Rabu, 17 Juli 2019

Meneguk Setetes Air Cinta Nabi


Reportase Poci Maiyah Juli 2019
Oleh: Rizky Eka Kurniawan

Nuansa Maiyahan malam kali ini terasa benar-benar berbeda, melihat cuaca yang sedikit mendung dengan angin yang semilir-semilir membawa hawa dingin kepada para sedulur maiyah tak menyurutkan semangat mereka untuk tetap hadir bermaiyahan bersama, meskipun tempat rutinan gelaran Poci Maiyah selalu diadakan di tempat terbuka dan sama sekali tak ada teduhannya yang mungkin sekali apabila terjadi hujan sewaktu-waktu ketika bermaiyahan mereka semua akan langsung kehujanan, namun kekhawatiran semacam itu seakan-akan telah hilang dari pikiran mereka terbukti dengan cukup banyaknya orang yang hadir membuat keadaan tetap terasa hangat, acara malam ini menjadi lebih istimewa dengan hadirnya Ki Haryo, seorang pedalang asli Tegal yang terkenal dengan wayang santrinya sekaligus putra dari Mantan Bupati Tegal (Bpk. Ki Enthus Susmono)

Acara dimulai dengan lantunan wirid & doa-doa untuk para sesupuh yang dipimpin langsung oleh Kang Fahrudin setelah itu dilanjut Kang Mustofa mengajak para sedulur maiyah untuk berdiri senantiasa menyayikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dan para sedulur maiyah pun kembali dipersilahkan untuk duduk setelah selesai menyayikannya. Selebaran mukadimah mulai dibagikan kepada para sedulur maiyah yang turut hadir meramaikan acara malam hari ini dan satu nomer shohibu baity dinyayikan bersama-sama menambah suasana menjadi semakin hangat dan mesra meskipun semilir angin terasa dingin. Atmosfire-atmotfire maiyah mulai terbangun dengan kehangatan, cinta kasih dan kegembiraan para sedulur maiyah kali ini. Seperti biasa jauh sebelum meyelam jauh ke pembahasan mula-mula diawali dengan tadarus mukadimah yang diringi dengan backsound untuk menambah nuansa lebih mendalam kepada para pembacanya. Pembacaan mukadimah berlangsung secara bergantian dari paragraf awal hingga akhir cukup memancing reaksi dari para sedulur maiyah untuk bertanya-tanya dan berfikir tentang tulisan yang telah terlampir, dan setelah selesai pembacaan mukadimah tiba-tiba dengan sendirinya banyak orang yang bertepuk tangan, apa yang sebenarnya mereka tepuk tangani? Selama ini disetiap gelaran Poci Maiyah disetiap bulannya tak pernah ada tepuk tangan setelah pembacaan mukadimah tapi gelaran kali ini terasa benar-benar berbeda dan inilah pertama kalinya tepuk tangan berdatangan dari para sedurur maiyah setelah pembacaan mukadimah selesai, apakah tepuk tangan mereka karena terkesan dengan mukadimah kali ini? atau karena suasana maiyahan malam hari ini benar-benar mesra dan membuat bungah suasana hati para sedulur maiyah. Seakan ada yang wah yang membuat mereka bertepuk tangan. Mereka memiliki jawaban sendiri atas pertanyaan ini, barangkali memang kejujuran dari dalam perasaan mereka yang penuh dengan kecintaan yang saling merindukan untuk berkumpul melingkar setiap bulannya secara tak sadar terexpresikan melalui tepuk tangan mereka.

Kebetulan tema yang diangkat Poci Maiyah kali ini adalah As-Shidiq sebuah judul tema yang sangat erat sekali dengan salah satu sahabat Nabi yaitu Abu Bakar As-Sidiq seorang yang terkenal akan kejujurannya dan rasa cintanya kepada Nabi Muhammad Saw. Kang Fahmi mencoba mengulas pembahasan “perjalanan tema ini sebelumnya adalah obrolan saya dan Kang Luay tentang pengalaman yang kemudian muncul kata as-Shidiq, kita berdua mencoba bertadabur tentang Khalifah Abu Bakar as-Sidiq yang tampa sengaja ternyata sama dengan mukadimah yang dibuat oleh Kang Farid. 

Mari kita menyelami kata as-Shidiq secara estimologis yang berasal dari kata Shodaqoh” sedikit pematik dari Kang Fahmi telah membuka pikiran orang-orang akan tetapi serasa kurang bila sholawatan belum dilantukan malam ini mulailah Kang Fahrudin kembali memimpin para jama’ah bersama-sama bersholawat alfasalam dan setelah sholawat Kang Fahmi teringat “ternyata as-Shidiq juga merupakan salah satu sifat Nabi Muhammad, Shidiq, Tabliq, Amanah, Fatonah”. Pembahasan mulai lebih mendalam dan Kang Fahmi mencontohkannya seperti ketika seorang yang sering berkhutbah di masjid yang suatu ketika lupa membawa catatan kecil yang biasanya dibawa oleh para khotib, karena lupa membuat catatan kecil maka dia membawa buku besar agar tetap bisa berkhotbah, mekipun kadang ada yang berkata “lhoo khotib kok bawa buku besar?” karena biasanya khottib terlihat cakap dan hafal akan semua materi yang akan disampaikan akan tetapi menurutnya keputusan untuk membawa buku besar tidak ada salahnya bagi seorang khotib itu malah sebuah kejujuran pada dirinya sendiri ketimbang tiba-tiba harus bikin catatan kecil mendadak dan tidak siap itu malah akan membuat tergesa-gesa tegasnya. Mbah Nahar mulai merespon dari tulisan di mukadimah, sebelumnya dia bertanya pada Kang Mus “Kapan Pertama kali dirimu berbohong?” “Mungkin sekitaran waktu SD” jawab kang Mus. “SD sudah terlalu tua untuk berbohong masalahnya anak kecil biasanya sudah mulai terbiasa berbohong seperti saat anak kecil memakan chiki ditanyai orang tua karena takut memnimbulkan batuk “kamu habis malan chiki kan?” karena anak itu takut dimarahin orang tuanya maka dia menjawab “nggak”. menurutmu itu umur berapa?” tanya Mbah Nahar. Kang Mus akhirnya tersadar ternyata iya sekitaran umur 4-5 tahunan manusia sudah mulai berbohong dan pertanyaan dari Mbah Nahar muncul kembali “kira-kira yang mengajari kita berbohong siapa?”. Lalu Mbah Nahar menjalaskan yang namanya kejujuran haruslah dengan presisi yang pas, tidaklah mungkin seorang orang tua membohongi anaknya jika efek yang ditimbulkan itu lebih besar manfaatnya, seperti ketika orang tua melarang anaknya untuk membeli es krim karena khawatir batuk maka orang tua bilang kepada anaknya “jangan beli es cream pait” dalam konteks ini kebohongan menjadi lebih baik dari pada kita berbicara jujur ada beberapa kondisi yang membuat kobohongan lebih baik dari pada jujur contoh lain ketika seorang anak menggambar sesuatu dengan bentuk gambaran yang tak jelas kepala manusia dikasih warna kuning, rambutnya putih pokoknya tidak sesuai realita tapi saat dia bertanya kepada orang tuanya “gimana gambar adek?” pastilah jawaban orang tuanya “wah gambarnya bagus” dalam hal lebih baik berbohong untuk menambah semangat anak daripada jujur malah akan membuat sang anak patah semangat, contoh lain lagi ketika ada seorang dikejar depkolektor akan dipukuli lalu dia bersembuyi dan depkolektor itu bertanya pada kita “tadi orangnya yang lari kemana ya?” dalam hal ini juga tidaklah mungkin kita akan jujur niat utama kita adalah menolong orang jika kita jujur maka orang yang bersembuyi itu akan terkena pukulan depkolektor maka dalam hal ini kita harus berbohong, tertulis pada mukadimah di terminal pertama.

Lalu Mbah Nahar mencoba membahas terminal kedua, membahas tentang kejujuran Abu Bakar dalam menyakinkan umat Islam saat kejadian Isra Miraj, akan sangat susah memang untuk dilogikakan dari Makkah menuju Palestina hanya dalam waktu satu malam itupun Allah untungnya memisahkan peritiwa Isra Miraj dalam al-Qur’an, peristiwa Isra ada di surat al-Isradan Miraj ada di surat an-Najmdan kalimat yang pertama digunakan adalah “Subhaana” kalimat yang kaitanya dengan pendekatan keimanan karena sangat susah dilogikakan oleh akal dan peristiwa itu kemudian diimani oleh Abu Bakar karena pendekatan yang dipakai adalah pendekatan iman bukan pendekatan akal bahkan Abu Bakar mengatakan “Kalo ada peristiwa lebih besar dari Isra Miraj selagi yang mengatakan adalah Rosulullah maka aku akan langsung mempercayainya”

Setelah itu Kang Luay mulai berbicara dan bertanya kepada para sedulur yang hadir “apa perasaan kalian semua dari tadi duduk di sini? Dingin? Jelas... Expresi apa yang kalian rasakan hari ini? Kenapa? Karena malam hari ini tidak ada yang mempermasalahkan pakaian yang kita kenakan, ternyata kedekatan kita, cara kita mbrayan dan menjaga paseduluran kita ternyata lebih penting dari pada apa yang kita kenakan lalu kenapa tema yang diangkat kali ini adalah as-Shidiq? Hal ini diangkat agar kita bisa merasakan kejujuran dalam diri kita sendiri, persaan kita sendiri bisakah mempertahankan itu atau tidak? Karena hal yang terbaik sebelum semua dalil bertemu dengan njenegan adalah hal terjujur di alam semesta yang njenengan temui”. Pembahasan ini pun berlanjut kepada cerita Kang Luay tentang kesalahan kodok karena setiap ada anak jatuh orang tua pasti bertanya “kodoknya di mana? Kodok?” ketidakjujuran pertama adalah kita suka menyalahkan sesuatu yang tidak kita sukai, kedua Kang Luay bertanya pada para sedulur apa hubungannya hujan dengan mantan? Apabila hujan turun satu persen yang diingat adalah mie gorang sembilanpuluh sembilan persen mantan itu hubungannya apa??? Dengan nada bercanda Kang Luay menanyakan itu dan seruh jama’ah tertawa. Kang Luay juga mewanti-wanti kepada para calon ibu-ibu untuk nanti jangan terlalu memberikan informasi bohong kepada anak seperti ketika orangtua akan pergi ditanyai anaknya “maa mau kemana?” kebanyakan orang tua jawabannya berbohong sering kali yang kerap akrab didengar di telinga orangtua selalu menjawab “mau suntik nak” padahal asliya pergi kepasar, seterusnya ia melanjutkannya tentang penjelasan bahwa anak kecil tidak akan mudah diajak berbicara akan tetapi mereka akan selalu pandai menerikan seseorang, “Coba saja tadi anaknya Kang Edy si Fattan diajak ngomong untuk diam pasti tambah lari-lari kecuali jika Bapanya ikut lari-lari pasti dia diam bertanya “Bapanya aku lagi apa ya??” tawa para jama’ah pun mebludak kegirangan mendengar itu suasana semakin malam terasa semakin menyenangkan dengan humor-humor yang dibawakan Kang Luay dan sekali lagi dia menceritakan lagi tentang soerang anak kecil dan ibunya yang rusuh, di suatu hari seorang ibu mengajak anaknya kepasar akan tetapi jauh sebelum berangkat ibunya sudah memperingati kepada anaknya untuk tidak membeli apapun dan si anak menuruti omongan ibunya tapi namanya anak-anak pastilah banyak keinginanannya ketika sampai di pasar si anak melihat banyak aneka mainan dan jajanan sampai ketika ia melihat dawet si anak meminta kepada ibunya “bu dawet”, “gausah gaenak” “dawet bu pokoknya dawettt klo gak nanti ibu dak demo” canda kang luay,  “okeh tapi kalo gak enak jangan neyesl yaa?”. Saking gemesnya sang anak menjawab “Iya buuu” si ibu pun membeli dawet tersebut sambil berbisik kepada pedangganggya “dawet satu jangan di kasih gula”. Es dawetpun siap untuk disajikan si ibu langsung memberinya kepada si anak dan ketika si anak meminumnya rasanya hambar dan dia bilang keibunya “iyaa bu hambarr gak enak” sambil mengasihkan es dawet pada ibunya. “tuh kan gakenak dibilangin rewel” ucap sang ibu kepada anaknya lalu kembali mengampiri pedagang es dawet tersebut dan bilang “mas ini dawetnya belum dikasih gula” dikasihlah gula pada es dawet itu dan si ibu meminum dawetnya sampai habis dan si anak tetap percaya bahwa dawet rasanya hambar.

Setelah selesai cerita Kang Luay menegaskan hal pertama yang perlu kita nikmati adalah kejujuran kita kepada perasaan kita sendiri untuk menikmati iman, akan tetapi orang yang berlaku jujur tidak berarti berlaku dzolim, mengatakan “kamu jelek banget sh” kepada orang lain bukanlah suatu kejujuran melaikan perbuatan dzolim, bagaimana bisa kita jujur terhadap diri kita sendiri apabila kita menyakiti orang lain?Seperti dalam bahasanya Mas Sabrang “kejujuran adalah memberikan rasa nyaman dan keselamatan pada orang lain” itu tertumpu dalam kata iman dan islam, apabila kita menjadi orang yang beriman maka kita memberikan rasa keselamatan kepada siapapun, apabila kita muslim mak kita berikan rasa selamat pada siapapun, baik itu harkat martabatnya, harta benda maupun nyawanya.

Setelah Kang Luay selesai bicara Mba Intan menawarhan kepada para sedulur barangkali ada yang mau merespon atau menanggapi dari beberapa pernyataan yang tadi dan Kang Hafiz dari slawi pos mencoba mengulas mukadimah pada teminal ke tiga ia mengatakan ketika seorang mencintai sesuatu maka akan ada pengorbanan seperti ketika orang berpacaran ia akan berkorban muntuk membuat pacarnya bahagai entah itu memberikan hadiah atau segala macamnya begitu pula saat seorang mencintai Allah dan Rosulullah lalu dilanjut Mas Cecep dari Tembok Kidul menanggpi penyataan Kang Luay tetang laku pendidikan orangtua  yang menurutnya salah ia beranggapan ketika seorang anak disuruh beribadah dengan iming-iming hadiah adalah sesuatu yang salah membuat anak menjadika berkarater materialismungkin akan lebih baik apabila saat menyuruh anak beribadah tanpa iming-iming materi sebagi contoh“nak sholat biar disayang Allah” Mas Cecep juga menanyakan sesuatu hal menurutnya kita adalah korban sejarah dari kejadian Adam dan Hawa yang makan buah kuldi sehingga ia diturunkan di dunia seandainya saja itu tidak terjadi pastilah kita sudah disurga dan apakah benar Nabi Adam itu manusia yang pertama yang diciptakan oleh Allah atau manusiayang pertama disempurnakan oleh Allah? Sedangkan di surat al-Baqoroh ayat 28-32 disitu menjelaskan tetang penciptaan manusia yang disitu ada kata ja’ala dan khalaqo yang berati menjadikan dan menciptakandan disitu para malaikat protes akan penciptan manusia bahwa akan terjadi pertumbahan darah serta ada pula kata Kholidina fi abda, kekal didalamnya akan tetapi jika kekal kenapa manusia diturunkan disurga dan mengapa di surga ada Iblis?

Sembari menunggu para jama’ah mempersiapkan jawaban untuk merespon pertanyaan Mas Cecep satu nomer lagu dari Ed Sheeran Perfect dan satu nomer lagi lagu berjudul akad khusus dinyayikan oleh Kang Fahmi untuk Kang Luay yang baru menikah.


Lanjut kembali ke pembahasan seseorang tak mau mengenalkan namanya ikut merespon tentang keluarnya Nabi Adam dari surga menurutnya keluarnya adam dari surga memang sudah direncanakan Nabi Adam mengetahui bawasanya ia akan menjadi khalifah di bumi. Lalu Kang Fahmi merespon pertanyaan dari Kang Hafiz tentang bagaimana cara mencintai Rosullah secara singkatnya seperti ini terkadang ketika kita mencintai sesuatu bisa jadi itu bukan mencintainya melainkan kita mencintai diri kita sendiri dengan tuttutan yang kita inginkan darinya, mungkin susah untuk memahami makna mencintai tapi setau aku setiap orang yang mencintai Rosulluah namanya abadi seperti Abu Bakar, Umar, Bilal bin Rahbah meskipun hanya seorang muazin tapi namanya abadi samapai sekarang, berikutnya Mbah Nahar kembali merespon beberapa pertanyaan yang diajukan para sedulur pertama tentang cara menindidik anak dengan iming-iming materi todak sepenuhnya salah karena memang mendidik anak kecil butuh keluesan tidak bisa langsung disuruh sholat dengan lilahitala semuanya bertahap, kedua tentang manusia sekarang berada di bumi bukanlah korban dari kelalaian Nabi Adam memakan buah kuldi melaikan memang nantinya manusia akan dijadika kholifaf di bumi perihal dulunya ada di surga biar nanti ketika turun ke bumi membawa nilai-nilai surgawi, ketiga tentang keberadaan Iblis disurga itu sebenernya dulu Iblis namanya Azazil dan dia taat pada Allah, kesalahannya Cuma ketika ia merasa sombong dan tak mau sujud pada Nabi Adam maka dikeluarkanlah ia dari surga dan berubah menjadi Iblis. Dilanjut dengan tambahan dari Kang Luay bahwa kita harus bersikap pada kemurnian untuk tidak berprasangka buruk terhadap apapun termasuk kepadakapitalisme, materialisme, empirisme, rasionalisme sampai skolastik dan sebagainya dari peradaban barat yang sering sekali kita bentur-benturkan dengan peradaban timur jangan diuzoni terlebih dahulu semisal materialisme tidak baik, padahal kita hidup dalam dunia materi, termasuk jazad tubuh kita adalah materi, maka kita harus bersikap pada kemurnian karena tidak semuanya buruk ada porsi dan takaran tertentu yang akan menjadi baik bila ditempatkan dengan pas, pembahasan dilanjut dengan metodelogi berfikir orang Indonesia yang kadang keliru untuk membedakan gula dan manis, kebanyakan orang menggagap gula dan manis itu sama padahal berbeda, terbuktu buah mangga tanpa gula tersa manis hal ini perlu dibenahi sebelum melakukan proses tadabur, Kang Luay juga membeberkan pemaknaan tombo ati yang berjumlah lima namun sejatinya semuanya adalah yang pertama, apabila salah satu dari lima itu dilakoni secara otomatis maka dapatlah semuanya, Kang Hafiz juga ikut ditanggapi Kang Luay perilah merasa berkorban itu hanya akan terjadi kepada krang yang meresa memiliki, apabila dilogikakan dengan inalillahi rojiun maka apa yang kita miliki saat ini? Tangan? Milik Alllah, tubuh dan seluruhnya adalahlah milik Allah? Lantas apa yang kita korbankan? Seluruh kehidupan manusia telah diatur dan salah satu yang bisa dikendalikan manusia Cuma satu kehendak”
Haripun semakin malam namun para sedulur maiyah masih tetap bertahan untuk sinau bareng dan Kang Mustofa mengajak Ki Haryo untuk ikut angkat bicara.

Ki Haryo bercerita waktu dia bertemu Mbah Nun untuk menyerahkan wasiat dari Abahnya Ki Enthus Susmono, suatu hari di rumah kediamannya Abahnya sedang duduk merokok sambil nonton Mbah Nun di youtube memanggil Ki Haryo dan bilang “tolong carikan alamat Mbah Nun abah ingin memberikan gendang jaipong satu set” “Lhaa kenapa bah?” jawab Ki Haryo “Iyaa Abahh sering menggunakan pemikiran Mbah Nun di pemerintahan dan pewayangan” namun ternyata keinginan itu terlupa karena kesibukan Abah Entus menjabat bupati Tegal dan cuti untuk berkampaye sampai-sampai akhirnya meninggal dunia, anaknya Ki Haryo yang dipesani untuk mencarikan alamatnya Mbah Nun juga ikut terlupa karena kesibukannya dan setelah beberapa lama terlupa suatu hari Ki Haryo berkali-kali berminpi Abahnya Ki Entus mengingatkan wasiatnya untuk memberikan kendang jaipong kepada Mbah Nun akhirnya Ki Haryo langsung memesan kendang jaipong itu pada temannya dari sunda dan menghubungi Gus Misftah dari pesantren ora aji Jogja dan Mas Sigit dari Sedhal Waton yang pada akhirnya dapat kontak Mas Zaki adeknya Mbah Nun dan akhirnya dengan berbagai perantara Ki Haryo bisa bertemu dengan Mbah Nun di pendopo Kiai Kanjeng iapun langsung menyampaikan wasiat Abahnya untuk menyerahkan kendang jaipongan.

Setelah itu Ki Haryo juga ikut merespon tulisan di mukadimah ia memberi contoh ada seorang suami istri yang selingkih namun khilaf tapi ketika bersatu kembali timbul dua perasaan yaitu sakit hari dan cinta, Ki Haryo beragapan dua hal itu adalah kejujuran baik rasa sakit hati maupun cinta padahal berlawanan dan yang menjadi pertanyaan bagaimana menanggapi kedua kejujuran itu? Opsi pertama mempertahankan hubungan dan teringat rasa sakit hati dan opsi kedua adalah bercerai dan hal itu akan menimbulkan banyak resiko perasaan lain akan tumbuh juga, dalam hal ini bisa disimpulkan bahwa untuk kejujuran kita perlu membohongi kejunuran yang lain.

Setelah Ki Haryo berbicara dilanjut dengan persembahan puisi dari Bu Retno dan perlahan hujan turun mengguyur para sedulur maiyah, semakin derasnya hujan tak membuat para sedulur berpulang mereka masih tetap duduk melingkar yang akhirnya dilantunkanlah sholawat Indall Qiyam pada malam itu untuk menghangatkan suasana. Sejenak hujan reda namun setelah itu kembali turun bertambah deras akan tetapi para sedulur maiyah masih tetap bertahan hujan-hujanan dengan rindu yang amat tebal dalam hatinya, entah apa yang membuat mereka tak mencari-cari tempat teduhan dan tetap bertahan di tempat terbuka untuk bermaiyahan, namun sayang sekali seluruh peralatan elektronik termasuk microphone dan alat musik harus diamankan untuk mencegah terjadinya konsleting dan mau tak mau acara harus kami selesaikan dan akhirnya para sedulur besalaman sambil diringi lagu Hasbunallah. 

Maiyahan kali ini terasa begitu spesial seakan Kanjeng Nabi mendengar rintihan rindu para sedulur yang bermaiyahan kepadanya sehingga semesta takjub dan menurunkan hujan yang mungkin ini adalah pertanda bahwa Nabi Muhammad juga merindukan umatnya, Shollu Ala Nabiy.

Rabu, 03 Juli 2019

As Shidiq



Mukadimah Poci Maiyah Juli 2019
Oleh : Abdullah Farid 

Assalamualaikum, wr. wb.

Pertemuan bulan ini, Poci Maiyah akan mengajak sedulur-sedulur untuk piknik, rihlah, wisata, atau setidaknya ziarah. Qul sirru fil ardli fandhuru kayfa kana aqibatul minal mukadzibin. Yap, mukadzibin, para pendusta. Kita akan berjalan-jalan, melakukan petualangan spiritual dan intelektual sampai dini hari nanti, untuk semakin mengenal diri dan mudah-mudahan semakin mesra frekuensi keimanan kita pada Allah dan Rasulullah.

Lawan dari 'as shidiq', yang paling sederhana kita pahami adalah dusta, para pendusta, al mukadzibin. Apakah kita termasuk itu?

Sebelum berangkat berjalan-jalan, kita akan mengawalinya dengan empat terminal. Ash Shidiq yang dimaknai kejujuran (terminal pertama), ash Shidiq yang dimaknai 'yang membenarkan kebenaran rasulullah' (terminal kedua), ash Shodiq/shodiqoh yang dimaknai teman seiman, se-frekuensi (terminal ketiga), dan shodaqoh yang dimaknai memberikan apa yang kita cinta untuk Tuhan atau utusannya. Kita jelajahi dulu saja terminalnya satu-satu, sebelum bus poci maiyah berangkat. Mari...

Terminal pertama adalah ash Shidiq yang dimaknai kejujuran. Kualitas diri yang di jaman ini semakin direndahkan, seperti akhlak nabi yang lain, saking tingginya martabat manusia jaman ini. Ada kecenderungan peradaban yang semakin 'jereng', juling, yang menganggap akhlak nabawi adalah hal murahan, sedangkan bermegah-megahan dalam bentuk apapun diperebutkan. Tak bisa membedakan mana roti dan mana tai. Di maiyah kita belajar untuk menyederhanakan yang rumit, dan menyelami kesederhanaan yang ternyata dinamis, memiliki keruwetan ketika kita mendalaminya. Ada kejujuran yang justru menyelamatkan, tapi juga ada kondisi-kondisi tertentu yang jika kita jujur saat itu bisa celaka kita. Misalnya, jujur ketika masakan istri ternyata nggak enak, dsb. Ada kondisi-kondisi yang mengharuskan kita untuk bohong, bukan untuk menyelamatkan diri sendiri, tapi lebih besar dari itu. Misalnya ketika Mbah Nun menghadang rombongan truk di kalimantan sana berdialektika dengan bahasa yang sangat baik, demi tidak terjadinya perang yang lebih besar antara dayak dan madura. Ada kejujuran yang dikemas dengan bahasa yang bertele-tele, ada orang yang sengaja menerima kebohongan untuk menyelamatkan harga diri orang yang berbicara dengannya (seperti apapun engkau lukai aku, bohongi aku, hati ini tetap mencintaimu), ada juga kejujuran yang harus dimodifikasi karena aturan yang justru menuntut orang-orang di dalamnya untuk berbohong. Terminal satu, luas juga ya.

Terminal kedua adalah ash Shidiq yang dimaknai 'yang membenarkan kebenaran rasulullah'. Kisah ketika abu bakar 100% yakin dengan kisah isra mi'raj sang nabi. Melakukan perjalanan mekah-palestina hanya semalam, yang di jaman itu belum ada pesawat terbang, jet, atau ojek/onta online. Kabar menggemparkan yang menjadikan banyak orang mukmin meragukan kerasulan Muhammad Ibn Abdullah, sebagian murtad, dan hanya setengah jumlah orang mukmin saat itu yang masih menjaga keimanannya. Ahadzaladzi ba'atsallahu rasula? mereka yang murtad dan keimanannya goyah termakan omongan orang-orang kafir quraishi. Bahasa tegale, 'Nyong yakin sampean rasul, tapi ya aja mblandrangen nemen. Mekah-Palestina kok ya sawengi?'. Tapi juga masih ada yang tetap dalam keimanannya, dan mereka diimami oleh Abu Bakr yang kelak mendapat gelar 'ash shidiq', yang membenarkan kebenaran. Orang-orang dengan keimanan konstan, ajeg, badai atau kabar buruk seperti apapun, allah dan rasulullah tetaplah yang nomor satu dalam hatinya. Huwa anzalas sakinataw fi qulubil mukminin liyazdadu imana ma'a imanihim. Lalu, itu kan dulu. Memangnya kita juga bisa menjadi golongan orang-orang yang membenarkan kebenaran rasul di jaman yang seperti ini?

Terminal ketiga adalah ash Shodiq/shodiqoh. Teman seiman, sefrekuensi, yang dalam hal ini, tak mungkin kita datang di poci maiyah bukan karena (setidaknya) getaran frekuensi yang sama. Karena tak mungkin, frekuensi yang berbeda itu mau membaur berlama-lama bersama. Marojal bahroyna yal taqiyan, baynahuma barzakhu la yabghiyan. Akan selalu ada batas antara dua hal berbeda sekalipun berada dalam satu dimensi. Dan dalam jalan nabi, kita diajarkan bukan hanya untuk berteman, bersaudara sepintas lalu saja. Pertemanan kita adalah ikatan dunia akhirat, tak terbatasi waktu, tak terputus wilayah. Allahumaghfirlana wali-walidayna, wa lil mukminina wal mukminat al ahya'i minhum wal amwat. Meski memang tak bisa kita video call dengan mereka yang sudah di alam kubur. Susah.

Terminal terakhir adalah shodaqoh. Mengorbankan diri, memberi apa yang kita cinta demi allah dan rasulullah. Tak harus materi, karena ternyata meluangkan waktu untuk berdzikir setelah subuh, atau kapanpun kita mampu, itu juga shodaqoh. Tersenyum pada saudara, juga shodaqoh. Tapi tentu itu tak bisa kita samakan dengan kencleng jumatan yang melewati kita. Mensenyumi kencleng justru akan terasa tempang (Otaknya). Dan apa yang lebih besar dari jual-beli, memberikan apa yang kita cinta untuk allah dan rasulullah? Innallahasy taroo minal mukminina anfusahum wa amwalahum. Kita telah dibeli dengan pembelian yang sangat besar, tidakkah kita berpikir, jika kita ini milik-Nya, mengapa Dia harus membeli sesuatu yang sudah Dia miliki?

Nah, bus poci maiyah hendak berangkat. Kencangkan sabuk pengaman. Siapkan snack, karena ini akan lebih lama dan asyik ketimbang menonton Avenger : Endgame. Insya Allah Bismillahirrohmanirrohiim.

Selasa, 25 Juni 2019

Beberapa Cara Hidup Bahagia

Pagelaran poci maiyah dengan tema bungah kepanggih alif. Satu persatu perkata dibahas mulai dari kata bungah yang dalam bahasa Indonesia berarti bahagia, kepanggih adalah bertemu, dan alif adalah salah satu rumpun dari huruf hijaiyah yang katanya; alif adalah huruf yang paling ikhlas, ia ada namun tak pernah menyombongkan diri. Ba.. bi.. bu.. ba.. dan seterusnya bisa hadir dan menampakan keeksistensiannya, namun tidak dengan alif, jika ada a.. i.. u.. maka dia bukan alif melainkan adalah hamzah. Alif adalah hilir mudik dari titik satu ke titik yang lain, ibaratnya adalah dari titik awal manusia diciptakan hingga titik akhir yakni mudik keharibaanya.
Begitu ada lafadz alif yang terlintas dalam benak saya adalah tentang cerpen buah karya Gus Mus dengan judul tulisan kaligrafi (alifku berdiri tegak dimana-mana). Sebuah kaligrafi lafadz Allah yang gagal sehingga penulisnya tidak melanjutkan, ia menulis dan berhenti pada huruf alif tanpa meneruskan pada lafadz lillah. Cerpen-cerpen karya Gus Mus memang luar biasa, apa lagi yang dengan judul "Gus Jafar" namun tentu kita tidak akan membahasnya disini. 
Alif memang memiliki banyak makna dan nilai filosofi yang bikin mumet bro. Apa lagi alifnya para jomblo "berdiri tegak tanpa tau arah jalan pulang". haha.. Selain itu urusan utang piutang juga belum selesai, kan jadi tambah mumet.!!😋 mending kita ngobrol tentang kebahagiaan (bungah). Agar menjalani hidup yang memang penuh dengan beribu problematika bisa kita selesaikan dengan cara gembira.

Yang paling menarik dari pagelaran semalam di poci maiyah adalah, apa yang disampaikan oleh salah satu dari jaamaah poci maiyah, yang kurang lebih adalah seperti ini. "bahwa kebahagiaan (sa'adah) bisa terwujud dengan cara meperoleh ketenangan di hati". Maka timbul satu pertanyaan lagi, yakni bagaimana kita bisa memperoleh ketenangan hati? coba kita rasakan dengan dalam. Menurut orang alim, bahwa ketenangan dalam hati bisa kita peroleh dengan cara tidak melakukan kesalahan dalam bentuk apapun dan dimanapun. Kita akan merasa gelisah ketika melakukan kesalahan di lingkungan keluarga, tempat kerja, dan lain sebagainya. Dan puncaknya adalah ketika kita melakukan kesalahan dalam beragama (hati tidak akan merasakan tenang). Seorang pencuri mungkin akan bangga ketika ia berhasil mencuri, namun hidupnya selalu dihantui perasaan was-was dan hatinya tidak tenang sebab terbayang resiko jeruji besi atau dibakar masa ketika kesalahannya (mencuri) diketahui orang lain. Hal ini mungkin selaras dengan apa yang disampaikan oleh abu Hamid al-Ghozali dalam kitab Ihya' Ulumiddin.
"Assa'adatu kulluha fi ayyamlika rojulu nafsahu, wassyaqowatu fi antamlikahu nafsuhu". (Kebahagiaan adalah ketika seseorang mampu menguasai nafsunya, kesengsaraan adalah saat seseorang dikuasai nafsunya).

Kecenderungan dari perkara melakukan kesalahan adalah ketika kita tidak mampu lagi menguasai nafsu, tentu bukan sebatas nafsu birahi, namun juga terkait nafsu atau keinginan-keinginan yang memang tidak bersandar pada apa yang Allah ridho. Dan marilah kita beristiqomah untuk terus bisa mengendalikan nafsu agar tetap tidak melakukan kesalahan sehingga kita memperoleh ketenangan hati, yang membuat hidup dan mati kita bahagia (mati tersenyum atau cekakakan ala wongedan).

Maka berbahagialah bagi mereka yang membahagiakan orang lain, minimal dengan cara tidak menyakitinya, tidak merampas haknya, tidak merendahkannya, dan meyelipkan namanya di setiap doa.

*M. Samsul Hadi

Selasa, 04 Juni 2019

BUNGAH KEPANGGIH : ALIF

Mukadimah Poci Maiyah Juni 2019 
Oleh: Rizki Eka Kurniawan

Alif...

Jika dibaca huruf itu berbuyi tapi membisu, tak memiliki presepsi bermakna suyi. Cobalah kalian pikirkan dengan akal rasional tentang “Alif”, maka yang terlintas tak lain adalah huruf yang ramping berbentuk vertikal, sekali lagi jika dibayangkan huruf itu sangat sederhana dan kebanyakan kita hanya mengetahuinya sebagai huruf hijaiyah biasa, akan tetapi terkadang sesuatu yang bermakna dalam tersembuyi, Alif melambangkan keheningan, maka dari itu sifatnya diam. Keterbukaan makna pada Alif hanya akan terjadi ketika kamu tetap diam dalam keheningan seperti Musa yang tak boleh bertanya pada Khidir, dan ajibah Ilahi yang akan menuntunmu untuk memahami.

Alif...

Tak terlepas dari kemistikannya dia mendarisari penciptaan huruf lainnya, jika Alif dibengkokan maka akan melahirkan huruf baru, Alif hadir disetiap surah tanpa disadari, ia telah memenuhi prinsip dasar segala sesuatu, ia hadir disegala sesuatu dan tak berlawanan dengan lainnya, ia tunggal tapi bermakna tak terhingga, kasat mata dan tegak dengan sedirinya.

Maka sekali lagi aku ajak kalian untuk membuyikan “Alif” dalam keheningan...

Berbuyi tiga...

Alif, Lam, Mim...

Alif, Lam, Ro...

Antara pecinta, yang dicinta, dan cinta berjarak rindu... Tetapi apa hubunganya Alif dengan Bunggah Kepanggih? Karena kali ini mereka yang berjarak rindu sedang menuju untuk bertemu bersama menemukan kebahagiaan, semesta menyaksikan ada rindu yang dipendam begitu lama oleh para perantau di luar kota sana untuk kembali bertemu sanak keluarganya di kampung-kampung halaman, setelah sekian lama dipendam karena beberapa alasan kewajiban untuk memenuhi kebutuhan, mencari nafkah untuk anak dan istri mereka, melanjutkan sekolah, dan berbagai alasan lainnya, kini arus akhir ramadhan seakan membawa mereka untuk kembali pulang dan sejenak meninggalkan perihal urusan-urusan dunia, pikiran-pikran mereka telah tertuju pada hari raya sebagian mereka telah bersiap-siap dengan kedaraan-kedaraan mereka, sebagian lagi sedang menata-nata barang yang akan di bawa pulang sebagai oleh-oleh dan perbekalan. Mereka para perantau adalah para perindu yang memiliki hak untuk bertemu, tetapi mereka harus bersabar karena mereka juga memiliki kewajiaban yang harus ditunaikan agar sekembalinya mereka bisa “Manggih Bunggah Kepanggih” jangan sampai sekembalimu ke kampung halaman hanya akan merepotkan keluargamu saja, kepulanganmu harus bisa membuat mereka bahagia dan kembali mesra dengan suasana desa. kewajiban-kewajibanmu harus kamu tunaikan lebih dulu sebelum kamu pulang, sehingga keluarga dan masyarakat sekitar menyambutmu dengan senang tanpa ada celaan yang meyakitkat.

Dan syukur alhamdullah Tuhan memberikan jalan kepada masyarakat untuk berpulang setiap tahunnya, masyarakat kita memimiki tradisi mudik di setiap tahun menjelang lebaran idul fitri, para pemudik itu tidak hanya berjalan dari luar kota ke kampungnya melaikan sedang menunaikan suatu hal teologi yaitu inallahi rojiun, perjalanan mereka bukan semata-mata perjalanan yang bersifat material melinkan juga perjalanan batin yang menuntun mereka lebih dekat dengan Tuhan, mereka sedang berlatih untuk kembali kepada asal musal penciptaannya, mereka sekan sedang diajak sebentar untuk beriti’kaf dari segala permasalahn dunia yang hampir membuat pecah kepala, berdiam sejenak mengkosong hati yang tadinya terisi oleh banyak keinginan-keinginan, harapan-harapan, angan-angan yang belum tertunaikan sampai sekarang, sehinggga hati kita dikuasai dunia seutuhnya, kali ini kita mencoba mengkosongkan itu semua dan menyisakan Allah saja dalam hati dan ingatan kita, menjadikan hati sebagai baitullah karena sesungguhnya Dialah pemilik hati kita, Dialah Tuan Rumahnya, Sang Penghuni Qolbu yang sesungguhnya. Sebentar ber’itikaf telah membebaskan jiwa dari dunia alangkah baiknya jika hal itu kita sinambungi dengan tafakur sesaat untuk membuka cakrawala pengetahuan, sesuai dengan Hadis Nabi “Tafakur sesaat lebih baik daripada beribadah 70 tahun” luangkan waktumu sesaat untuk merenung-renungkan tentang apa yang telah dilakukan hari ini? Bagaimana rencana kedepan?, mencoba memetahkan rencana untuk sebuah hari yang lebih baik dengan rumus perhitungan yang mantap, sehinggah langkah perjalananmu tidak lagi terbata-bata alif-ba-ta-tsa, kamu sudah bisa membaca semesta ini dengan mudah, mampu membaca cuaca dan kondisi kehidupan, dengan begitu maka maka kamu akan ridho dan diridhoi-Nya dan perintah Tuhan tak sengaja telah kalian tunaikan, karena Allah SWT berfirman:

"Yaaa ayyatuhan-nafsul-muthma`innah, irji'iii ilaa robbiki roodhiyatam mardhiyyah”

"Wahai jiwa yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya." (QS. Al-Fajr 89: Ayat 27-28)

Dan mungkin di gelaran poci maiyah kali ini para perindu itu sedang duduk melingkar bersama dengan perasaan bunggah sehabis bertemu keluarga dan mencoba menemukan kembali kebahagiaan baru di setiap pertemuan, maiyah seakan memiliki magnet yang menarik mereka untuk hadir bertemu meskipun itu hanya sekedar diskusi, ngobrol, ngopi, udud, nlemprak di dinginnya malam, kali ini poci maiyah menyambut mereka dengan kehangatan, membuat mereka kembali mesra dengan keadaan sekitar, bersama-sama menciptakan atsmofir yang sejuk untuk dihirup. Atau mungkin maiyah juga sudah menjadi bagian dari tujuan mereka pulang ke kampung halaman untuk Manggih Bunggah Kepanggih? Meskipun kita telah sadar bahwa hidup hanya sekedar peralihan rasa, hari ini kita bertemu dengan perasaan bahagia nanti esok kita berpisah dengan perasaan sedih dan hal itu terjadi berulang kali sampai kita mati, tapi bukankah perpisahan diciptakan untuk kita bisa saling merindu memendam rasa ingin bertemu?, bukankah rindu adalah kesakitan yang nyata bagi pecinta? Sehingga kehadiran kekasih menjadi obat di setiap pertemuannya, maka kerinduan yang telah lama kalian pendam, di hari ini telah terobati oleh Bunggah Kepanggih, akan tetapi serasa ada yang kurang jika kita belum menemuian makna “Alif”. Maka kali ini Poci Maiyah mengajak para perindu itu untuk menemukan makna “Alif” disetiap Kepanggih (Pertemuan) agar bisa Manggih (Mendapatkan) rasa Bunggah (Senang), cobalah untuk kembali diam merenungkan arti dari setiap kata yang telah terbaca, dengan keheningan malam ini bersama lagi membuyikan huruf “Alif” maka ia berbuyi diam, Dia yang menciptakan segala apa yang ada, Dia tetap hadir disetiap kehadiran, Dia tak berlawanan terhadap segala hal, Dia berjarak rindu denganku, aku dan Dia terikat dalam Tajali cinta, maka makna “Alif” adalah... Diam, suyi kembali disetiap pemaknaan.




Jumat, 31 Mei 2019

Puasa Itu ngAllah

Beberapa minggu lalu tepatnya tanggal 5 Mei 2019, gelaran Poci Maiyah mengusung tema “Welas”sebuah kata jawa yang sangat erat kaitanya dengan percintaan, seperti yang telah terlampir di mukodimah “di filosofijawa sendiri hitungan sewelas sampai songolas sangat erat kaitannya dengan weals asih (belas kasih) dimana pada masa itu, kita akan mengenal rasa cinta dan kasih terhadap seseorang, lawan jenis atau dikenal dengan masa remaja” dari kalimat ituterfikir dalam benakku betapa kaya khzanah pemikiran orang-orangjawasehingga mampu membaca perubahan sikap manusia hanya melalui usia, orang jawa memang memiliki pemaknaan sendiri terhadap semesta, bahkan aku selalu dibuat terkagum-kagum dengan pemikirannya,disetiap kata jawa memiliki filosofi tersembuyi yang terkadang sering kita ucapkan namun tak mengetahui arti sebenarnya yang sangat mendalam, tapi pada tulisan kali ini aku tidak akan membahas kembali kata welas karena kata itu sudah dibahas seminggu lalu saat maiyahandi GBN dan sudah banyak yang berpendapat dan menjelaskan tentang welas, aku lebih berfokus pada filosofi yang terkandung pada setiap kata jawa dan mencoba menelusuri kembali kata-kata jawaseperti halnya kata ngalah, terdengar tak asing ditelinga dan sangat akrab penggunaan kata ini di kehidupan masyarakat, secara umum masyarakat hanya tahu bahwa kata ngalah berarti mengalahatau sesuatu hal yang berhubungan dengan kekalahan, kegagalan, dan segala lawan kata dari kemenangan, tapi siapa tau kata ngalahmemiliki arti yang lebih luas dari sekedar kalah bahkan kata ini juga bisa mengungkapkan kemenangan sesungguhnya melebihi kata menang itu sendiri.

Habib Anis Sholeh Ba’asyin berkata bahwa kata ngalah dalam artian orang jawaberbeda dengan kata ngalah dalam pengertian masyarakat umum, ngalahyang sebenarnyaberasal dari kataAllahyang berimbuhan ngdi depannya yang berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah atau melakukan segala sesuatu yang menuju Allah, maka kata tersebut sebenarnya adalahngAllahdengan A besaruntuk menandakan Tuhan dan dua huruf l namun menjadi ngalah dengan satu huruf l dalam penggunaanya,ngAllahtidak hanya sekedar untuk mengungkapkan keadaan yang secara materi, ngAllah lebih mengungkapkan keadaan spritual yang mendalamdimana seseorang bisa menyatakan dirinya menang atau kalah tidak melalui parameter yang kasat mataseperti halnya kalah menang dalam perlombaan, liga sepakbola, game yang di hitung dengan seberapa banyak poit-poit yang diperoleh dalam pelaksanaanya, ngAllah lebih merujuk pada pengungkapan yang batin dan tidak sistematik menggunakan perhitungan angka,salah satu parameternya hanyalah seberapa kepasrahan dan keikhlasan seseorang dalam menjalani sesuatu, secara ringkas bisa diartikan seseorang bisa merasa mendapatkan kemenangan ketika dirinya telah berpasrah kepada Tuhan terhadap segala sesuatu yang terjadi padanya, jadi kemenangan yang dimaksudkan bukan dilihat dari hasil akhir suatu pekerjaan namun tentang bagaimana kita menjalani dan menikmati apa yang kita lakukan di situlah kemenangan yang sesungguhnya bisa kita rasakan.

Berhubungan dengan sekarang kita sedang memasuki bulan suci ramadhan, seringkali di televisi, koran, radio, ataupun bener-bener dan poster-poter yang menempel dijalanan, masjid, sekolahan , jalanan dan sebagainya, kerap kali kita menjumpai qoute “Menuju kemenangan di bulan ramadhan” tapi kemenangan seperti apa yang dimaksud? Apakah mereka yang fullberpuasa selama sebulan dan giat melakukan ibadah dan beramal siang malam selama ramadhan lalu mereka menghitung-hitung setiap pahalanyadari sekian banyak amalan yangtelah  ia kerjakan agar masuk sorga? Ataukah mereka yang melakukan segala amalan secara ikhlas dan pasrah kepada Tuhan meskipun sedikit? Dari kedua pertanyaan ini maka muncul pertanyaan baru “akankah mereka tetap mengerjakanamal ibadah, jika Tuhan tidak menciptakan sorga?”
“apakah mereka giat beribadah hanya karena ketakutan mereka terhadap neraka?”sedangkan Tuhan terang-terangan dalam firman-Nya
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat:56)
Banyak orang berkata “bukan seberapa banyak dirimu beramal melaikan seberapa ikhlas kamu beramal” jadi keikhlaslah yang paling utama dalam setiap amalan,niat lebih utama daripada amalnnya, karena seseorang yang beramal banyak tetapi tidak ikhlas berarti mereka terlalu mementingkan diri mereka sendiri dan egois untuk mendapatkan keuntungan disetiap amalannya, mereka tidak pernah merasakan kemenangan melaikan akan merasakan kekhawatiran untung rugi terhadap apa yang mereka lakukan, sehingga mereka tak pernah puas dan selalu was-was maka dari itu kita perlulah mengAllah dalam beramal, mengAllah di setiap keadaan, mengAllah terhadap takdir Tuhan.

Jika kita sudah ngAllah atau berpasrah kepada Allah berarti telah ikhlas terhadap apapunyang akan terjadi, baik dari seluruh amalan yang telah dikerjakan tak akan ada lagi kekhawatiran akan untung rugi, tetap menjalani ibadah karena cinta tanpa harus memikirkan pahala disetiap harinya, begitu pula dirimu akan merasakan kenikmatan beramal yang tanpa sepengetahuanmutelah kamu rasakan betapa nikmatnya keikhlasan dan rasa syukur terhadap yang telah Tuhan berikan, sorga seakan-akan telah engkau rasakan meskipun dirimu masih hidup didunia, jadi bukankah orang-orang yang ngAllah di bulan ramadhan adalah orang yang akan mendapatkan kemenangan?

Maka mengalahlah agar kalian menang!


*Rizki Eka Kurniawan

Jumat, 24 Mei 2019

Harmonisasi : Rahmankan Jasadmu Untuk Dunia dan Rahimkan Hati Untuk Akhiratmu



Reportase Poci Maiyah Mei 2019
Oleh : Lingkar Gagang Poci


Gelaran Sinau Bareng Poci Maiyah Bulan Mei ini mengambil tema 'WELAS'. Berangkat dari titik koordinat bissmillahirahmanirrahim, Kang Fachrudin mengawalinya dengan bertawasul, mengirim alfatihah untuk para yang diwelasi Allah. Alfatihah untuk semua ulama di seluruh semesta, untuk mengharap perkenanan Allah mengalirkan welas pada mereka agar sampai pada kita semua.

Kemudian dilanjutkan dengan tahlil yang dipandu oleh Kang Fahmi, disambung dengan menyanyikan lagu Indonesia raya sebagai shodaqoh rasa welas rakyat Indonesia pada negeri kaya yang diperebutkan para gundul pacul yang gembelengan.

Momen selanjutnya adalah mendendangkan syair shohibu bayti, salah satu lagu rindu pada Rasulullah shollu alaihi.

Masuk ke acara selanjutnya saling kenal, dimulai dari Kang Mustofa Ups yang mempersilahkan Kang Fachruddin asal Krandon Margadana Kota Tegal, yang menemani Kang Mustofa Ups dan Kang Fahmi membuka acara. Kemudian sebelum memutar saling berkenalan antar sedulur yang hadir malam itu, satu sholawat alfassalam dilantunkan.

Sebelum perkenalan para sedulur, Kang Mustofa mengawalinya dengan pengalaman salah satu penggiat Suluk Pesisiran, Pekalongan. "Dia dimintai tolong untuk mengobati tetanggangnya yang kesurupan. Karena bingung, akhirnya dia mengirim sms ke Mbah Nun, meminta nasehat/saran. Disuruhnya untuk mengambil air, lalu dibacakan doa ini, itu, dan ternyata alhamdulillah sembuh," cerita Kang Mustofa. "Dari sana, ada nasehat yang beliau sampaikan, yang saya pahami, kalau misalnya ada orang yang minta tolong, tolonglah semampu kita, sebisa kita, dengan tetap mengingat Allah-lah yang sebenarnya akan menyelesaikan itu semua. Manusia hanya berikhtiar saja."

Para penggiat Maiyah pastinya juga belajar, untuk selalu merenungkan kembali apa yang didapatnya dari Maiyah, dari Mbah Nun, dari sinau barenga. Nasehat Kang Mustofa seirama dengan apa yang ditulis Mbah Nun dalam Daur II. 117 : Kecuali Aku Memberimu Makan. Tentang hadits qudsy betapa Allah ada di setiap permintaan tolong manusia, hewan, bahkan semesta. Fa ainama tuwalu fatsama wajhullah, kemanapun engkau menghadap disanalah wajah Allah. Agar kita tidak berpaling dari panggilan alam, permintaan tolong semesta, karena disanalah Allah juga ada. Ya ayyuhannas ma ghoroka birobbikal karim?

Perkenalan pertama dari Kang Aziz dari Kalialang perbatasan Tegal-Brebes yang sedang berlibur dari menjemput rezeki Allah di Cikarang. Mikropon pun bergeser, kali ini dari Kang Rifki asal Pengarasan, Kab. Tegal yang saat ini menimba ilmu di pesantren assalafiyah. Datang ke Poci Maiyah sebagai pengalaman perdana ikut melingkar bersama tiga sahabatnya (Kang Rendy dari Bojong dan Kang Mirza dari Kedauwan, Talang)  yang senang juga bermaiyah apalagi dengan nasehat-nasehat dari Mbah Nun.

Selanjutnya Kang Wisnu Maarif dari Krandon, Margadana Kota Tegal. Kenal Poci Maiyah justru saat di Jogja, dan dari sana mulai untuk merapat di maiyah kampung halamannya, Tegal. Disambung Kang Fathir dari Jalan Rambutan Tegal. Kenal maiyah dari seorang kawan kuliah dari Jogja yang di tahun 2016 mengajaknya menonton maiyah dari media sosial. Kemudian di sebelahnya adalah Mbak Wiwin dari Kota Tegal yang menanyakan sudah berapa lama Poci Maiyah berjalan, yang langsung dijawab Kang Mustofa sebagai moderator, 3 tahun dan malam itu adalah pertemuan ke-28. Mbak Wiwin ini mengenal maiyah dari grup wa yang sering mengirim video mbah nun, dan ikut Poci Maiyah sekalian pulang kerja. Dilanjut Kang Fahmi dari Banjaranyar, kenal Maiyah dari Kang Isal penggiat dari Balapulang dan ikut Poci Maiyah dari Tema 'Segitiga Cinta'. Sesi perkenalan itu diakhiri dengan satu nomor 'Bismillah' untuk sejenak menyegarkan suasana malam itu.

Setelah satu nomor tersebut, Kang Mustofa membuka sinau bareng dengan membacakan mukadimmah 'welas'. Selepas bergilir membacakan mukadimmah, Kang Oki sebagai perancang poster dipersilahkan untuk mengupas sekaligus mengawali sinau bareng bertema 'WELAS' malam itu.


"Pembahasan poster kali ini saya nggak akan bicara banyak-banyak, karena ujung-ujungnya di reportase ditulis cuma sedikit," Kang Oki mengawali, disambut tawa para sedulur Poci Maiyah. "Saya akan fokus pada gambar anak yang meminta uang di poster tersebut. Sebelumnya, saya mendapat cerita dari Pak Fahmi dan Mbah Nahar, bahwa kalo kita punya uang, sejatinya itu ada hak milik orang lain. Dan kalaupun kita bagikan pada orang lain, itu akan berubah dan tergantikan secara langsung dalam bentuk rejeki yang lain. Cerita lain dari Pakde Teguh, tentang perumpamaan pagar rumah orang dulu. Bahwa keberpemilikan orang dulu itu akan mengabarkan nikmat dan membiarkan orang lain juga menikmati itu selama dalam batas-batas yang wajar."

Dilanjutkan oleh Yi Fahmi (ada Kang Fahmi dari Krandon, agar mudah membedakannya) yang mengupas mukodimmah. "Perlu kami sampaikan bahwa kami yang berbicara di depan ini hanya mengawali saja, dan nanti kita akan bareng-bareng belajar, mudah-mudahan bermanfaat untuk sedulur-sedulur semua," Yi Fami mengawali. "Sebelum tema 'WELAS' ini diputuskan, sebenarnya ada belasan tema yang lain. Tapi akhirnya kami ambil tema ini, bukan cuma bisa dikaitkan dengan basmalah, tetapi juga karena tema yang belasan tadi, di jawa kita punya filosofi 'belas' ata 'welas' : sewelas, telulas, dsb,. Itu adalah filosofi jawa yang dari welas itu dimaknakan sebagai, anak-anak berumur belasan sampai 20 tahun, itu memang saat-saatnya tenggelam dalam asmara, cinta, rasa, dsb." lanjut Yi Fahmi. Sedangkan filosofi 'likur' sendiri orang jawa memaknainya sebagai 'linggih kursi', saat ketika orang-orang mulai bekerja, menduduki jabatan dunia, dari yang remeh sampai yang rumit. Sedangkan 'selawe', orang jawa memaknainya sebagai 'seneng-senenge lanang lan wedok', saat ketika seseorang memang sudah saatnya menikah, sebelum atau setelah bekerja. Itu mengapa 'selawe' ada di tengah 'likur', menikah boleh sebelum dan sesudah bekerja, berarti menikah dua kali ya? Orang jawa menyebut lima puluh (50) tahun dengan 'seket', itu dimaknai sebagai 'senenge kethu'an' (peci-nan), saat ketika seseorang sudah seharusnya banyak-banyak beribadah. Dan enam puluh sebagai 'sawidak' dimaknai dengan 'saate wis tumindak', bahwa usia itu sudah seharusnya bersiap untuk hijrah ke sisi Tuhan yang lebih dekat.

"Kalau kita lihat di mukodimmah, kita punya sebelas tema," lanjut Yi Fahmi. "Ada tema an'amta alaihim, islammu kok angel, tadabbur kok haram, menemukan kembali maiyah, ahlan wa sahlan ashabul maiyah, aku rido aku ikhlas, sakarep-Mu ya Allah, awagan, dan lain sebagainya. Dan akhirnya kita ambil tema welas, kasih. Seperti kata kang Fachruddin, kalau urusan rumahmu belum beres, maka bisa jadi maiyahanmu akan menjadi bulan-bulanan istri, orangtua, dan keluargamu." Sambungnya. "Di jawa kan kita punya filosofi welas asih, sayang dan kasih, sedangkan dalam Islam rahman rahim, kasih dan sayang. Ini kita maknai sebagai dinamisasi bahwa itu bisa dimulai dari mana saja. Seperti di mukodimah tadi saya katakan, kalau urusan dalam diri kita sudah beres, maka mengurusi dunia di luar diri kita pun akan lebih mudah," sambung Yi Fahmi lagi. Ada yang bilang, jika urusan hatimu telah mampu kau damaikan, maka urusan dunia di luar dirimu pun dapat kau tenangkan. Jikapun dunia memang tak dapat kau kendalikan, maka setidaknya hatimu selalu dalam ketenangan. Alaa bi dzikrillahi tathma'inul qulb.

Selanjutnya dari mbah Nahar, "Jenengan boleh ndak sepakat dengan kami, atau bahkan semua yang datang disini. Kita sinau bareng, belajar bersama, dari ketidaksepakatan itu nanti dapat direspon, dan mudah-mudahan dari itu Allah berkenan menurunkan hidayahnya pada kita semua," katanya mengawali. "Kalau kita bicara welas, maka kita bicara juga rahman dan rahim. Kalau rahman itu cinta yang menyeluruh, universal, maka rahim adalah cinta yang mendalam. Kalau rahman itu cinta yang inklusif, kalau rahim itu cinta yang eksklusif. Rahman itu rasa welas pada siapapun, siapa saja, sedangkan rahim keintiman cinta hanya pada satu titik kordinat, menurut saya.". "Ada kisah begini. Suatu saat Nabi Musa bertanya pada Allah siapa tetanggaku di surga nanti. Allah menjawab si fulan, rumahnya di 'sana'. Akhirnya nabi Musa mendatanginya. Tapi setelah bertamu, setiap menemui Nabi Musa di ruang tamu itu tuan rumah membawa hewan babi. Nabi Musa bertanya, tuan agamanya apa? Jawabnya, tauhid. Tapi mengapa memelihara babi? Tanya Musa lagi. Wahai Tuan, babi ini adalah orangtuaku yang mendapat azab dari Allah."

"Dari cerita ini kita pahami bahwa berbakti pada orangtua, yang diwujudkan pada hewan babi, dengan rasa welas itu memang harus, dan itu kebaikan." Sambung Mbah Nahar lagi.

Setelah penyampaian membuka sinau bareng, Kang Edi dari Tembok Luwung Kab. Tegal bertanya, "Merespon dari Yi Fahmi tadi, bahwa sebelum kita mengurusi masalah di luar diri kita sendiri, diri kita sendiri harus beres lebih dahulu. Pertanyaannya, adakah barometer atau ukurannya kalau diri kita ini sudah beres? Dan apakah itu sebuah sesuatu yang baku, yang bisa digunakan siapa saja dan kapan saja? Terima kasih,"
Respon selanjutnya dari Kang Muji dari Pagerbarang, "Hidup ini memang harus ber-rahman dan rahim pada semua orang. Lalu, yang terpenting adalah kesungguhan, temenanan, sungguh-sungguh. Udah itu saja, terima kasih..."

Respon selanjutnya dari kang Aziz, "Ibarat bunga, sebelum mekar, aromanya masih berada di dalam dirinya sendiri. Baru ketika mekar, aroma itu bermanfaat untuk sekelilingnya," Kang Aziz mengawali. "Jadi kalau bunga itu keluar di dalam," dari kata-kata ini jamaah tergelak, karena suasana malam dan imajinasi yang kemana-mana mendengar kata keluar di dalam. "Maksudnya, aroma, aroma yang keluar itu kan pelan-pelan, dan itu saya artikan sebagai proses untuk bermanfaat atau rahman rahim kita pada orang lain."

Respon selanjutnya dari Kang Bima dari Kalisapu, "Merespon dari yang disampaikan Yi Fahmi, bahwa sebelum keluar diri kita sudah beres dulu, itu menurut saya secara personal. Karena kalau kita melihat keadaan, bisa jadi itu bentrok dengan niat seseorang yang membutuhkan kita. Lalu tentang barometer tadi, dalam maiyah kan Mbah Nun sering berkata bahwa kebenaran itu letaknya di dapur, sedang kebaikan itulah yang kita keluarkan. Seperti yang terjadi saat-saat ini, banyak orang merasa benar dan mengeluarkan perasaan benar itu pada orang lain, bukan kebaikannya. Yang terjadi malah pembenaran."

Respon selanjutnya dari Kang Riski asal Kalisoka, "Saya jadi ingat perkataannya Kang Moka waktu tema 'MENCINTAIMU'. Cinta itu adalah kasih sayang yang didasari keikhlasan. Jadi menurut saya yang menjadi barometernya adalah keikhlasan. Karena kebaikan tanpa keikhlasan adalah keegoisan. Ada penyair yang berkata, 'Siapa yang mencintai kekasihnya karena dirinya sendiri, dia tak mencintai kekasihnya itu. Tapi siapa yang mencintai dirinya karena kekasihnya, maka ia benar-benar cinta."

Selanjutnya dari Mbak Bela asal Jatibarang, "Cerita sedikit tentang pekerjaan berkaitan dengan tema kasih sayang ini. Ada seorang teman yang meminta tolong, tapi kita tahu bahwa permintaan tolong yang diminta itu adalah sebuah keburukan. Dan kalau kita tolak, dia akan memusuhi kita, BBM katanya, bala bala musuh (teman tapi musuh), itu bagaimana menyikapinya?"

Respon selanjutnya dari Yi Fahmi, "Sebelumnya saya mau bercerita tentang maiyah, sebelum merespon tadi tentang barometer/parameter. Bahwa menjadi penggiat maiyah itu berat, apalagi harus beres di rumah tangga dulu, bermaiyahan sampai pagi. Menolong itu kan bukan berarti mengikuti, karena kalau yang ditolong ternyata adalah berniat keburukan berati hakekatnya nggak menolong. Atau seperti yang sering Mbah Nun sampaikan, tentang pilih mana pemimpin kafir tapi adil, atau beriman tapi dholim. Ini kan keliru, karena kalau beriman pasti tak akan berbuat kedholiman. Karena islam itu kan asal katanya salam, selamat, menyelamatkan."

Satu nomor 'PERMINTAAN HATI' dinyanyikan sejenak untuk menyegarkan intelektualitas dan spiritualitas para jamaah.

Pertanyaan selanjutnya dari Kang Zani dari Kalisoka, "Pertanyaan ini dari teman saya yang menganggap dirinya ateis, tentang terorisme yang terjadi di new zaeland. Mengapa Tuhan begitu tega membiarkan umaatnya dibunuh ketika sedang beribadah?"

Lanjut pertanyaan dari Kang Doni, "Saya baca bukunya gusdur, dan disana menjelaskan tentang hablum minannas dan hablum minallah. Sebenarnya lebih utama mana dari dua hal itu?"

Respon pertama dari Yi Fahmi, "Tentang cinta kan nggak bisa selesai kita bahas ya, tapi kalo mencintaimu, itukan nggak semanis memberi bunga pada perempuan. Seorang bapak yang menarik becak untuk menafkahi anak istrinya itu juga bukti cinta. Kembali lagi ke rahman, fungsi sosial dari cinta. Lanjut tentang pertanyaan Kang Zani, mengapa neraka diciptakan. Mas Sabrang pernah memberikan ilustrasi yang sederhana begini, kalau kita ketahuan nonton video dewasa di kamar, oleh bapak misalnya. Kita kan malu ya? Sangat malu. Kita pilih mana, dihajar lalu bapak lupa dengan kejadian itu, atau dibiarkan saja tapi bapak terus ingat? Neraka itu bisa jadi diciptakan seperti itu, untuk menjadikan kita suci dan seakan Allah lupa dengan dosa-dosa kita," "selanjutnya tentang pembantaian di masjid new zaeland." Lanjut Yi Fahmi. "Di Maiyah kita mengenal, kalah-menang kita itu bukan sekedar dalam hal materialisme. Misalnya ada orang jualan, dia jual nasi 10 ribu, ada yang nawar 7 ribu. Tapi pedagangnya bilang : bapak bayar 7 ribu, tapi harganya tetap 10 ribu ya? Nanti biar 3000-nya saya nabung di akhirat. Orientasi kita kan bukan dunia, seperti dalam quran, jangan kau kira orang yang mati di jalan Allah itu mati, sedang sebenarnya mereka hidup."

Respon selanjutnya dari Mbah Nahar, "Tentang hablum minallah dan hablum minan nas, bukan mana yang lebih dulu, tapi itu adalah harmonisasi. Seperti kaki melangkah, kan nggak mungkin lompat-lompat. Ada fungsi tersendiri dalam masing-masing kordinat."


Respon selanjutnya dari Kang Doni menanggapi respon dari Mbah Nahar, "Maksud saya bertanya itu gini kang, misalnya ibadah kita bagus, lalu misalnya pas kita naik motor, kita lihat ibu-ibu tetangga kita jalan kaki dari pasar. Apa kita lantas membiarkannya saja? Kalo Gusdur kan pernah bilang begini, 'Saya lebih memilih dianggap liberal, karena saya lebih takut pada manusia daripada pada Tuhan.  Bahwa hablum minan nas itu lebih utama daripada hablum minan nas."

Respon selanjutnya dari kang Ali, "Saya sepakat itu. Bahwa jika orang ibadahnya baik, harusnya ibadah sosialnya juga baik. Dan tentang mengapa neraka diciptakan tadi, ada kisah dari Nabi Musa ketika beliau juga bertanya serupa itu. Akhirnya Tuhan menyuruh Musa bertanam. Setelah panen, singkat cerita, hasil panennya dijual. Allah bertanya : yang dijual kamu yang baik-baik saja atau yang buruk juga? Musa menjawab : yang baik-baik, Tuhanku. Nah, neraka itu pengibaratannya mungkin seperti itu, ada orang-orang yang memang mengambil jalan keburukan, fa alhamaha fujuroha wa taqwaha."

Respon selanjutnya dari Kang Anis asal Debong, "Tentang cinta tadi, kalo menurut saya ini tentang keikhlasan. Ketika kita beribadah pada Tuhan tanpa mengharap apa-apa lagi."

Respon dilanjutkan oleh Yi Fahmi, "Hablum minan nas kalau dasarnya adalah Allah maha pengampun, karena kalau memohon ampun pada Allah kan mudah, tapi kalu kita punya salah pasa manusia, susah kita kalau harus dipastikan dimaafkan."

Rehat sejenak, satu nomor dengan sholawat nariyah dilantunkan. Dilanjutkan puisi dari Kang Rizki, bertema WELAS KASIH.
Pertanyaan selanjutnya dari Kang Aryo asal Slawi, "Kalo kita lihat di paragraf-paragraf pertama mukodimah, ada kalimat kasih sayang dengan penuh cinta, banyak yang menjelaskan tentang cinta tapi sebenanrnya belum tentu kita memahami artinya. Makna penuh cinta dalam tema welas ini apa?"
Kang Rizal dari Jatibarang juga menambah pertanyaan, "Tentang cinta ini, kalau suami-istri sudah menikah, terus yang laki-laki berkata pada teman-temannya, 'Aku masih bujang ini,' meskipun sebenarnya sudah tidak, dan suami istri itu berkumpul (jimak), itu hukumnya bagaimana?"
Respon pertama dari Mbah Nahar, "Kalau menurut dasar pernikahan, menikah itu kan harus jujur. Adapun persoalan Jimaknya itu haram atau tidak, saya nggak kupas itu dulu ya, tapi memang dasar pernikahan itu harus jujur," kemudian disambung, "Misalnya kita ambil contoh puasa arofah, atau sholat di masjidil haram yang pahalanya berkali-kali lipat, berarti kita nggak apa-apa berbuat doa? Kan pahala kita banyak? Rasul bilang sholat berjamaah itu pahalanya 27 derajat, kok ya angel (susah), 27 derajat, kenapa nggak 90 atau 45 derajat yang mudah? Ini simbol kalo kita mematerikan pahala, kita nggak akan bisa,"
Pertanyaan selanjutnya dari Kang Aray, "Pertanyaan saya sekaligus merespon tentang halal haram tadi yah. Sebenarnya takaran atau ukuran tidak perjaka itu yang bagaimana? Ketika sudah menikah, atau bermain dengan sabun? Kalau yg kedua itu kan, semua yang laki-laki disini juga mungkin pernah," jamaah pun auto-melek mendengar pertanyaan Kang Aray ini.
Respon selanjutnya dari Kang Aqif dari Bandasari, "Saya hanya mau menambahkan dari sisi teks hadits tentang hablum minan nas, bahwa hablum minannas dan hablum minallajh itu tak bisa dipisahkan. Semisal hadits lain, tidak beriman siapa saja yang belum mencintai saudara se-imannya seperti menceintai dirinya sendiri. Atau maqolah, man arofa nafsahu, faqod arofa robbahu, siapa mengenal dirinya (dan sekaligus diri manusia sesamanya), ia akan mengenal Tuhannya. Saya juga menanggapi tadi bahwa quran itu bukan yang berupa kitab, karena tetap saja, quran itu ada yang kauniyah dan qouliyah,"
Respon selanjutnya dari Kang Ali yang menanggapi tentang takaran perjaka, "Ada yang mengatakan, kita sudah tidak perjaka karena sudah jimak, bergaul dengan istri, ada juga yang lain. Tapi kita pakai takaran yang umum saja-lah, karena kita masing-masing mungkin memiliki takaran yang berbeda-beda," yang penting tetap damai, aja takaran sesama manusia.
Respon selanjutnya dari Mbah Nahar, "Menanggapi yang baca quran tadi ya. Ada kisah tentang seorang anak yang disuruh mengambil air dengan keranjang sampah. Bolak balik beberapa kali ke sungai, air tak dapat. Akhirnya bapaknya bilang, membaca quran itu ibarat ini. Airnya (ilmunya) mungkin nggak dapat, tapi keranjang (jiwa) itu makin bersih," lanjutnya.
Untuk menyegarkan jiwa dan menegakan semangat nasionalisme, satu nomor dari lagu syukur didendangkan bersama.
Pertanyaan selanjutnya dari Kang Siswandi dari tembokluwung, "Dari apa yang dijelaskan tadi, tentang welas, apakah kita punya pilihan untuk berwelas asih dalam kebaikan ataupun keburukan? Misalnya membantu teman mengerjakan ujian, memberikan contekan, itukan hasilnya keburukan," sambungnya. "Sebenarnya dalam mengamalkan asma Allah welas tadi, kita sudah menjalankan namun mungkin belum menyadari saja. Karena ketika kita berhablum minanas, itu sekaligus berhablum minallah. Misalnya tentang bergaul dengan istri tadi, secara jasadiyah itu hablum minanas, tapi itu kan ibadah, dan ibadah adalah hablum minallah,"
Respon selanjutnya dari Yi Fahmi yang mengupas tentang pendidikan dari pertanyaan Kang Siswandi, "Kita tarik ke belakang, bahwa sistem pendidikan kita ini kan bukan dari kita sendiri. Kebetulan kemarin tanggal 2 mei, hari pendidikan. Kita tahu bapak pendidikan  itu ki hajar dewantara. Kita mematerikan beliau, kita menghargai namanya, tapi tidak dengan karyanya. Apa karya beliau? Taman siswa. Mengapa sekarang namanya sekolah? Pendidikan kita itu dari penjajah,"  jelasnya. Melanjutkan sistem pendidikan dari Politik Balas Budi Van Deventer. Menghancurkan sistem taman siswa yang sekarang dipakai sekolah warisan Rabindranath Tagore di India, dan menepati perjanjian hutang internasional dengan syarat sistem pendidikan kita ditawan.
"Di Kyai Kanjeng sendiri ada alumni taman siswa, seperti pak jijit dan Pak Joko, kita tahu almarhum benjamin itu lulusan taman siswa. Kita ini diseragamkan dengan sistem pendidikan kita. Seperti yang dikatakan Mbah Nun, padi, jagung, kacang, itu kan macam-macam cara tanamnya, tidak bisa diseragamkan.
Sampai di akhir acara, seperti biasa di akhiri doa yang dipimpin Mbah Nahar, melantunkan hasbunallah, dan ditutup bersalam-salaman sebagai penutup yang membuktikan bahwa kami di awal atau di akhir dan selamanya, akan belajar untuk terus berwelas asih pada semesta. Amin.