Minggu, 13 Oktober 2019

26 Tahun Padhangmbulan


Padhang Bulan melahirkan Maiyah, Maiyah Melahirkan berbagai aliran-getaran-gelombang di Lubuk Ufuk hati manusia-manusia Indonesia, sampai aliran dan getaran itu memercik menggelembung di tanah Utara pulau Jawa. Di sini di Tegal, di Poci Maiyah. 

Selamat Mengulang Siklus, dan Dauriyatullah ke-26.

Semoga istiqomah membawa Cinta dan bersaudara hingga surga esok hari. 

_______

Padhang Bulan bukan Tuhan, bukan pula Kanjeng Nabi, namun Padhang Bulan adalah Ibu Maiyah di semesta dunia dan akhirat. 

Dari Rahiymnya lahirlah Maiyah, dari Kawah Candradimukanya lahirlah Simbah dari tanah Menturo. 

Dan di titik cakrawala inilah rasi-rasi simpul maiyah lahir, terhubung, tersambung, saling asah, saling asuh, diperjalankan dab berjalan mencintai Tuhan dan MuhammadNya. 

Untuk Dua dan Enam, untuk Syahadatain dan Enam Rukun Iman, untuk Ibu, Bunda, Emak, Bundo, Mimih Padhang Bulan, 

Mari kita penuh sesakkan langit dan 'Arsy malam ini dengan do'a-do'a. 

___

Itu Jombang, yang katanya ada anak sakti bernama Ponari, juga Presiden Jenaka bernama Gus Dur. Tapi ada juga Padhang Bulan, yang tidak hanya katanya, tapi sudah nyatanya mengajak kita untuk mencintai bangsa dan negeri ini. 

2 & 6 genap dan menggenapkan. Wish You All The Best Padhang Bulan. Kami maiyah padamu. Hehe

Kebenaran dan Kegembiraan dalam Badekan



Reportase Poci Maiyah Oktober 2019

Badekan (ayok tebak), semut yang berbicara dengan Nabi Sulaiman itu jantan atau betina?
Oleh : Tim Reportase Poci Maiyah

Seperti biasa gelaran sinau bareng poci maiyah diawali dengan tawasul dan pembacaan kalimat thoyyibah dipimpin Kang Luth dan Kang Mustofa Ups. Setiap Jumat pertama malam hari, tiap bulan sinau bareng poci maiyah berlangsung. Forum tempat belajar bersama, mengasah intelektualitas, spiritualitas dan memperbaharui kegembiraan-kegembiraan yang telah usang, menjadi lebih kuat, lebih segar dan siap menghadapi perjalanan selanjutnya.


Poci maiyah berlangsung swadaya, tanpa sponsor, tanpa paksaan, siapa saja boleh hadir, dan siapa saja diberikan kesempatan berbicara apa saja. Sebagian mereka menjadi penggiatnya, orang-orang yang mempersiapkan segala macam keperluan selama sinau bareng poci maiyah berlangsung. Mulai dari doa bersama, menyiapkan mic sound, peralatan musik, kopi, air panas, sampai gorengan dan kuaci, dengan kegembiraan yang terus memamcar dari jiwa mereka. Ibarat dapur, kita merasakan nikmat hidangannya, sedangkan mereka pating cemong keringetan dan capek. Itu semua dilakukan demi cinta, pada Tuhan, pada Rasulullah. Seperti yang sering diucapkan Mbah Nun, "Kebenaran itu letaknya di dapur, sedangkan yang kita sajikan di meja makan adalah kebaikan, keindahan," siapa yang menolong-Nya, maka hidupnya akan ditolong oleh-Nya. Intanshurullah yanshurkum, wa yutsabit aqdamakum. (Dia tak butuh pertolongan, dan kita tak harus berpamrih untuk diteguhkan kedudukan kita)


Sebelum tadarus mukodimah, satu nomor Lir Ilir dilanjut sholawat badar dilantunkan.

Mengawali Tema Oktober ini, 'Badekan', Mbah Nahar melempar badekan ke moderator yang sebenarnya juga untuk meramaikan suasana semua yang hadir.
"Binatang yang terkenal di Lampung, apa kang?"
"Gajah,"
"Binatang yang suaranya kecil, ekornya depan belakang, kupingnya lebar, apa kang?"
"Gajah!"
"Salah," kata Mbah Nahar.
"Lho? Ya wis pas bae, seung," balas kang Mus.
"Yang benar, gajah.." kata Mbah Nahar dengan memelankan suara. "Kalau yang pertama tadi pertanyaan, mas," Mbah Nahar menjelaskan. "Tapi Kalau yang kedua ini Badekan," mengawali istilah agar para hadir dapat membedakan, mana pertanyaan dan mana tebak-tebakan yang sebenarnya bukan untuk mendapatkan jawaban yang tepat akurat atau benar, tapi murni untuk kegembiraan, meski kadang rada mikir juga sih.
"Tapi Hidup ini ya Badekan, Mas," lanjut Mbah Nahar. "Seringkali sulit ditemukan jawabannya. Dan jawabannya terkadang gimana Allah, kita nggak bisa protes. Ada yang sudah pacaran 5 tahun, eh nikah sama yang lain. Sudah pacaran lama, mau akad nikah, eh gagal." Semacam menjaga dengan baik dan benar jodoh untuk orang lain (hihi). Ungkapan seperti itu juga disampaikan Mbah Nun dalam Kenduri Cinta edisi 'Manusia Yang Mana Kamu.

“Hidup itu tidak berlangsung seperti apa yang kita rencanakan, tidak taat dengan cara berpikirnya manusia. Manusia lah yang harus mencari bagaimana cara Allah dalam menjalankan hidup ini,” tutur Cak Nun menyapa jamaah. Cak Nun mengajak untuk memerdekakan diri saat mempelajari Alquran. Tidak membatasi diri hanya pada kaidah dan tinjauan akademis. Hal itu karena hidayah dan ilmu Allah sangat lah luas, jauh melebihi dari yang kita harapkan. “Tata kelola nilai atau tata kelola kesadaran Allah tidak seperti di sekolah atau di kampus tempat Anda belajar,” tambah Mbah Nun.

