• BUNGAH KEPANGGIH : ALIF

    Mukadimah Poci Maiyah Juni 2019 
    Oleh: Rizki Eka Kurniawan

    Alif...

    Jika dibaca huruf itu berbuyi tapi membisu, tak memiliki presepsi bermakna suyi. Cobalah kalian pikirkan dengan akal rasional tentang “Alif”, maka yang terlintas tak lain adalah huruf yang ramping berbentuk vertikal, sekali lagi jika dibayangkan huruf itu sangat sederhana dan kebanyakan kita hanya mengetahuinya sebagai huruf hijaiyah biasa, akan tetapi terkadang sesuatu yang bermakna dalam tersembuyi, Alif melambangkan keheningan, maka dari itu sifatnya diam. Keterbukaan makna pada Alif hanya akan terjadi ketika kamu tetap diam dalam keheningan seperti Musa yang tak boleh bertanya pada Khidir, dan ajibah Ilahi yang akan menuntunmu untuk memahami.

    Alif...

    Tak terlepas dari kemistikannya dia mendarisari penciptaan huruf lainnya, jika Alif dibengkokan maka akan melahirkan huruf baru, Alif hadir disetiap surah tanpa disadari, ia telah memenuhi prinsip dasar segala sesuatu, ia hadir disegala sesuatu dan tak berlawanan dengan lainnya, ia tunggal tapi bermakna tak terhingga, kasat mata dan tegak dengan sedirinya.

    Maka sekali lagi aku ajak kalian untuk membuyikan “Alif” dalam keheningan...

    Berbuyi tiga...

    Alif, Lam, Mim...

    Alif, Lam, Ro...

    Antara pecinta, yang dicinta, dan cinta berjarak rindu... Tetapi apa hubunganya Alif dengan Bunggah Kepanggih? Karena kali ini mereka yang berjarak rindu sedang menuju untuk bertemu bersama menemukan kebahagiaan, semesta menyaksikan ada rindu yang dipendam begitu lama oleh para perantau di luar kota sana untuk kembali bertemu sanak keluarganya di kampung-kampung halaman, setelah sekian lama dipendam karena beberapa alasan kewajiban untuk memenuhi kebutuhan, mencari nafkah untuk anak dan istri mereka, melanjutkan sekolah, dan berbagai alasan lainnya, kini arus akhir ramadhan seakan membawa mereka untuk kembali pulang dan sejenak meninggalkan perihal urusan-urusan dunia, pikiran-pikran mereka telah tertuju pada hari raya sebagian mereka telah bersiap-siap dengan kedaraan-kedaraan mereka, sebagian lagi sedang menata-nata barang yang akan di bawa pulang sebagai oleh-oleh dan perbekalan. Mereka para perantau adalah para perindu yang memiliki hak untuk bertemu, tetapi mereka harus bersabar karena mereka juga memiliki kewajiaban yang harus ditunaikan agar sekembalinya mereka bisa “Manggih Bunggah Kepanggih” jangan sampai sekembalimu ke kampung halaman hanya akan merepotkan keluargamu saja, kepulanganmu harus bisa membuat mereka bahagia dan kembali mesra dengan suasana desa. kewajiban-kewajibanmu harus kamu tunaikan lebih dulu sebelum kamu pulang, sehingga keluarga dan masyarakat sekitar menyambutmu dengan senang tanpa ada celaan yang meyakitkat.

