• Tanpa Tema: Meniada untuk Mengenal Yang Ada



     Reportase Poci Maiyah November 2018

    Oleh: Kang Farid
    "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesunguhnya telah Akuciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali". (Maryam : 9)


    Karena malam ini kita kembali menjadi manusia baru, saling bertukar sapa,bertukar senyum,  berbagi tawa, mendo'a, bergembira, mengaduh, berbagi cerita….. tapi malam ini, adalah ceritamu, temamu, muqodimmahku, kehidupanmu, dirimu, seutuhnya…

    Muqodimmah disampaikan oleh Mbak Hilda mengawali Poci Maiyah edisi 2 November 2018. Pada kesempatan kali ini dimoderatori oleh Kang Ali ditemani Ayi Fahmi yang menyambut muqodimmah dengan melemparkan tema malam itu yang ‘tanpatema’.

    Kang Ali melanjutkan, menyambung, dan mensenyawakan kemesraan dengan menyapa sedulur-sedulur yang hadir untuk saling memperkenalkan diri. Perkenalan mengalir dan sejenak berhenti pada Mas Arif dari Songgom yang mengawali tanya dengan agak kepo, (Poci) Maiyah kumpulan orang-orang sepertiapa?” yang disambut jawab oleh sedulur-sedulur lain tanpa merasa mampu menjawabnya, karena malam ini adalah malam ‘tanpatema’, tanpa merasa mampu, hanya sekedar sinau bareng.

    Respon pertama dari pertanyaan Mas Arif dari Mbah Nahar yang menceritakan pengalamannya bermaiyah sejak berabad-abad yang lalu sekitar tahun 2010. Beliau menyampaikan tentang maiyah itu untuk siapa saja, yang bahkan di Kenduri Cinta banyak orang-orang non-muslim yang ikut melingkar disana. Banyak sedulur-sedulur kita dari warga Chinese dengan semangat berkata “Saya juga Maiyah,” Mbah Nahar juga mengingatkan kembali tentang tiga hal yang sebaiknya diingat untuk siapapun yang bermaiyah: bahwa maiyah itu menumbuhkan spiritualitas, intelektualitas, dan kegembiraan. Beriman, berilmu, dan suka guyon (bercanda). Bisa dibayangkan, duduk melingkar dari jam 8 malam sampe pagi tanpa guyon? Hemmm... Bengep.

    Pertanyaan Mas Arif disambungkan dengan, “Apakah ingin membesarkan, mencari pengikut dalam Maiyah ini?”

    Menambah respon dari pertanyaan pertama dari Mas Arif, Kang Ali sebagai moderator juga memiliki arah pandang lain, bahwa Maiyah adalah tempat orang-orang yang mencari kemuliaan, dan Insya Allah dimuliakan Allah tanpa merasa sudah mulia apapun yang disinauni dalam Maiyah. Juga mudah-mudahan pencarian kemuliaan itu berujung pada syafaat Rasulullah kelak.

    Respon lain (lupa siapa yah? hehe) berpendapat bahwa maiyah ada suatu wadah yang di dalamnya tidak ada diskriminasi (ketidakadilan menyikapi perbedaan) dan tidak ada yang direndahkan apapun kondisinya.

    Dari lingkaran sebelah selatan, Kang Moka menambahkan bahwa Maiyah itu diperumpamakan seperti gula dan semut, bahwa apa yang didapatkan di sana adalah kebaikan. Selain respon, ia juga menyambungkan pertanyaan yang tak kalah serunya, menjadikan malam itu semakin hangat, “Siapakah yang pertama menggunakan jargon ‘menuang cinta untuk sesama’ dan apa maknanya?”

    Dari samping Kang Ali, Kang Fahmi yang dari tadi menyimak pun menambahkan respon tentang maiyah itu apa dari Mas Arif. “Saat menghadiri Kenduri Cinta, saya membaca muqadimmah yang di sana tertulis tentang nilai yang didapatkan dari bermaiyah, bahwa hidup ini Cuma mampir ngombe (minum), sinau urip, bagaimana hidup dengan porsi masing-masing – adil – tanpa membandingkan perbedaan, di maiyah tidak ada tuntutan apa-apa.

