Jumat, 06 Januari 2023

SAKUASANE



 Mukadimah Poci Maiyah Januari 2023 Oleh: Rizki Eka Kurniawan


Heaven helps those who help themselves” 

(Tuhan akan menolong orang-orang yang mau berusaha)



Kehidupan kita saat ini sangatlah berbeda dengan kehidupan kita di tahun lalu. Perubahan terasa begitu cepat, bahkan terkadang membuat kita sampai-sampai tidak menyadarinya bahwa segala sesuatu atau mungkin bahkan keseluruhan dari dunia kita telah berubah.


Kita melihat beberapa keluarga, teman, tetangga, sanak saudara ataupun orang yang belum kita kenali telah “sukses” lebih dulu dari kita. Dan kita mendambakan hidup seperti mereka yang berkecukupan harta dan mempunyai status sosial tinggi di masyarakat. 


Terkadang, di dalam hati kita mengadu nasib. Perasaan iri kerap kali mendominasi hati, membuat hidup kita menjadi tidak tenang, cemas dan tersisihkan. Kita bertanya: “Kenapa orang-orang bisa lebih dulu sukses dari kita?”


Saya sangat yakin, manakala hati dan pikiran kita telah bertanya semacam ini, kita pasti mengalami suatu kegelisahan yang dahsyat, perasaan dipenuhi emosi negatif yang bergejolak, bingung dan putus harapan. Kita menjadi sangat frustasi, seolah-olah dunia tidak berpihak pada kita, seolah-olah kita menjadi makhluk paling menderita dan seolah-olah Tuhan pilih kasih dalam menentukan takdirnya.


Sama sekali tidak! Semua tuduhan negatif kita kepada dunia, kepada takdir bahkan sampai kepada Tuhan, tidak bisa dibenarkan! 


Dalam sebuah pertemuan Mother Poci Maiyah di kediaman Mas Samsul, kita berbicara banyak hal mengenai ekonomi dan perubahan sosial. Sampai-sampai salah seorang pegiat mengeluarkan kalimat yang sangat revolusioner, katanya:

“Tuhan telah mempercayakan takdirnya kepada kita, maka jangan pernah mengecewakan-Nya!”


Begitulah kalimat tersebut mendasari semangat masyarakat Poci Maiyah. Semangat untuk tetap hidup, berjuang dan mempertahankan kehidupan. Semangat untuk terus melipatgandakan kebaikan dan kebermanfaatan.


Tidak ada satu pun alasan yang bisa kita jadikan alibi untuk menyerah, tidak ada waktu bagi kita untuk berlarut-larut mengeluh pada nasib yang kita anggap buruk. Masyarakat Poci Maiyah dididik untuk selalu meningkatkan kualitas dan kuantitas dalam memberi. Seperti kata Maha Guru Sufi:


“Kami diajarkan untuk tetap memberi, meskipun dalam keadaan tidak memiliki”


Dalam arti, kehidupan kita harus diserahkan sepenuhnya untuk produktivitas dan kebermanfaatan serta berkontribusi terhadap masyarakat secara luas. Dan salah satu cara kita dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas kita dalam memberi adalah dengan meningkatkan taraf ekonomi, paling tidak kita bisa menyelamatkan diri kita sendiri dari kemiskinan materi.


Oleh karena itu, kita harus sadar secara kolektif bahwa setiap jam yang kita miliki bernilai uang jutaan rupiah, maka janganlah kita menyia-nyiakan waktu, jangan membuang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak perlu.


Bilamana kita bisa memanajemen waktu dengan baik, kita bisa menghasilkan cukup banyak uang, karena salah satu sifat alami uang adalah bisa dilipatgandakan. Uang mempunyai sifat produktif yang menghasilkan. Dengan uang kita dapat menghasilkan uang dalam jumlah yang lebih banyak.


Kita hanya perlu cukup keberanian untuk memulai, untuk mengambil resiko dari setiap pilihan yang kita tentukan. Jika kamu ingin berusaha atau memulai karir di suatu perusahaan, hal pertama yang perlu kamu lakukan adalah memulai, bukan memikirkan bagaimana kamu akan sampai.


Beranikan dirimu untuk mengambil resiko dari setiap kesempatan yang datang. 

Perubahan sangat besar justru terjadi dalam bingkai waktu yang sangat sempit.

Ketika sama sekali tidak disangka-sangka, kehidupan justru menyodorkan kita tantangan untuk menguji keberanian dan kemauan kita untuk berubah. Jika saat seperti itu tiba, tak ada gunanya berpura-pura sesuatu belum terjadi, atau mengatakan kita belum siap.


