Dua Sandal Nabi
Mukadimah Maiyah On The Road
Edisi Gubug Sholawat
Oleh: Abdullah Farid
Terompah, sandal, atau alas kaki, peninggalan nabi. Apa itu? Secara umum, quran dan sunnah. Secara khusus, adalah dua nasihat ketika nabi hendak intaqola ilaa rofiqil a'ala - wafat. Ushikum bi sholati, wa ma malakat aimanikum.
Jagalah sholat - kita sudah paham ini secara umum, tapi wa ma malakat aimanikum secara bahasa diartikan "jagalah yang kamu kuasai di tangan kananmu" atau "jagalah yang kamu kuasai secara utuh". Tapi dalam konteks nasihat nabi pada Sayyidina Ali itu adalah, jagalah orang-orang lemah di antaramu.
Tidak perlu menjadi perdebatan mengapa orang sholat tapi wataknya keras atau menjadi topeng dosanya. Atau, orang baik hati yang tak mau sholat. Keduanya ada kebaikan, ada juga keburukannya. Yah, sebagai umat biasa, kita sama sekali tak bisa ideal.
Tapi dalam bulan maulud ini, dalam konteks jagalah orang-orang lemah di antaramu, mari kira belajar dari Nabi mengapa beliau mau menyuapi pengemis yahudi buta yang tiap disuapi, ia mencaci orang yang menyuapinya dengan lembut itu.
Nabi berdoa agar salah satu "Umar" (ibnu khottob atau ibnu Hisyam/Abu Jahal) masuk Islam, itu agar ada keuntungan di pihak Islam. Utsman, Khalid bin Walid, Abu Sofyan, mereka menguntungkan umat Islam. Lha, lalu mengapa Nabi mengasihi pengemis buta itu? Untungnya apa buat Islam?
Daa sandal nabi, sholat dan penjagaan terhadap orang-orang dhuafa semakin hilang saat ini. Orang lemah sebatas diberi empati, dijadikan artis medsos demi merapu adsense, mengumpulkan donasi yang sebagian besarnya untuk panitia. Di bulan Maulud ini, mari semakin menguatkan diri untuk lebih peduli pada mereka yang teraniaya kehidupan. Sebab, mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meski dalam keduanya ada kebaikan.
