MENYALA KALA TENGGELAM
Kita tak harus selalu menang
Kita tak harus selalu melawan
Sebab, seringkali kemenangan membuat manusia lupa
Sedangkan kekalahan, terkadang menjadi cara terbaik manusia menyadari realita
Sejenak menengok musibah Covid 2019-2022 kemarin. Sebuah virus yang tak terlihat, ada di mana-mana, dan mematikan. Jika - anggap ini sebuah simulasi, manusia memiliki musuh yang sangat kuat, dia tak terlihat, dan dia ada di mana-mana, apa yang harus manusia lakukan?
Pertanyaan itu jelas sepele, jika hanya dibaca. Tapi jika direnungkan sejenak, sambil ditemani kopi dan tembakau kretek di keheningan malam, bisa jadi kita akan putus asa. Apa yang harus dilakukan dalam kondisi seperti itu?
Dari musibah Covid kita belajar, keruwetan seperti apapun, bahkan mungkin ancaman perang dunia III, dunia tanpa listrik tanpa internet, dunia ini tetap punya 'Sang Sutradara'. Tentu manusia tidak boleh begitu saja jatuh pada fatalisme - jabariyah, cukup yakin tanpa upaya sistemik bahwa Tuhan akan menolong orang beriman. Seperti umat Nabi Nuh, Nabi Luth, Nabi Musa, yang diselamatkan dengan cara di luar nurul. Akal sehat manusia modern tak mampu memahami sejarah bahwa itu adalah nyata, riil. Orang-orang beriman sudah menjadi kewajiban 'penduduk langit' untuk menyelamatkan mereka.
Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban Kami menyelamatkan orang yang beriman. (Yunus : 103)
Lalu, antara yang selamat dan yang wafat - saat Covid - pun menjadi paradoks. Apakah yang syahid kena virus itu ditolong Tuhan, atau kami yang selamat? Apakah diselamatkan Tuhan secara otomatis hidupnya dibenarkan oleh-Nya? Hidup seringkali tidak se-datar itu.
Kemenangan tidak selalu karena kuat. Apalagi di negeri yang menang-kalah bagaimana 'orang dalam'. Tergantung jawaban dari pertanyaan, 'anda dibawa siapa?'. Kegagalan, bahkan keterpurukan peradaban negeri ini pun sama, tidak bisa disamadengankan bahwa negeri ini layak hancur. Mengutip teori pembusukan, sebuah pohon dan buah yang lapuk, busuk, benih-benihnya siap untuk menyongsong zaman baru. Anak-cucu Maiyah yang selama ini nampak menjaga jarak dari kegaduhan negeri, sepertinya sudah mulai menunjukan sinarnya. Menerangi negeri yang hampir tenggelam, dengan generasi yang bersiap menyala menyelamatkan.
Seperti dunia arab sebelum kelahiran Sang Nabi, terbelakang dan diremehkan. Seperti eropa sebelum bersentuhan dengan sains Islam, hina dan terbelakang. Lalu - mudah-mudahan - seperti Indonesia, yang hancur dari dalam, namun ada butir-butir bintang yang siap menyala terang.
(Redaktur Poci Maiyah, Februari 2026)
