Dipindah Ke Mars (Murod-Alim #4)

"Masih bingung mas Soleh?"
"Iya Kang Mus, karena jujur saya juga baru sadar kalo di qur'an baik tidak hanya pada kata Solih"
Kang Mus tersenyum, kang Alim asyiq menyeruput kopinya, sedang Kang Murod yang memberiku pertanyaan, malah sibuk menjahili Maman dengan menawarinya rokok ala rayuan SPG-SPG manja, yang padahal Maman tidak merokok sama sekali. 

"Kebaikan itu bermacam-macam leh" Kang Alim angkat bicara.
"Ada kebaikan yang menurutmu baik tapi menurut orang lain tidak baik, begitupula sebaliknya, menurut orang lain baik menurutmu tidak baik. Itulah khoir, yang mana tidak semua orang sependapat dengan hal tersebut. Islam itu khoir, tapi tidak semua orang sepakat akan hal itu."
Aku mencernanya pelan-pelan.
"dan dari situ kebaikan juga ada dua, bersifat mutlak dan tidak leh"
Kang Murod mulai menambahi
"Syurga, apapun maknanya dan bagaimanapun orang menerjemahkannya, syurga adalah kebaikan yang tidak bisa ditolak oleh semua orang, itu kebaikan  mutlak. Adapun kemudian muncul banyak sekali perspektif antara yang percaya akhirat atau kehidupan setelah mati, ada atau tidak ada, setiap orang akan selalu merasa bahwa moment terbaiknya adalah syurga baginya."
Lho? ketinggian ini Kang, aku baru kelas satu aliah, sudah diajak bahas yang berat-berat seperti ini.
"sedang yang ada ikhtiyar didalamnya, adalah kebaikan yang tidak mutlak. Seperti harta itu baik tergantung bagaimana kamu memposisikannya"
"Berarti KTP Khoir dong cong!!"
Maman tiba-tiba merespon penyampaian Kang Murod, semua bingung menangkap maksud Maman.
"Detail Man, jangan asal njeplak lu, ga da ta'dzyimnye yeh lu ma senior, panggil gue Bang Murod! gua gibeng jadi bakwan lu"
"Ga usah make dialek betawi deh, logat lu jawa Cong, absurd!"
Maman dan Kang Murod malah menjadi bocah saling lempar cabe dari gorengan didepannya.
"Sampun, coba jelasin Man" Kang Mus menengahi.
"Maaf kang, gemes tiap kali saya liat Maman soalnya"
"Ebusseh, lu kira golek!"
"Anggep sekarang saya petugas kelurahan Man, lu mau bikin KTP,  lu jelasin khoir versi lu kaya apa didepan saya, petugas kelurahan lho inget!"
"sape takut, pura-pura ini! Ehemmm"

Maman mengatur posisinya duduknya, Kang Murod juga duduk tegap, mengikuti pose maman.
"Ya, nomor antrian ke sepuluh, saudara Maman, keperluan membuat KTP silahkan masuk"
Awoooh, terlibat adegan apa aku ini, apa memang seabsurd ini Kang Murod dan Maman, tapi, Kang Mus malah nyengir lebar dan Kang Alim cuma cekikan melihat kedua temannya itu. Bukan malah menyampaikan kebutuhannya, Maman malah menggebrak meja, semua kaget kecuali pegawai kelurahan yang tetap tenang. Kang Murod maksudku.
"Ada yang bisa saya bantu!" mendadak Kang Murod berbicara dengan suara ala bapak-bapak pejabat.
"Kenapa saya yang harus kesini! Kenapa KTP tidak dibagikan saja dengan langsung mendatangi rumah ke rumah?"
Aku, Kang Mus dan Kang Alim mengerenyitkam dahi. Menarik!
"Lho? maksud saudara apa? bukankah yang butuh KTP saudara?"
"Coba bapak pikir, bapak pernah lihat peternakan Kambing?"
"HOOOH, PERNAH pastinya, sering malah, tapi apa hubungannya?"
"Si Pemilik Kambing akan mendatangi kandang,  kemudian memberikan tanda dileher kambing satu persatu kepada kambingnya, padahal kambing tidak butuh itu. Sama kaya KTP, rakyat tidak butuh itu, Negaralah yang membutuhkannya, lalu kenapa kami yang harus kesini? ini Khoir menurut siapa?"

Sekarang aku paham kemana arah Maman mengilustrasikan, Kang Mus menyilangkan tangannya mengangguk-angguk. Kang Alim cuma senyam-senyum menunggu jawaban Kang Murod.
Kang Murod mendongakan kepalanya, melihat ke arah belakang Maman, dan menjawab.
"ANTRIAAAN BERIKUTNYA!!!  NEXT!!!"
Kang Murod menarik nafas dan melanjutkan
"TOLONG JANGAN MASUKAN KAMBING KESINI!!!!"*
Semua pecah tertawa kecuali Kang Murod dan Maman.
"ENTE itu ya CONG! Sumpah nyebelin banget jadi orang!"
"Gini-gini saya ciptaan Allah subhana wa ta'ala Man, LHA KAMU, cipataan siapa kamu???!!"
"BODO AMAAT!!!"
Kami ngakak tak habis-habis. Kang Mus meneguk kopinya, beristighfar, tasbih dan tahmid, kami berempat mengikuti beliau membacanya.
"Nabiyullah Adam 'alahissalam hanya satu kali melakukan kesalahan, satu kali melanggar perintah Tuhan.  Yaitu mendekati pohon terlarang dan memakan buahnya, hanya itu, dan di pindahkan ke Bumi. Sedang kita,  berapa kali perintah yang kita langgar, dengan kesalahan sebanyak itu mau dipindah kemana kita?"
"Mars Kang" Kang Murod nyletuk.
"Mars palalu bau menyan. Ini ni Kang Mus, ga da sopan-sopannya makhluk satu ini, diye aja yang harusnya dipindahkan ke Mars" Maman dongkol
"Udah pernah Man! NASA sekarang menemukan air lho di Mars, dan planetnya pindah di Jawa Tengah, dekat Purwokerto. Saya sudah pernah dipindahkan kesitu, ke BANYU MARS"
"BODOO AMATI!!!! "

*KTP kambing di sadur dari cerita Mbah Nun


Oleh : Muhammad Fatkhul Bary Lu'ay

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Dipindah Ke Mars (Murod-Alim #4)"

Posting Komentar