Mulailah selagi ada kesempatan. Beranikan dirimu untuk membuka masa depan yang baru! 


Dan sebagai tambahan, saya ingin menceritakan sedikit kisah menarik dari Bali, tentang kisah komunitas kera di daerah Sangeh Bali. 


Pada mulanya, komunitas kera tersebut dipimpin oleh seekor kera yang mempunyai ukuran badan yang lebih besar dan bentuk rambut yang panjang, berbeda dari kera-kera lainnya yang mempunyai tubuh lebih kecil dan rambut yang pendek. 


Namun, di setiap tahun selalu ada tradisi di komunitas kera tersebut untuk memperebutkan kursi kepemimpinan dengan cara berduel secara fisik. 


Dan bilamana ada seekor kera penantang yang bisa mengalahkan sang pemimpin, maka ia akan diangkat sebagai pemimpin baru dan pemimpin lama yang kalah akan diusir dari komunitasnya. 


Suatu keajaiban yang menarik di sini, pada saat kera penantang itu menjadi pemimpin, beberapa bulan kemudian secara fisik tubuh kera tersebut menjadi lebih besar dari kera lainnya dan rambutnya memanjang berwarna putih seperti pemimpin kera yang lama. 


Seakan-akan ada zat kepemimpinan di dalam diri setiap kera. Dan zat kepemimpinan itu baru aktif manakala kera tersebut telah berhasil menduduki kursi kepemimpinan. 


Kejadian semacam ini, mungkin seperti sebuah keajaiban, secara tiba-tiba kera kecil yang memenangkan pertarungan dan menjadi pemimpin baru mengalami perubahan yang dratis; tubuhnya jadi besar dan rambutnya jadi panjang berwarna putih. 


Dan saya kira, hal ini tidak hanya terjadi di komunitas kera saja, manusia atau bahkan mungkin makhluk lainnya juga mengalami ini. Manakala ia telah diberikan suatu tanggung jawab atau ia telah mengambil suatu resiko dan menentukan pilihan hidup. 


Alam secara langsung membantunya, zat-zat tersembunyi dalam diri kita akan aktif secara tiba-tiba. Dan kita akan mengalami perubahan yang tak disangka. 


Dari kisah ini, cukuplah bagi kita untuk percaya, bahwa dalam hidup. Bilamana kita ingin sukses, maka kita tak perlu takut gagal ketika telah mengambil keputusan, meskipun keputusan itu tampak begitu suram, namun percayalah alam tak akan tinggal diam meninggalkanmu menderita sendrian. Ia selalu ada untukmu, bahkan saat kamu tidak sadar akan keberadaan-Nya. 


Kamis, 01 Desember 2022

LUNGLUNGAN

 



Mukadimah Poci Maiyah Desember 2022
 Oleh: Mustofa Ups

 

Beberapa tahun silam, saat proses renovasi tahap pengecoran pada sebuah madrasah di salah satu kampung di Tegal, warga masyarakat sekitar dan juga para alumninya berbondong-bondong untuk turut membantu. Peng-estafetan semen cor yang dilakukan dari satu orang ke yang lainnya untuk dituangkan dari bawah ke bagian paling atas pada bangunan madrasah itulah yang masyarakat menyebutnya dengan "lung-lungan" / "ulung-ulungan". Proses lunglungan itu mempunyai makna filosofis sendiri Jika digali lagi secara lebih mendalam. Semangat gotong royong antar sesama, bahu membahu dan bekerjasama untuk mencapai tujuan sukses bersama adalah nilai-nilai kebaikan yang ada di kegiatan lunglungan ini.

POCI MAIYAH

EDISI BULAN DESEMBER 2022.


Beberapa bulan terakhir Mbah Nun, dan jamaah maiyah di berbagai simpul telah menggelar Tawassulan. Tradisi tawasulan sendiri sudah berlangsung sejak lama khususnya di Nusantara ini. Sementara konsep tawasul yang dijalanipun bermacam-macam bentuknya.

 

Para sesepuh mengajarkan kita tentang bagaimana kemudian dalam berdoa dan memohon kepada Allah atas tiap hajat agar juga mengawalinya dengan bacaan-bacaan tertentu yang diambil dari ayat-ayat suci Al-Qur'an, Sholawat, maupun dari wirid tertentu yang diajarkan oleh para ulama pendahulu dan juga menyebutkan nama-nama orang tertentu yang dianggap sebagai wali-wali Allah. Hal ini di maksudkan agar keberkahan dan juga limpahan-limpahan kebaikan lainnya juga Allah berikan kepada kita semua yang tengah berdoa.

