TILIK ATI

Table of Contents

 


Mukadimah Poci Maiyah Mei 2026

Oleh: Abdullah Farid

‎Bayangkan hati anda bertanya pada diri anda :
 
‎Sudah begitu jauhkah perjalananmu, wahai diriku sendiri?
‎Hal besar apa saja yang sudah kau lakukan, sampai berjarak begitu jauh dengan hatimu sendiri?

‎Kata nabi, ada satu bagian tubuh di dalam diri manusia yang jika ini baik, maka diri manusia seutuhnya baik, dan jika itu buruk, akan buruk juga seluruh tubuh dan pikirannya : itu adalah qolbu.

‎Secara bahasa kata qo-la-ba berarti bolak-balik, siklus, bergantian, bisa juga berarti pusat. Jika kita lihat organ dalam tubuh kita yang punya siklus itu, maka hanya dua : dada atau paru-paru untuk siklus nafas, dan jantung untuk siklus darah. Dan kalau kita kaitkan dengan pembedahan tubuh nabi saat masih kecil, itu peristiwa pembelahan dada. Antara paru-paru untuk nafas, dan jantung untuk darah. Sebab, hati (lever) tidak punya fungsi siklus. Ia menetralkan racun dan mengirim residunya ke dalam empedu. Wallahu a'lam.

‎Dalam tema Mei ini, mengambil renungan Tilik Ati, sedikit terdengar seperti tilik aji (haji), menengok ke rumah Tuhan. Secara kebetulan, ka'bah juga konon menjadi pusat energi bumi. Yang di atasnya, energi bumi dinetralisir dari ibadah sholat umat Islam.

‎Ati dalam hal ini adalah bahasa budaya, bukan bahasa medis, atau bahkan fisika. Ati yang dekat dengan makna rasa, yang mengalami dari dalam, atau pusat hidup di dalam diri manusia. Anda bisa saja punya banyak uang, tapi jika ati (perasaan) anda sedang kecewa dikhianati kekasih atau bahkan pasangan hidup, maka kebahagiaan punya banyak uang itu tidak ada begitu nikmat. Anda bisa saja berjalan bergandengan tangan dengan kekasih, tapi jika di hati anda ada seseorang lain, maka rasa anda pun tidak bersama orang yang anda gandeng itu. Bahasa lagu, memiliki tubuhnya tapi tanpa hatinya.

‎Nah, sudah berapa lama kita merasa tidak lagi bersama Tuhan? Sedangkan Dia berkata :

Innalloha ma'a shobirin
‎Fa idza sa-alaka ibadi, 'anni fa inni qoriib
Wa huwa ma'akum aina ma kuntum
‎Wa nahnu aqrobu ilaihi min hablil waridz


‎Kita mendapatkan rezeki-Nya, mendapatkan banyak kenikmatan dari-Nya, tapi justru yang memberi itu semua kita acuhkan.

‎Seseorang yang bahkan dengan hatinya saja dia jauh, bagaimana ia akan dekat dengan Tuhannya? Seseorang yang bahkan hatinya tak mampu peka terhadap lingkungan tempat tinggalnya, bagaimana ia akan peka terhadap bahasa Tuhan yang seharusnya ia dengar.

‎Maka malam ini, bersama kita niatkan untuk kembali menengok hati kita sendiri. Tilik ati, lalu tombo ati, jika memang ternyata sudah sekian lama, bahkan dengan hati sendiri pun kita tidak saling menyapa.
 
 
‎Tegal, 30 April 2026.