Kamis, 01 Oktober 2020

OBA(H)ATI



Mukadimah Poci Maiyah Oktober 2020

Oleh: Lingkar Gagang Poci


"Jiwa semua manusia mendambakan ketenteraman, muthmainnah, damai, penuh ukhuwah, persatuan kesatuan, keutuhan, almutahabbina fillah, potensialitas surga." (Tetes: Tafakur dan Kekeruhan)

 

Kurang dari 100 hari lagi kita selesai bermain di rentang tahun 2020. Tahun paling lontang lantung (kata seorang sedulur PM). Awal tahun sudah diberi kado virus, dan di akhir tahun ini kabar tsunami berpuluh meter mengancam saudara-saudara kita di sepanjang pantai selatan jawa. Dengan segala kerendahan dan kehinaan diri, kita berdoa kepada Tuhan, mudah-mudahan Dia berkenan selalu melindungi—meski sungguh tak ada potret kelayakan kita untuk itu.

Masih tegarkah jiwa kita dengan musibah ini? Masih tegapkah mental kita di hadapan sembako dan BLT yang dibagikan ‘rata’? Atau mendadak mengumpulkan data diri untuk berbaris rapi bersama mereka, yang tiap hari pun sama: dilemahkan di negeri ini? Masih teguhkah pikiran kita, berhadapan dengan pilihan : mengharap bantuan pada istana untuk anak istri tercinta, ataukah tetap berdiri di atas kaki sendiri? Bergerak kemana pun saja, obah, ikhtiyar— menjemput rezeki-Nya, meski tak tahu dengan kerja apa. Hidup memang tak selalu tentang benar dan salah. Ada spektrum lain yang sebaiknya kita pelajari, agar semakin arif menyikapi semua itu.

Hanya satu wabah saja, sakitnya berjamaah. Bukan hanya fisik manusia saja yang terancam, tapi juga perekonomian, pendidikan, rumah tangga, bahkan negara pun sangat nampak lemahnya. One shoot, one kill. Satu kesatuan besar, hanya dengan satu tembakan, seperti efek domino. Semua goyah, ber-obah , nyaris roboh. Belum tergerakkah hati kita untuk kembali? Alam ya'ni lilladzina amanu antakhsya'a qulubuhum li dzikrillah wa ma nazala minal haq.

Obat apa yang akan kita gunakan untuk menghadapi ini? Masihkah sujud-sujud itu terasa nikmat? Masihkah sabar di hati ini kita tetap jaga kuat? Masihkah menganggap kitab suci itu menjadi jalan solusi untuk persoalan ini? Atau justru ketiadaan obatlah, obat yang sesungguhnya? Seperti doa-doa yang nampak tak terdengar, sapaan para hamba yang seakan teracuhkan. Dia menanti, menguji, seberapa cinta para hamba kepada-Nya. Manusia hanya diminta untuk berusaha, berikhtiyar, menjalani proses, rakaat yang entah panjang entah pendek, atau obah, karena hanya orang mati yang tidak ber-obah. (yen obah medeni bocah)

Obahati, gerakan hatimu, sembuhkan luka jiwamu. Seperti pesan seorang sufi, “Biarlah bekas luka hatimu terlihat, karena orang-orang yang ada di jalan cinta, dikenal dari bekas-bekas lukanya.” Hanya dengan bertahan, seseorang akan menang. Memenangkan hati, jiwa, dan dirinya, yang tak roboh oleh ujian-ujian hidup kelak nantinya. Obati hatimu, lalu bergeraklah, karena bagaimana seseorang akan berjalan benar, jika dari sisi hatinya ia masih terluka parah? Karena sejatinya, jiwa semua manusia mendambakan ketenteraman, muthmainnah, damai, penuh ukhuwah, persatuan kesatuan, keutuhan, almutahabbina fillah; potensialitas surga.

Dengan washilah sinau bareng dalam gelaran Poci Maiyah ini, kita semua berikhtiyar, obah, menolak diam, melawan kebingungan meski belum pasti ditunjukan jalan, mengobati hati, berharap cinta sang nabi dan kerelaan Tuhan. Karena, jika memberi solusi persoalan kita belum mampu pasti, setidaknya hidup kita tak menambah beban dunia ini.


Jumat, 11 September 2020

Memimpikan Muhammad




Reportase Poci Maiyah September 2020
Oleh: Lingkar Gagang Poci

Matahari timur mulai muncul dan bersinar, sedang matahari barat cahayanya mulai memudar lalu tenggelam. Semilir angin terhempas di tengah kota yang tertutup awan mendung, dengan penuh petir ketakutan dan badai ketidakpastian. Tapi angin-angin masih membawa mimpi kepada semua orang, hingga hujan di bulan september turun mengguyur tanah yang gersang. Poci Maiyah kembali membuka tutupnya dikala hujan sehingga ia terisi oleh ribuan butir air cahaya, dan jama'ah Maiyah berbondong-bondong mulai datang melingkar menjadi cawan kosong yang haus untuk diisi butiran air cahaya-Nya.


وَرَاَ يْتَ النَّا سَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَا جًا ۙ 

Wa ro`aitan-naasa yadkhuluuna fii diinillaahi afwaajaa

"Dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah," (QS. An-Nasr 110: Ayat 2)


Di Rumah Tahfidz Darul Qur'an Al-Mahmudiyah tempat orang-orang mempelajari al-Qur'an, menjadi tempat diadakannya kembali Maiyahan secara terbuka setelah sekian lama ikut ter-lockdown akibat wabah virus corona. Poci Maiyah seakan sedang nlilir dari tidur panjangnya, ia mulai membuka mata dan kembali melihat dunia. 