Sementara Mbah Nun sendiri menegaskan mengapa kita perlu tawasulan?

Mbah Nun menyampaikan bahwa kita tawassulan karena menyadari bahwa ada dalam hidup kita ini hal-hal yang kita tak mampu mengatasinya. Karena itu, tak ada jalan lain selain mengemis atau nyuwun paring-paring kepada Allah SWT. Itulah makna inti tawasulan yang disampaikan oleh Mbah Nun.

Maka Jika ditarik dari kedua hal di atas, di antara hikmah yang bisa diambil adalah bagaimana kemudian kita bisa meyadari bahwa sekuat apapun kita, sealim apapun kita, dan sepandai apapun kita dalam memahami pengetahuan, pada akhirnya kita tetap saja memerlukan pihak lain sebagai perantara kita bisa berjalan dan menuju finish yang sejati, Allah SWT. Karena biar bagaimamapun, ilmu dan pengalaman kita sangatlah terbatas. Jadi untuk bisa memahami ilmu Allah yang tak terbatas itulah ,kita memerlukan bantuan orang lain untuk memperluas resolusi ilmu kita. Meskipun takkan mungkin bisa kita sampai pada titik itu.

Sebagaimana Allah mengajarkan kita tentang sholawat agar kitapun harus berterimakasih kepada Rasulullah, karena perantara beliau, kita bisa mengenal Allah dan juga apa-apa yang menjadi Perintah maupun larangan-laranganNYA. Juga kepada Sahabat, dan juga para penerusnya hingga sampai sekarang.

Wallahu a'lam bisshowab

 

MENGGEMBALAKAN DIRI SENDIRI

Karena pada hakekatnya tidak seorang pun sanggup dan bisa menilai orang lain,maka kita sendirilah yang dalam hati dan batin kita masing-masing harus menjadi pengawas diri sendiri.

Setiap pandangan dan sikap orang lain atas kita sangat membantu penglihatan diri itu. Dialektika horisontal dengan orang lain sangat menolong kita dalam memacu menggembalakan diri sendiri.

Emha Ainun Nadjib

Jumat, 04 November 2022

ISTIQOMAH BERMANUSIA



Mukadimah Poci Maiyah November 2022


Istiqomah menjadi manusia terbaik

Jika ada satu saja keluarga di suatu kampung Nusantara ini mau mencipta ulang Gatotkaca, maka bisa jadi suatu saat memang akan terlahir Sang Ksatria otot kawat dan tulang besi itu. 

Jika sedulur Poci Maiyah, misalnya, sebulan kerja itu gajinya 2 juta. Maka dalam 1000 bulan sedulur Poci Maiyah akan punya uang 2 milyar rupiah. Pengin? Tapi sayangnya, pas punya uang segitu, pas inflasi merenggut nilai intrinsiknya.

Jika sedulur Poci Maiyah menabung 1000 rupiah sejak kelas 1 SD, sejak Pak Guru / Bu Guru mengajari menabung (sedangkan sebagian mereka justru menyekolahkan SK PNS-nya), maka saat kuliah sedulur Poci akan punya uang 6jt lebih. Tapi bisa jadi pas buka celengan uangnya dimakan rayap.

Istiqomah alias konsistensi memang repot yah.

Di jaman yang banyak anak muda ingin kaya (harta) dengan cara cepat, kerja santai dan nyaman, dan dihormati banyak orang, masih berhargakah sebuah konsistensi?

Di jaman yang ibadah ingin ditukar dengan keberlimpahan rejeki, jodoh se-ideal penduduk surga, pangkat dan jabatan, masih adakah yang istiqomah di jalan sunyi kepada Tuhan?

Setiap manusia terlahir sebagai raja. Sirrul Malik , rahasia sang raja, terlahir sebagai manusia lemah sedangkan ruh-nya orisinil langsung dari sang pencipta. Setiap manusia lahir sebagai raja, tapi kualitas tingkah lakunya membenamkan ia menjadi seorang budak dunia. Tercipta dengan tujuan mulia, bersumber dari sang maha pencipta, berproses perjalanan sejak dari langit hingga menjadi jabang bayi, tapi berakhir dalam predikat budak dunia. Hanya manusia yang punya kemungkinan seperti itu. Tidak ada seekor burung yang berakhir hidupnya dengan mengeong seperti kucing. Begitu pun tumbuhan, setidaknya belum ada rujak kangkung yang berakhir dipincukan menjadi rasa durian atau anggur. Semua rujak kangkung istiqomah menjadi kangkung.

