Pacul Ngibrohim (Murod-Alim #7)



Ketenangan beberapa hari ini, karena penduduk Kampung Mangun Rejo sedang terbebas dari ulah-ulah Si Parjo dan kawanannya, tiba-tiba hilang. Dihebohkan lagi dengan huru-hara warga yang akan memberlangsungkan pemilihan kepala desa. Maklum, di kampung, Pemilihan desa bisa menjadi sangat eksentrik dan ekstrem, apalagi jika yang muncul hanya ada dua calon. Secara otomatis pula penduduk akan terbagi menjadi tiga golongan; pertama fanatis si calon nomor 1, kedua fanatis calon nomor 2 dan ketiga si netral yang lebih memilih tidak ikut-ikutan rea-reo tersebut. 

Antar golongan biasanya akan sama-sama saling memusuhi, menghina atau bahkan perang dingin dan saling diam menatap curiga. Mengunggulkan calonnya dan menjelakan lawan idola calon mereka. Padahal waktu itu Kang Murod pernah menyampaikan padaku tentang fenomena-fenomena sejenis iitu diwarung ini : "Jangan jadi generasi multiple choice leh! Yang mau milih aja kamu sudah disedikan pilihan-pilihannya, emang nyari sendiri ga bisa? yang mau milih aja kamu didorong dengan berita-berita yang belum tentu benar, entah Si Calon ini satria piningitlah, ratu adil lah, al mahdi lah, emang ada jaminan informasi tentang itu benar? bahkat terkaitpun seringkali tidak. Dan yang paling parah, kamu disuruh milih diantara dua dengan logika keliru. Keliru banyak, yaitu logika bahwa saat kita memilih nomor 1 otomatis nomor 2 jadi buruk, memilih nomor 2 otomatis nomor 1 jadi buruk. Padahal yang benar adalah, baik 1 & 2 selalu ada kebaikan dan keburukannya di masing-masing pribadinya. Jadi sekarang kamu mau pesen kopi apa teh? sore-sore gini enaknya apa leh?".
"Kopi aja kang".
"Kan generasi multiple choice kamu itu".
"Lho kan pilihannya.... sampean pesen apa kang?".
"Kopi satu sama Jahe satu Yu Sumi, hehehe".

***
"Sendirian aja mas Soleh? Maman mana, biasanya berdua ma dia?".
"Enggeh Kang Mus, Si Maman lagi ada muthola'ah sama teman-teman angkatannya".
"Oooh".
"Kang Murod sama Kang Alim mana Kang?".
Si Qoswah, honda jupul putih tiba-tiba berhenti didepan warung, tapi bukan Kang Murod yang mengendarai, malah  Kang Alim. Beliau terburu-buru masuk, dan bersalaman dengan Kang Mus. "Kang, katanya Murod ditangkap, di balai desa mau digebukin warga, saya butuh sampean nemenin saya kesana". Saya bingung, bukannya Kang Murod baru jadi pahlawan Desa ini kemarin. Kang Mus belum menjawab, reaksi beliau hanya diam menunduk dan beristighfar.
"Kamu segera kesana sama Soleh lim, aku nyusul"
"Sami'na wa atho'na Kang, ayok leh".
"Lho?  ko aku Kang?". Kang Alim menjawabnya dengan menyeret kerah bajuku keluar, kami berangkat menuju balai desa. Dan masih mendengung ditelinga memahami kalimat -mau digebukin warga-.
 
Disepanjang jalan banyak banner-banner wajah calon kepala desa, dan balaidesa tempat kami tuju sudah ramai dengan warga. Kang Alim memarkirkan si Qoswah, menembus kerumunan bersamaku, tapi kami kesulitan masuk kedalam. Dan benar, Kang Murod ditangkap, bekas lebam wajahnya, masih belum hilang sisa dari dagelan silat yang lalu. Dia duduk terikat tambang memutari dada dan perutnya, duduk di lantai, di tengah ruangan balai desa. Disampingnya banyak tumpukan baner2 kecil dan besar bergambar wajah calon-calon Kepala Desa, sobek-robek-rusak.

"KAMU KAN PELAKUNYA?!!! NGAKU AJA KAMU!"
Seorang bapak dengan tubuh cungkring menuding-nuding Kang Murod. Kang Murod tidak menjawab, beberapa warga malah berbisik-bisik simpati, 'lepasin aja harusnya, itu Murod yang nglawan kawanannya Parjo, kasihan dia, wajahnya saja masih memar-memar gitu'
"NGAKU KAMU!!!".
Kang Murod masih diam.
"NGAKUU KAMUUU!!!".
Tetap diam.
"NGAKUUU ROD!!!".
"UDIN PAK!". Kang murod menjawab
"JANGAN BAWA NAMA LAIN!! NGAKU KAMU!!!!"
"UDIN"
"UDIN SIAPA?!!!"
"UDud dingIN pak, baru saya mau ngomong"
Beberapa warga yang berkumpul malah cekikikan.
"WEDDDDUSS RAIMU!!!!
Si Cungkring menyerah, kemudian mengambil sebungkus rokok di saku atas kemeja Kang Murod, setelah Kang Murod mengisyarati tentunya. Mengeluarkan sebatang, meletakannya di bibir Kang Murod dan menyulutnya. Dan adegan kampretpun terulang, Kang Murod nges-seeees panjang. Dengan tubuh masih terikat tali. Sedang aku dan Kang Alim masih berusaha menerobos kerumunan tapi tidak bisa. Kang Murod menjatuhkan rokoknya kesamping.
"Apa bukti saya yang melakukannya pak?"
Seseorang bergegas ke arah Pak Cungkring membawa cangkul.
"INI APA?"
"Cangkul pak, terus?"
"YA INI BUKTINYAAAA!!!" sambil menuding Kang Murod dengan cangkul yang dia pegang.
"Lho??  bapak gimana? ITU BUKTI APA CANGKUL?!!!"
"YA INI CANGKUL!!  TAPI INI BUKTINYA!!!"
"CANGKUL YA CANGKUL! BUKTI YA BUKTI! GA DA TAPI-TAPIAN! YANG BAPAK PEGANG ITU CANGKUL APA BUKTI??"
Ya cangkul".
"YAUDAAAH!" Kang Murod malah membentak balik ke Pak Cungkring, dan lagi-lagi beberapa warga malah cekikikan.

