KEMBALI UTUH

Table of Contents

 


Mukadimah Poci Maiyah April 2026

Oleh: Abdullah Farid

‎Mana yang akan anda pilih - dan berani jadikan jalan hidup : Cari kenikmatan meski ada yang rusak dari dalam diri, atau lebih sering sabar dan merasa tak utuh ketika orang lain mendapatkan kenikmatan?

 

‎Di Maiyah, setiap diksi nampaknya makin rumit. Maksudnya begini, apakah bisa disebut kenikmatan jika menuntut pengorbanan yang lebih besar? Setimpalkah kenikmatan sejenak, sedikit, kita tukar dengan kenikmatan yang memanjang bahkan sampai ke anak cucu? Sholat yang lima menit itu benar-benar nggak nikmat - bagi sebagian orang bahkan merepotkan, untuk hamba-hamba yang masih training. Tapi bagi hamba-hamba yang setia, itu sangat nikmat. Apalagi ramadan, puasa makan minum mungkin telah usai. Tapi puasa dari keburukan yang disengaja, atau yang kita bahas tadi, puasa dari "kenikmatan-kenikmatan" semu apalagi dengan cara tidak benar, itu sebaiknya terus jalan.

‎Dalam quran, orang terbaik bukanlah orang yang tak pernah salah. Melainkan mereka yang ketika menyadari telah salah, segera memperbaiki diri. Tubuh manusia dan alam sebenarnya tidak didesain untuk melakukan penyimpangan. Dan ketika manusia melakukan penyimpangan, kejahatan, maka tanda ada yang rusak di dalam dirinya. Ada keutuhan dalam dirinya yang runtuh. Saat seseorang memaksakan diri berbuat jahat - kita sering bertanya mengapa Tuhan seakan membiarkan mereka, layaknya barang yang rusak ia akan tersingkir dari kehidupan dengan sendirinya. Mungkin itu satu makna dari ayat : buih itu akan lenyap sebanyak apapun itu, sedangkan yang bermanfaat akan bertahan lama.

‎Setidaknya, ada tiga kategori besar jenis manusia di dalam quran. Pertama adalah mereka yang tidak diridoi, bahkan tidak dibolehkan mendapatkan nikmat Tuhan, tapi dibiarkan. Mereka ibarat maling. Mengambil nikmat Allah tanpa mau mendekati-Nya - menyantuni yang tertindas, menegakan keadilan, dsb.

‎Jenis kedua, mereka yang diibaratkan seperti binatang ternak. Matta'a lakum wa li an'amikum. Kenikmatan-kenikmatan dunia itu untukmu dan binatang ternakmu. Sindiran pedih bagi mereka yang menyadari : kita, disamakan dengan binatang ternak. Lahir, makan-minum, tumbuh, beranak, lalu menua dan mati. Tanpa produktifitas, tanpa ghiroh (semangat) perjuangan memperbaiki keadaan diri dan lingkungannya.

‎Jenis ketiga, mereka adalah yang tak peduli pada reward and punishment lagi. Mereka yang ketika dipanggil i-tiyaa thou'an aw karhaa, qolataa atayna tho-i'iin.. dengan atau tanpa iming-iming, dengan atau tanpa kenikmatan, bahkan sekalipun misalnya Tuhan acuh padanya, ia tetap taat.

In lam takun 'alayya ghodlobun fala ubali".

‎"Asalkan Engkau (Tuhan) tidak marah kepadaku, maka aku tidak peduli (nasibku)

‎Merekalah orang-orang yang tersadar pasca bulan ramadan. Orang-orang yang kembali utuh, setelah dicabik-cabik 11 bulan sebelum ramadan.

‎Kamis, 2 April 2026