Entah manusia itu menggunakan mental model apa. Katanya manusia, tapi ternyata sulit untuk dikatakan berakal. Disebut manusia, tapi memangsa sesamanya. Menjadi manusia, tapi tak mau mengenal Tuhannya. Seakan mereka tak paham, bahwa ia yang merasa tak dapat ditundukan dengan rasa takut pada Tuhan, pasti akan ditundukan oleh rasa cinta-Nya . Sirrul dlolal , rahasia kesesatan. Tuhan tak pernah meninggalkanmu seperti apapun engkau tersesat. Dia didekatmu sejahat apapun dirimu. Ibarat seorang kekasih, Tuhan selalu bersamamu, di dekatmu, tapi berkali-kali engkau mengacuhkan-Nya, menolak-Nya, pun Dia enggan menjauh darimu. Cinta memang pedih. Apalagi cinta dengan penuh konsistensi. Bikin kita gagal move on. Duh, jadi baper.

Maka, agar keistiqomahan dapat terus terjadi dalam diri, diperlukan formulasi abadi. Seperti cipta ulang gen Gatotkaca, mungkin butuh waktu 200 atau 500 tahun, dimulai dari generasi sekarang. Disugesti, dilatih fisik, mental, dan akal, dibuat narasi, agar setiap saat kesadaran bahwa keluarga itu adalah gen Gatotkaca terkirim ke generasi-generasi selanjutnya lewat DNA. Istiqomah adalah jalan manusia-manusia terbaik. Manusia terbaik bukanlah seseorang dengan segenap prestasi dunia yang membuat banyak orang berdecak kagum. Tapi manusia terbaik adalah manusia yang konsisten mengikuti jalan Tuhan, menaati ajaran rasulullah, dan selalu menyebarkan cinta yang beliau bawa.

Jumat, 02 September 2022

Mepeki Sangu

 


Mukadimah Poci Maiyah September 2022

Oleh : Mustofa Upss.

 

Dalam hidup, setiap manusia mempunyai tujuan dan cita-cita yang berbeda-beda. Ketika kita bertanya kepada beberapa orang tentang cita-cita hidupnya,kebanyakan dari mereka menjawab ingin menjadi orang yang sukses.

Makna sukses sendiri mempunyai berbagai macam pengertian. Namun kami mengambil apa yang pernah sedikit disampaikan oleh Mas Sabrang. Yakni Pencapaian versi terbaik dari manusia. Sedangkan "Yang terbaik" sendiri menurut setiap individu itu tidakalah sama. Ada yang sukses dengan pencapaian yang bersifat materi, seperti bisa membeli barang-barang mahal, penghasilan besar, tabungan banyak, rumah yang megah, kendaraan mewah, dan lain sebagainya.

Ada juga sukses dengan pencapaian yang bersifat imateri/non materi, yakni mencari ketenangan hidup, bisa beribadah dengan fokus, bisa memberi manfaat untuk orang lain, tidak mempunyai hutang, menjadi hamba yang di ridhoi oleh Allah, bisa menikmati hidup, dan lain lain. Maka dalam menuju sukses tersebut juga beraneka ragam caranya, prosesnya, dan juga tantangannya.

Allah menakdirkan setiap dari kita dengan catatan perjalanananya masing-masing, dengan jatuh bangunnya, dengan gelap terangnya, dan dengan berbagai macam naik turunnya.  Bagaimana kemudian setiap dari kita mempersiapkan diri mengumpulkan tenaga, sangu (bekal), dan juga persiapan-persiapan lain untuk kita berjalan menuju sukses tersebut.

POCI MAIYAH pada gelaran sinau bareng edisi bulan September di tahun 2022 ini ingin mengajak semua agar masing-masing dari kita menumbuhkan kesadaran bahwa kita tengah melakukan perjalanan yang hebat menuju sukses.  Maka sudah seharusya kita mempersiapkan sangu (bekal) sebaik dan semaksimal mungkin. Baik yang sedang berproses menuju kesuksesan materi, maupun yang sedang berproses menuju kesuksesan imateri.