Salah satu pembahasan yang menarik banyak perhatian di tema Nglilir: Jejodohing Cahyo (Perjodohan Cahaya) adalah tentang mimpi. Berawal dari Mba Bella, perempuan yang sering ikut menyayikan lagu di setiap Maiyahan bersama band Interm. Ia bercerita kalau dulu ia pernah bermimpi bertemu mbahnya yang marah-marah kepadanya, mbahnya menyuruh ia untuk tidak pernah meninggalkan sholat, lalu pertanyaan muncul dalam dirinya "Siapa sebenarnya yang ada dalam mimpi saya? Apakah dia benar mbah saya? Bukankah orang yang meninggal itu langsung kembali ke Allah? Kenapa ia bisa hadir dalam mimpi saya? Apakah ia adalah ruh mbah saya?" Namun dari pertanyaan Mba Bella memunculkan pertanyaan baru dari beberapa jama'ah, sekiranya begini "Bagaimana kita bisa beransumsi bahwa yang hadir dalam mimpi Mba Bella adalah ruh mbahnya sedangkan dalam al-Qur'an dijelaskan bahwa untuk urusan ruh adalah adalah urusan Allah dan manusia tidak bisa mengetahuinya bahkan ketika Nabi Muhammad ditanya tentang ruh ia hanya menjawab bahwa ruh itu urusan Allah"



وَيَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِ ۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَاۤ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا

Wa yas`aluunaka 'anir-ruuh, qulir-ruuhu min amri robbii wa maaa uutiitum minal-'ilmi illaa qoliilaa

"Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh, katakanlah, Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit." (QS. Al-Isra' 17: Ayat 85)


Pertanyaan yang melahirkan pertanyaan membuat pembahasan menjadi sangat kompleks. Namun ada salah satu perkataan menarik dari seorang penyair sufi bernama Jalaluddin Rumi "Jika teguran pergi, begitu pula dengan cinta. Dan cinta akan tetap tinggal, jika teguran terus ada". Lantas apa kaitannya pernyataan ini dengan mimpi Mba Bella yang dimarahi Mbah nya? Bisa jadi kehadiran mbah dari Mba Bella dalam mimpinya adalah bukti rasa cinta dari mbahnya kepada cucunya, sebab orang-orang yang mencintai akan selalu menegur orang yang dicintainya ketika ia melakukan kesalahan. Kalau kalian sering menonton serial anime Naruto pasti akan sering menjumpai episode yang bercerita ketika Naruto tiba-tiba berubah menjadi moster musang ekor sembilan (Kyubi) lalu dirinya tak terkendali dan mengamuk, lantas dalam dirinya tiba-tiba ia seakan seperti berada di alam mimpi bertemu dengan Ayahnya Minato atau Ibunya Kushina yang menyegel Kyubi dalam tubuhnya. Kehadiran mereka adalah untuk mengingatkan Naruto agar segera sadar dan bisa mengendalikan dirinya agar tidak banyak melakukan kesalahan yang mengakibatkan banyak kerusakan di desa. Ah tapi kita tidak akan membahas panjang lebar tentang Naruto, kita akan kembali ke pembahasan utama tentang mimpi.


Tapi sebelum itu pertanyaan ini belum terjawab "Bukankah orang yang telah meninggal itu ruhnya langsung kembali ke Allah? Bagaimana ia bisa hadir dalam mimpi?" Mari kita membahas hal ini lebih detail. Dalam banyak cabang ilmu mulai dari sains, filsafat dan agama sepakat bawasanya apapun yang tercipta sifatnya abadi, jadi kematian bukanlah akhir dari kehidupan, kematian hanyalah awal untuk menuju kehidupan baru. Ketika manusia meninggal, tubuhnya akan sirna, ruhnya akan kembali ke Tuhan, namun dalam diri manusia tidak hanya sekedar tubuh dan ruh saja, di dalam jiwa ada banyak unsur pembentuk di dalamnya. Diantaranya ada pikiran, perasaan, dan memori yang bisa bertransformasi menjadi wujud baru. Ketiga unsur tersebut juga bisa masuk kedalam jiwa orang lain. Kalau dalam ilmu kedokteran itu kita mengenalnya dengan DNA, namun kalau dalam Psikoanalisis disebut Colective Unconciousness (Bawah sadar kolektif) yang berisi ingatan-ingatan yang diwarisi oleh leluhur dari generasi ke generasi. Seorang kakek biasa mewarisi keahliannya ke anak cucunya tanpa harus ia mengajarinya, ini biasa terjadi secara alami dan orang yang diturunkan pun tidak akan menyadari jika dia bisa melakukan  keahlian yang sama seperti kakeknya, makanya ada beberapa etnis yang mewarisi suatu keunggulan tertentu yang mampu melahirkan orang yang pintar-pintar, faktor genetik tersebut mampu mewaris ke lintas generasi dan saling terhubung secara tidak sadar, bahkan kata Carl Gustav “Ada sisa psikis perkembangan manusia yang menumpuk dari generasi ke generasi” termasuk juga sikap batin mampu mempengaruhi DNA seseorang yang nantinya akan mewaris ke anaknya. Sebagaimana penyataan Gus Luay bawasanya manusia memiliki lapisan-lapisan hijab dalam dirinya, lapisan-lapisan tersebut di antaranya ada :


Lapisan pertama ada  memori pikiran :

Memori yang terbentuk dari pola pikir masyarakat, mempengaruhi kebudayaan, norma sosial yang berlaku dalam satu wilayah masyarakat.

Lapisan kedua, ada memori DNA,

Memori yang terbentuk dari faktor keturunan, mempengaruhi bentuk tubuh, diantaranya ada rambut, warna kulit, warna mata, dll.

Lapisan ketiga ada memori sel, 

Memori yang terbentuk dari organisme biologi, mempengaruhi ketahanan tubuh

Lapisan keempat, ada memori atom.

Memori yang terbentuk dari awal mula proses penciptaan alam semesta, mempengaruhi segala hal yang tercipta di alam semesta


Masing-masing lapisan memori bisa mewaris dari satu generasi ke generasi, membawa banyak informasi dan mempengaruhi kehidupan. Barangkali mungkin hal ini yang membuat Mba Bella bisa bermimpi bertemu dengan Mbahnya, melalui sisa-sisa psikis yang diturunkan mbahnya kepada dia.




Lalu sebenarnya apa itu mimpi?

Apakah itu sebuh perantara bagi kita untuk bertemu orang-orang dan mengakses banyak informasi di masa lalu? Apakah ia berada dalam ketidaksadaran, pra-kesadaran atau kesadaran? Ada salah satu jama'ah yang berkata bawasanya mimpi adalah sebuah isyarat (hikmah) dari Allah, seperti Nabi Yusuf yang bisa menakwil mimpi sebagai sebuah isyarat akan sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Semua mimpi adalah isyarat yang bisa di tafsirkan.


