Napak Tilas Sang Maestro (Murod-Alim #2)


“Tugas kita sebagai santri atau pelajar hanyalah menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, bukan sibuk mencari kesalahan guru-guru kita atau mencari pembenar bagi diri kita, kau ingat peristiwa Kang Murod saat di pesantren dulu? Itulah sebabnya saya tak pernah setuju dengan yang ia katakan, ia terkelabui oleh ke waro’an Kiai Khasan, dan kini ia pun harus menanggung resikonya, kenapa dulu ia tak betul-betul meminta maaf kepada Kiai Khasan, bukankah itu perkara yang mudah. Kepintaran bukanlah jaminan kesuksesan seseorang leh.”


"Benar kata Kang Alim, santri hanya bertugas menuntut ilmu! tapi tentang Kang Murod? au ah"

Soleh terlihat masih merenungkan kata-kata Kang Alim sore itu, tapi kemudian tak ambil pusing, karena masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakannya. Malam ini adalah Khaul pertama abah yai Khasan,  semua santri harus sigap, khususnya bagi santri-santri  senior seperti Soleh, jangan sampai ada tamu-tamu yang datang tapi malah terabaikan. 

***
"Assalamualaikum Gus Muh"
"Bi qudrotillah, alaikasalam Kang Alim. Sedang bebas tugas? "
"Tidak ada yang lebih utama selain penghormatan kulo teng abah Gus, urusan lain sudah dikondisikan dengan para staff"
"Alhamdulillah kalo begitu, dan luar biasa untuk orang sibuk sepertimu tetap menyempatkan hadir"
"Ah tidak sibuk Gus, kesibukan ini juga berkat do'a almarhum Abah dan Njenengan"
Gus Muh berseri-seri wajahnya, bagaimana tidak bahagia? jika ada salah satu alumninya yang kini Allah sedang mengamanahinya jabatan namun dia tidak khilaf ataupun lupa, malah semakin kuat jiwa kesantriannya.
"Nah,  kamu nikmati suguhan-suguhannya dulu Lim,  masih banyak tamu, aku tinggal tidak apa-apa? "
"Tidak apa-apa gus, ah anu gus, emm, anu."
"Tafadhol, sampaikan saja, ada kebutuhan yang ingin kamu sampaikan?"
"Mboten Gus, cuma mau tanya, Murod dimana? "
"Oalaaah,  dia sudah hadir dari dua hari kemarin,  katanya sore ini mau ke makam abah dulu,  curhat bilangnya,  hahahaha"
Soleh tersenyum merepson jawaban Gus Muh.
"Kalau begitu saya pamit menemui Murod dulu Gus"
"Ma'asalamah"

Alim meninggalkan ndalem Pondok. Kemudian berganti busana yang telah dibawakan supir pribadinya. Ia lepas stelan jas yang ia kenakan berganti sarung,  kaos, peci hitam dan sandal jepit untuk menuju makam Kyai Khasan.

Setibanya di pintu makam, setelah uluk salam bagi para ahli qubur Alim malah senyam-senyum sendiri. Jalan setapak yang becek bekas hujan tertutup rapi dengan pasir-pasir sepanjang menuju makam,  sehingga peziarah yang akan kemakam tidak khawatir terpelest atau kotor karena cipratan becek. 
Suara tahlil mulai terdengar dari Pusara Kyai Khasan, ternyata sudah ada beberapa orang yang sedang berziarah, pandangan mata Alim menyisir mencari sesuatu, dan kemudian menghampiri seseorang yang duduk memandang makam dari luar area peziarah. Tubuhnya kekar sedang, tidak kurus apalagi segemuk Alim, mengenakan celana hitam,  kaos putihnya terlihat dekil penuh bekas pasir dan noda becek,  ia mengenakan caping petani, dengan cangkul berdiri disampingnya, memandang makam dengan ekspresi bloon sambil mengepulkan asap samsoenya.

Ketika sudah berdiri didepan pria tersebut sebelum Alim mengucapkan salam si Pria malah dahulu berkata, "ASUUU, aja nutupi mad, kantem kon" 
Alim tertawa terpingkal-pingkal, namun sadar ia berada diarea makam, tawanya segera ia redam dan duduk di samping pria tersebut.
"Bojomu mana?  tidak diajak? Lanang cap apaaaaaa kamu ini, masih sering berantem? laki-laki ga jelas! "
"Beda urusan to Rod,  aku kan baru dikarunia anak pertama,  jadi kasihan anaku kalo harus diajak pergi-pergi jauh"
"Lha diajaknya kesini tu biar dapat berkah pondok, malah kamu hindar-hindarkan, kasihan jadi anakmu ternyata"
"Ah embuh,  ngomong sama kamu ga da seriusnya, males aku"
"Hihihihi, gimana-gimana, ada kabar apa?"
"Lho aku yang harusnya nanya gimana ke kamu"
"Lho lho lho, ko balik nanya!"
"Ya justru kamu yang harus ditanya, bukan aku. Gimana, udah ketemu santri-santri? ketemu Soleh?"
Murod menghisap panjang batang rokoknya
"Belum lim"
"Ko belum? bukannya hari ini akhir ijazah riyadohmu? dulu waktu kita sama-sama sowan, setelah abah yai memberikan ijazah untukku, dan kepadamu bukankah abah yai berpesan kalo pagi hari di hari... "
"Ssssst. Ini! ini yang tidak aku senangi dari kamu, ceplas-ceplos"
"Lha ko aku? kan kamu yang suka ceplas-ceplos, aku datang aja sudah di Asu-asuni ko".