Pertanyaan pertama dari Mas Imam asal Bojong yang menanyakan, "Kapan waktu itu diciptakan?" merespon dari mukodimah edisi Badekan ini.

"Karena waktu itu abstrak, kita tak bisa mengetahui itu mulainya kapan," Mbah Nahar merespon sebagai awalnya.

Respon selanjutnya dari Mas Cabit asal Gumayun, "Seakan-akan kita terikat sekali dengan waktu, sebenarnya tingkatannya itu bagaimana dengan manusia?"

Menambahkan respon dari Kang Moka Balapulang, "Waktu menurut saya adalah salah satu makhluk Allah yang diciptakan sebagai penghitung lamanya kejadian,"

Dalam perbincangan yang mulai menghangat tentang waktu, Kang Lu'ay dan Kang Aan dari Maiyah Kudus bergabung memeriahkan nuansa malam itu.



Respon selanjutnya dari Kang Lu'ay yang mulai mengupas waktu dari sisi prinsip-prinsipnya, "Kalau tadi Kang Moka sudah menjelaskan tentang waktu sebagai penghitung. Prinsip lain dari waktu adalah sebagai penanda, juga sebagai proses pelapukan, jika mendasarkan pada keterangan 'segala sesuatu yang teraliri waktu pasti berubah', meski ada kesalahan juga ketika kita berbicara masa kini, masa lalu dan masa depan, karena depan-belakang adalah konsep ruang bukan waktu, sedang ruang dan waktu itu ada dalam konsep dimensi."

Kegembiraan semakin memancar pada para sedulur sinau bareng Poci Maiyah ketika Kang Lu'ay mengajak semua yang hadir untuk icebreaking, memperagakan Badekan, permainan kecil yang semakin membuat jamaah menyadari bahwa begitu banyak dari bagian diri sendiri yang jarang diamati. Permainan kecepatan tangan dan bahasa lisan yang menjadikan hadirin tidak sadar bahwa posisi tangan mereka tak sama dengan posisi peraga. Satu 'titik buta' manusia, bahwa selalu saja indera itu tak mampu mengamati banyak hal dalam satu waktu. Darisanalah Tuhan dalam auran yang dilisankan oleh sang nabi menugaskan manusia untuk membaca, memperhatikan fil afaaqi wa fil anfusihim, pada semesta dan diri sendiri yang ternyata banyak Badekan, atau yang perlu ditemukan keasyikannya, kebijaksanaannya.

Respon selanjutnya dari Kang Fahmi yang menambahkan, tema kali ini berkaitan dengan tema bulan kemarin : kedewasaan. "Salah satu makna kedewasaan lainnya adalah pengetahuan bahwa kita akan mati. Dan di mukodimah kali ini, kita berbicara tentang waktu. Yang ingin saya sampaikan adalah, bahwa hidup ini penuh dengan ketidakpastian, sedangkan manusia seringnya ingin yang pasti-pasti. Dan kalau mau yang pasti ya tadi, manusia pasti mati,"

Selanjutnya respon dari sedulur yang hadir, dimulai dari Kang Taufik dari Jatinegara, "Kalau menurut saya pas baca mukodimah Badekan ini, lebih ke arah prasangka. Jadi menebak nanti besar jadi apa, ingin ini ingin itu, yang semuanya itu baru prasangka. Tapi ini seperti dalam hadits qudsi, bahwa inni inda dzoni abdi, bahwa Allah bersama prasangka hamba-Nya, makanya dalam doa kita sering berkata 'semoga', karena penuh dengan ketidakpastian,"

Respon dari Kang Taufik ditanggapi oleh Mbah Nahar, "Tengtang Prasangka kan kita sudah belajar, pernah dikupas juga oleh Kang Lu'ay,  sedikit merefresh. Ada yang namanya Syak, dzon, dan wahn. Syak itu kan prasangka yang kemungkinannya 50:50, kalau Dzon itu kemungkinan besar mendekati kebenaran, sedangkan Wahn itu kebalikan dari Dzon.

Dilanjutkan respon dari Kang Lu'ay yang mengatakan bahwa kebanyakan orang indonesia ini memang menganggap mati adalah sebuah akhir, the end, padahal itu adalah perjalanan selanjutnya.

Gelaran sinau bareng akhirnya sampai pada scene yang tepat untuk menyampaikan ijtihad para pegiat poci maiyah, tentang warisan para leluhur bangsa. Tentang bangsa yang sudah lama sekali bertahan dalam ketertindasan. Dipimpin langsung oleh Kang Fahmi, lantunan lagu Indonesia Raya Stanza 2 dan 3 dinyanyikan.

Setelah bersama menghayati lagu Indonesia Raya stanza 2 dan 3, Kang Ali Fatkhan pegiat Gambang Syafaat ikut merespon. "Pegiat itu artinya orang-orang sukarelawan yang berkomitmen. Saya lihat ada yang masak air, nyeduh kopi, merapikan sandal, kita beri tepuk tangan untuk para pegiat poci maiyah," lanjutnya. "Sinau Bareng itu ada varian lainnya. Yang pertama itu Sinau Dewekan, belajar sendiri. Di kamar, ndekem, mager. Yang kedua adalah belajar sendiri tapi bersama-sama, yang belajar banyak, tapi mikir sendiri-sendiri, tidak nampak sharing dan lainnya. Dan yang ketiga ya ini, Sinau Bareng. Ada yang dari Jatinegara, Kalisoka, Balapulang, kita berkumpul membahas satu persoalan yang sama. Tapi ada yang keempat, yaitu datang ke sinau bareng, tapi sibuk sendiri-sendiri, main ML-an, balas sms, ngerumpi sendiri. Nah menurut panjenengan semua, itu yang baik mana?"

Sebagai anti-klimaks dari diskusi tentang waktu dan hal-hal ruwet lainnya, penampilan Stand Up Comedy dari Kang Aan Trianto memecahkan kespanengan pikiran sejenak. Dilanjut dengan dua nomor berjudul 'Demi Waktu' dari Ungu Band dan lagu nasional 'Ibu Pertiwi'.