    Mas endang yang biasa menghadiri kenduri cinta juga berpendapat – yang nampaknya sepakat dengan kang ali, bahwa maiyah itu jalan mencari kemuliaan. Jangan mencari kebenaran, karena kebenaran itu buram, tapi carilah kebaikan, kearifan.

    Apa yang disampaikan sedulur-sedulur nampaknya segaris lurus dengan konsep pendidikan dalam bermaiyah seperti yang kita kenal dari Mbah Nun, yaitu:
    1. Ta’lim (dari tidak atau belum tahu menjadi tahu)
    2. Tafhim (dari belum paham menjadi paham)
    3. Ta’rif (tahu, paham tapi belum benar-benar mengerti, sehingga memerlukan tahap ini)
    4. Ta’mil (banyak orang tahu dan paham, bahkan berhasil mengerti, tapi belum bisa atau mampu melakukannya)
    5. Takhlis (tahu, paham, mengerti, dan bisa, harus ikhlas mengerjakannya)

    Respon selanjutnya dari Kordinator Poci Maiyah, Gus Lu’ay, yang mengajak sedulur-sedulur Poci Maiyah mengenal lebih dalam diri sendiri seperti dalam muqadimmah di atas. 
    “Kita mengawali dengan tawasul, memurnikan syahadat kita,” dilanjut dengan mengucap syahadat bersama sebagai ikrar sedulur Poci Maiyah dalam kesetiaannya pada Allah dan Rasulullah. Ia juga melanjutkan, “Maiyah itu untuk siapapun, bukan hanya untuk siapa saja. Karena tidak mungkin yang kotor itu mampu bertahan lama dalam penyucian tanpa ia juga menjadi murni, suci kembali. Maiyah itu seperti harmonisasi orkestra. Para pemain orkestra tidak menjadi apa yang dimainkan dalam orkestra tersebut, melainkan menjadi diri mereka sendiri. Dan dari sanalah keindahan harmonisasi tercipta. Maiyah tak harus menjadi sesuatu yang bisa dijelaskan, selama itu adalah kerelaan menuju kesejatian. Maiyah tidak mencari siapa yang benar tapi mencari apa yang benar.

    Mencari kesejatian, yang seperti tema malam itu ‘tanpa tema’, kekosongan, ketiadaan, meniada agar mengenal siapa diri kita yang sebenarnya. Dan itu adalah mudah bagi-Nya.

    Malam itu Poci Maiyah hadir pula sedulur dari Kudus yang lama di Tegal, asyik bermaiyah, namun oleh Allah baru dihadirkan untuk menambah kemesraan kenusantaraan maiyah. Adalah Mas Deni yang malam itu bersama istri tercintanya ikut duduk melingkar sinau bareng bersama sedulur poci maiyah. Baliau juga berbagi pengalaman bermaiyah selama ini. “Maiyah itu tempatnya olah rasa, olah pikir, menjadi diri yang lebih baik.

    Sejenak saya teringat mendengar olah rasa. Hidup ini terasa berat, termasuk seni melepaskan apa yang (dunia) yang dicinta. Karena rasa (hati) yang tak pernah dilatih, olah hati, agar ketika pelepasan itu harus, jiwa terasa ringan.

    Dan di Maiyah, memang semua orang belajar untuk menganggap dunia hanya bagian kecil dari apa yang dituju: akhirat. Menggunakan seperlunya, menuju kampung ilaihi roji’un.

    Sedulur dari Jatinegara, Mas Hasyim ikut merespon, “Maiyah itu ibarat senuah wadah untuk siapa saja yang mau memasukinya,” sejenak saya teringat dengan ayat-Nya, bahwa jalan Tuhan hanya memang untuk orang yang takut (mau) pada-Nya. Korelasi positif.