    Dan syukur alhamdullah Tuhan memberikan jalan kepada masyarakat untuk berpulang setiap tahunnya, masyarakat kita memimiki tradisi mudik di setiap tahun menjelang lebaran idul fitri, para pemudik itu tidak hanya berjalan dari luar kota ke kampungnya melaikan sedang menunaikan suatu hal teologi yaitu inallahi rojiun, perjalanan mereka bukan semata-mata perjalanan yang bersifat material melinkan juga perjalanan batin yang menuntun mereka lebih dekat dengan Tuhan, mereka sedang berlatih untuk kembali kepada asal musal penciptaannya, mereka sekan sedang diajak sebentar untuk beriti’kaf dari segala permasalahn dunia yang hampir membuat pecah kepala, berdiam sejenak mengkosong hati yang tadinya terisi oleh banyak keinginan-keinginan, harapan-harapan, angan-angan yang belum tertunaikan sampai sekarang, sehinggga hati kita dikuasai dunia seutuhnya, kali ini kita mencoba mengkosongkan itu semua dan menyisakan Allah saja dalam hati dan ingatan kita, menjadikan hati sebagai baitullah karena sesungguhnya Dialah pemilik hati kita, Dialah Tuan Rumahnya, Sang Penghuni Qolbu yang sesungguhnya. Sebentar ber’itikaf telah membebaskan jiwa dari dunia alangkah baiknya jika hal itu kita sinambungi dengan tafakur sesaat untuk membuka cakrawala pengetahuan, sesuai dengan Hadis Nabi “Tafakur sesaat lebih baik daripada beribadah 70 tahun” luangkan waktumu sesaat untuk merenung-renungkan tentang apa yang telah dilakukan hari ini? Bagaimana rencana kedepan?, mencoba memetahkan rencana untuk sebuah hari yang lebih baik dengan rumus perhitungan yang mantap, sehinggah langkah perjalananmu tidak lagi terbata-bata alif-ba-ta-tsa, kamu sudah bisa membaca semesta ini dengan mudah, mampu membaca cuaca dan kondisi kehidupan, dengan begitu maka maka kamu akan ridho dan diridhoi-Nya dan perintah Tuhan tak sengaja telah kalian tunaikan, karena Allah SWT berfirman:

    "Yaaa ayyatuhan-nafsul-muthma`innah, irji'iii ilaa robbiki roodhiyatam mardhiyyah”

    "Wahai jiwa yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya." (QS. Al-Fajr 89: Ayat 27-28)

    Dan mungkin di gelaran poci maiyah kali ini para perindu itu sedang duduk melingkar bersama dengan perasaan bunggah sehabis bertemu keluarga dan mencoba menemukan kembali kebahagiaan baru di setiap pertemuan, maiyah seakan memiliki magnet yang menarik mereka untuk hadir bertemu meskipun itu hanya sekedar diskusi, ngobrol, ngopi, udud, nlemprak di dinginnya malam, kali ini poci maiyah menyambut mereka dengan kehangatan, membuat mereka kembali mesra dengan keadaan sekitar, bersama-sama menciptakan atsmofir yang sejuk untuk dihirup. Atau mungkin maiyah juga sudah menjadi bagian dari tujuan mereka pulang ke kampung halaman untuk Manggih Bunggah Kepanggih? Meskipun kita telah sadar bahwa hidup hanya sekedar peralihan rasa, hari ini kita bertemu dengan perasaan bahagia nanti esok kita berpisah dengan perasaan sedih dan hal itu terjadi berulang kali sampai kita mati, tapi bukankah perpisahan diciptakan untuk kita bisa saling merindu memendam rasa ingin bertemu?, bukankah rindu adalah kesakitan yang nyata bagi pecinta? Sehingga kehadiran kekasih menjadi obat di setiap pertemuannya, maka kerinduan yang telah lama kalian pendam, di hari ini telah terobati oleh Bunggah Kepanggih, akan tetapi serasa ada yang kurang jika kita belum menemuian makna “Alif”. Maka kali ini Poci Maiyah mengajak para perindu itu untuk menemukan makna “Alif” disetiap Kepanggih (Pertemuan) agar bisa Manggih (Mendapatkan) rasa Bunggah (Senang), cobalah untuk kembali diam merenungkan arti dari setiap kata yang telah terbaca, dengan keheningan malam ini bersama lagi membuyikan huruf “Alif” maka ia berbuyi diam, Dia yang menciptakan segala apa yang ada, Dia tetap hadir disetiap kehadiran, Dia tak berlawanan terhadap segala hal, Dia berjarak rindu denganku, aku dan Dia terikat dalam Tajali cinta, maka makna “Alif” adalah... Diam, suyi kembali disetiap pemaknaan.




  • Rekomendasi