Sinau bareng dilanjutkan dengan respon dari Kang Moka, "Sedikit menambahkan tadi yang disampaikan Kang Nahar. Tadi Kang Nahar bilang bahwa waktu itu penuh dengan ketidakpastian, padahal di dalam ketidakpastian itu ada kepastian, seperti dalam kata-kata itu, itu saja,"

Dilanjutkan respon dari Kang Faizin asal Harjosari Lor. "Saya ingin menanggapi pertanyaan dari Mas Lu'ay, yang mengatakan bahwa ruang lebih dulu daripada waktu. Menurut saja itu bersamaan, karena ruang itu adalah zat, bentuk, sedangkan waktu adalah yang meliputinya," mungkin yang dimaksud, sebelum waktu ada, tidak ada masa 'sebelum' dan 'sesudah', maka ruang dan waktu ada secara bersamaan.

Tanggapan dari Kang Faizin langsung direpon oleh Kang Lu'ay, "Yang pasti, yang tahu jawaban kebenarannya hanya Allah ya, kita hanya menduga. Seperti misalnya saya menjelaskan ayat quran, itu bukan quran. Karena itu hanya tafsir saya pada quran. Karena tak mungkin yang ditafsiri itu lebih tinggi dari hasil penafsiran,"

Kang Ziki dari Balapulang ikut meramaikan suasana, "Sebenarnya yang tahu waktu itu apa bukan hanya Tuhan," katanya, membuat para hadirin agak hening. "Tapi juga kita yang sedang membahas itu. Terima kasih,"

Selanjutnya dari Kang Rizki penulis mukodimah, yang menjelaskan bagaimana asal muasal isi dari mukodimah tersebut, yang kemudian dilanjutkan dengan penjelasan filsafat tentang fokus manusia yang hanya bisa pada satu titik, atau yang di atas disebut 'blind spot'.

Respon selanjutnya dari Kang Aqif asal Bandasari, "Tema Badekan ini, sebenarnya Rasulullah juga suka dengan Badekan, atau pertanyaan-pertanyaan semacamnya, ini diriwayatkan oleh Ibn Umar, bahwa suatu saat Rasulullah dengan berkumpul dengan para sahabatnya dan bertanya, di antara banyaknya pepohonan ada satu pohon yang daunnya tidak rontok. Ayo Badekan, ada yang tahu pohon apa?" Kang Aqib memulai Badekannya. "Jawabannya kurma. Nah, dari cerita ini para ulama juga suka mengajukan badekan, di antaranya, siapakah rasul yang diutus Allah yang bukan dari golongan Jin dan Manusia apalagi Malaikat? Ada yang tahu?" jamaah hening sejenak. "Dia adalah burung gagak, yang diutus (arsala), jadi jangan hanya memaknai rosul sebagai manusia, tapi juga ada yang lainnya,"

Dua nomor, Sholawat Nariyah dan Ruang Rindu 'Letto'.


Sebagai klosing, Kang Ali Fatkhan menambahkan, "Setidaknya ada empat kemungkinan tentang pengetahuan kita di sinau bareng, pertama adalah kita tahu, orang lain tidak tahu. Kedua, kita tak tahu, orang lain juga tidak tahu. Ketiga adalah kita tahu dan orang lain juga tahu, dan keempat adalah kita tidak tahu, orang lain tahu. Dari satu sampai tiga akan terjadi diskusi, tapi yang keempat sangat mungkin terjadi resistensi, penolakan. Dan darisinilah kita akan terus menerus belajar, tak berhenti, dan itu adalah bekal agar kita tidak tersesat,"

Klosing ditambahkan oleh Kang Lu'ay yang mengibaratkan thoharoh, kebersihan dalam air wudu yang dijadikan sebagai amtsal membersihkan diri. "Suci mensucikan, suci tidak mensucikan, makruh, dan mutanajis. Kita gunakan matrik ini untuk apapun yang kita terima, informasi yang kita dapatkan. Mudah-mudahan menjadi manusia yang dicahayai quran,"

Dari Quran jugalah apa yang disampaikan jamaah tadi yang mengatakan bahwa yang diutus Allah bukan hanya dari golongan manusia, tapi juga di antaranya adalah burung gagak, lebah, burung ababil (wa arsala alaihim thoyron ababil), dan juga semut. Ketika Nabi Sulaiman datang melewati sebuah lembah, kemudian sang semut berkata qola namlatu, pakai ta marbuthoh, bahwa semut yang berbicara memimpin pasukan semut itu adalah sang ratu, yaitu betina (badekan di awal reportase). Dan badekan ini bersumber dari Imam Hanifah, yang ditantang debat dengan seorang filsuf (sok) cerdas, yang seketika itu ia tunduk hormat pada Sang Imam. Wallahu a'lam.


Senin, 30 September 2019

BADEKAN



Mukadimah Poci Maiyah Oktotber 2019
Oleh : Rizki Eka Kurniawan

“Jadi apakah waktu itu? Jika tak seorangpun mengajukan pertanyaan itu aku tahu, jika seseorang mengajukan pertanyaan itu dan aku mau memberi penjelasan, aku tidak tahu lagi”
- Agustinus -


Kehidupan ini dipenuhi banyak pertanyaan yang terkadang sulit untuk kita jawab, sehingga kita hanya bisa menerka-nerka, atau dalam bahasa tegalnya sering kita sebut dengan badekan.

