Nyunggi Bukan Mikul (#Murod-Alim #9)




"ENOUGH"

Tiba-tiba Kang Murod menggebrak meja, aku kaget, kulihat ekspresi beberapa kami juga kaget.

"Kenapa lu Cong?"
"Rod???"

Kang Murod diam cukup lama, seolah sedang berbicara dengan seseorang,  kemudian dia tersenyum puas.

"Kalian tahu penyebab aku merusak baner-baner kemarin?"
"Saya ga perlu mencari tahu juga rod, toh kamu biasa nganeh-nganehi"
"Njenengan tidak termasuk dari -kalian- yang saya maksud Kang Mus" Kang Mus cuma tersenyum.
"Eksperiment sosial untuk desa ini? tentang leadership dan cara memilih pemimpin?"
"Yap, betul banget Lim"
"Tapi kenapa dengan merusak baner-baner mereka Kang? apa benar-benar harus ngibrohim seperti yang sampean bilang ke Abah Kyai?"
"Itu pertanyaan sulit Leh, tapi jawabannya adalah tidak harus!"
"Kalo tidak harus kenapa lu lakuin cong?"
"Khusus kamu ga perlu saya tanggepin Man"
"Sialan lu!"
"Terus apa berhasil eksperimenmu Rod?".
"Berhasil dong!"
"Apanyaaa? bagian mananyaaaa? mereka tetap balik kaya semula ko? tanya kang Mus kalo lu ga percaya" Kang Mus mengiyakan Maman.
"Aku berhasil membuktikan kalau aku salah"
"Eittdah, serah daaah seraaah, terseraaah lu cooong"
"Sabar man. Sante dulu, Ngibrohim adalah titik awal, toh walaupun aku dijemur dengan aturan yang sebegitu ketatnya, aku selamat bukan? aku masih hidup? "
"Gua ngarep lu dibakar sekalian Cong, ga cuma di jemur sama Pak Kyai"
"Nyunggi itu tidak sama dengan mikul!"

Kang Alim spontan melirik Kang Murod, tertarik.

"Gundul Pacul rod?"
"Lebih dari itu Lim, di jawa membawa itu bisa di identifikasi dengan  bermacam-macam diksi. Ada nyangking, ngemban, nggendong, mbopong, manggul, mikul hingga nyunggi. Dan jika kita dalam keadaan diam diatas kendaraan, sekaligus membawa sesuatu diatas paha kita, itu termasuk pada kategori memangku."

Menarik, tapi apa hubungannya dengan hal-hal yang Kang Murod bahas tadi. Meski Maman yang paling mlongo dengan kata-kata itu, maklum, perbendaharaan kata jawanya masih minus.

"Beban itu di pikul, kesungguhannya bernama memanggul, kasih sayang ada di emban."

Kang Murod mengehela nafas, kami masih menyimak.

"Menyelamatkan ada di bopong, melindungi serta mendidik sekaligus bersamaan dengan melintasi medan perang disebut menggendong, kekuasaan itu dipangku, dan amanah adalah disunggi"
"Sebentar Kang sebentar, saya masih mencerna, mumet saya Kang"
"Kamu tidak dituntut oleh siapapun untuk harus paham Leh. Nah meski sunan kalijaga menggunakan lagu gundul pacul untuk menyindir seorang raja bernama.. emmm.. maaf, tidak jadi menyebutkan nama. Aku tidak ingin bersinggungan dengan siapapun anak turunnya yang masih hidup sampai hari ini. Terlepas dari itu semua, ada sebuah dongeng tentang seorang pemuda yang sanggup merawat anak burung diatas kepalanya, pemuda tersebut bernama Palasara, dan dialah yang menciptakan dan membangun sebuah negri, yang kelak dikemudian hari akan menjadi perebutan antara kurawa dan pandawa dengan cerita epik mahabaratanya dan klimaksnya adalah peperangan legendaris yang disebut Perang Kurushetra. Negri itu disebut Ngastinapura atau Astinapura."

Kami menarik nafas panjang mendengarkan kata-kata Kang Murod yang sepertinya akan terus menghujani kami, bahkan Kang Mus yang kukenal tenang sekarang sedikit gusar membaca arah ucapan Kang Murod.

"Dan siapa-siapa saja selain Nabiyullah Sulaiman, Daud, Zulkifli yang Allah kehendaki menjadi Raja?".
"Yusuf". Kang Mus langsung menjawab
"Dan apakah mereka semua menghendaki diri menjadi Raja."
"Jelas tidak Rod, mereka meneguhkan Cinta Kepada Allah dan mengabdi hanya kepada Allah"
"BRAVO LIIIM"

Kang Mus, Kang Alim dan Kang Murod berbinar-binar saat itu. Mereka melafalkan tasbih bersamaan. Sedang Aku dan Maman masih plonga-plongo tidak paham.

"Stop! stop! stop muter-muter! Jadi eksperimen sosialmu berhasil ga Cong? terus apa hubungannya cerita itu semua dengan budaya Kepemimpinan yang ada di desa ini?"

Kang Murod meneguk kopinya, namun tidak meletakan cangkirny kembali di Meja, dia justru menunjuk muka Maman dengan cangkirnya, dengan lengan hajar aswadnya hari ini.

"Saat memangku kamu tidak boleh mengeluh meski kesemutan atau sampai di kencingi-diberaki, saat memikul kaki dan pundakmu harus terlebih dahulu kokoh, saat menggendong jangan hanya melihat kedepan tapi juga menjaga yang dibelakang punggungmu, saat membopong dan mengemban lengan-lenganmu harus lebih kuat dari pohon oak. Dan dari itu semua tujuanmu adalah yang jadi bagian paling penting, kamu bergerak bukan untuk memperoleh keberhasilan atau kemenangan. Tapi untuk proses menjadi sejatinya dirimu  untuk cinta yang bisa kamu persembahkan kepada Tuhan! Hingga pada fase Nyunggi kamu akan kembali belajar tenang dalam istiqomahmu, dan seterusnya dengan apa-apa yang akan Allah taqdirkan didepannya. Sekali lagi, Nyunggi bukan Mikul, itu sama sekali berbeda"

Baru setelah itu Kang Murod meletakan cangkirnya. Aku mulai sedikit paham dengan apa yang disampaikan.

"Jadi Cong, gua masih ga paham. Lu sebenarnya cerita apa?"

Tangan kanan Kang Murod memegang pundak Maman dengan ekspresi serius.

"Pangeran Palasara merawat burung diatas kepalanya."
"Terus itu apa Cong? "
"Iklan susu dancow di tipi jaman dulu NYET!".


*Muhammad Fatkhul Bary Lu'ay

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Nyunggi Bukan Mikul (#Murod-Alim #9)"

Posting Komentar