Kopi Dalam Purnama

Taryem nangis sesenggukan tanpa sebab, Tarjo bapaknya pun bingung ada apa dengan anak perempuannya semalaman ini menangis di atas sajadah dalam balutan mukena putih selepas sholat Isya. Tarjo yang senantiasa mengenal betul tabiat anak perempuannya yang tak pernah terbuka dengannya pun membiarkanya, hinggav ia mengetuk pintu kamarnya untuk mengajak makan malam yang disediakan istri tercintanya Sukiyem. Anak semata wayangnya itupun manyaut sambil menyeka air matanya.

Di atas meja tersaji nasi yang masih keluar asap hasil tanakan maghrib tadi, ikan asin dan tumis kangkung serta sambal terasi yang segar, bikin air liur menetes rasanya, tapi sembap mata taryem pun yang tak bisa ditutupi.

Di luar duduk di rusbang depan rumah pak tarjo, lelaki paruh baya dengan baju kumal tak dikancingkan dan celana kolor setumit melantunkan langgam jawa maskumambang berambut awut-awutan sebahu dan jenggot serta kumis yang dibiarkan tumbuh tak beraturan, orang sekampung menyebutnya Wa Kicli Sedeng. Tinggal di bekas kandang ayam buras pak tarjo samping rumah yang sudah tak terpakai. Wa kicli sedeng dulu pernah menjadi santri Kyai Hasyim Danawarih. Sebab pemberian pemberian nama wa kicli sedeng itu adalah menurut orang setempat sedeng itu berarti gila.

Keluarga pak tarjo yang menampung wa kicli yang hidup sendiri dan tahu persis keilmuan tentang agama lebih tinggi dari kyai dikampungnya. Terkadang banyak orang yang bertanya tentang hal agama dijawab wa kicli dengan tawa terbahak-bahak dan bilang "ngapa koen takon karo wong sedheng kaya nyong? hahahaha". (kenapa kamu tanya sama orang gila kaya aku hahahaha.)

Setiap akan makan bersama keluarga kecilnya pak tarjo mengajak wa kicli untuk makan bersamanya, tapi seperti biasa wa kicli selalu menolak sebab enggan dan masih punya malu sebenarnya. Sesudah makan taryem keluar membawa segelas besar kopi panas yang ditaruh di rusbang dekat wa kicli yang sedang berlanggam dan langsung berhenti melanggamkan maskumambang ketika taryem duduk disampingnya. Selalu begitu ketika taryem ada didekat lelaki tua kumal itu, seolah taryem anak perempuannya yang ingin menjaga perasaannya ketika bersama. Taryem pun bercerita tentang masa depannya yang gundah gulana.

Wa kicli menyeruput kopi dan menghisap kreteknya dalam-dalam, menerawang purnama tengah bulan yang bulat lingkaran penuh. Wa kicli menggandeng taryem ke pelataran dan menaruh gelas yang berisi kopi itu dibawah sinar purnama "Dilengna yem layange purnama neng gelas kopi kiye anakan? bentuke cilik, layang kuwe bakal gede juga yen dewek ngilengnane neng tengahe segara. Paham maksude nyong dadi layang kuwe semakin cilik lan gawe gede tergantung dewek pan madahine keprimen sajeroning ati lan uteke dewek hahahahaha". (Lihat yem bayangan purnama di gelas kopi ini adakan? bentuknya kecil, bayang itu semakin besar ketika kita meilhatnya di tengah telaga. Pahamkan maksudku jadi bayangan itu terlihat semakin kecil dan semakin besar tergantung kita mau menempatkannya bagaimana dalam hati dan pikiran kita hahahaha.) "Hahahaha." Wa kicli tertawa terbahak-bahak. Taryem digandeng wa kicli sampai pintu rumah dan senyum kecil taryem tersungging untuk wa kicli. Wa kicli kembali melanggamkan maskumambang dengan sebatang kretek ditangan.


*Retno AS

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Kopi Dalam Purnama"

Posting Komentar