Kemudian seorang pria berbaju rapi, dengan setelan antara kemeja dan celana kain mendekati Kang Murod, menggantikan posisi Pak Cungkring.
"Mas murod, betul?"
Kang Murod memicingkan mata ke arah pria tersebut.
"Bapak siapa?"
"Saya Jarwo sekdes desa ini, baru satu minggu mengganti carik yang lama"
"Hoooh, iya pak, saya murod"
"Ini cangkul mas murod kan? ada tulisan nama Murod di gagangnya"
Kang Murod tidak perlu memeriksa, dan mengangguk. Atmosfer balaidesa menjadi tenang tapi mencekam dengan kehadiran Si Jarwo disini.
"Jadi benar mas Murod yang merusak baner-baner calon  kepala desa itu?"
Aku melihat kembali baner-baner di sebelah Kang Murod sekali lagi, dan benar itu baner calon-calon lurah desa ini, semua foto calon rusak. Kang Alim cekatan, dia mengambil celah, aku mengikutinya dan berhasil menembus kerumunan. Tapi waktu Alim mau mendekat, Kang Murod menatap tajam ke arah kami, menggeleng, dan memberi isyarat untuk tidak mendekat. Jarwo melirik ke kami sebentar kemudian melihat ke arah Kang Murod kembali.
"Benar Mas Murod yang merusak ini semua? "
Kang Murod tidak lantas menjawab, tapi melihat wajah penduduk Desa disekelilingnya. Kemudian berusaha bangkit, dan berdiri sejajar dengan Jarwo. Mereka berhadapan satu sama lain, ini seperti pertarungan psychology antara dua ahli siasat.

"Kenapa tanya saya Pak Jarwo? Kenapa tidak tanya orang yang ada digambar itu?"
"Mana bisa gambar ditanyai?"
"Saya bilang tadi 'kenapa tidak tanya orang yang ada digambar itu' saja, tanya langsung ke mereka"
"Lho mereka kan tidak tahu urusan ini"
"Itulah! kenapa mereka bisa sampai tidak tahu?"
"YA ITU URUSAN MEREKA,
YANG JELAS SIAPA YANG MERUSAK BANER-BANER INI?" Pak Jarwo naik pitam, Kang Murod malah membungkuk, mengambil rokoknya yang tadi dia jatuhkan, dengan tangan kirinyanya dan mengisapnya kembali. Lho sejak kapan ikatan Kang Murod lepas, Pak Jarwo mundur satu langkah, Pak Cungkring cuma melongo, bingung, melihat tali yang mengikat Kang Murod sudah lunglai dikaki Kang Murod. "Justru harusnya merekalah yang lebih paham urusan ini pak Jarwo, kenapa nanya saya?" Kang Murod santai mendekati, Pak Jarwo semakin mundur, mungkin  karena Jarwo sudah mendengar riwayat pertarungan Murod melawan Parjo dan komplotannya. "Kalau mereka, orang-orang digambar itu, berani berJANJI akan menyejahterakan dan menjaga KEAMANAN di desa ini, harusnya mereka juga BISA MENJAGA KEAMANAN BANNER-BANNER MEREKA!!! kenapa malah tanya saya?" Pak Jarwo sampai jatuh terjengkang ke belakang, dan aku kaget bukan kepalang. Abah Kyai Khasan muncul dari belakangku bersama Kang Mus dan Maman, warga membelah seketika.Waktu kutanya Maman dengan isyart ko bisa bareng Pak Kyai, Maman cuma menunjukan isyarat tangan tanda dia yang nyetir mobil Pak Kyai. Selebihnya Maman cuma geleng-geleng.

Abah Kyai mendekati Kang Murod, menjewer kupingnya yang sedang cencang-cenceng didepan Pak Jarwo. "Aduuu duuuh adu aduuh, ampun bah, ampun, ampuuun". Menggeliat seperti bocah yang hilang kesombongannya. Kyai Khasan masih menjewer Kang Murod, sambil meminta maaf kepada warga dan menghimbau semua warga untuk kembali beraktivitas. Setelah suasana tenang dan warga berangasur pergi, Kyai Khasan melepas jewerannya.
"Kamu ngapain? katanya kamu ngrusak baner-baner pake cangkul? bener kamu yang ngerusak?"
"Eng  nganu bah"
"Opoo? "
"Ngibrohim bah"
Kyai Khasan mantuk-mantuk.
"Yaudah, ayok semua santri pulang. Mus, Man, itu si Murod diikat aja pake tali itu, bawa naik mobil aja pulangnya, biar ndak kabur". Maman yang semangat langsung ngikat Kang Murod
"Mampus lu, mampus lu cong, semoga boyong abis ini lu cong "
bisik Maman ke Kang Murod, kang Murod tidak menggubris
"Eeeeh, ko ngoten bah?" rajuk Kang Murod ke Kyai Khasan
"Lho, katanya ngibrohim?!"
"Terus bah yai? "
"Yaudah, habis ini kepondok, tak bakar kamu rod"
***

*Muhammad Fatkhul Bary Lu'ay

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Pacul Ngibrohim (Murod-Alim #7)"

Posting Komentar