Tedase Tapak (Murod-Alim #8)



"Jadi sekarang kamu ngapain rod?"

Setelah memastikan Murod baik-baik saja menerima hukuman Kyai Khasan 4 hari ini.

"Entah lim, hari ini pasrah saja."
"Hualah, seorang Murod bisa pasrah itu pemandangan langka. Monggoh ini kopinya"
"Ya terserah mau disebut kaya apa Kang Mus, toh pasrah dan menyerah adalah dua hal yang berbeda, sangat tidak sama."

Soleh dan Maman muncul menenteng kitab kuning di warung Yu Sumi, mungkin mereka akan berkonsultasi dengan Alim terkait itu. 
"Lho? COOONG? Ini ente beneran Cong? Jadi kaya orang Nigeria kamu Cong, huahahahaha" 


Kang Mus, Alim dan Soleh cuma melirik Maman yang sedang menertawakan Murod. Setelah di jemur selama empat hari dibelakang pondok, tidak boleh bergerak atau bicara, tidak boleh mengenakan baju atasan, hanya bawahan dan diizinkan boleh beristirahat kalau-kalau suara adzan sudah terdengar saja, untuk si Murod bisa melaksanakan dan mendirikan sholat. 

Maka hari ini Murod menjadi seperti hajar aswad, kulih putihnya menjadi hitam legam, bibirnya pecah-pecah. Meskipun Kyai Khasan tidak membuat Murod berdiri sepanjang waktu tapi duduk dilapangan dengan kondisi persyaratan seperti itu sangat berat. Belum untuk menanggung malu kalau ada yang lewat, belum kalau ada ular tapi masa istirahat masih lama, belum rasa lapar, haus dan kepanasannya. Kecuali Maman, entah apa alasannya, tapi Kang Mus, Soleh dan Alim sesekali menghampiri Murod memberi makan dan minum di jam istirahat, walaupun pada akhirnya Murod cuma senyum dan diam. 
 
"Terserah kamu Man"
"Ehhhh???!" Maman malah kaget sendiri mendengar jawaban Murod, tidak biasanya Murod menjawab dengan normal, tanpa bantahan atau meledek balik. 

"Kang Alim, si Pocong ko jadi baik, jadi waras, jadi normal? ini aneh, justru ini tidak wajar Kang"
"Jangan bisik-bisik ke Aku Man, toh suaramu terdengar jelas sama semuanya, jadi ngapain pake bisik-bisik segala? terus berhenti nyikut-nyikut aku Man"
"Eh iya maaf kang"

Yu Sumi menghantarkan kopi untuk Maman dan Soleh, setelah keduanya mengucapkan terimakasih, Yu Sumi kembali ke dalam.

"Jadi gini... "

Semua mendadak diam ketika Murod bersuara, Maman yang akan meneguk Kopinya malah tidak jadi dan diletakan kembali cangkirnya. Mereka menunggu Murod berbicara. Hening, Lama, menunggu. Masih menunggu. Dan, akhirnya Murod merapikan duduknya, mereka berempat siap-siap menyimak apa yang akan disampaikan Murod. Murod menarik nafas.

"Jadi...  ah, ga jadi wes"
"Wedddduuus, gua nunggu Cong, bangke lu, kirain ada kaitannya ame hukuman lu kemarin"
"Iya Kang, sepakat sama si Maman, aku juga nunggu, lagian katanya itu pertama kalinya pondok ini menghukum seperti itu, sebelum-sebelumnya tidak ada."

Kang Mus Angkat Bicara. 

"Dulu ibu mertuaku pernah tiba-tiba beristighfar keras siang bolong. Kemudian mengucapkan; 
"Dinungoku Duh Gusti, bengkung niki sanes kangge naleni saka marang meja nanging awujud Kapal nyancang PiwelasMu njur ampun mboten kerem."
sambil mengikat bengkung/stagen/sabuk kain panjang yang tadinya melingkar diperutnya, pada tiang rumah dan kaki meja." 

Mereka semua menyimak Kang Mus, kecuali Murod yang asik melukis Rokoknya dengan ampas kopi. 

"Seminggu kemudian Mas Pi'i datang memeluk ibu, menangis dan mencium kaki ibu sambil bilang ;
 "Alhamdulillah aku selamet bu, aku selamet, kapalku kandas nyangkut karang, sedikit saja kehantam ombak besar matilah kami semua. Tapi kapal yang tadinya goyang-goyang mau terbalik tiba-tiba kokoh stabil, dan turun perlahan menuju laut kembali. Alhamdulillah aku selamat bu."

"Itu berkat do'a ibu mertua njenengan Kang? bisa kerasa sampai sejauh itu padahal jarak lautan dan daratan sangat jauh?"
"wAllahua'lam bis showab leh" jawab Kang Mus sambil mengangguk.
"Banyak hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika leh, Man" 

Alim menambahkan dengan masih mengerenyitkan dahi. 