Seorang sufi besar dari Andalusia, Muhyiddin Ibnu Arabi berpendapat "Nabi Yusuf bermimpi melihat benda-benda langit bersujud kepadanya dan menganggap mimpi itu sebagai kenyataan, namun Nabi Muhammad menganggap baik dalam dunia mimpi ataupun dunia nyata adalah mimpi, takwil akan kebenaran hanya bisa terbuka di alam kematian". Tapi di sisi lain Ibnu Arabi juga menganggap mimpi sebagai kenyataan, terlihat pada salah tulisannya di bab pertama Al-Futuhat Al-Makkiyyah Jilid 1. Dia bercerita saat dirinya bertemu dengan Nabi Muhammad "Kepada beliau yang aku menyaksikannya ketika aku menulis pengantar kitab ini di alam hakikat-hakikat imajinal (misal/khayal/imajinasi)..." dalam pernyataan ini Ibnu Arabi membenarkan mimpinya ketika ia bertemu dengan Nabi Muhammad sehingga ia melanjutkan tulisannya "Ketika aku menyaksikan beliau di alam tersebut sang tuan (Nabi Muhammad) yang maksum maksud tujuannya, terjaga penyaksian-penyaksiannya, yang ditolong dan dikukuhkan—seluruh rosul berbaris dihadapannya, dan umatnya, yang adalah umat terbaik, berkumpul mengitarinya." 


Imajinasi juga merupakan mimpi, sebagaimana harapan adalah mimpi orang-orang yang terjaga dan bentuk dari harapan adalah imajinasi. Lantas apakah imajinasi atau mimpi merupakan suatu kenyataan? Lalu bukankah tidak ada yang tau rupa Nabi Muhammad sehingga tidak bisa satu pun seseorang yang bisa mengimajiasikannya. Lantas bagaimana Nabi Muhammad bisa hadir dalam imaji Ibnu Arabi?


Untuk penafsiran akan mimpi, Mbah Nahar memberikan suatu metode yang baik bahwa mimpi sebenarnya tergantung pada pemaknaannya, belum tentu orang yang bermimpi keluarganya yang telah meninggal berarti ia akan meninggal karena diajak oleh keluarganya melalui mimpi. Seperti Nabi Ibrohim yang memaknai mimpi mengorbankan anaknya sebagai sebuah kebenaran, padahal mungkin saja mimpi tersebut bisa merupakan hanya suatu isyarat agar Nabi Ibrohim tidak terlalu terikat dengan anaknya dan selalu bisa beribadah kepada-Nya. Namun mimpi ini dibenarkan oleh Nabi Ibrohim.


قَدْ صَدَّقْتَ الرُّءْيَا ۚ اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ

Qod shoddaqtar-ru`yaa, innaa kazaalika najzil-muhsiniin

"Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik."

 

Mimpi bisa berarti isyarat ataupun sebuah kebenaran tergantung dari pemaknaannya, selagi kita memaknainya dengan baik maka hasilnya akan baik sama seperti Nabi Ibrohim, anaknya yang dikorbankan tiba-tiba berubah menjadi seekor kambing.


Yang terakhir, ada salah seorang bertanya, bagaimana kita bisa mengenali bahwa kita bermimpi bertemu Nabi Muhammad? Sedangkan tidak ada yang mengetahui wajah beliau dan kita tidak pernah melihat wajahnya sebelumnya. Sebagaimana Ibnu Arabi yang menemui Nabi Muhammad dalam alam imajinasi padahal wajah Nabi Muhammad belum pernah ia lihat, bagaimana mungkin ia bisa megimajinasikannya?


Ada suatu kesadaran yang tidak sadar, mimpi juga bisa masuk dalam itu. Seseorang bisa bermimpi atau berimajinasi dengan tiba-tiba terlintas, terbesit dalam bayangannya tentang seseorang yang tidak ia kenal, tidak pernah ia lihat. Tapi dalam mimpi tersebut seakan-akan ia telah mengenalinya, merasa dekat dengannya meskipun di alam nyata ia belum pernah bertemu dengannya sebelumnya. Sebab tidak ada satu pun mahluk di dunia ini yang bisa bermimpi bertemu Nabi Muhammad kecuali jika Nabi Muhammad menghendakinya sendiri, jadi tidak ada orang yang bisa mengimajinasikannya, memimpikannya, kecuali jika Nabi Muhammad sendiri yang menghendakinya untuk hadir dalam imajinasi ataupun mimpi seseorang.


Berbicara tentang mimpi mungkin tiada habisnya, seribu satu malam tak akan cukup menjelaskannya. Mimpi tetaplah mimpi, ia adalah rahasia dan tetap menjadi rahasia.


WallahuAlam



***


Sesungguhnya alam jadian begitu ajaib dalam fluktuasinya

Di dalamnya terdapat lukisan dan goresan


Perhatikanlah ia, niscaya akan kau lihat di dalamnya ciptaan-ciptaan baru yang belum pernah ada,

Kerena sebuah tulisan adalah goresan dari segala sisinya


Sungguh eksistensi adalah misteri

Yang membingungkan pengamatannya.

Alam jadian dijadikan tertulis, dan lembaran dibentangkan


—Ibnu Arabi, Al-Futuhat Al-Makkiyyah Jilid 5


Rabu, 02 September 2020

NGLILIR

Jejodohing Cahyo - Perjodohan Cahaya


Mukadimah Poci Maiyah September 2020
Oleh : Lingkar Gagang Poci 

I

 

Jum'at kemarin tepat sepuluh muharom, dan sedari awal suro, kulihat orang-orang Islam di Tegal masih semangat dan berantusias menyambut tahun baru Islam itu. Seolah telah tersimpan memori di lubuk jiwanya, bahwa akhir dzulhijjah, juga adalah hijrahnya menuju masa yang baru.

 

"Ya Allah, wahai Yang memberikan jalan keluar dari segala kesusahan, wahai Yang mengeluarkan  Zun Nun pada hari Asyura,..."

 

Benarkah kita telah jua mendapatkan berkah Nabi Yunus dari keterpurukan dan kepungan-kepungan yang membuat gelap aql dan nurani? Untuk keluar dari lockdown gelapnya samudera dunia?

 

"Wahai Yang menghimpun semua keturunan Ya’qub pada hari Asyura,"

 

Sudahkah ini juga menjadi momentum kita, atas apa yang telah di alami Yusuf muda? Tersisih, dicemburui, dan disalah fahami oleh saudara-saudaranya. Hilang jauh dari keluarga, lalu menjadi orang asing di negri asing pula. Digoda, difitnah, dipenjara, terlock down bersama orang-orang asing dengan kepercayaan asing pula? Hingga Robb berkenan menghimpun kembali keluarga Nabi Ya'qub di masa senjanya?

