MODER-@T MUHAMMAD
Mukadimah Poci Maiyah Oktober 2026
Oleh: Abdullah Farid
Hanya jeda satu minggu, kita bermaiyah lagi. Ada satu quote : Jika durasi waktu memikirkan dunia lebih banyak daripada durasi belajar (sinau), maka potensi hidup penuh keluhan akan lebih besar daripada bijak menyikapi pengalaman. Maka, meski hanya berselang satu minggu, kita tambah durasi belajar agar kesadaran cenderung mensyukuri hidup daripada mengeluhkannya.
Tema dan tulisan ini mengambil judul Moder-@t Muhammad. Dari kata Moderat dan Nabi Muhammad. Secara fonetik terdengar seperti mother, acara tiap minggu yang kita adakan sebelum gelaran di GBN. Mother, Maiyah On THE Road. Sedangkan arah dari tema ini, agar kita belajar sikap moderat, pertengahan, dari apa yang diajarkan Nabi Muhammad. Belajar menjadi umatan wasathon, umat yang menjadi wasit, tidak berat sebelah, tidak ekstrim kiri, tidak juga ekstrim kanan. Dalam hal ini, konteks kita adalah ikut menengakkan keadilan dengan standar ilmu.
Al-Maidah ayat 8 :Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
Agak susah memang untuk adil, ketika kita belum membaca atau belajar tentang begitu banyak paradoks yang nabi sampaikan. Semisal tentang poligami, dalam quran dibolehkan. Tapi putri nabi, Fatimah, itu tidak boleh dipoligami oleh Ali bin Abi Thalib. Ada lagi hadits tentang larangan memutus silaturahim, tapi bahkan Nabi melarang Wahsyi agar jangan terlalu sering menampakan wajahnya di hadapan beliau. Itu belum lagi fakta perang unta, antara Ali bin Abi Thalib dengan kubu Aisyah rodliallahu'anha. Bukan sekedar memutus silaturahim, tapi perang.
Apa pelajaran moderatnya dari kisah-kisah itu? Bahwa kita yang di zaman banjir informasi ini, tak perlu gumun dengan perbedaan pendapat kelompok X dan kelompok Y. Itu sudah sejak zaman anak-anak Nabi Adam, Habil dan Qabil. Melainkan belajarlah untuk berpijak pada ilmu, yang tidak berat sebelah. Kecuali dalam hal hukum syariat, siapa yang menyalahi, maka wajib membela yang didzolimi. Bersikap netral pada mereka yang didzolimi sama dengan membela kejahatan. Sebaliknya, pada persoalan-persoalan di luar kapasitas diri kita, maka cukup doakan saja. Berilah peringatan bil yadi, dengan tangan/kekuasaan, bil lisan atau dengan ucapan, dengan tulisan, atau setidaknya bil qulub, cukup hati kita mendoakan yang terbaik dan mengingkari yang buruk, meski itu selemah-lemahnya iman.
Moder-@t Muhammad, belajar moderat dari Nabi Muhammad, meski sulit, itu akan pelan-pelan kita bahas dalam gelaran Oktober malam ini.
