Satu Oktaf Menuju Langit



#Reportase GBN Poci Maiyah 1 September 2017
#teruntuk "SHOHIBU BAITIY" diseluruh jiwa-jiwa manusia.

"Muhammadkan hamba Ya Rabb, Sungguh aku tenggelam dalam ketiadaan tanpa ada yang mengada-ada. Sungguh aku terbangun dalam sadar tanpa mimipi-mimpi yang meniada,  dan tiada itu mengada dalam tanda-tanda tanpa meniadakan lainnya." -Lu'ay

Mengerikan ketika seseorang dituntut harus menjadi seperti sosok Rosulullah, bukankah beliau adalah manusia yang hanya ada sekali dalam satu hitung kehidupan semesta,  pemimpin yang tak akan mampu disamai kepeminpinannnya oleh sejarah dekade abad manapun,  seorang anak yatim juga piatu yang telah disucikan hatinya dan menjadi penengah kabilah-kabilah mekkah atas perebutan hajar aswad di usia mudanya. Al Amin,  Al Mustofa,  Al Ahmad,  Ar Rouf,  dan sederet title terbaik bangsa-bangsa yang disematkan pada diri beliau. Kemudian Kang Nahar mengilustrasikan hal tersebut dengan bahasa "itu kan nabi?"

*** 
Bermula dari sebuah keterlambatan, ketika kebingungan-kebingungan teknis yang tidak berjalan sesuai rencana, kabel, sound system, dan sebagainya. Majelis masyarakat maiyah Tegal,  Poci Maiyah mulai merapalkan mantra-mantra mistiknya diatas mimbar GBN Slawi. Memaksa Menghadapkan diri kembali bahwa tidak ada yang lebih utama selain innassholaatiy wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi Robbil 'alamiyn.
 
Fatihah-fatihah dikumandangkan,  Indonesia raya dinyanyikan,  Sohibu baiti dieja ulangkan dan dipungkasi dengan lir-ilir sholawat badar. Agar dimensi maiyah bisa terbangun seperti kubah besar serta connected langsung pada arsy Allah, dengan disaksikan para makhluk kasat mata entah jin hingga malaikat. Yang bermunajat tetap bermunajat,  yang pontang-panting melobi warung-warung untuk bersedia menyeduh kopi tetap diikhtiari,  yang datang dalam kebingungan tetap melingkar,  yang telah melingkar tetap bergetar dan mengalirkan resonansi do'anya kepada siapapun jama'ah maiyah yang ridho bekerja keras diluar lingkaran-lingkaran. Maaf,  keliru,  salah,  semuanya tetap berada dalam lingkaran. Meski terlihat bukan lingkaran bila menggunakan hukum garis dan sudut untuk mencari phi-nya (Π).  Jika kemudian orang-orang yang duduk diatas tikar diartikan sebagai lingkar maiyah malam itu?  maka ketahuilah bahwa lingkar maiyah jauh lebih dahsyat dari apa yang terlihat,  semua seolah beridiri di titik acak, dengan koordinat yang berantakan, ada yang diatas tikar,  ada yang ruwet pasang kompor mini,  ada yang observasi agar kabel bisa mencapai lokasi sound, ada yang lebih baik makan nasi goreng dulu,  dan seterusnya,  dan seterusnya.  Namun itulah lingkaran maiyahnya,  lingkaran yang bahkan GBN pun hanyut didalamnya.

Adalah Pintu Muhammad menjadi tema bahasan 10 dzulhijah /1 Septmber Malam itu,   yang siapapun akan dimabuk dan tenggelam dalam sosok Agungnya Sebagai Manusia diantara manusia, yang digali sebagaimanapun juga oleh seluruh jama'ah poci maiyah dan saudara-saudara maiyah diseluruh dunia tak akan menemui dasar kedalamannya. 

Alur dimulai dengan perkenalan-perkenalan seperti bulan-bulan sebelumnya,  karena entah bagiamana selalu saja ada manusia-manusia baru yang tersasar di Lingkar Maiyah Poci. Mas Cipto salah satunya,  warga Ngawi yang sedang berdomisili di Tegal turut hadir, "Saya ikut gabung,  karena selama ini saya merasa sendiri bermaiyah di Tegal,  jadi ikut sambung sedulur dengan lainnya" kemudian apakah dia tersesat dalam ketersasarannya adalah do'anya dan Putusan Allahlah yang menitah selanjutnya. Karena jelas,  tidak semua yang kesasar pasti tersesat,  dan tidak semua yang sedang tersesat diakibatkan oleh ketersasarannya. 