 

Sudahkah, kita bisa kembali pulang?

 

"Wahai Yang mengampuni dosa Daud pada hari Asyura, wahai Yang melengkapkan penyakit Ayyub pada hari Asyura, wahai Yang mendengar seruan Musa dan Harun pada hari Asyura, wahai Yang menciptakan ruh Muhammad saw pada hari Asyura."

 

Inikah masanya? Masa kita nglilir terbangun untuk menerima. Menghujamkan akar kita kuat-kuat ke dalam bumi, lalu merangkak naik menuju langit menggapai arsy menjumpa lauh mahfudz? Momentum para maiyyin untuk menghijrahi cahaya, dan me-Muhammadkan diri.

 

Muhammadkan Hamba?

 

*

 

II

 

"Iedul Yatama" tandas para mubaligh menyampaikan moment muharrom ini. Entah anak-anak siapa itu? Berduyun berdiri berjejer satu-persatu dipanggil nama-namanya.

 

WAllahi mata mereka adalah binar mata lugu ketidak tahuan yang aqil balighpun belum tercapai, bahkan bisa jadi gravitasi juga belum mengenali mereka.

 

Satu persatu orang dewasa menyalami, membelai, memberikan mereka amplop-amplop putih.

 

Namun di pojokan, kulihat ada ibu yang menangis tersedu-sedu.

 

Entah ia merindukan ayah dari anaknya, ataukah getir melihat putera semata wayangnya tumbuh tanpa seorang bapak?

 

Sholawat semakin mendengung diatas panggung sedang tangis ibu semakin menjadi-jadi.

 

"Wahai Yang Maha Pemurah di dunia dan di akhirat, panjangkanlah usiaku dalam taat kepada-Mu, mencintai-Mu dan mendapat ridha-Mu wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang. Hidupkanlah pula aku dalam kehidupan yang baik dan wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan iman. Wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang."

 

Kiranya, memang tidak ada yang boleh Tunggal selain Maha Tunggal itu sendiri di semesta ini. Setiap makhluk terhubung berpasangan dengan lainnya;  siang-malam dengan seluruh lapisannya, persifatan laki-laki dan perempuan dengan segala keragamannya, awal dan akhir dengan setiap partikel misterinya, pun kebahagiaan, kesedihan, rasa haru juga atas dorongan berserah lalu tunduk kepada sesuatu yang tidak bisa dimengerti.

 

Anak-anak yatim sumringah bergembira menerima hadiah, sang ibu menangis merindukan sesuatu. Yang menikah berbahagia di pematang dzulhijjah, yang sendiri masih terus mempertanyakan diri.

 

Perjodohan-perjodohan takdir terus merayap membayangi manusia, mengintai sekaligus menemani untuk terus bertanya kepada manusia. Gerangan apakah manusia memahami ketersambungannya dengan rahmat, berkah, hidayah, taufik dan keselamatan dalam setiap kejadian dan pengalaman yang ia alami? Sudahkah setiap hati yang mencari menemu cahaya? Sudahkah dzulumat (kepungan-kepungan gelap) itu menuju Nuur (satu cahaya)? Sudahkah tali-tali cahaya berjodohan dengan kesadaran?

 

Atau, jangan-jangan, sudah lupakah kita bagaimana caranya kembali mencintai?

Selasa, 04 Agustus 2020

Semesta Ismail

Mencapai Derajat Cinta dan Ketaatan


Mukadimah Poci Maiyah Agustus 2020
Oleh: Lingkar Gagang Poci

Bismillah. Sebelum membaca mukadimah malam ini, mari kita berdoa bersama, "Ya Nur kulli syay Anta alladzi falaqa al-zhulumat nuruhu (Wahai Cahaya segala sesuatu, Engkaulah yang cahayanya membelah semua kegelapan)". Mudah-mudahan Allah memberikan cahaya pada kita sehingga jiwa kita dibersihkan sebersih-bersihnya. Amiin.


***

Kita akan melakukan sedikit simulasi. Khususnya untuk mengecek seberapa kotor jiwa kita. Lebih khususnya, selama kabar-kabar sampah media tentang corona memenuhi pikiran kita.


Siap ya?


Oke.


Lihat telapak tangan kita masing-masing.


Sudah? Oke.

 

Ayat Tuhan apa yang tersirat disana? Atau, sadarkah garis-garis di telapak tangan itu juga adalah cara Tuhan ingin berkomunikasi dengan kita? Telapak tangan lebih anti kuman/bakteri, lho. Lebih sakti daripada kulit punggung telapak tangan. Butuh bukti? Coba main sama ubur-ubur di laut.

 

Lagi.

 

Lihat sekitar kita.

 

Tembok, atap, langit, pohon, segala sesuatu, ayat Tuhan apa yang sedulur-sedulur bisa dapatkan dari sana?

 

Afala yatadabarunalqur'an am'ala qulubil aqfaluha.

 

Semakin kita terhubung dengan ayat-ayat itu, semakin bersih jiwa kita. Tapi, selain bersihnya jiwa,bukanlah usaha kita (itu murni fadhol-nya Allah), juga tak perlu lebay. Kekuatan bukanlah ketika kita mendapatkannya. Melainkan ketika kita mampu mengendalikan. Tak terikat sama sekali padanya.

 

Dan kebersihan jiwa, la yamasuhuillal muthoharun, hanya semesta jiwa yang telah disucikanlah, yang mampu mencapai-Nya. Kita akan belajar dari Ibrihim (ada lagunya, lho, dari nasyid tahun 2000an).

 

yaaaabatif'almaatu`marusatajiduniii in syaaa`allohuminash-shoobiriin

 

"Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar." (QS. As-Saffat 37: Ayat 102)

 

Di Maiyah, kita belajar banyak formula. Dalam ayat itu, ada koordinat ‘perintah Tuhan’, yang dikehendaki Tuhan, ‘yang dibolehkan Tuhan’, dan ‘yang dibiarkan Tuhan (istidroj).

