SANGKAR SYUKUR

Table of Contents


Mukadimah Poci Maiyah Juli 2026
Oleh: Abdullah Farid

‎Seorang guru mengaji diuji oleh Allah dengan istrinya yang sakit. Dia sudah tawakal, sudah ikhtiar, sabar, mencoba tetap tabah dengan tetap berdakwah. Tapi setelah bersabar dan ikhtiar selama beberapa bulan, Allah berkehendak lain : istrinya meninggal.


‎Kisah lain seorang karyawan. Tiga bulan yang lalu sudah diumumkan akan ada efisiensi karyawan. Maka si karyawan ini menambah sholat malamnya. Dzikirnya diperbanyak. Sedekah subuhnya diistiqomahkan. Tapi lagi-lagi, Allah mentakdirkan dia kena PHK.

‎Tiap orang punya kisah semacam ini masing-masing. Orang yang belum berada di posisi seperti itu, akan sangat mudah menjadi motivator pada orang yang sedang mengalaminya.

‎"Bersabar, Allah pasti kasih jalan,"

‎"Tetap husnudhon, ini yang terbaik,"

‎"Perbanyak doa dan ibadah,"

‎Yang ketika kita mengalami kisah semacam itu, agaknya terasa pahit motivasi itu bahkan jika mendengar dari diri kita sendiri.

‎Mukodimah kali ini akan membahas Sangkar Syukur. Tentang syukur yang di luar arus utama. Sebab, umumnya orang bersyukur ketika keterima jadi karyawan MBG misalnya. Melamar gadis impian. Naik jabatan. Viral di tiktok atau Instagram. Dan hal-hal permukaan semacam itu.

‎Tidak tepat rasanya ketika hidup terasa sempit, lalu seseorang memaksa dirinya untuk mensyukuri apa yang sedang menimpa dirinya. Sebab, nabi saja menangis dan bersedih ketika putranya wafat. Nabi sedih - bahkan marah, ketika beberapa ahlul Quro yang diutusnya dibantai dan di masukan ke dalam sumur. Yang menjadikan beliau mendoakan qunut nazilah pada kaum kejam itu. Sangkar Syukur bukan untuk menekan fitrah manusia untuk bisa merasa terpuruk, dengan ucapan indah motivasi. Bukan dengan menahan getar emosi dengan dalil-dalil agama. Sebab, emosi yang mengendap terus menerus sebab ditekan dan tak diberi jalan, suatu saat akan 'meledak' dan menjadi gangguan dalam jiwa yang lebih fatal.

‎Sangkar syukur dimaksudkan agar pandangan kita adil. Bahwa dunia ini memang rapuh. Tak ada satu pun hal yang bisa dijadikan sandaran kecuali Allah, dalam keikhlasan. Juga, inna ma'al usri yusro, dunia memang demikian, tidak dikenal sebagai kemudahan jika manusia tak pernah belajar tentang apa itu kesulitan. Dan dalam setiap kesulitan, terbentang banyak jalan kebaikan. Fa idza faroghta fanshob, maka teruslah berjalan. Sebab, mereka yang mampu menikmati luka-luka kehidupan, tak perlu membela diri suatu saat menghadap Tuhannya. Luka-lukanya sudah menjadi bahasa cinta, betapa demi Dia, luka itu tak mengapa.