Akhir Yang Tak Selesai | Reportase Januari Minggu Ketiga

Table of Contents

Jumat Malam yang Membuka Tirai Takdir

Jumat malam Sabtu adalah semacam “malam terapi” bagi jamaah Poci Maiyah. Malam ketika para lelaki yang terlihat tegar di siang hari akhirnya bisa curhat, merintih, atau sekadar melempar emosi yang selama seminggu cuma berputar-putar di ubun-ubun tanpa pintu keluar.

Majelis ini memang agak aneh. Isinya orang-orang multi disiplin: ada yang berpikir pakai logika algoritma, ada yang pakai pengalaman hidup, ada yang pakai perasaan, ada juga yang pakai firasat, tapi entah bagaimana, keluarnya selalu satu: “Ah iya, hidup memang begini.”

Cuaca malam itu tanggung. Tidak mendung, tidak pula panas. Kalau dibikin tidur, tubuh menolak; tapi disuruh semangat, hati enggan. Poster acara bilang acara dimulai jam sembilan, tapi para pemuda tampaknya memilih untuk mencari keresahan baru dulu sebelum membawa keresahan lama ke saung. Jadilah jam sepuluh lewat sedikit, saung Rumi Institute yang kecil di pinggir sungai itu mulai sesak. Hanya dua karpet digelar, bukan karena tak ada karpet lain, tapi supaya hangatnya manusia bisa saling menular.

Acara dibuka dengan wirid Maulawiyah, ditutup surat Al-‘Asr. Semacam pengingat halus bahwa waktu melumat kita pelan-pelan. Lalu kitab Masnawi Maknawi ditegakkan, bait-bait Rumi dari 1480 sampai 1508 dibacakan.

Sebenarnya bait-bait itu membahas bagaimana manusia selalu berada di antara perbuatannya sendiri dan perbuatan Tuhan. Bahwa Adam memilih berlapang dada: “Aku menzalimi diriku sendiri,” sementara Iblis menyodorkan telunjuk: “Engkau yang menyesatkanku.” Bahwa akal kadang mandek di huruf, sementara jiwa bisa langsung melihat makna.

Tapi, sebagaimana biasanya, jamaah mulai menyerbu pembahasan dengan masalah hidup masing-masing. Bait Rumi menjadi semacam bumbu, bukan menu utama.


Cinta, Ketulusan, dan Kentut

Pembahasan tentang cinta dan ketulusan pun meledak. Salah satu jamaah yang wajahnya polos tapi isi kepalanya seperti kamar penuh jentik-jentik ide aneh mengangkat tangan dan berkata:

“Ketulusan murni itu hampir nggak ada, kawan-kawan. Selalu ada maksud tersembunyi.”

Lalu ia memberi contoh yang membuat semua orang ingin melempar sandal, tapi sebenarnya masuk akal:

“Kalau keluarga lagi kumpul, lalu ada yang kentut… sesayang-sayangnya suami, dia nggak bakal menutup hidung istrinya biar nggak kecium. Dia cuma menutup hidungnya sendiri.”

Semua orang tertawa. Tapi setelah tawa reda, orang itu melanjutkan dengan nada serius:

“Tapi kalau soal akhirat, ya pasti beda. Air mata bisa bohong, mulut bisa bohong, tapi hati tetap tahu siapa yang ingin ia selamatkan.”

Dari situ, diskusi berlarut-larut. Trolley problem lewat sebentar, tapi ditendang keluar karena terlalu Barat dan kurang cocok dengan logika orang kampung yang hidupnya jauh lebih kompleks daripada kereta menyelonong ke rel bercabang.

Malam ternyata terlalu pendek untuk delapan orang yang kangen, yang ingin melepaskan beban dan, entah bagaimana, selalu menemukan tenaga untuk saling menertawakan diri sendiri.

Dan Lalu, Takdir Masuk Tanpa Mengetuk

Ketika jam menunjukkan 12.30, saat acara hendak ditutup dan gelas-gelas kopi yang tinggal ampas, tiba-tiba muncul siluet seorang perempuan berjalan di antara gelap. Di belakangnya, dua anak lelaki mengikuti, langkah tergesa-gesanya seperti bayangan yang takut tertinggal.

Kami, yang malam itu terlalu larut pada percakapan tentang jiwa, mendadak senyap. Ada firasat yang turun dari langit, semacam bisikan yang biasanya membuat bulu tangan berdiri.

Ibu itu mendekat. Cahaya lampu saung menyinari wajahnya yang pucat, basah, seperti telah berlari dari satu semesta ke semesta lain.

Ternyata ia adalah Ibu Eti, tetangga saung.

Dengan suara yang tidak lebih keras dari desahan daun pisang tersentuh angin, ia hanya berkata empat kata:

“Bapa sampun mboten wonten.”

“Bapak sudah tidak ada.”

Suasana pecah.

Tidak dengan teriakan. Tidak dengan tangis berlebihan. Tapi dengan keheningan yang terasa seperti gunung runtuh.

Dalam sekejap, jamaah terbagi dua. Satu regu langsung berlari ke rumah duka untuk mengurus jenazah, mempersiapkan pemakaman, menenangkan keluarga. Regu lainnya merapikan saung, menutup acara tanpa penutup, karena hidup memang begitu: kadang garis kalimat diputus Tuhan tanpa tanda titik.

Malam itu, kami benar-benar merasakan apa yang Rumi maksudkan:

bahwa jiwa, ketika disentuh cahaya, bisa melihat makna tanpa huruf;

bahwa manusia punya daya, tapi takdir bisa masuk kapan saja seperti tamu yang tak menunggu undangan;

bahwa kami adalah pelaku, tapi Tuhan tetap sutradara terakhir.

Semoga Bapak H. Tafsir bin H. Mahmudi diterima amalnya, diampuni kekurangannya, dan diberi tempat terbaik di sisi-Nya.