Jangan Biarkan Hati Pensiun

Table of Contents
Mukadimah Maiyah On The Road
Edisi Gubug Sholawat



Ada zaman ketika orang takut berbuat salah.

Lalu datang zaman ketika orang tidak lagi takut berbuat salah, tetapi takut ketahuan.

Dan sekarang, mungkin kita sedang hidup di zaman yang lebih rumit lagi:

Orang tidak takut berbuat salah.
Orang tidak takut ketahuan.
Korupsi disebut strategi.
Kebohongan disebut narasi.
Pengkhianatan disebut manuver.

Muhammad Rasulullah ﷺ sering berbicara tentang hati yang sehat secara moral—hati yang resah ketika melihat ketidakadilan, kebohongan, atau kezaliman.

Jika melihat korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, atau kebijakan yang merugikan rakyat lalu hati merasa tidak nyaman, itu bisa menjadi tanda bahwa nurani moral masih hidup.

Namun, kegelisahan itu tidak otomatis membenarkan semua bentuk reaksi. Hati bisa dipengaruhi oleh emosi, propaganda, kepentingan kelompok, atau kemarahan. Di sinilah akhlak menjadi penuntun.

Pertanyaannya bukan hanya:

“Apakah saya marah terhadap ketidakadilan?”

Tetapi juga:

“Apakah cara saya merespons ketidakadilan itu tetap berakhlak?”

Misalnya:

• Mengkritik kebijakan dengan argumen dan data dapat menjadi bentuk kebaikan.
• Membela kelompok yang dirugikan dapat menjadi bentuk kebaikan.
• Menolak ikut korupsi meski semua orang melakukannya jelas merupakan bentuk kebaikan.

Namun:

• Menyebarkan fitnah karena membenci pemerintah.
• Menghina dan merendahkan manusia lain.
• Membenarkan kebohongan karena dianggap menguntungkan kubu sendiri.

Semua itu menjadi problematis, meskipun dilakukan atas nama “melawan ketidakadilan”.

Saat semua orang berkata:

“Ya memang begitulah politik.”
“Semua juga korup.”
“Yang penting kubu kita menang.”

Lalu hati kita bertanya:

“Apakah saya benar-benar tenang dengan ini?”

Bukan tenang karena sudah terbiasa, melainkan tenang karena memang benar.

Ada satu sisi lain yang sering terlupakan.

Kadang-kadang yang diuji bukan keberanian untuk melawan, melainkan keberanian untuk tidak ikut menjadi buruk.

Kita mungkin tidak bisa langsung mengubah negara, tetapi kita bisa menolak untuk ikut:

• Menyuap.
• Memfitnah.
• Menyebarkan kebencian.
• Memanfaatkan kekacauan demi keuntungan pribadi.

Dalam keadaan sosial yang buruk, menjaga integritas pribadi sering kali menjadi bentuk perlawanan yang nyata.

Poci Maiyah Edisi On The Road malam hari ini akan melanjutkan pembahasan Hadis Arbain Nawawi Nomor 27. Hadis ini mencoba menjawab kegelisahan atas kondisi yang dianggap amburadul. Pesannya bukan “terima saja”, dan bukan pula “lawan dengan cara apa pun”.

Pesannya lebih dekat kepada:

Biarkan hati yang sehat tetap peka terhadap ketidakadilan, lalu responslah dengan akhlak yang baik, bukan dengan meniru keburukan yang sedang dikritik.

Itulah titik pertemuan antara al-birr (kebaikan) dan nurani. Yang diuji bukan hanya kemampuan mengenali yang salah, tetapi juga kemampuan untuk tetap menjadi baik ketika berhadapan dengan yang salah.