• Musimnya Bercumbu dengan Tuhan


    "Bertepatan dengan musim penghujan, gelaran Sinau Bareng Poci Maiyah diujung kebimbangan. Antara gerimis bubar atau lanjut basah-basahan."

    Bagi sebagian golongan manusia, hujan identik dengan masalah yang besar. Bagi golongan yang lain adalah berkah yang maha asyik dari Tuhan.

    Satu Minggu sebelum acara digelar, para penggiat sudah merumuskan berbagai macam jurus untuk mengantisipasi musim hujan dibulan Januari, antara berpindah tempat atau menyewa tarub sebagai penangkal air yang turun. Toh seperti biasanya, selama 2 tahun acara berlangsung outdoor.

    Bahkan di grup jamaah banyak yang menuliskan mantra-mantra "Ya Allah, semoga cuaca tetap cerah, jangan hujan Ya Allah". Sampai ada yang mengancam "Masa untuk acara yang baik, Engkau tega menurunkan hujan?"

    Sampai ada jamaah yang mengirimkan informasi cuaca satu hari sebelum acara berlangsung, hasilnya pun semakin membuat pesimis. Tercatat malam ini akan hujan deras. Sampai koordinator Poci Maiyah mengeluarkan maklumat untuk membaca surat al-insyirah 11 kali setelah shalat rawatib.

    Namun pagi harinya, informasi dari website BMKG menyebut cuaca malam ini akan terang. Kami semua bahagia sambil merenung "Maklumat koordinator sangat manjur sekali".

    Tetapi selang beberapa jam, ada notifikasi di WhatsApp kalau-kalau malam ini tetap turun hujan. Fyuhh, betapa senangnya Tuhan guyonan.

    Akhirnya semua pasrah, mau hujan atau tidak, kami akan tetap menggelar Sinau Bareng demi tersebarnya nilai-nilai maiyah yang merupakan suatu keutuhan dengan Alquran. Sampai Maghrib kok hujan tidak turun, bahkan sampai acara dimulai kok tidak ada tetesan air, padahal semua sudah siap dengan segala resiko.

    Sepanjang gelaran malam ini, saya selalu berharap. "Hujan Ya Allah, hujanlah yang deras". Mumpung belum hujan, mari ramaikan malam ini dengan cinta kasih.
  • Rekomendasi