 

Yang diperintahkan Tuhan adalah ketundukan/ketaatan total, hanifanmuslima. Yang dikehendaki Tuhan adalah kontinuitas dalam jalan-Nya, ihdinashirotholmustaqim. Yang dibolehkan Tuhan adalah kebutuhan dan nafsu-nafsu yang baik, innanafsa la-amarotubissu-i, illa ma rohimarobbi. Yang dibiarkan Tuhan adalah kemaksiatan, karena selain Dia punya Al Ghofur, Dia juga ingin menunjukan keadilan atas janji-Nya, faalhamahafujurohawataqwaha.

 

Ibrahim pun meletakan Ismail dihadapannya untuk disembelih. Ketika pisau terangkat hendak menyembelih, Allah langsung memanggilnya.

 

wanaadainaahu ay yaaa ibroohiim

 

"Lalu Kami panggil dia, Wahai Ibrahim!"

 

Tentu, Tuhan tidak sedang nge-prank Ibrahim. Meskipun Tuhan senang, dan sering bercanda, fitnes perasaan dengan hamba-hamba-Nya. Ibrahim menjadi ‘ibrah’ (pelajaran) pertamatentang derajat cinta dan ketaatan. Yang nantinya disempurnakan oleh Nabi Muhammad Sholallah Alaihi Wassalam.

 

Di suatu hadits, saksi atas dakwah Ibrahim, Musa, Isa, dan nabi-nabi yang lain adalah Nabi Muhammad. Beliau adalah keturunan dari jalur Ismail. Semesta Ismail mengajarkan kita untuk 'hijrah', dari derajat nafsu/keinginan, melangkah kepada ketuntasan kebutuhan. Memilih menjadi bagiandari cinta yang rasulullah bawa, yang semuanya terbingkai dalam jalan ketaatan/ketundukan total, hanifanmuslima.

 

 

qod shoddaqtar-ru`yaa, innaa kazaalika najzil-muhsiniin

 

"Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik."

 

innahaazaalahuwal-balaaa`ulmubiin

 

"Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata."

 

Fakta adalah permukaan. Realitas adalah keseluruhan permukaan dan kedalaman. Ujian terberat manusia pertama adalah ketika ia harus meninggalkan apa yang dikejarnya: Impian, ambisi, hasrat. Ketika derajat ini terlampaui, manusia baru menjadi manusia (karena memasuki derajat kebutuhan). Namun belum menjadi seorang hamba (abdullah). Karena (maqom) ‘abdullahadalah mereka yang telah meruntuhkan semua 'ego diri', 'keakuan', yang dengan otomatis, ia memilih cinta pada Tuhan ketika jalan untuk memeluk dunia terbuka lebar. Dan ketika telah sampai ke maqom cinta, ia secara otomatis akan dibukakan amanah Tuhan. Mengantarkannya dalam kordinat 'kholifah', Innija'ilunfilardli kholifah.

 

wafadainaahubizib-hin 'azhiim

 

"Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar."

 

Orang-orang beriman tak mungkin kalah, Qodaflahalmu'minun. Jika di dunia ini mereka tak mendapatkan kebahagiaan (yang dicari semua manusia), maka setelah mati mereka pasti mendapatkannya. Itu janji Tuhan. Seperti Ibrahim yang dengan tegar menerima 'prank' Allah itu, secara cash Allah ganti ketaatan itu dengan mukjizat. Ismail digantikan dengan hewan qurban yang besar.

 

wataroknaa 'alaihifil-aakhiriin

 

"Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang        kemudian,"

 

Semesta Ismail : Keimananmu, tergantung sebesar apa pengorbananmu. Merelakan diri melepas semua keinginan, mencukupkan kebutuhan, lalu menerima daulat panji rasulullah untuk menjadi bagian dari cinta yang rasulullah bawa: rahmatanlilalamin.

 

salaamun 'alaaaibroohiim

 

"Selamat sejahtera bagi Ibrahim."

(QS. As-Saffat 37: Ayat 104-109)

 

Wa ala alaihi Ibrohim.

 

Qolbun salim. Ketika dunia memburuk, yang pertama harus diselamatkan adalah hati kita. “Alamya'nililladzina amanu antakhsya'a qulubuhum li dzikrillahi wa ma nazalaminalhaq”, belum datangkah waktunya, ayat-ayat Allah yang kita simulasikan di atas itu memanggil-manggil dan menyapa kita? Faayna ma tadzhabun? Engkau lari kemana, sedang Aku memanggil-manggilmu mendekat?


Senin, 13 Juli 2020

A Million Light Years Search of Truth




Reportase Poci Maiyah Juni 2020
Oleh: Lingkar Gagang Poci

If a heart is filled with heart, if will guide you the truth.” — Ibnu Arabi

Sudah berapa lama waktu tak mempertemukan kita? Sepekan? Dua pekan? Satu, dua, tiga bulan? Memang, kita sudah lama tidak berkumpul untuk maiyahan seperti bulan-bulan biasanya. Pandemi corona tidak memungkinkan bersua. Demi menjaga keselamatan bersama, masyarakat diharuskan mengikuti protokol yang telah ditetapkan pemerintah. Pun sesuai dengan pernyataan Mbah Nun bahwa setiap simpul maiyah akan mengikuti himbauan pemerintah selagi itu untuk kebaikan banyak bersama. Namun apakah para jama’ah maiyah hanya diam saja? Menanti datangnya kembali hari yang cerah untuk bisa maiyahan?

Tidak demikian, jama’ah maiyah telah terlatih akal dan kesiapan mentalnnya untuk menghadapi perubahan. Mereka segara berinisiatif untuk melangsungkan maiyahan virtual yang dilangsukan secara online. Masing-masing orang menempatkan diri sesuai fadilahnya. Ada yang bertugas mencarikan tempat untuk live streaming, mengatur jaringan internet, sebagai operator dan kameramen, menyeting sound dan mempersiapkan microphone. Tak tertinggal juga rencang pawon yang selalu setia menyeduhkan kopi. Dengan begitu organisme dari jama’ah maiyah benar-benar membangun ekosistem yang sesuai dengan ketetapan-Nya. Sebagaimana hadist Nabi “Man arofa nafsahu faqod arofa robbahu”. Jama’ah maiyah malam itu benar-benar dituntun untuk bisa mengenal dirinya sehingga bisa menepatkan diri sesuai dengan posisinya. Tuhan memperjalankan mereka untuk menyelami makna hadis Nabi agar pemahaman mereka benar-benar haqqul yakin. Sebab kebenaran sejati ada pada pengalaman bukan dalam pikiran.