Gelembung pertama muncul saat pertanyaan "Pilih apa?  Agama islam atau Nabi Muhammad?" digelontorkan kepada forum, wajah-wajah jama'ah maiyah lamat-lamat mulai mencerna. Mba verra dengan lugas dan cepat menjawab; "Ya pilih Nabi Muhammad,  kalau pilih Nabi Muhammad sudah pasti Agamanya islam,  kalo pilih islam,  untuk hari ini belum tentu ngikutin Nabi Muhammad" dan Mba Lis yang duduk disamping mba verra berma'mum segera menyepakati penyampaian mba Vera, meskipun jawaban tersebut seolah menjadi misteri tersendiri bagi jama'ah dikarenakan setelahnya dua huurun iin itu langsung pamit pulang.

Dialektika forum kemudian berlangsung mengalir deras,  Ingat!  D. E. R. A. S.!!!  bagaimana tidak, Kang Nahar,  selaku elder Poci Maiyah menyentil; "Jika kita mengacu pada lau laka lau laka maa kholaqtul aflak" -Jika bukan karenamu (Muhammad)  sungguh semesta ini tidak akan diciptakan-. Maka apakah ini menjadi final bahwa semua tergantung bagaimana Allah Sendirilah yang Menjadi Penentu Skenario Taqdir Semesta, kenapa harus Pintu Muhammad,  kenapa tidak Nabi-nabi sebelumnya? Salah seorang teman berkata: Aku ini cuma buruh tani,  yang bahkan romadhonpun tetap harus mencangkul, jika kemudian aku harus menjadi berlemah lembut diantara himpitan dunia,  menjadi sabar dan memikirkan banyak orang,  menjadi sauri tauladan ya ndak bisa,  kalo Nabi Muhammad,  itu kan Nabi!!!!
 
Kang pepi menambahakan,  bahwa tema malam itu adalah meneguhkan kembali "Cinta Segitiga" dimana Allah adalah puncak dari segala puncak,  Rosulullah Muhhammad di tepi sisi kiri dan manusia di tepi sisi kanan. Rojak menimpali bahwa ia mengikuti maiyah namun ia menjadi alpha ketika ditanya "apa itu maiyah?" ia memilih menjawab "saya bermaiyah tapi saya tidak tahu apapun tentang maiyah,  apa itu maiyah dan bagaimana menjelaskannya. Karena yang saya ketahui hanya kebersamaan itu didalam maiyah".

Kemudian disambung oleh mas Aji; "Jika ini tentang Pintu Muhammad,  segitiga maiyah,  dan bagiamana mengenal Allah,  maka Muhammad adalah Pintu dari Segala Pintu!" Namun sebelum menjelaskan lebih lanjut Kang Taklim merespon dengan sangat luas,   bahwa Muhammad adalah sosok yang cukup kita telaah saja akhlaknya,  muhammad sebgai manusia terlebih dahulu,  yang juga ikut merasakan sakit dilempari batu di thoif.

