NYAMBUNG URUPE URIP

Table of Contents


 ‎Mukadimah Poci Maiyah September 2026

Oleh: Abdullah Farid

‎Gelaran Poci Maiyah kali ini berkolaborasi dengan Festival Literasi Kabupaten Tegal 2026. Kolaborasi budaya yang mengusung tema keberlanjutan (sustainabilitas) kebudayaan, pendidikan, dan kesadaran bersosial.

‎Kesadaran sosial yang saat ini mulai redup, perlahan hilang, dan mungkin suatu saat tak akan dikenal lagi oleh generasi setelah kita. Maka judul mukadimah kali ini adalah Nyambung Urupe Urip, Menyambungkan Menyalanya Kehidupan. Agar hidup tak sekedar berjalan, tapi juga "menyala abangkuh.”

‎Entah sudah se-asing apa untuk anak-anak remaja saat ini permainan tradisional: Benteng, engklek, gobak sodor, glatik, cublek-cublek suweng. Lebih asing lagi lagu-lagu jawa yang sebenarnya penuh makna pendidikan sustainable. Lagu-lagu tua yang tenggelam kalah oleh lagu-lagu incidental versi tiktok dan video short.

‎Akan lewat mana anak-anak remaja saat ini dikenalkan dengan mekanisme tahlilan, sholat jenasah, sholat gerhana, dan tradisi agama semacamnya selain lewat pesantren dan madrasah, sebagai pesantren versi lite. Dua lembaga yang di kampung-kampung dinilai nomor dua, kalau bukan untuk "membuang" anak nakal, ya karena sudah tidak diterima di sekolah negeri: ya sudah madrasahin atau pondokin saja.

‎Menyambungkan menyalanya kehidupan bukan hanya untuk sekedar hidup - ya, meskipun tidak disalahkan juga hidup dengan cara begitu. Orang tak perlu sekolah sekedar untuk kaya. Cukup jadi affiliate yang rajin ngonten atau influencer pop yang kontennya aneh-aneh, uang akan datang. Tapi kalau hidup hanya sekedar kaya - tidak salah juga, kesadaran hidup bersosial tidak akan "menyala". Kesadaran budaya tidak akan berlanjut ke generasi setelah kita. Seperti halnya pebisnis warung makan yang anaknya ditinggal di kampung, ketika anak itu besar, ia juga melanjutkan orangtuanya. Seakan menjadi lingkaran tanpa ujung. Dan rantai seperti itu, peradaban - manusia Indonesia - akan perlahan hilang.

‎Dalam gelaran ini kita akan belajar bagaimana mekanisme menguatkan akar pendidikan, agar batang budaya, cabang sosial dan buah-buahnya bisa seperti apa yang diajarkan dalam kitab:

‎Matsalan kalimatan thoyyibatan kasyajarotin thoyyibatin ashluha tsabitun wa far'uha fis-sama tu'tii ukulaha kulla hiinin bi idzni robbiha

‎Perumpamaan narasi yang baik itu seperti pohon kebaikan. Akarnya kuat  (menghujam dalam), dan cabang-cabangnya menjulang ke langit. Buah-buah dari narasi (pendidikan) itu berbuah (menyadarkan) setiap saat dengan izin Allah.