Mulai dari kecil manusia sudah sering ditanya, berawal dari pertanyaan orang tuanya“kalo udah gede mau jadi apa?” Setelah sudah gede ditanya “kapan nikah?” Setelah nikah ditanya “kapan punya anak?” Setelah punya anak ditanya pasangannya “anak kita mau kita kasih nama siapa?” bahkan sampe kamu matipun, dirimu masih dihantui pertanyaan dalam kubur oleh malaikat Munkar dan Nakir “siapa Tuhanmu?”, “apa agamamu?”, “siapa nabimu?”, “apa kitabmu?”, ”di mana kiblatmu?”, “siapa saudaramu?”. Dan ini hanya beberapa pertanyaan yang umum belum yang lain-lain, yang njlimet-njlimet, kemrusungi, atau bahkan ngeneki

Ada beberapa juta pertanyaan yang akan mendatangimu nanti bahkan mungkin kita bisa mem-badek pertanyaan-pertanyaan orang tua, teman, pasangan, guru, dan lain sebagainya saat kita masih hidup, tapi jika ditanya malaikat saat sudah meninggal, apa bisa kita badekan dengannya? tentu tidak. Akan lebih baik jika kita memiliki blueprint atau proposal yang sudah kita siapkan melalui pengalaman untuk menjawab pertanyan-pertanyaan tersebut. Seperti ilmu Nabi Khidir yang di tangan kirinya menggengam masa lalu dan di tangan kanannya mengusap-usap jendela masa depan, keduanya dipadukan untuk melakukan sesuatu di masa kini. Akan tetapi dari banyaknya pertanyaan yang datang orang bijak sering berkata dengan mudahnya; “nanti waktu yang akan menjawab”

Berulang-ulang kali aku bertanya pada waktu untuk menjawab pertanyaan dalam hidupku dan waktu yang menghabisi pertanyaanku. Waktu memang menjawab semua pertanyaanku, tetapi waktu tidak mampu untuk aku tanya; “apa itu waktu?” tak pernah terjawabkan karena waktu membutuhkan seorang peran untuk mejawab pertanyaan, tapi siapa yang bisa memerankan itu? Seluruh manusia tak akan mampu untuk menjawab apa itu waktu.  Meskipun seringkali kita selalu menjawab dengan mudahnya, waktu adalah detik, menit, jam, dan di dalamnya ada masa lalu dan masa depan. Ya tetapi manusia sering lupa masa sekarang, dirinya terlalu melampaui masa depan dengan pikiran dan mengarungi masa lalu dengan pengalaman, tetapi terlupa dengan masa sekarang. Seakan-akan mereka tidak sadar menjalani kehidupan.

Kahlil Gibran pernah menuliskan cerita tentang seorang astronom yang berkata pada gurunya “apa itu waktu?” dan sang guru menjwab “kau ingin mengukur waktu yang tiada ukuran dan tanpa ukuran?”. Ya, sekali lagi pertanyaan akan waktu tak memiliki jawaban, dan ketidak sadaran manusia akan masa sekarang telah aku alami dan saksikan sendiri.

Pada waktu subuh ada seorang ibu datang kerumahku dengan wajah pucat penuh kekhawatiran, meminta untuk menelfon anaknya, spontan aku menjawab.
“Lha memangnya anaknya kemana?”
“Kerja tapi sampe jam segini belum pulang” jawab ibu itu dengan khawatir
“Biasanya pulang jam berapa?” tanyaku penasaran
“Tadi sudah di WA lewat lilik katanya jam dua belas malam bakal pulang, tapi sampe sekarang dia belum pulang, khawatir nantinya ada apa-apa sama anakku”.


Ibu itu memiliki prasangka sangat buruk terhadap apa yang akan terjadi pada anaknya, dan setelah kutelfon, ternyata anknya tidur dirumah temannya dengan keadaan baik-baik saja. Alasannya karena sudah terlarut malam, dia tidak enak untuk pulang, takut menganggu orang tuanya tidur. Tetapi kenyataannya yang terjadi adalah orang tuanya tidak tidur semalaman karena kekhawatirannya pada anaknya yang tak biasanya tidak pulang ke rumah. Dari sinilah manusia seringkali tidak sadar, terlalu sibuk dengan pikiran buruknya akan masa depan yang belum tentu, dan sekali lagi waktu yang menjawab pertanyaan ibu itu.

Dalam filsafat barat meyakini bahwa manusia hanya bisa fokus pada satu pikiran, jika terdapat banyak pikiran maka yang terjadi adalah kerancuan, seperti apa yang dialami ibu tersebut yang rancu akan bayak pikiran tentang anaknya sehingga kehidupannya merasa tidak tenang dan dipenuhi kekhawatiran. Seandainya waktu itu, ketika jam dua belas malam ibu itu fokus pada satu pikiran (untuk segera menelfon anaknya), pastilah hal tersebut tidak terjadi.

Dalam tradisi timur ada suatu metode berbeda untuk peyadaran tentang masa sekarang agar pikiran seorang bisa tenang, jernih, dan maksimal, metode tersebut seringkali dikenal dengan nama meditasi, yaitu melihat sebenar-benarnya kenyataan tanpa menggunakan analisis (konsep dan penilaian), semuanya bertujuan untuk mengembalikan ke masa sekarang (das ewigejetzt). Barangkali masa sekarang (masa yang sedang kita alami) sebenarnya adalah waktu, karena bisa jadi waktu yang kita bicarakan di masa kini telah menjadi masa lalu atau waktu yang akan kita bicarakan di masa kini termasuk masa depan. Tapi benarkah yang akan kita bicarakan adalah masa depan? Sedangkan saat kita bicarakan masa depan itu menjadi masa sekarang? Apa mungkin masa depan hanya terjadi dalam pikiran? dengan kemampuan manusia untuk berimajinasi, membayang-bayangkan masa yang akan datang, lalu setelah bayangan tentang masa depan itu terjadi maka akan menjadi masa sekarang yang kita alami? Mana sebenarnya ilusi? Mana sebenarnya kenyataan? Dan  darimanakah waktu itu berasal? Akankah setelah benda diciptakan dan benda menciptakan waktu? Atau sebelum benda diciptakan dan waktu menciptakan benda? Untuk kali ini biarlah waktu yang akan menjawabnya, tapi... apa sih sebenarnya waktu itu? Ayooo badekan....