*INTERLUDE

Ialah 'Amul 'Khuzni (tahun kesedihan)  sepeninggal Abu Tholib dan istri tercintanya Siti Khodijad RodliyAllahu 'anha Rosulullah hijrah ke thoif dan berdakwah selama 10 hari ditemani oleh putra angkatnya Zaid bin Haritsah.
Setibanya di Thaif, Rasulullah SAW berlangsung menemui para pemimpin dari Bani Tsaqif, yaitu Abdul Yalil, Hubaib dan Mas’ud. Kepada mereka, beliau menceritakan ajaran agama islam dan mengajak mereka untuk menyembah Allah SWT dan meninggalkan penyembah berhala. Namun mereka menolaknya dengan hinaan yang sangat menyakitkan.
Rasulullah SAW tidak putus asa, kemudian beliau berdakwah di Thaif selama sepuluh hari. Namun, tidak ada seorang pun penduduk Thaif yang menerima dakwahnya. Sebaliknya, mereka malah mengusir dan mengejar-ngejar Rasulullah SAW sambil melempari batu. Akibatnya Rasulullah saw. mengalami luka yang cukup parah, betisnya berlumuran darah. Begitu juga dengan Zaid bin Haritsah yang mengalami luka-luka yang lebih parah, dibadan dan kepalanya sebab berusaha melindungi Rasulullah saw. Mereka terus mengejar Rasulullah SAW hingga beliau terpaksa mencari perlindungan di sebuah kebun anggur. Kebun anggur itu milik Utbah dan Syaibah. Keduanya adalah putra Rabi’ah.
Setelah penduduk Thaif tidak lagi mengejar, Rasulullah SAW ditemani Zaid beristirahat dan berteduh dikebun anggur itu smabil membersihkan darah yang mengalir dari lukanya. Pemilik kebun anggur tempat Rasulullah SAW itu melihat dan mengetahui ada dua orang asing sedang beristirahat. Ia menyuruh tukang kebunnya seorang nasrani bernama Addas untuk membawakan setangkai anggur kepada Rasulullah SAW. Ketika Rasulullah SAW menerima anggur tersebut, beliau mengucapkan “Alhamdulillah” dan sebelum makan beliau membaca ”Bismillahirrohmaanirraahim.” Mendengar ucapan itu, Addas merasa heran karena penduduk Thaif belum pernah ada yang mengucapkan kata-kata itu. Addaspun berkata, “Tuan bukan penduduk Thaif. Kata-kata Tuan tadi tidak pernah diucapkan oleh penduduk disini.”
Rasulullah SAW yakin bahwa Addas pun bukan penduduk asli, maka beliau menanyakan negeri asal dan agama Addas. Addaspun menjelaskan, “Saya seorang Nasrani, berasal dari dari daerah Ninawa.”Rasulullah SAW bertanya, “Apakah kamu dari negeri seorang saleh bernama Nabi Yunus?” Addas merasa heran, kemudian ia bertanya lagi, “Bagaimana Tuan bisa mengenal Nabi Yunus?” Maka Rasulullah SAW menjelaskan, “Yunus adalah saudaraku. Ia seorang Nabi dan akupun seorang Nabi.”
Kemudian Rasulullah SAW membaca ayat-ayat al-qur’an yang berisi kisah Nabi Yunus AS. Addas sangat terharu mendengar ayat-ayat yang dibaca Rasulullah SAW karena isinya sama dengan apa yang telah dipelajari dari kitab-kitab terdahulu. Addas pun yakin bahwa orang yang dihadapannya itu adalah utusan Allah SWT. Tanpa ragu-ragu Addas berlutut dihadapan Rasulullah SAW dan mengakui kenabiannya.
Pada waktu rasulullah saw. berteduh di kebun milik Saibah dan Utbah, beliau mengadu dan berdo'a kepada Allah swt. dengan kata-kata berikut ini. "Ya Allah, sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu tentang lemahnya kekuatan diriku dan lemahnya aku di mata manusia. Wahai Zat yang Maha Penyayang diantara para Penyayang, Engkau adalah Tuhan orang-orang yang lemah dan Tuhanku, kepada siapapun Engkau serahkan diriku SELAGI ENGKAU TIDAK MURKA KEPADAKU,  MAKA AKU TIDAK PEDULI DENGAN HAL ITU" dan membuat sedih Jibril serta malaikat-malaikat gunung hingga geram berkata "JIKA ENGKAU MENGIZINKAN KAMI UNTUK MENGHUKUM MEREKA, SUNGGUH AKAN KAMI ANGKAT GUNUNG INI DAN KAMI TIMPAKAN DIATAS MEREKA!!!" namun Sang Rosul berkata "Jangan wahai para Jabar Rohmah, Aku telah memaafkan mereka, mereka berlaku demikian karena mereka tak mengenalku.  Aku meyakini dan berdo'a atas mereka,  jika tidak hari ini mereka beriman kepada Allah,  maka dari tulang sumsumnyalah akan melahirkan anak yang kelak akan beriman,  jika anak-anak mereka tidak lantas beriman,  aku mendo'akan semoga dari cucu-cucu mereka ada yang beriman dan memeluk islam".

***
Kang Taklim memaparkan, dari seorang ustadz yang dia kenal. Bahwa amalan-amalan ibadah manusia tak akan bisa sempurna, sholat,  puasa,  sodaqoh dan ibadah mahdloh lainnya selalu memiliki kekurangan, maka ibarat amalan-amalan itu adalah Sebuah Sarung,  syafa'at Rasulullahlah yang akan menambal lubang-lubang di sarung tersebut.
Kang Mocka lantas mengkritisi,  "apakah kemudian ibadah-ibadah kita percuma?  jika kemudian kita terlalu bergantung pada syafa'at Rosulullah saja?  betapa kasihan Rosul kita, jika kita bermanja membebaninya?"

Dialektika forum berganti wajah seperti gatling gun,  yang mampu menembakan 200 peluru permenit.  Kang aziz mengkritisi kembali;  "kenapa harus menambal?  kenapa tidak mengganti? " dan pemenangnya jika pemandangan tersebut adalah sebuah kompetisi adalah mas wisnu selaku maestro musik poci maiyah,  Mas Wisnu mengajak seluruh jama'ah dengan petikan sihirnya menyanyikan "Sebelum Cahaya" besutan letto,  sebuah musik band dengan vokalisnya bernama "Noe" atau Sabrang Mowo Damar PaNOEluh yang juga adalah putra mbah Nun. 

"Perjalanan sunyi engkau tempuh sendiri
kuatkanlah hati cinta" (Sebelum Cahaya - Letto) 

Diskusi kemudian ditarik kembali kepada benang merah "Segita Cinta" yang akan dipaparkan oleh Kang Peppi,  bukan menjelaskan definisi,  kang peppi memilih jalan maiyah yang tidak linier untuk menjawabnya,  itu zig-zag ketika Kang Pep membaca Puisi "Muhammadkan Hamba Ya Rabbi" karya Mbah Nun. 

Kang Peppi al ikhtiqomi mengajak jama'ah menelisik kata per kata pada puisi tersebut dan lagi-lagi Mas Wisnu mengerjakan magicnya dengan iringan petikan gitar HasbunAllahnya Kiai Kanjeng; 

"Muhammadkan hamba Ya Rabbi!Di setiap tarikan napas dan langkah kakiTak ada dambaan yang lebih sempurna lagiDi ufuk jauh kerinduan hamba, Muhammad berdiri
Muhammadkan Ya Rabbi hamba yang hina dinaSeperti siang malammu yang patuh dan setiaSeperti bumi dan matahari yang bekerja samaMenjalankan tugasnya dengan amat terpelihara
 
Sebagai adam hamba lahir dari gua garba ibundaEngkau tuturkan pengetahuan tentang benda-bendaHamba meniti alif-ba-ta makrifat pertamaMengawali perjuangan untuk menjadi mulia 
Ya Rabbi! Engkau tiupkan ruh ke dalam nuh hambaDengan perahu di padang pasir yang mensamuderaHamba menangis oleh pengingkaran amat dahsyatnyaDan bersujud di bawah bukti kebenaranmu yang nyata
Sesudah berulangkali bangun dan terbantingMerenungi dan mencarilah hamba sebagai IbrahimMenatapi laut, bulan, bintang dan matahariSampai gamblang bagi hamba Allah yang sejatiJadilah hamba pemuda pengangkat kapakMenghancurkan berhala sampai luluh lantakHamba lawan jika ‘pun Fir’aun sepuluh jumlahnyaKarena api sejuk membungkus badan hamba
 
Kemudian Ya Rabbi engkau ajarkan hal kedewasaanYakni penyembelihan dan Kurban, pasrah dan keikhlasanTatkala dengan hati pedih pedang hamba ayunkanSukma hamba memasuki Ismail yang menelentangIsmail hamba membisikkan firman-Mu Ya RabbiBahwa dewasa tidaklah ditandai kegagahan diriMelainkan rela menyaring dan menyeleksiAgar secara jernih berkenalan dengan yang intiDi saat meng-ismail itu betapa jiwa hamba gemetarEgo pribadi adalah musuh yang teramat tegarJika di hadapan-Mu masih ada sejumput saja pamrihMaka leher hamba sendiri yang bakal tersembelihDan memang kepala hamba tanggal berulangkaliDi medan peperangan modern ini Ya RabbiHambalah kambing di jalanan peradaban iniDarah mengucur, daging hamba dijadikan kenduriTulus hati dan istiqamah Ismail Ya Rabbi 
Betapa sering lenyap dari gairah perjuangan iniKeberanian untuk bersetia kepada kehendakmuDi hadapan musuh gugur satu demi satu
Maka hamba-Mu yang dungu belajar menjadi MusaMeniti kembali setiap hakikat alif-ba-taBelajar berkata-kata, belajar merumuskan caraHarun hamba membantu mengungkapkannyaMusa hamba membukakan universitas cakrawalaSetiap gejala dan segala warna zaman hamba bacaDengan seribu buku dan seribu perdebatanHamba tuntaskan makna kebangkitan
 