    Mas Prisma yang dari tadi menyimak asyik akhirnya ikut merespon, “Maiyah itu tempatnya orang melatih rasa sayang. Dari yang terdekat, keluarga, istri, sampai ke hal-hal besar. Dari hati, dan menguatkan jiwa dengan rasa itu. Juga tempat untuk menyampaikan unek-unek agar setidaknya terlintas oleh pikiran sendiri bahwa ‘oh, ini solusinya’,” persis dengan muqadimmah yang disampaikan Mbak Hilda malam itu, menyampaikan unek-unek, bercerita, berkisah tentang kita.

    Berbeda dengan sedulur lain yang merespon pertanyaan tentang maiyah, Mas Bayu dari Dukuhsalam bertanya tentang hal: memaknai kabaikan itu seperti apa?

    Sebelum merespon pertanyaan dari Mas Bayu, selain Kang Deni dari Kudus, malam itu juga Poci Maiyah kedatangan sedulur dari Indramayu yang lama berdomisili di Slawi namun belum memiliki KTP Slawi. Ia ikut merespon bahwa Maiyah itu tempat untuk mengalirkan kebaikan.

    Respon selanjutnya dari Kang Manteun Bupati Poci Maiyah, Kang Syamsul Hadi. Beliau menceritakan awal-awal Poci Maiyah yang hanya beberapa orang, belum seramai ini, apalagi orkestra musik. Respon dari Kang Bupati ditanggapi Mas Bayu dengan membawakan satu lagu.

    Saling asah, saling asih, saling asuh, agar hidup ini tak sia-sia....

    Sejenak saya ingin bertanya juga, apakah nada-nada musik itu tak turut bermaiyah, berdzikir, karena segala sesuatu yang tak berdzikir itu kacau, buruk, hancur?

    Satu lagu itu dilanjutkan sebuah puisi oleh Mas Riski, puisi berjudul ‘angin dan api’.

    Ketika iblis mematahkan tanduknya, merendah-hinakan dirinya untuk Adam, lebih daripada malaikat...

    Melanjut dari pertanyaan, apakah Poci Maiyah akan memperbanyak pengikut, Kang Fahmi merespon, “(Poci) Maiyah itu penuh kejutan,”

    Gus Lu’ay menambahkan, bahwa yang perlu kita waspadai adalah ketidaksadaran kita untuk terkontaminasi hal-hal yang tidak seharusnya. Kita tidak mengikuti maiyah, kita mengikuti rasulullah. Maiyah itu titipan dari Allah. Kita bukan seperti cinta transaksional, aku datang-kamu beri, karena kata Syeikh Nursamad Kamba, cinta yang transaksional itu rentan hancur.

    Kang J’Koens menambahkan respon, “Maiyah itu kebersamaan dengan Allah ketika sedang apapun yang kita lakukan, di manapun, dari hal-hal kecil hingga besar.
    Kang Topik dari Tarub menyela respon itu dengan pertanyaan asyik lainnya, “Saya sering ikut maiyah, telah banyak mata air maiyah yang ku minum, tapi mengapa rasanya belum ada kebaikan yang bisa saya lakukan?” satu kenikmatan yang tak disadari sedulur maiyah, tentang kerendahan hati yang begitu tinggi namun tak dirasakannya. Allah menyimpan rapi di dalam jiwa mereka.

    Sedulur dari Suradadi, Kang Safarudin yang nampaknya baru bergabung dengan Poci Maiyah malam itu ikut menyampaikan unek-unek, “Tertarik dengan Mbah Nun dari dunia maya, datang kesini ingin tahu tujuan Poci Maiyah apa,” ia juga menanyakan bahasan-bahasan maiyah agar dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Meminta dijelaskan tentang hablum minallahnya selama ini apakah sudah sesuai.

    Respon selanjutnya dari Gus Lu’ay, “Pesan dari Mbah Nun, di Maiyah kita dilatih untuk mengenal nilai innalillahi wa inna’ilaihi raji’un.” Lanjutnya,”Manusia itu hanya kumpulan-kumpulan keinginan belaka,”

    Mbah Nahar menambahkan, “Manusia itu diciptakan oleh Allah dengan potensi yang berbeda-beda, dengan kadarnya masing-masing, qodaru wa hada, menentukan kapasitas dan memberinya petunjuk jalan.”

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar