• KEMESRAAN ROKAAT PANJANG

    Reportase Poci Maiyah Desember 2018 
    Oleh: Redaktur Lingkar Gagang Poci Maiyah


    “Maiyah tidak terbang ke Langit, tapi tumbuh menuju cakrawala tanpa meninggalkan akarnya.”

    Aneh betul pemuda-pemuda ini, pemuda berusia kisaran 18 – 35 tahun, dengan seluruh latar belakang yang berbeda; background keluarga, pendidikan, hobi, pekerjaan, disiplin studi dan sebagainya. Yang di luaran sana sedang sibuk-sibuknya menggelorakan hasrat memajang eksistensi, menumpuk-numpuk harta, menerjangi karir-karir profesi dengan segala lingkup transaksi untung- ruginya. Di GBN Jemuah malam itu mereka berkumpul tanpa jelas apa yang sedang mereka cari, mereka berjibaku dengan tanggap mengangkut sound system, menggelar terpal, berbelanja air mineral, menyiapkan dapur darurat, tanpa ada yang membayar atau memberikan penghargaan sebagaimana nobel-nobel prestis atas kemanusiaan atau moral yang berlangsung di abad 21 sekarang ini. Disusul kemudian rombongan pemuda-pemudi lainnya bergabung dalam lingkaran tersebut, tanpa komando dimana harus meletakan diri namun dengan sadar kesemuanya mencari dan berbagi tempat saling menyatu satu dengan lainnya.


    Ah, ternyata lingkar berkumpulnya pemuda-pemudi itu adalah lingkar Maiyah. Tapi bagaimana bisa kehangatan deras mengalir disitu, bukankah “Maiyah” cenderung merujuk pada “Emha Ainun Nadjib”, yang selama ini dikenal sering berkeliling melingkari kathulistiwa Indonesia, seperti Maiyah Padhang Mbulan di Jombang, Kenduri Cinta di Jakarta, dan Mocopat Syafaat di Jogja, yang akan sangat wajar sekali ratusan bahkan ribuan manusia berduyun-duyun mendatangi titik tersebut demi mendengarkan dan menikmati celoteh-celoteh Tokoh Nasional yang akrab dipanggil Cak Nun itu, lha ini Tegal, tanpa Cak Nun, lalu apa yang mereka cari?

    ***

    Ada wiridannya ternyata, Aroma Padhang Mbulan juga bisa terasa di titik ini. Ah Indonesia Raya juga dinyanyikan, ini sebagaimana para nasionalis membudayakan pembukaan forumnya dengan lagu kebangsaan tersebut. Sohibu baitiy? Bukankah ini yang sering dibawakan oleh Mocopat Syafaat? Sebenarnya Lingkar Maiyah jenis apa ini? Sungguh tidak bisa dibayangkan bagaimana ruwetnya persiapan gelaran ini, mulai dari semua peralatan berat yang dibawa, listrik yang dihubungkan, ketekadan niat dalam berkoordinasi, keberanian membedah kata per kata dalam membaca mukodimah, serta yang pasti, kenekatan menggelar di tempat terbuka GBN ini, tanpa penghalang yang bisa menahan angin atau panggung untuk menahan hujan. Serius!!! Malam itu mendung lho. Kalau bukan kenekatan atau keyakinannya atas Tuhan yang begitu gila, bagaimana mungkin tempat semacam GBN yang polosan seperti itu bisa dipilih?



    “Sebenarnya Apa Tujuan Hidup?”

    Mungkin berkaitan dengan tema Sinau Urip yang mereka tawarkan sehingga pertanyaan semodel itu muncul, jawabannya begitu beragam, ada yang menjawab bahwa “tujuan hidup adalah mati”, sedikit aneh mendengarnya, jika mau mati kenapa harus susah-susah hidup? Hehe. Tapi ada juga yang menjawab sesuai dengan surat ad dzariyat ayat 56 bahwa;
    “Allah tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah”
    Ada yang menambahkan pula bahwa tujuan hidup adalah mati, sebagai orang Islam yang mempercayai adanya kehidupan setelah mati tentunya harus memiliki "bekal" dikehidupan berikutnya. Makanya hidup di dunia sebagai ajang ibadah/"ngawula", apapun diniatkan untuk ibadah maka ini akan bernilai Ruhani. Ada pula yang merespon bahwa “tujuan hidup itu nyakseni anane Gusti Allah” dan sebagainya hingga jatuhlah pada argumentum bahwa kebenaran ada tiga; benar menurut dirinya sendiri, benar menurut orang banyak, dan benar menurut Allah/kebenaran yang sejati.

    Dan benar, Sinau Bareng malam itu sepertinya lebih berkutat pada pembahasan teologis, hal- hal yang bersifat Ketuhanan, Surga-Neraka, hingga seseorang menceritakan kisah Rabiah al Adawiyah, yang setiap jam 2 malam membawa ember berisi air, kemudian ada yang bertanya untuk apa? Rabi’ah menjawab untuk menyiram neraka dan diwaktu lain juga membawa obor, kemudian ada yang bertanya pula untuk apa? sufi wanita tersebut merespon untuk membakar surga, agar kiranya orang beribadah tidak karena surga dan neraka. Namun karena cintanya kepada Tuhannya.

    Yang menarik, bukannya direspon dengan analisa yang njlimet atau menggunakan bahasa yang terlalu melangit, namun salah satunya justru bertanya kepada si pencerita;

    “Njenengan ngerti ora sing takon ning Rabiah Al Adawiyah kue sapa?”
    “Ora ngerti”.
    “Kuwe bocah Maiyah... soale jam 2 bengi Cah Maiyah urung turu”

    Gelak tawapun pecah menghiasi Sinau Bareng malam itu, dengan intensitas pembahasan seberat ini sepertinya Tuhan tidak tega atas kesungguhan ikhtiar dan kesucian niat orang-orang yang berkumpul disitu, hingga kemesraanpun masih bisa dirasakan dengan tetes-tetes hidayah, keterbimbingan spiritual yang mustahil manusia bisa menerka dan menciptakannya, wAllahua’lam.

    ***

    Quote “perbedaan ada bukan untuk dipertajam dan dibenturkan, kebenaran ada bukan untuk diperebutkan, dan kesalahan ada bukan untuk disalahkan” menjadi formulasi tersendiri untuk dibawa pulang, di era yang semakin gila ini para pemuda/I yang berkumpul pada malam hari itu menemukan-menanam-meracik-menanti masa tumbuh sebuah dimensi yang menjadi adagium tersendri.

    Nilai-nilai seperti ini telah langka hari-hari ini, jarang, bahkan sangat minim di gali oleh banyak orang pada umumnya. Apalagi suguhan tema yang mereka tawarkan tentang “Sinau Urip: Urip-urup, Ngurip-nguripi, ngurip-nguripna, ngurup-ngurupna” mengkritisi dengan akurat tanpa membebankan kesalahan pada siapapun, namun dengan sangat apik menelaah perihal “Cuaca” yang sedang melingkupi dunia saat ini. Masih banyak sekali kekurangan memang, namun dimensi ini menjadi sebuah anugerah tersendiri bagi mereka yang telah kehilangan kepercayaan dirinya untuk bisa turut sinau di majelis, lembaga, institusi, bahkan sekolah-sekolah tertentu. Zaman yang semakin hari menggambarkan keterjebakan manusia pada kemegahan profesi, kegemerlapan harta dan strata sosial, atau dogma-dogma tabu yang mengungkung banyak manusia untuk sekadar merasakan keamanan dan kenyamanan dalam mengungkapkan pendapatnya, unek-uneknya, hal yang membebani hatinya.

    Bukankah terlalu picik jika tidak ada yang mensyukurinya? Ketabahan, kesabaran, kegigihan, keyakinan yang mereka miliki semacam menjadi pelita tersendiri di gelapnya zaman. Saat banyak yang berputus asa dan memilih diam, para pemuda/i itu tidak turut jatuh membeku menunggu hancur, namun tetap bergetar beresonansi membawa gelombang mesra yang bisa dirasakan oleh orang-orang disekitarnya, tetap mengalir dalam aliran waktu tanpa terjebak dengan tebalnya kabut yang menutupi mata hati dan jernihnya kesadaran manusia pada umumnya, pada usianya. Sebenarnya apa yang para pemuda/i itu cari? apa yang mereka tuju? Dengan repot-repot membebani dirinya sendiri tanpa ada yang meminta, menyuruh, mengamanati? Dengan mereka menggugurkan ambisi, eksistensi pragmatis, dan segala hal yang sebenarnya bisa menguntungkan kehidupan pribadi mereka sendiri, sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan, apa yang sedang mereka cari?

    Maka apa yang mereka lakukan seolah menjadi amtsal tersendiri dalam al baqoroh 45-46;
    Wasta’iynu bisshobri was sholah, wa innaha lakabiyrotun illa ‘alal khoosyi’iyn (45) Alladiyna yadzunnuwna annahum mullaaquw Robbihim wa annahum ilaihi rooji’un (46)
    “Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ (45) (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya (46).”


    Bahwa ada sebuah dimensi sekaligus jalan yang tidak bisa dinalar dan dicerna dalam logika penduduk dunia hari ini, sebuah dimensi yang tak ayal ibaratnya seorang mu’min menegakan sholatnya. Sebuah proses, bahwa kehidupan yang mereka jalani, mereka tundukan kepada Sang Pemilik Kehidupan, yang dalam seluruh proses kehidupannya adalah pengejewantahan rokaat-rokaat sholat. Bukan dalam satu tegak fatihah dan suroh pendeknya, atau ruku, I’tidal, sujud, iftirasy, tawaruk dengan tasbih, istighfar, serta menit-menit sempit menenuni kalimah isro’ mi’roj Muhammad Sang Manusia Agung yang mereka cintai menuju salamnya.

    Ini jalan berat bagi mereka yang tidak “Khusyu’/Berbahagia/ridlo/mesra/Ikhlas menjalaninya. Jalan yang mereka tempuh adalah jalan ibadahnya, kehidupan mereka sendiri adalah sholatnya, bukan dalam titian detik, menit, atau jam. Namun seluruh partikel hidupnya tidak bisa dibatasi oleh ruang dan waktu, tidak bisa dibatasi oleh awal dan akhir, tidak bisa dibatasi oleh ada dan tidak ada. Mereka menempuh jalan dengan rangkaian rokaat menuju roji’unnya, mereka telah-sedang-akan melewati jutaan siklus hidup dan mati di dalamnya, dalam sebersit khouf, pada setes makna anggunnya sebuah Kemesraan, atas nilta ma nilta yang kelak akan orang-orang kenal dengan nama “Jalan Rokaat Panjang.”


  • Rekomendasi