Murod melihat sekitar, beberapa peziarah baru datang, menyapa mereka berdua yang duduk diatas rumput dengan pandangan aneh, dan Alim-Murod malah nyengir sambil membalas "mongggoh"
"Jangan keras-keras bahas itu disini, aku belum mendapatkan mandat apa-apa dari gus Muh, tenang wae, santai."
"Yo ndak bisa santai Rod, ini sudah tujuh tahun, tu-juh tahun sejak kita meninggalkan pondok, dan cerita tentangmu sudah menjadi fitnah yang didengung-dengungkan plus di dongeng-dongeng sampai hari ini. Itu bebanku juga Rod, kenapa harus aku jelek-jelekan juga dirimu? seolah menurut mereka aku yang jadi pahlawan dan kamu yang jadi penjahatnya, seolah barokah adalah jabatan dan perkara-perkara matrliasitik"
Murod cuma melirik.
"Derita loooh, emang gua pikirin"
"Asu tenan cah iki. Kenapa kamu tidak segera konfirmasi ke Gus Muh tentang ijazah riyadoh itu? bahkan yang, emm, anu, emm, jujur aku penasaran Rod,  ko Soleh sampai ga tau kamu sering sliwar-sliwer di Pondok? kamu bisa ngilang sekarang"
"Lho, baru tau kalo aku sakti to? kudeet, kurang update"
"Jangkrik tenan cah iki. Balik ke topik, Jangan nyiksa aku to Rod, segera konfirmasi ke Gus Muh. Puasa keterbalikan ini sudah saatnya disudahi, aku sudah punya anak Rod, khawatirku kalau-kalau nanti dia akan terkena juga  imbas fitnahnya. Dulu abah yai masih ada, ada yang bisa kumintai tolong, mintai wejangan tapi abah yai sekarang sudah..."
"USKUT!!! QULLI KHOIRON AW LIYASMUTH!!!"
Murod menoleh, membentak Alim dengan suara pelan dan menderu, Alim kaget dan kemudian menyesali apa yang telah dia katakan. Sedang mata Murod mulai berkaca-kaca, air mata bisa seketika itu juga tumpah dengan hitungan sepersekian detik.
"KAMU TIDAK ADA!  KAMU TIDAK ADA SAAT ABAH YAI MENGALAMI NAZAKHNYA LIM"
suara Murod rendah, tapi ada kewibawaan luar biasa yang muncul dari suara bass itu.
"AKU DISAMPINGNYA! MEMANGKU KEPALA BELIAU DENGAN LENGANKU, dan menyaksikan betapa ia khawatir terhadapmu, khawatir terhadap seluruh santri-santrinya bila-bila ada yang tidak bermanfaat 'ilmunya, khawatir terhadap masyarakat di desa ini jika kembali bermaksiat seperti sebelum pondok berdiri. KAMU TIDAK ADA LIM!  ABAH KYAI KHAWATIR KITA MENJADI ORANG YANG SOMBONG LAGI TERSESAT! DALAM LAFADZ ALLAH, BELIAU MENGKHAWATIRKAN KITA SEMUA!  SAAT ITU KAMU  KAMU TIDAK ADA LIM!  TIDAK ADA!!"

Tumpah sudah air mata Murod, pandangannya masih tajam menatap Alim dengan air mata, Alim ikut menangis disamping murod atas rasa kehilangan Guru yang mereka cintai. 
Kresek
"Lho Kang Alim? sedang apa disinnn... "
Soleh memicingkan matanya  lagi, melihat laki-laki disamping kanan Alim, berpakaian lusuh, topi caping, cangkul disamping kanannya, tapi garis wajah, rahang serta matanya langsung membuat Soleh mengetahui siapa orang itu.
"MASYA ALLAH!!! KANG MURODDDDD!!!! "
Alim mengusap air matanya, menatap Murod, dan entah bagaimana tidak ada tanda-tanda mata Murod meninggalkan bekas tangis. Murod berdiri, berbisik alhamdulillah yang sepertinya hanya Alim dan Murod yang mendengar tahmid tersebut.
Pria itu melepaskan capingnya, terlihat jelas Pria Gagah didepannya adalah Murod, menyodorkan tangan kepada Soleh mengajak bersalaman, dan mengucap apa yang soleh masih ingat betul sepuluh tahun silam, ketika pertama kali Soleh bertemu Murod; 
"Apa arti Sholih bagimu?"


Oleh : Muhammad Fatkhul Barry Lu'ay

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Napak Tilas Sang Maestro (Murod-Alim #2)"

Posting Komentar