Minggu, 15 September 2019

Sukses itu Kontrol Waktu Menjadi yang Terbaik Bagi Diri


Setelah beberapa waktu lalu di Bulan Maret 2019 Mas Sabrang datang ke Tegal, Malam ini 13 September 2019 malam yang spesial untuk Kabupaten Tegal karena sepertinya kali pertama Mas Sabrang menginjakkan kaki di Pendopo Amangkurat Kabupaten Tegal. Acara yang diadakan oleh Komunitas Sahabat Yatim Tegal dalam rangka memperingati hari lahirnya yang ke 5 mempunyai konsep yang berbeda yakni dipuncaki dengan Sinau Bareng bersama Mas Sabrang dan juga menghadirkan anak-anak panti asuhan se Kabupaten Tegal. Bahkan Jamaah Maiyah Tegal pun ikut hadir saling menjalin kemesraan malam itu.

Mas Sabrang memulai diskusi malam ini dengan sebuah kata Sukses. Konsep sukses dan bagaimana modal sukses.

Pertanyaan pertama yang dilontarkan Mas Sabrang yaitu Manusia itu apa sih sukses nya? Kemudian Mas Sabrang menyampaikan bahwa banyak orang bermimpi sukses itu kaya jabatan tinggi trus mana yang paling bener? Lanjut Mas Sabrang Semua boleh tidak masalah karena sukses itu Versi terbaik dari dirimu. Nah tips untuk menjadi yang terbaik dari dirimu adalah dirimu yang kemarim harus mati dan menjadi dirimu yang lebih baik di esok hari.

Kemudian Mas Sabrang menjelaskan bagimana caranya yakni mulai dari modal. Ada konsep modal yang berbeda disampaikan mas sabrang bahwa Modal yang dimiliki semua manusia dan seragam di dunia adalah waktu. Bahkan bukan hanya manusia saja tetapi hewan juga. Orang yang sukses adalah orang yang punya kontrol terhadap wakunya. Lanjut Mas Sabrang menyampaikan orang sukses itu Karena bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik baiknya. Mari bersama-sama temukan caranya Bagaimana memanfaatkan waktu sebaik baiknya yakni dengan mencoba dihidup anda ambil waktu dengan sengaja untuk melakukan sebuah pekerjaan secara terus menerus.

Malam ini juga cukup spesial karena kang aan dari Sedulur Maiyah Kudus mendampingi kang Ali dari Poci Maiyah memoderatori jalannya sinau bareng malam ini dan joke joke kang Aan dan kang ali menambah kemesraan sinau bareng malam itu.

Setelah Mas Sabrang memberikan pengantar sinau bareng malam ini, sesi tanya jawab pun dibuka oleh Mas Aan selaku moderator.

Pertanyaan pertama datang dari jamaah dari cirebon bagaimana bisa kontrol waktu saat tidur? Kemudian pertanyaan kedua perayaan unik pacaran kan tidak boleh, bagaimana kalau saya mengontrol waktu untuk merusak hubungan orang yang pacaran? dilanjut  pertanyaan ketiga sebagai pedagang dalam islam yang baik itu kaya penjualan itu berapa persen mengambil untung? dan pertanyaaan keempat datang dari jamaah bumiayu segitiga cinta itu apa sih? Yang sedikit saya tahu adalah puncak sang pencipta.

Setelah itu Mas Sabrang segera merespon empat pertanyaan tersebut.

Bagaimana kamu mengontrol tidurmu kamu bisa mencoba dengan memasang alarm atau kalau anda sudah tidak jomblo anda minta pasangan anda membangunkan. tapi kamu sendiri misalnya harus menganggap bangun jam 6 pentinng, Kalau anda tidak menganggap penting bangun jam 6 pasti tetap kamu akan susah juga untuk bangun dari tidurmu. Jadi semua kembali kepada niat, mau caranya bagaimanapun itu tidak penting. Arah boleh berubah tapi tujuan istiqomah.

Merespon pertanyaan kedua mas sabrang mengajak jamaah untuk kembali bertanya kepada diri sendiri apa itu pacaran yang kamu maksud?dimana garisnya?Kalau memang anda memanfaatkan waktu untuk merusak hubungan orang pacaran, yang penting anda harus siap dengan akibatnya. Coba anda berfikir orang yang anda rusak hubungannya adalah orang yang sudah menembak selama 17 kali baru diterima dan kemudian anda rusak hubungannya. Betapa dendamnya orang itu. Sontak semua jamaah tak terkecuali pak Sekda Kabupaten tegal ikut tertawa renyah.


Merespon pertanyaan ketiga Mas Sabrang memulai dengan Konsep berharganya sesuatu. Ada sesuatu dihargai oleh uang. Contoh Anda di kasih dompet dr ayah yang sudah meninggal kemudian menurut anda itu sangat berharga sehingga dengan nilai uang berapapun itu tidak bisa digantikan.

Mengenai jual beli yang mengambil untung besar yang jelas perjanjian hubungannya bagaimana, kalau mau beli tanpa terpaksa ga masalah. Mau jual berapa aja no problem. Tetapi pengusaha yang waras akan mikir pasar. Jika jual 1 untungnya sepuluh ribu dan laku hanya satu tetapi jual 1 untungnya seribu tapi lakunya 20 anda milih yang mana?

Mas Sabrang memberi sampel jualan bakso. Kalau semua pedagang bakso sama sama kuat  maka siapa yang buka lebih lama berkemungkinan lebih banyak penghasilannya. Kalau semua pedagang bakso sama sama kuat kemudian sama sama kerja keras keras yang menang yang paling efisien sehingga bisa untung lebih. Kalau semua pedagang bakso sama sama kuat, keras dan efisien siapa yang menang? yang menang yang inovatif. Kalau sudah semua, siapa yang menang? Yaitu siapa yang mampu memprediksi yang terjadi, caranya dengan srawung. Kalau urusan harga yang anda tanyakan adalah etika. Barang harga sepuluh ribu dijual seratus ribu tidak  masalah secara hukum, tetapi  kalau kamu tidak tega jangan dilakukan.

Mas Sabrang juga mencontohkan Sama sama peci. Tapi pecinya gusmus harganya mahal karena ada nilai lain. Bisnis terjadi karena perbedaan orang menganggap nilai benda tersebut.

Melanjutkan respon untuk pertanyaan keempat Mas Sabrang mulai dengan mengajak memikirkan Cinta itu apa sih? Sebelum masuk cinta itu apa menjelaskan tentang pengetahuan itu bukan hanya urusan percaya. Pengetahuan itu adalah apa yang anda alami.

Memasuki respon tentang cinta, Cinta adalah transformator.Kenapa transformasi sangat penting? transformasi harus dilakukam setiap hari. Ketika kamu ingat dalam hidupmu. Transformasi dalam dirimu tidak berlawanan dengan hukum alam dan agama adalah petunjuk agar kamu bertransformasi dengan efektif.

Mas Sabarang memberi contoh Rakus itu bisa membawamu ke tuhan. Rakusmu kaffah aku pengin jagad raya milikmu. Kalau kamu pengin jagad raya kamu harus kenal sama yang punya tapi apa menurut agama efektif?

Ketika kamu bertransformasi Jangan lupa komponen Allah dan nabi Muhammad. Ketika itu hadir transformasimu terjaga dan efektif.


Setelah sesi pertama diskusi ini berakhir Mas Aan menawarkan kepada Jamaah ada yang mau duet dengan Mas Sabrang? Salah seorang jamaah cewe pun mengangkat tangannya dan kemudian satu nomor Ruang Rindu dibawakan duet dengan Mas Sabrang, pendopo Amangkurat malam itu pun bergetar seakan malam tersebut adalah ruang penuh kerinduan yang terobati dengan pertemuan.

Setelah ruang rindu jamaah pun kembali diajak untuk sinau bareng. Kali ini ada beberapa pertanyaan lagi yang menarik dari jamaah diantaranya adalah dari Mba Febri setiap orang pasti punya masalalu yang pahit. Bagaimana cara memahami luka batin dan menanaminya agar kedepan lebih baik?

Lagi-lagi Mas Sabrang merespon dengan sisi yang berbeda yaitu kalau kamu membuang masa lalu, kamu tidak akan utuh. Hidup itu mencari keutuhan bukan kebahaggiaan

Masa lalu kalau masih diingat berarti dia belum tunai. semua kejadian yang dialami anda itu punya misi memberi cara pandang baru. Kalau anda belum menemukan misinya dan kemudian jadi ilmu  belum jadi ilmu anda akam selalu teringat. Pengalaman punya tugas untuk meningkatkan ilmu anda.

Kalau minum jamu pahit tapi kalau sehat kamu lupa pahit nya. Pengalaman itu tidak berubah yang berubah pemaknaannya. Tukas Mas Sabrang.

Mari kita jangan pernah membenci manusia, karena musuh manusia adalah masalah bukan manusia. Yang patah hati di tinggal cewek itu selesai karena anda bisa menertawakan diri sendiri.

Tak terasa jarum jam sudah menujukkan pukul 00.00 dan sinau bareng malam ini harus diakhiri, tapi sebelum diakhiri dua nomor Permintaan hati dan Sebelum Cahaya dilantunkan menutup acara malam itu dan dilanjutkan salam-salaman dengan seluruh anak-anak panti asuhan dan Jamaah Maiyah diiringi lantunan Hasbunallah miliknya Kiai Kanjeng.


Semoga acara sinau bareng yang banyak berdiskusi tentang konsep sukses dan bagaimana modal sukses. Konsep nilai, konsep hidup itu mencari keutuhan dan konsep yang ditangkap oleh anak-anak panti dan jamaah maiyah yang tidak semuanya bisa ditangkap dan dituliskan disini membawa sejumlah inspirasi baru buat anak-anak panti asuhan dan juga Jamaah Maiyah yang hadir untuk kedepan menjadi versi terbaik bagi dirinya.

Sabtu, 14 September 2019

Mengarungi Samudra HIkmah

Terlihat terang hari ini dengan banyaknya bintang bertebaran dilangit dan rembulan yang bersinar terang memperindah suasana malam,  sedulur-sedulur maiyah satu per satu mulai datang dari berbagai macam kota untuk menghadiri rutinan maiyahan setaiap sebulan sekali di Monumen GBN,  bahkah kali ini poci maiyah kedatangan beberapa tamu dari simpul-silmul lain

Seperti biasa di setiap bulannya Poci Maiyah selalu memiliki tema yang berbeda untuk diangkat dan di sinauni bareng dan tema yang di usung pada bulan september ini adalah “Kedewasaan”  mungkin terdengar tidak asing ditelinga, bahkan kata tersebut sangat akrab dalam kehidupan kita,  namun seringkali kita bingung untuk menjabarkan makna dari Kedewasaan itu sendiri,  seringkali Kedewasaan seseorang dimaknai dengan bertambahnya usia seseorang dari muda ke tua,  beberapa mengartikannya dengan masa puber yang ditandai dengan berubahnya beberapa faktor-faktor biologis yang ada pada diri seseorang misalnya bisa dilihat dari perubahan bentuk tubuh,  pola pikir,  perilaku,  dan sebagainya. Di maiyahan kali ini kita coba mengulas dan mendalami makna Kedewasaan.

Melalui Kang Farid beberapa hal mengenai kedewasaan dipaparkan antara lain;

Seseorang pertama kali belajar untuk mendewasa melalui panca indera, dari berbagai macam benda yang dilihat, sentuh, dengar dan dirasakan, seseorang akan mulai menayakannya, mendiskusikannya, dan merangkumnya dalam pikiran sehingga membentuk sebuah pengetahuan. Namun pikiran selalu terpengaruhi panca indera yang sifatnya terbatas dan hanya mampu melihat hal-hal yanga kasat mata saja, ada beberapa hal yang tidak mampu dijaungkau panca indera terutama hikmah (kebenaran) yang datangnya langsung dari Allah. Dari pemaparan tersebut Kang Farid menegaskan bahwa ada dua bentuk tahap kedewasaan yaitu kita membentuk diri kita sendiri atau kita diberikan bentukan. Dari penegasan tersebut agak sedikit susah memang untuk dipahami antara membentuk dengan bentukan, yang saya tangkap dari penegasan tersebut tak jauh-jauh dari pemaparan Kang Farid yang pertama atara pengetahuan dan hikmah, mungkin membentuk bisa dikaitkan dengan proses belajar seseorang dalam memahami sesuatu yang di sekitarnya atau bisa dibilang tahapan seseorang untuk memperoleh berbagai macam pengetahuan mengenai alam semesta, hal ini adalah hal paling awal dalam pendewasaan, manusia akan mulai belajar untuk mengenali hal-hal sekitarnya, mereka akan menanyakannya, menelitinya, mencoba dan mempraktekannya hingga medapatkan suatu pengetahuan yang utuh, pengetahuan inilah yang menjadi bekal mendasar manusia untuk mendewasa, mampu mengelolah segala hal yang ada di sekitarnya dengan baik, namun perlu digaris bawahi bahwa pengetahuan manusia bersifat terbatas karena hanya mampu merangkum hal-hal yang didapati panca indera, kita bisa mengetahui sesuatu munurut pengetahuan kita namun kita tidak bisa memastikan bahwa apakah pengetahuan yang kita dapatkan adalah sebuah kebenaran? Di sinilah sesuatu yang disebut bentukan berperan, hakekat tentang kebenaran suatu benda (hikmah) hanya bisa didapatkan dari Allah, maka dari itu manusia hanya mampu untuk memperoleh pengetahuan saja tapi tidak akan pernah mengerti hakekat kebenarannya dan seseorang baru bisa mengerti hakekat kebenran apabila Allah menghendakinya dan proses dari turunnya hikmah tersebut panjang seseorang harus mengalami banyak terutama berfikir untuk mendapatkan pengetahuan yang cukup agar mampu mendapat hikmah, tanpa pengetahuan hikmah tak akan mampu terbaca dengan sendirinya dan kemampuan untuk menangkap hikmah adalah kemampuan yang dimiliki oleh para Nabi.


Tetapi jika benar para Nabi mendapatkan hikmah (kebenaran) kenapa ada beberapa riwayat cerita yang menyatakan bahwa Nabi juga pernag melakukan sesuatu hal yang salah seperti ketika Sholat Dzuhur, dia hanya melaksanakan dua rokaat saja? Benar memang cerita itu Nabi pernah salah ketika sholat Dzuhur, sholat yang seharusnya dilakukannya dengan empat rokaat dia hanya mengerjakannya dua rokaat saja, sehingga para sahabat bertanya “Wahai Rosulluah engkau sholat Dhuzur dua rokaat ini syariat baru atau engkau lupa?” lalu Rosulullah bertanya “benerkah para sahabat aku hanya melakukan dua rokaat?” lalu para sahabat menjab “benar” dan Rosulluah berkata “Allah sengaja menjadikan aku lupa supaya menjadi pelajaran untukmu sekalian” lalu dia kembali ke mimbar dan menambahi dua rokaat, makanya ada ketika Rosulullah wafat ada seorang sahabat yang sudah tua yang ketika sholat pasti telat, dikarenakan saat waktu azan dia harus mengikat ontanya terlebih dahulu dan dikarenakan sudah tua perjalanannya menuju ke masjid yang jauh selalu terlambat sampe ada seorang tabi’in yang bipang ke dia “buat apa ngurusin onta dahulu jika ketika sholat kamu selalu terlambat” mendengar itu sahabat menangis dan sahabat itu berkata “waktu masih ada Rosul hal seperti ini tidak apa-apa dan islam begitu mudahnya untuk dilaksanakan, kenapa dirimu sekarang memarahikuhanya karena masalah ini?” dan itu menjadi pelajaran untuk kita ketika bahwa Islam begitu mudahnya untuk dilaksanakan tetapi bukan berarti harus diseplekan, Islam mampu memaklumi orang-orang yang terlambat sholat dengan beberapa alasan yang jelas sehingga tinggal menambah kekurangan rokaat sholat saat ia terlambat, Islam tidak pernah memberatkan para penganutnya.

Terbesit dari pikiran Kang Cecep tentang kedewasaan lamtas dia bertanya “apa prefektive kedewasaan?” dari pertanyaan itu Kang Luay menjawab “kami memaknai dunia dan tempat bermain-main dan mencari hiburan, teringat perkataan Gus Dur yang menyatakan bahwa DPR adalah teman kanak-kanak” dari sini mungkin sekalian sedulur bertanya-tanya apa hubungannya antara kedewasaan, permaian, hiburan, dan taman kanak-kanak? Kang Luay menegaskan tidak akan mungkin seseorang tersadar akan kedewasaan apabila dia tidak teringat mati, karena di dunia ini hanyalah tempat bermain dan hiburan bagi mereka yang menginginkannya, mereka akan berebutlaknya anak kecil, pantas jika Gus Dur menyamakan anggita DPR dengan Taman kanak kanak. Dan kita tidak pernah tau apakah diri kita telah dewasa atau belum? Kedewasaan diri kita baru akan terlihat ketika kita sudah mati, seseorang hanya mampu terus berusaha dalam hidupnya untuk menjadi dewasa makanya orang jawa dulu bilang “terus sinau ben bisa dadi uwong, urip sing apik eman karo tangga, aja wani ngamuk-ngamuk kro wong tua, aja wani nlarani mertua, aja wani nyacadi kakang adi, aja nganti ngawe lara-lara ngo kanca batir ben bisa dadi wong” pernyataan ini terjadi karena lafal kholaqna insana ahsani taqwim bukan hanya di damknai dalam perkembanganfisik saja. Setelah itu satu nomer dari band Interim Poci Maiyah berjudul Lubang Hati karya Letto.


Maiyahan menjadi semakin meriah semnjak adanya gamelan  yang dimainkan oleh Band Interim Poci. seringkali membawakan beberapa lagu yang sering dibawakan oleh Cak Nun & Kia Kanjeng saat sinau bareng diantaranya Lir-ilir, Duh Gusti, Shohibul Baity, Pembuko, Fix You, Sebelum Cahaya, dan lain-lain. Di malam ini maiahan di GBN Slawi juga menjadi semakin terkesan dengan dilakukannya workshop sesuai yang telah Mbah Nun titipkan kepada para pelaku maiyah, Mbah Nun menjadikan workshop tersebut sebagai kado bagi para sedulur maiyah untuk belajar bermusyawarah, diadakannya workshop tersebut menggunakan terminologi manusia nilai, manusia pasar, dan manusia istanayang dilakukan dengan membentuk tiga kelompok yang masing-masing terdiri dengan tiga orang didalamnya yang kemudian akan di hadirkan dengan beberapa pertanyaan yang harus mereka jawab dengan kesepakatan bersama.