Tongkat hamba angkat dan tegakkan Ya rabbiMemusnahkan iklan-iklan takhayul Fir’aun yang kejiUlar klenik pembangunan, sihir gaya kebudayaanKarena telah hamba genggam yang bernama kebenaran 
Ya Rabbi! Alangkah agung segala ciptaan iniKebenaran belaka membuat hidup kering dan sepiMaka engkau jadikan hamba Isa yang lembut wajahnyaDengan mata sayu namun bercahaya, mengajarkan cintaIsa hamba sedemikian runduknya kepada duniaSegala tutur kata dan perilakunya kelembutan belakaSehingga murid-murid hamba dan anak turunnya terkesimaTenggelam mesra dalam Isa hamba yang disangka Tuhannya 
Ya Rabbi! Haruslah berlangsung keseimbanganAntara cinta dengan kebenaranHaruslah ada tuntunan pengelolaanAtas segala ilmu dan nilai yang engkau anugerahkan 
Karena itu Muhammad ‘kan hamba Ya rabbiBukakan pintu kesempurnaan yang sejatiPamungkas segala pengetahuan hidup dan hati suciPerangkum bangunan keselamatan para Rasul dan Nabi
Muhammad ‘kan hamba Ya Rabbi, Muhammad ‘kan!Agar tak menangis dalam keyatimpiatuanAgar tak mengutuk meski batu dan benci ditimpakanAgar sesudah hijrah hamba memperoleh kemenangan
 

Muhammad ‘kan hamba Ya Rabbi, Muhammad ‘kan hambaAgar kehidupan hamba jauh melampaui usia hambaAgar kematian tak menghentikan perjuanganAgar setiap langkah mengantarkan rahmat bagi alam
Muhammad ‘kan hamba Ya Rabbi, Muhammad ‘kanDi rumah, di tempat kerja serta di perjalananAgar setiap ucapan, keputusan dan gerakanMenjadi ayat-Mu yang indah dan menaburkan keindahanTakkan ada lagi sosok pribadi seanggun iaDipahami ataupun disalahpahami oleh manusiaKalau tak sanggup kaki hamba menapaki jejaknyaPenyesalan hamba akan tak terbandingkan oleh apa pun sajaPara malaikat sedemikian hormat dan segan kepadanyaBagai dedaunan yang menunduk kepada keluasan semestaPara Nabi berbaris menegakkan sembahyangEngkau perkenankan ia berdiri menjadi imam
 

Ya Rabbi! Muhammad ‘kan hamba, Muhammad ‘kan hamba!Perdengarkan tangis bayi padang pasir di kelahiran hambaAlirkan darah al-Amin di sekujur badan hambaSarungkan tameng al-Ma’shum di gerak perjuangan hambaKalungkan kebencian Abu Jahal di leher hambaSandingkan keteduhan Abu Thalib di kaki dukalara hambaPayungkan awan cinta-Mu di bawah terik politik durjanaUsapkan tangan sejuk khadijah pada kening derita hambaKirimlah Jibril mencuci hati Muhammad hambaLahirkan kembali wahyu-Mu di detak gemetar jantung hambaDan kucuran darah luka Muhammad oleh pedang kaum pendustaHadiahkan kepada hamba rasa sakitnya
Ya Rabbi Ya Rabbi, Muhammad ‘kan hamba!

Bersujud dan tafakkur di Gua Hira’ jiwa hambaBerkeliling ke rumah tetangga, negeri dan duniaMenjajakan cahaya." -Emha Ainun Nadjib

Seolah malam itu bergetar luar biasa dalam alirannya,  bahkan selesai membaca Puisipun tak lantas berhenti para jama'ah. Sang Maestro menyambung dengan menyanyikan HasbunAllah,  dan diredamkan dengan Takbir atas 10 dzulhijjah yang tengah dilewati.

"LAAAA ILAA HA ILLA ALLAHUALLAHU AKBAR,  ALLAAAAHUAKBAR WA LILLAHIL HAMD"


Kang Nahar memungkasi semuanya dengan do'a keberkahan,  kemanfaatan  ilmu,  rizki yang luas serta sapu jagat bahagia dunia akhirat, sebagai penutup majelis di dimensi waktu 12 malam. Meski malam masih terlalu dini,  meski rasa ingin masih terlalu haus untuk berdiskusi, tapi rindu tidak lebih sama sebagaimana kata-kata dalam puisi,  tangga nada dalam satu alunan. Bahwa setiap kata tidak akan berarti lebih tanpa spasi,  bahwa musik tidak akan bermakna tanpa satu oktaf yang bisa disampaikan menuju langit, dalam satu ikatan akan Muhammadakn Hamba Ya Rabbi.

Ahad,  10 September 2017
14.31.
*Muhammad Fatkhul Bary Lu'ay

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Satu Oktaf Menuju Langit"

Posting Komentar