Nasi Ponggol, Kopi, dan Doa di Malam Basah
Sejak Jumat sore, Tegal seperti sedang menumpahkan seluruh isi langitnya. Hujan turun lebat, rasanya Tuhan sedang serius sekali membasahi bumi. Sampai azan maghrib pun, belum ada tanda-tanda hujan ingin diajak kompromi.
Sementara itu, pengumuman acara yang dijadwalkan pukul 21.00 menggantung di udara, seperti jemuran yang lupa diangkat: tetap jalan atau kita menyerah dan memilih selimut rumah?
Tepat pukul 21.00, hanya dua orang yang muncul. Dua! Walaupun, terus terang saja, biasanya juga tak pernah lebih dari sepuluh. Komunitas kecil yang tak pernah merasa kecil.
Hingga jam sebelas malam, barulah genap enam orang hadir. Dan dengan jumlah yang tak lebih banyak dari regu futsal itu, acara dimulai—maulid Simtudurar dibaca dengan khidmat, suaranya naik turun seperti gelombang kecil yang melunakkan hati. Setelah itu, makan malam. Ini bagian sakral kedua setelah doa.
Obrolan pun mengalir, hangat, seperti api kecil dalam tungku yang dijaga betul agar tidak padam. Nasi ponggol bu Jaetun hadir sebagai penguat mental. Bukan cuma makanan, tapi semacam simbol bahwa kehidupan, betapa pun sederhana, tetap bisa dinikmati dengan bahagia.
Mas Wisnu, sang peracik kopi, tampaknya paham betul hubungan cuaca dan kadar bubuk yang harus ditebar. Kopinya malam itu entah kenapa terasa lebih mantap, mungkin karena hujan membuat setiap tegukan serasa kemenangan kecil. Obrolan pun berlangsung panjang, meniti jam demi jam, sampai akhirnya jarum menunjuk pukul dua dini hari. Kami pulang bersama—rombongan kecil yang mengalahkan hujan dan kantuk.
Yang hadir malam itu menyimpan harapan yang sama: semoga Mbah Nun diberi kesehatan seperti sediakala. Karena di tengah dunia yang makin aneh, makin tidak jelas arahnya, kita butuh seseorang yang bisa menunjukkan cara memandang persoalan dengan mata yang lebih dalam, lebih jernih, lebih manusiawi. Dunia rumit, tapi selalu ada satu dua tokoh besar yang membuatnya bisa kita pahami. Dan salah satunya adalah beliau.