Pertanyaan pertama, siapa yang paling terpenting dalam hidup ada?

Pertanyaan kedua, sejak kapan itu dijadikan yang terpenting?

Pertanyaan ketiga, diwilayah mana saja itu menjadi yang terpenting bagi hidup anda?

Pertanyaan keempat, kenapa itu menjadi sebegitu penting dalam hidup anda?

Pertanyaan kelima,apa hal yang terpenting bagi hidup anda?

Pertanyaan keenam, bagaimana cara anda meraih semua itu dengan limitasi yang anda miliki?



Dengan keenam pertanyaan tersebut masing, masing kelompok saling berdikusi, menemukan kesepakatan untuk menjawab pertanyaan tersebut dan dari jawaban tersublah maka akan memiliki peran yang saling terikat antara manusia pasar, manusia nilai, dan manusia istana.

Selasa, 03 September 2019

Kedewasaan


Mukadimmah Poci Maiyah September 2019
Oleh : Abdullah Farid

Bissmillah...

Guyonan orang jawa bilang, Dewasa itu, Gede, Dawa, Rosa. Apanya yang gede, dawa, dan rosa?

Tiga hal itu adalah sifat, watak, karakter. Besar, panjang, dan kuat. Bukan selalu tentang usia, atau jasadiyah, karena ketika Yusuf alaihissalam mendapatkan hikmah dan ilmu, ia belum sampai usia tua. Walamma balagho asyuddah ataynahu hukmaw wa ilma. Ia mendapatkan hikmah lebih dulu sebelum ilmu, ketika ia masih muda, namun mungkin sudah sampai pada tiga karakter dewasa tadi di atas: besar jiwanya, panjang cakrawala berpikirnya, dan kuat mentalnya. Di maiyah ada formula yang serupa dengan ayat tersebut, bahwa sebelum berbicara tentang kebenaran, bahkan kebaikan, kebijaksanaan lebih dulu diutamakan. Dan bijaksana, menunggu saat yang tepat hanya mampu diterima oleh orang-orang yang sudah matang jiwanya. Jika ada anak muda atau bahkan orang tua yang grusa-grusu dalam melihat suatu fenomena kehidupan, maka kedewasaan belum turun ke dalam jiwanya. Dipakai kata diterima dan turun, karena al kalimatul hikmah dlollatul mu'min, fa haitsu wa jadaha fa huwa ahaqu biha. Hikmah itu barang berharga yang hilang dari orang beriman, maka hanya orang yang berhak saja yang akan mendapatkannya. Bukan tentang usia, tapi seperti Yusuf alaihissalam, sudah memiliki kebesaran jiwa, panjang cara berpikirnya, dan kuat mentalnya. Dan hikmah tidak dimiliki manusia beriman kecuali diturunkan oleh Allah dari Sisi-Nya.

Fa'altuhu an 'amri, seperti kata Khidir pada Musa. Bukan tentang perbandingan ilmu Musa dan Khidir, tapi tentang hikmah dari Sisi-Nya, pada siapa itu turun lebih dulu. Karena tidak ada yang lebih pandai, yang ada hanyalah orang yang tahu lebih dulu. Bahwa apa yang dilakukan Khidir ketika menegakkan bangunan yang hendak roboh, juga dua hal lainnya yang tak masuk akal, itu bukan atas keinginan personal Khidir. Melainkan fa-altuhu an 'amri, itu bukan urusannya, Khidir melakukan urusan-Nya, kehendak-Nya. Bahwa di bawah tanah bangunan itu, ada harta pusaka yang kelak bisa digunakan anak-anak yatim pewarisnya saat mereka dewasa. Pertama, dewasa itu tentang kebijaksanaan, ilmu, lalu dari kisah Khidir ini tentang amanah pusaka, warisan, harta benda. Hanya pada orang-orang berpredikat dewasa saja, sebuah amanah dapat diberikan. Kemudian bahwa dewasa dalam konteks Khidir, adalah nuansa kejiwaan yang sudah meletakan keinginan diri sendiri di belakang kehendak Tuhan. Tentang rute hidup keinginan dan kebutuhan diri itu diletakan di belakang cinta dan ketaatan pada Tuhannya.

Maka jelas kedewasaan bukanlah tentang usia, meski tak harus juga mempertontonkan kedewasaan di depan orang yang lebih tua. Terkadang bijak juga ditunjukan dengan kerendahan hati pada mereka baik yang lebih muda atau pun tua, dengan kesantunan bermasyarakat. Seperti seorang ayah yang mempersilahkan anaknya memimpin doa makan bersama keluarga, atau seorang mursyid yang mempersilahkan muridnya untuk mengimami sholat berjamaah. Namun meski tak tergantung usia, hatta idza balagho asyuddahu wa balagho arba'ina sanah tetap saja ada usia keumuman bahwa di usia 40 tahun sewajarnya seseorang sudah mulai menjalani rute-rute tadi di atas: kebijaksanaan, kebaikan, kebenaran. Atau juga meletakan keinginan dan kebutuhan pribadi di belakang kepentingan keluarga, masyarakat, peradaban, atau bahkan Tuhan. Dan di usia 40 tahun itu juga wahyu pertama turun pada Rasululllah sholallah 'alaihi wassalam. Dan di usia 40 tahun itu juga umatnya diajarkan berdoa:
Robbi awzi'ni an-asykuri ni'mataka alati an'amta alayya wa 'ala walidayya...." 
Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku.

Sekali lagi tentang kebesaran jiwa, panjangnya cakrawala berpikir (hingga kehidupan anak-cucu), dan kekuatan mental untuk mampu melakukan rasa syukur tersebut. Alhamdulillah.