Manusia Bebas

Table of Contents


 
Mukadimah Poci Maiyah Juni 2026

Oleh: Abdullah Farid

‎.... "Bahkan, untuk manusia yang terjebak rutinitas saja hidup ini masih menggembirakan, bagaimana mungkin untuk "manusia bebas" tidak nampak keindahannya secara utuh?"...

‎Di mukadimah bulan-bulan yang lalu, kita sudah membahas tentang kondisi mendasar manusia yang tidak mungkin bebas secara penuh. Sebagai manusia waras, mengaku sebagai manusia bebas dengan cara hidup menuju kehancuran - dengan mabuk-mabukan tiap hari misalnya, adalah kekacauan, bukan kebebasan. Seseorang mengemudi kendaraan dengan ugal-ugalan, menabrak kendaraan lain atas nama kebebasan, itu juga namanya error, kacau, bukan kebebasan. Jika kita ambil definisi "bebas" disini, maka kebebasan dan manusia bebas adalah mereka yang tidak terintimidasi apapun dalam memilih takdirnya. Seseorang taat dalam berkendara bukan karena ia takut polisi, tapi ia melakukannya dengan kesadaran sebagai manusia berakal waras. Manusia merdeka adalah mereka yang menjalani hidup dengan kesadaran apa yang memang seharusnya.

‎Bahkan, jikapun harus perang, membunuh, maka itu yang harus dilakukan. Semisal negeri ini perang dengan negara lain - meskipun itu nyaris mustahil, maka perang dan membunuh adalah keharusan. Dalam hal ini kita akan dihadapkan pada pertanyaan mendasar : apakah dalam kondisi tertentu keburukan atau kejahatan tidak sebagai keburukan dan kejahatan lagi? Semisal dalam perang atau bertarung dengan pocong begal yang kemarin viral. Apakah boleh melukai penjahat? Sebagai manusia waras yang merdeka, justru itu seharusnya. Sebab, harta rampasan perang saja tidak boleh dikembalikan pada musuh, apalagi kehormatan yang terancam di depan penjahat.

‎Manusia bebas, bebas memilih jalan hidup. Tuhan memberikan dua jalan, fujuur wa taqwa, jalan buntu dan menyesatkan, dan jalan taqwa. Tapi memang demikian jalan kesetiaan, jalan taqwa tak selalu nyaman, tak selalu ramai, atau bahasa manusia modern : tidak selalu diuntungkan.

‎Tema "Manusia Bebas" pernah menjadi perdebatan di awal abad 20. Sempat populer tema-tema "teologi pembebasan". Bahwa Islam datang membebaskan manusia dari kebodohan, dari kesesatan, dari kebinasaan. Secara teologi juga-lah manusia akan melihat keindahan secara utuh sebagai manusia bebas. Manusia yang hati dan pikirannya telah dibebaskan dari perbudakan nafsunya sendiri. Mungkin itu mengapa salah satu amalan besar adalah membebaskan perbudakan. Fakkuroqobah, satu ayat di Surat Al Balad yang menjadikan seseorang itu terbebas dari jalan terjal. Jalan hidup yang susah payah dibangunnya sejak mulai bisa berpikir, oleh Tuhan dihancurkan, digantikan dengan cara pandang-Nya, yang menjadikan kemanapun ia melangkah dalam hatinya terbersit doa : robbana ma kholaqta hadza baatila. Tidak ada yang sia-sia, yang remeh, yang telah diciptakan-Nya. Sebab, yang remeh dan sepele saja terkadang menjadi bagian terpenting dari suatu hal.