Hidup Saja Berbahaya, Apalagi Kalau…?
Mukadimah Poci Maiyah Agustus 2026
Oleh: Abdullah Farid
Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah, namun pada masing-masingnya terdapat kebaikan. (Potongan hadits riwayat Shahih Muslim)
Secara tata bahasa, judul kali ini setidaknya bisa dibaca dari dua angle (enggel, sudut pandang) berbeda:
"Hidup saja berbahaya, apalagi kalau... Lebih dari hidup yang biasa saja." atau "Hidup saja berbahaya, apalagi kalau... La yamutu fiha wa la yahya", plesetan orang jawa mengartikan: urip ora mutu, mung entekno biaya.
Di sinau bareng kali ini, kita bahas satu-satu, dan akan menyentuh hadits yang dikutip di awal mukadimah.
Angle yang pertama, ada "hidup" yang lebih dari hidup. Memang sih, identifikasi hidup saja banyak sekali. Secara sains anak sekolah, ciri makhluk hidup itu ada tiga: Bergerak/tumbuh, berkembang biak, dan peka terhadap rangsangan. Maka ada guyonan anak-anak remaja ketika PDKT dengan lawan jenisnya, ketika dirayu-rayu tapi tak peka, bisa jadi dia bukan makhluk hidup.
"Hidup" yang lebih dari sekedar hidup bisa diambil dari kondisi seperti itu. Lebih dari 3 ciri makhluk hidup secara sains dasar. Sebab, hidup manusia amat sangat komplek dan beragam kisah hidupnya. Hidup bukan sekedar tumbuh, tapi sebaiknya punya arah. Seperti tumbuhan yang selalu tumbuh mengarah ke cahaya matahari. Hidup tak sekedar berkembang biak, lahir, tumbuh, sekolah yang entah jualan ijasah atau belajar, lulus dan kerja, menikah, punya anak, dan menunggu mati. Meski boleh juga hidup yang seperti itu. Kan cuma sebaiknya. Hidup bukan sekedar peka, tapi juga berguna. Bukan sekedar merasa stress secara artifisial (pura-pura) melihat bangsa yang seperti ini, tapi juga beraksi. Bukan hanya reaktif, tapi juga produktif. Hidup seperti ini lebih berbahaya. Lebih koprot.
Angle kedua, adalah hidupnya seorang mukmin yang kuat seperti dalam hadits itu. Kuat yang bagaimana? Alhamdulillah, sudah dipraktekan sehari-hari oleh orang Jawa. Gak duwe duit tapi wani nikahan. Gak duwe kerjaan, tapi wani kredit motor. Gak duwe skill, tapi sing penting bissmillah. Kuat babak belur, meski bukan berarti tanpa rasa sakit dan kepedihan yang hqq.
La yamutu fiha wa la yahya, dalam satu sudut pandang, adalah mereka yang bahkan sudah tidak peduli pada hidup dan mati dirinya sendiri. Sebab, seperti tadi di angle pertama, bahwa hidup sebaiknya punya arah. Dan arah manusia yang hidupnya melampaui kesadaran hidup dan mati diri personalnya, merekalah orang-orang yang lebih dicintai Allah. Dan secara otomatis menjadi pengikut Nabi Muhammad di shaff pertama. Sebab, Fattabiuni yuhbibkumullah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu (Ali Imran : 31).
Pati sajeroning urip, kata leluhur kita. Mati dalam hidup. Bahasa alay seorang filsuf amatiran, Jatuh cinta pada kehidupan, tanpa keinginan. Mencintai kehidupan tanpa kecemasan. Sebab cinta dan keinginan tak bisa berada di level yang sama. Dalam konteks ayat "fattabi-uni", tidak bisa mencintai Allah dengan tetap mengikuti hawa nafsu diri kita sendiri. Dan orang-orang yang berada dalam golongan ini - berbahaya betul hidupnya, mungkin yang akan termasuk dalam kategori :
Wa la taqulu liman yuqtalu fii sabilillahi amwaata, bal ahyaa'un wa lakin laa tasy'uruun.
Saat hidup dia mati, dan saat mati dia justru hidup. La yamutu fiiha wa la yahya, identifikasi hidup dan mati tidak berlaku lagi untuk mereka. Dont try at home. Itu hidup yang sangat amat berbahaya.
Tegal, Rabu 5 Agustus 2026