Waktu pun menjadi saksi temu. Meski hanya lewat layar kaca, kebahagiaan berjumpa akan selalu ada. Maiyahan virtual pun akhirnya dimulai secara online pada streaming facebook. Yi Fahmi dan Mbah Nahar memulai pembasahan terutama mengeni salah satu tulisan Mas Sabrang yang akhir-akhir ini banyak diperbincangkan bahkan sampai membuat Buya Syakur memanggilnya untuk berdiskusi di chanel youtube. Tulisan Mas Sabrang itu yakni berjudul “Mempertanyakan Kebenaran Real World Science dan Pengkhianatan Matematika.” Sebuah tulisan yang menjabarkan bahwasanya sains tidak pernah benar-benar mengungkap kebenaran sejati. Mas Sabrang mengatakan sebagai real world, bahkan dengan tegasnya Mas Sabrang menulis, “Sepemahaman saya, Sains tidak pernah menawarkan kebenaran real world. Apalagi bertugas mencari hakikat kenyataannya. Hal yang dihasilkan Sains adalah narrative reality. Dia menciptakan model realitas. Tapi korelasi one-on-one antara pengetahuan yang ditawarkan Sains dengan real world tak bisa dijamin ada.  Begitu pula dengan kebenarannya. Sains bahkan tak mampu menjamin konsistensi dirinya. Kesimpulan itu semua, menurut model Sains sendiri.”

Di Poci Maiyah sendiri kita telah belajar untuk mentadaburi René Descartes dan al-Ghazali yang menawarkan pemahaman akan kebenaran. René Descartes menyatakan bahwa, “Cogito ergo sum” yang artinya, “Aku berfikir maka aku ada.Kebenaran yang ditawarkan René Descartes adalah kebenaran berdasarkan pikiran. Ketika seseorang berpikir, maka kebenaran itu ada padanya. Namun pada kenyataannya kebenaran yang dimiliki manusia hanyalah kebenaran sementara yang bisa terbantahkan. Segala sesuatu yang kita anggap benar melalui pikiran, tidak tentu benar di realita. Contohnya dahulu orang-orang memercayai jika bumi itu datar berbentuk piringan. Namun berjalannya zaman kebenaran akan bumi datar dibantahkan dengan kenyataan bahwa dunia itu bulat. Bahkan bulatnya bumi pun bisa terbantahkan lagi atau makin berkembang kebenarannya.

Bahkan di zaman ini manusia sudah mulai menghitung berapa diameter bumi, namun bisakah manusia menghiting diameter bumi tersebut secara presisi? Sampai pada satuan angka terkecil berupa yektometer bahkan mungkin ada satuan terkecil lagi setelah itu. Sebagaimana yang pernah Ricard Dawkins tuliskan pada bukunya yang berjudul The Magic of Reality, “Atom-atom selalu ada dari dulu, namun belum lama ini kita mengetahui keberadaan atom dengan pasti, dan mungkin keturunan kita akan mengetahui jauh lebih banyak hal yang kini belum kita ketahui. Itulah ajaib dan serunya sains: sains terus-menerus menyingkapkan hal-hal baru. Ini tidak berarti kita harus mempercayai apa saja yang mungkin dikhayalkan manusia: ada jutaan hal yang bisa kita bayangkan namun kecil sekali kemungkinannya nyata—peri dan hobgoblin, leprechaun dan hippogrif. Kita harus selalu berpikiran terbuka, namun satu-satunya alasan bagus untuk mempercayai bahwa sesuatu itu ada adalah bila ditemukan bukti nyata mengenai keberadaannya.” Seorang astronom sekaligus penulis sains popular terkenal Carl Sagan menyatakan bahwasanya kita hanya mengetahui beberapa, sains tidak akan pernah bisa mengungkapkan semua kebenaran yang ada di alam semesta. Pembahasan akan ranah kebenaran jika ditarik ulur akan panjang dan akan menuai benang merahnya jika digabungkan dari beberapa disiplin ilmu salah satunya adalah filsafat.

Suatu hari Plato pernah ditanya oleh para muridnya tentang, “Apa itu manusia?” lalu ia menjawab, “Manusia adalah mahluk hidup berkaki dua dan yang berbulu.” atau bahasa kerennya : featherless biped, namun filsuf lain bernama Diogones datang membawa ayam yang telah dicabuti bulunya dan berkata, “Inilah manusia, mahluk berkaki dua yang tak berbulu.” Hingga lebih dari 2.200 tahun pemikiran tentang manusia terus dikembangkan hingga sampai kepada profesor asal Jerman bernama Martin Heiddegger yang mengubah pemikiran tentang manusia yang menggunakan sudut pandang luar (outsider) menjadi menggunakan sudut pandang diri sendiri sebagai manusia (insider). Namun pembahasan tentang manusia tidak akan benar-benar pasti mencapai titik kebenaran akhir. Hal ini diperkuat oleh pernyatan Imanuel Kant bahwasanya tidak ada manusia yang memandang segala sesuatu dengan apa adanya. Manusia selalu menggunakan perspektif dalam memang sesuatu. Ia menyebut perbedaan antara ‘Sesuatu apa adanya’ dan ‘Sesuatu menurutku.’ Menurutnya sesuatu apa adanya tidak pernah kita temukan. Segala sesuatu yang kita pandang selalu sesuatu menurutku, setauku, sengertiku, sekarepku! Semua orang selalu menggunakan perspektif dalam memaknai sesuatu, lalu Wa ma huwa perspektif? Bagaimana kita bisa mendapat kebenaran jika semua orang memiliki perspektif yang berbeda-beda?

Angin mulai menyejuk dingin. Matahari yang jatuh, kian mengheningkan pandang mereka yang menitipkan senja pada mata. Menitip mata kepada senja. Membiarkan langit, menjadi kertas kado terindahnya. Sebelum membahas kepada pernyataan al-Ghazali, ada sebuah kisah dari seorang tokoh sufi Suhrahwardi al-Maqtul. Pencetus filsafat cahaya (Filsafat Illuminasi), jadi dulu ia membaca buku-buku filsafat paripatetik. Sebuah ilmu filsafat yang lebih memfokuskan logika rasio untuk mengungkapkan kebenaran. Namun ia malah menjadi sumpek, bingung dan tak paham dengan buku yang ia baca. Dari kesumpekannya memahami isi buku tersebut, tak sengaja ia tertidur.

Dalam tidurnya ia bermimpi salah satu tokoh filsafat paropatetik besar dunia, bapaknya ilmu logika ialah Aristoteles. Ia bertanya pada Aristoteles, “Hay Aristoteles, aku bingung apa yang tentang kebenaran ilmu pengetahuan?” Namun Aristoteles malah menjawab, “Tanyakan itu pada dirimu sendiri.” Setelah itu ia terbangun, berfikir berulangkali tentang apa maksud dari mimpinya hingga ia menemukan bahwasanya kebenaran sejati adalah kebenaran yang masuk kedalam bukan kebenaran yang keluar. Maksudnya kebenaran sejati adalah kebenaran yang kita alami sendiri, hal ini disebut dengan beragam sebutan, yaitu, al-ru’yah al-mubashirah, pengalaman langsung, al-‘ilm al-khuduri, preverbal knowledge, kas’yaf, laduni dan lain-lain.

Jika dikaitan dengan pernyataan al-Ghazali, pernyataan dari René Descartes itu terbantah. Al-Ghazali menyatakan, “Aku mengalami maka aku ada.” Karena pengalaman adalah satu-satunya dasar terpenting dari pengetahuan. Tanpa pengalaman, kebenaran tidak bisa diakui sebagai kebenaran. Kesaksian akan pengalaman adalah bukti nyata suatu pengetahuan. Meskipun pengalaman manusia hanya bisa menjangkau setetes air dari luasnya samudera kebenaran. Oleh sebab itu, manusia harus memberi ruang besar bagi keyakinan dalam dirinya. Karena ada terlalu banyak hal yang tidak kita ketahui secara pasti, agama adalah satu-satunya yang menawarkan keyakinan sebagai suatu jalan untuk menuju kebenaran. Kebenaran yang sejati, Cahaya Maha Cahaya yang akan membuka takbir alam semesta.

Kalau kata Gus Luay, “Daripada energimu habis untuk mencari kebenaran alangkah baiknya kamu menggunakan energimu untuk berbuat kebaikan.

Kamis, 11 Juni 2020

Less Owh Yuh




Mukadimah Poci Maiyah Juni 2020
Oleh: Lingkar Gagang Poci



Alhamdulillah, as-sholatu was salamu 'ala Rasulillah, wa la haula wa la quwwata Illa billah

Tak dipungkiri, banyak orang terkena dampak wabah virus corona. Mulai dari mereka yang di-PHK, diliburkan kerja, tidak bisa kuliah, nongkrong, ataupun maiyahan seperti biasanya. Lebih-lebih lagi, mereka yang dihadapkan kenyataan memilukan. Berbulan-bulan dirinya tidak ada pemasukan, tetapi pengeluaran tetap jalan. Dompet kosong, otaknya pun jadi ngesrong . Hingga pada titik kejenuhannya, seorang tiba-tiba muncul dalam grub WA Poci Maiyah mengirimkan sebuah pantun dengan hastag #PMGabut yang berbunyi :

Wit randu wis ditebang
Aku rindu cuma bisa nembang.
Dukuhwaru  karangmangu
Aku rindu tapi terbelenggu

Seakan ada shooq (kerinduan) yang mendalam dari orang itu, mewakili kerinduan kita bermaiyahan lagi. Kita sudah tak tahan lagi dengan kondisi akhir-akhir ini. Sehingga terlihat jelas dalam pantunnya berbunyi wit randu wis ditebang. Bisa kita tafsirkan wit randu adalah pohon yang besar dan kuat, seakan sedang menggambarkan bahwa kita yang sedang berlatih agar kuat, terpatahkan oleh keadaan sekarang. Lalu di bait kedua berbunyi; Aku rindu cuma bisa nembang. 

Kita merindukan masa-masa seperti biasanya. Ketika melakukan banyak aktivitas. Namun sekarang tak bisa apa-apa, hanya merintih dengan nyanyian yang sekiranya bisa menghibur diri. Terlihat sangat jelas pada bait ketiga dan keempat pantunnya berbunyi Dukuhwaru karangmangu, aku rindu tapi terbelenggu. Kata tersebut sangat menjelaskan bahwa seakan kita benar-benar tertekan dengan keadaan, dibelenggu dengan ketidakpastian, kecemasan dan kekhawatiran yang tak berkesudahan. Pantun itu benar-benar telah mencurahkan seluruh isi perasaan.

Tapi aku curiga jika mungkin pantun tersebut tak hanya sekedar pantun yang mengungkapkan perasaan pembuatnya, namun juga memiliki makna yang sangat dalam seperti lagu Gundul-Gundul Pacul ciptaan Sunan Kalijaga? Atau Jangan-jangan dia adalah orang yang mewarisi ilmu dari Sunan Kalijaga. Walisongo yang mampu mengutarakan sesuatu yang bermakna dalam menggunakan tembang dolanan. Ah, aku tak tahu ... .

Yang jelas tak lama kemudian Gus Luay membalas pantunnya dengan sebuah quotes dengan tagar yang sama #PMGabut untuk menenangkan kegelisahan orang tersebut.
"Segelap apapun jalan, bahkan lorong menuju masa depan, yang kita butuhkan hanyalah secercah cahaya... cahaya yang mencahayai, Cahaya di atas cahaya."

Cahaya? Nampak tak asing dalam kehidupan. Kita melihatnya, merasakannya, tersentuh setiap hari dengannya. Bahkan pada gelapnya malam pun kita masih bisa melihat secercah cahaya di antara bulan, bintang dan lampu-lampu kota yang menghiasi malam.

Tapi apakah benar dengan cahaya kita bisa menelusuri lorong masa depan? Bukankan mata kita butuh seperkian detik untuk menerima cahaya? sehingga kenyataan yang kita lihat sekarang ini sebenarnya adalah masa lalu yang telah terjadi, namun baru bisa kita lihat setelah sepersekian detik ketika cahaya masuk ke mata kita. Bahkan semua panca indera manusia butuh sepersekian detik untuk mengalami sesuatu yang telah terjadi. Lantas bagaimana manusia bisa menerobos masa depan jika semua yang mereka alami adalah masa lalu?