"Tapi keyakinan kuat adalah kunci untuk memahami cerita Kang Mus,  tidak semua orang mampu melafalkan alif-ba-ta dengan makhroj sesuai qiro'ah sab'ah, namun do'anya tetap sampai dan Allah mengabulkannya. Seperti ibu mertua Kang Mus atau sebagaimana awal-awal aku disini, Muord pernah mengkritiku dengan pedas terkait hal itu."
"Wah pernah bang?"
"Pernah Man, dulu karena aku ingin mahir berbahasa arab, maka keseharianku menggunakan bahasa arab disini man, sudah bawaan dari sebelum aku mondok disini. Disitulah Murod ngritik pake metode kampretnya"

Semua melirik Murod yang masih asik mbatik batang rokok ke limanya. Sedang Alim memerhatikan Qoswah di parkiran depan.

"Sepulang diusuruh Kyai Khasan dari rumah Pak Parmin, kami kembali ke pondok dengan mengendarai Qoswah, dia nyetir saya dibelakang. Ditengah jalan saya liat ada batu besar ditengah, Murod sudah kepinggir untuk menghindari batu tersebut. Tapi saya bilang; -hajar rod hajar!-,  bukannya malah tambah minggir Murod malah semakin ke tengah, saya berteriak semakin keras -HAJAR ROD HAJAR-, Murod malah semakin kencang dan ditabraknyalah batu tersebut. Bahkan sebelum dan ketika kami terbang setelah menabrak batu itu si Murod malah nyanyi -WE ARE THE CHAMPIOOOON UOOOOH...- kami berdua lecet-lecet, dan saktinya si Qoswah cuma patah spion kanannya."
"Terus abang ga marah ke Pocong? "
"Ya jelas marahlah, waktu saya bentak -Antum kenapa rod?!! tadi saya kan tereak batu! batu! batu!  kenapa malah ditabrak? -Si Murod malah jawab,  -tadi ente bilang hajar ya ane hajar lim, coba bilang batu kaya barusan, ya minggir ane- dan kampretnya setelah ngomong itu dia malah berdiri dan balik lagi nyanyi -WE ARE THE CHAMPIOOON- Kampret kan?"

Soleh dan Kang Mus cekikan mendengar cerita Alim.

"ENOUGH!!!" Tiba-tiba Murod menggebrak meja.
"Kenapa ente rod?"
"Jangan nanya kenapa ke aku lim? sudah ndak tahan saya!!"
"Ndak tahan kenapa Rod? terus kenapa malah ga boleh nanya ke kamu?"
"Jelaslah jangan nanya ke saya, tanya ke penulis cerita ini?!!!"

Eh?? Lho??

"Tanya ke dia maunya apa? apa ndak aneh, kenapa warung ini selalu sepi dan hanya ada kita berlima disini, memang santri lainnya kemana? apa ndak aneh juga kalau setting tempat yang diangkat adalah pondok, tapi kerjaan kita cuma ngopa-ngopi, dolan-dolan, kegiatan pondoknya mana? tanya dia juga,  sebenarnya mau pake dialek apa? Tegalan, Betawi, Indonesia, apa Jawa Timuran? dan sepenuh kejadian hari ini aku cuma diam? jadi penurut? mbatik rokok? MBAAAA-TTIIIK? Bahkan sejak kapan dia ikut campur jadi narator cerita ini? kenapa chapter ini diceritakan dengan sudut pandang dia? Apa sejak dia ijin Kang Samsul, pemilik asli cerita ini, dia ijin juga bahwa plot ceritanya akan  menjadi seliar sekarang? katanya mau menyelamatkan Aku, ko malah hari ini aku disuruh diam saja, mau dia apa Lim? DIKIRA KITA GA BISA MOGOK DAN MENGADU KE ALLAH? ATAU PERLU KITA DOA'AKAN SAJA SAAT INI AGAR OTAKNYA JADI BUNTU DAN GA BISA NULIS LAGI? AKU GA TERIMA POKOKNYA SAMA HARI INI? Tanya dia aja Lim, tanya dia?  Dasar Penulis ga jelas!!!"

Hening, tiba-tiba semua diam. 

"Bajingan!!! masih ikut campur jadi narator! Maju mene Ay!! tak jak gelut raimu!!! Mene!!!"

Lho lho lho? Ko aku sing disalahno? Jancuuuuk, jancuk raimu Roood! JANCUUUUK!! Jangan keluar dari cerita gobloooog! 


*Muhammad Fatkhul Bary Lu'ay

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Tedase Tapak (Murod-Alim #8)"

Posting Komentar