANG PREMAN KAMPUNG DIBEKUK POLISI KARENA SERING MEMALAKI SANTRI PONPES YATAMA."

*Muhammad Fatkhul Bary Lu'ay

Postingan terkait:

1 Tanggapan untuk "Aroaytalladzi Yukadzzibu Biddiyn (Murod-Alim #6)"