Miliaran tahun lamanya, jauh sebelum alam semesta tercipta. Di saat semuanya belum ada, hanya kekosongan yang hampa, Ia melimpahkan cahaya-Nya, limpahan cahaya tersebut dipahami oleh banyak ulama sebagai Nur Muhammad. Nur (Cahaya) yang nantinya menjadi cikal bakal terciptanya alam semesta. Dalam salah satu hadis qudsi menyebutkan “Laulaka, lalulaka. Ma kholaqtul aflaq” artinya “Kalau bukan karena engkau Muhammad, aku tidak akan mungkin menciptakan alam semesta” hadis lain juga menyebutkan “Kholaqul asysyaa li ajlika, wa kholaqtuka li ajly” artinya “Aku menciptakan semua ini untukmu dan Aku menciptakanmu untuk-Ku.” Antara Allah dan Muhammad sangat dekat, bagaikan Matahari dengan rembulan. Matahari memancarkan cahaya kepada rembulan lalu rembulan memantulkannya ke bumi. Ia bertajali dengan Nabi Muhammad, namun yang bertajali bukan dzat-Nya melaikan sifat-sifat-Nya.

Al-Qur’an adalah cahaya kebenaran yang bersumber langsung dari Allah, disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad, sehingga al-Qur’an hanya bisa kita terima melalui perantara beliau. Tanpa Nabi Muhammad adalah mustahil bagi kita untuk mengenal-Nya. Bagaimana kita bisa mendapat petunjuk darinya atas ruwetnya keadaan zaman sekarang, jika kita sendiri tak mengenal-Nya? Pepatah sendiri yang bilang “Tak kenal maka tak sayang.”

Itu sebabnya al-Qur’an menjadi petunjuk paling penting bagi manusia untuk menjalankan kehidupan. Salah satu pesan yang sering disampaikan Gus Luay dalam setiap pertemuan ketika maiyahan adalah “al-Qur’an harus memiliki posisi tertinggi di kehidupan, sekalipun tanpa tafsir nilai al-Qur’an selalu lebih tinggi dan di hadapan Nabi Muhammad kita semua adalah orang awam”. Memang begitu adanya, seringkali kita mencoba memaknai al-Qur’an, mentadaburinya dengan perspektif kita, lalu kita mengaggap pemaknaan kita terhadap al-Qur’an jauh lebih tinggi daripada al-Qur’an itu sendiri.

Pemahaman al-Qur’an oleh umat Islam seharusnya direkonstruksi kembali. Al-Qur’an harus dijadikan sebuah ideal yang diletakan pada posisi paling tinggi bagi proses bernalar setiap muslim. Sudah terlalu banyak orang yang menganggap tafsiran nilainya jauh lebih tinggi daripada al-Qur’an itu sendiri, bahkan tak jarang dari mereka yang menganggap ulama-ulama klasik telah memuat segala kandungan al-Qur’an melalui tafsirannya. Hal ini yang menyebabkan pemaknaan al-Qur’an hanya sebatas tafsiran yang ditafsirkan, tidak lagi menjadi kitab yang kontekstual sepanjang masa (shalih li kulli zaman wa makan). Karena tak dipungkiri jika para penafsir di zaman klasik tak terlepas dari ikatan historisnya, apa yang ia alami di kehidupan akan mempengaruhi corak penafsirannya. Inilah yang menjadi salah satu problematika umat Islam zaman sekarang.

Kita terlalu fokus pada penafsiran zaman klasik sehingga tak mampu memaknai al-Qur’an menyesuaikan zaman sekarang. Bahkan untuk menghadapi situasi di masa pandemi corona pun umat Islam sangat kebingungan. Al-Qur’an telah memberikan blueprint utuh bagi kita untuk menjalani kehidupan. Ia adalah cahaya yang membawamu menerobos lorong-lorong masa depan, namun kamu terhalang oleh tembok besar bernama tafsiran. Meskipun beberapa kisah yang termuat dalam al-Qur’an adalah kisah-kisah masa lalu, tidak berarti kisah-kisah tersebut tidak lagi relevan untuk diterapkan di zaman sekarang. Kejadian itu memang telah berlalu, namun pemaknaan atas kejadian masa lalu masih berlaku. Pemaknaan tersebut bisa berkembang menyesuaikan zaman, selagi al-Qur’an selalu ditempatkan pada posisi tertinggi, lebih tinggi daripada tafsiran. Sebagaimana yang Ibnu Khaldun katakan bahwasanya siklus perputaran di kehidupan selalu sama, hanya saja besaran volumenya yang berbeda.

Segala penyelesaian masalah kehidupan sudah ada di dalam al-Qur’an. Mulai dari aspek ekonomi, sosial, politik, budaya dan segala hal yang bersifat metafisik (ghaib) seperti akhirat, telah tertulis dalam al-Qur’an. Tinggal bagaimana kita sendiri yang mau membuka hati untuk menerima cahaya al-Qur’an— sebagai pedoman sekaligus petunjuk hidup, atau kita malah menolaknya dan mencoba membuat suatu hal yang menurutmu lebih ideal untuk menghadapi zaman.

Ideal al-Qur’an sudah pernah menjadi sumber inspirasi dan kreativitas umat Islam hingga Islam mencapai zaman keemasannya. Umat Islam zaman pertengahan menempatkan al-Qur’an di posisi paling tinggi pada proses bernalar mereka, sehingga muncul beragam disiplin ilmu. Mulai dari kedokteran, filsafat, astronomi, kimia, sosiologi, teologi, tassawuf, dan beragam ilmu lainnya. Jadi mulai hari ini untuk menangani baragam masalah yang diakibatkan oleh pandemi sebagaimana yang dikatakan pegiat Poci Maiyah Less Owh Yuh Normal (Ayo Kembali Normal). Karena kita tak akan membuat kenormalan-kenormalan baru dengan idealisme yang dirumuskan oleh manusia, namun kita akan kembali kepada kenormalan yang telah dari dulu sudah ada—kenormalan untuk menjadikan al-Qur’an sebagai petunjuk kehidupan manusia.

Less Owh Yuh, kalian rindu kan maiyahan? Sampai banyak sekali yang minta untuk tetap mengadakan Halal bi Halal. Less Owh Yuh, kalian rindu kan sholawatan? Membaca mahanul qiyam di gubug syafaat setiap malam jemu'ah akhir? Less Owh Yuh, tetep maiyahan, tetep sholawatan, meskipun harus lewat media sosial