DALAM GENGGAMAN
Mukadimah
Poci Maiyah Maret 2026
Oleh: Abdullah Farid
Sebuah hadits menceritakan :
Hanzalah Al Usaidi berkata:
“Kami bersama Rasulullah, beliau mengingatkan kami tentang surga dan neraka sampai seakan-akan kami melihatnya langsung. Tetapi ketika kami pulang, bercampur dengan keluarga, anak-anak, dan pekerjaan, kami banyak lupa.”
Nabi menjawab:
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian terus berada dalam keadaan seperti ketika bersamaku dan dalam dzikir, niscaya malaikat akan menyalami kalian di tempat tidur kalian dan di jalan-jalan kalian. Tetapi wahai Hanzalah… sesaat dan sesaat.”
Secara neurosains - ilmu
mekanisme otak, manusia tidak didesain untuk selalu lurus. Otak manusia -
setidaknya, selalu diberikan jalan untuk belok, menikung, mlipir, untuk tidak
konsisten bahkan pada apa yang disukainya. Kita bedah satu-satu sebelum melihat
gambaran jelas dari hadits itu, lewat mukodimah kita ini.
Dalam tubuh, khususnya otak,
hewan dan manusia memiliki apa yang para ilmuwan sebut sebagai cross
inhibition(hambatan silang). Maksudnya, jika kita - misalnya - suka main game
online, dan juga ingin tetap menjaga gairah belajar/ngaji, maka mana yang lebih
sering kita biasakan itulah yang akan membentuk syaraf otak lebih kuat. Semisal
game online lebih dominan, maka belajar jadi malas. Sebaliknya, semakin asyik
belajar, kenikmatan main game makin hambar. Jalan tengahnya keknya main game
sambil belajar, misal losestrike tanpa bacot sedikitpun. Nah.
Berbeda dengan hewan, manusia
akan ditanya bukan karena memilih main game atau ngaji, tapi mengapa anda
memilih itu?. Disinilah fungsi akal dan sistem kehendak bebas. Hewan tidak
dimintai tanggungjawab, sedangkan manusia, setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban.
Ada sih, manusia-manusia dengan emblem hewani, tapi yo tetep akan dimintai
tanggungjawab.
Dari cross inhibition inilah
kasih sayang Tuhan terlihat. Manusia punya hak untuk menjadi jahat, sebesar
hak-nya untuk menjadi baik. Selama itu logis. Sebab, bukan tentang baik dan
buruk sikap kita, tapi seberapa sering kita kembali (taubat) pada Tuhan. Maka
dalam ramadan ini sangat jelas terlihat gambarnya - tipe-tipe manusia itu. Ada
tipe manusia yang lupa Tuhan setahun, ingatnya dirapel pas sholat id, dengan
jubah dan sorban wangi. Ada yang lupa Tuhan seminggu, ingatnya dirapel pas
sholat jumat. Dan ada orang beriman yang puasa, tapi sholatnya lupa. Shodaqta
ya rasulullah, Nabi kita memang jos nemen. Ada tipe manusia islam, sholat puasa
torikohannya rajin, tapi ke tetangga galaknya kek ultinya Balmon. Haji dan
umrohnya rajin, tapi ke tetangga yang kelaparan, kesakitan, dia tutup mata. Ada
manusia maqom iman, sedekahnya jor-joran, apikan, bahasanya sopan, tapi belum
mau sholat, belum mau puasa. Mauludan paling depan, tapi sholatnya masih terasa
berat. Dan terakhir jenis paling langka, manusia tipe ihsan, mereka yang
disebut nabi dalam hadits di atas sebagai orang-orang yang disalami malaikat.
Jenis manusia amfibi, hidup di dua alam. Satu wajah melihat dunia, sedangkan
saringgan matanya selalu melihat Allah.
Demikianlah hidup. Jika kita
lupa, maka sadarilah itu kenikmatan Tuhan yang melenakan. Jika kita dzikir -
ingat, maka itu sapaan Tuhan. Bukan kita menyebut-Nya, tapi Dia-lah yang setiap
saat menyebut kita, namun kita terlena. Fa adzkuruni adzkurkum, bukan hanya
"ingatlah Aku, maka Aku pun mengingat mu". Melainkan juga, "Aku
mengingatmu selalu, hamba-Ku, dan aku bahagia saat akhirnya engkau
ingat,".
Pola naik-turun, lupa-ingat ini
bahkan sampai ditunjukan di wilayah atom. Partikel yang spin up (naik) itu pola
mi'raj seorang hamba setiap ia ingat Allah. Dan spin down (tanzil) saat manusia
turun kembali ke kesadarannya sebagai manusia. Dan bahkan, nabi juga
mengajarkan itu, kan? Setelah beliau naik ke batas eksistensi - sidratul
muntaha, beliau turun kembali menjadi hamba yang jelata.
Bersyukur, malam ini, gelaran
Poci Maiyah bertepatan dengan hari-hari Nuzulul Qur'an. Allah capek-capek turun
untuk menyapa kita, apakah kita justru akan asyik dengan dunia?
Savage nemen.
Selasa, 3 Maret 2026