Meskipun pada hakikatnya Allah sudah membekali kita dengan modal awal yang cukup banyak. Badan sehat, akal fikiran yang jernih, ilmu dan pengetahuan, informasi-informasi, adanya orang-orang baik di sekitar kita, dan yang terpenting adalah masih adanya iman dalam hati dan keyakinan kita kepada-NYA. Yang bisa kita gunakan untuk penguat pijakan kita dalam melangkah menuju sukses dengan mensyukuri stiap proses perjalanannya.  Akan tetapi, kita harus kembali mengumpulkan bekal-bekal lain untuk melengkapi modal awal tadi karena banyak juga kemungkinan-kemungkinan lain yang bakal kita lewati menuju tujuan kita.

Ada yang menarik lagi tentang makna sukses dari salah satu "sesepuh" yang kami temui, bahwa sukses yang sejati ialah ketika kita bisa mencapai derajat Khusnul Hotimah di akhir perjalanan kita. Mencapai finish dalam keadaan baik dan selamat di hadapan Allah SWT.  Itulah yang harus selalu kita upayakan dalam hidup, tentu semua itu bisa didapat, di antaranya dengan selalu waspada dan melihat diri sendiri tentang keterbatasan bekal kita. Hingga setiap saat kita selalu dalam keadaan mencari sesuatu untuk menambal apa yang belum lengkap dari sangu (bekal)  kita.

Wallahu A'lam bisshowab.

 

ORANG-ORANG MAIYAH

Berulang-ulang membaca dirinya.

Mocopat Syafaat

Jumat, 05 Agustus 2022

Nilar Nalar



Mukadimah Poci Maiyah Agustus 2022

Oleh: Mustofa Ups

Dalam pengertian bahasa jawa, kata Nilar berarti meninggal. Yang kata dasarnya adalah tinggal, mati. Sedangkan kata Nalar dalam kamus bahasa jawa memiliki arti gagasan, budi.

Dalam KBBI sendiri Nalar memiliki 5 arti. Yakni :

1. Pertimbangan tentang baik buruk dan sebagainya

2. Akal budi (Contoh: Setiap keputusan harus didasarkan nalar yang sehat)

3. Aktivitas yang memungkinkan seseorang berpikir logis

4. Jangkauan pikir

5. Kekuatan pikir

 

Sedangkan penjelasan secara umum, nalar merupakan salah satu perangkat manusia yang digunakan dalam pencarian kebenaran. Ia dapat difungsikan sama seperti indra ialah untuk mengenali objek dan mengolahnya sesuai dengan kemampuan resepsi. Karenanya, hasil penalaran dapat berbeda antara seorang subjek dengan subjek.


Beberapa tahun silam, di akhir tahun 2019. Majelis maiyah yang merupakan sedulur tua kita, yakni KENDURI CINTA Jakarta pernah membahas tentang nalar, akal ,naluri, dan sebagainya. Hanya saja fokus utamanya adalah tentang akal. Bagaimana manusia mengalami keadaan dimana akal tidak bisa di gunakan dengan baik. Juga gambaran bagaimana seharusnya akal digunakan dengan sehat dan dengan pandangan yang jernih juga.

 

Muqodimah POCI MAIYAH pada edisi bulan ini akan sedikit mengutip tulisan dari tim redaksi KENDURI CINTA Jakarta.

 

Yang membedakan manusia dengan binatang adalah manusia memiliki akal sementara binatang tidak. Meskipun sama-sama memiliki otak, tetapi binatang tidak memiliki akal. Maka manusia memiliki ide, gagasan, kreativitas, ilham, dan lain sejenis. Akal jelas tidak sama dengan otak. Singkatnya, otak adalah hardware sementara akal adalah software.

 

Akal adalah potensi rohaniah yang Allah menganugerahkannya kepada manusia, dan agar akal semakin berfungsi dengan baik, manusia harus melatihnya secara terus-menerus. Jika akal tidak difungsikan, maka akan berakibat pada kebodohan.

 

Sebenarnya, tidak ada akal tidak sehat. Yang ada adalah mekanisme berpikir yang tidak sehat. Semua manusia sudah paham, bahwa mencuri itu perbuatan buruk. Bahkan, tanpa adanya undang-undang, hingga ayat dari Tuhan pun, secara naluriah manusia sudah memahami bahwa mengambil hak milik orang lain adalah perbuatan tercela. Tetapi, itulah manusia. Dengan bekal kreativitasnya, manusia kemudian mendayagunakan akalnya. Hanya saja, terkadang mekanisme berpikir manusia tidak sehat. Perbuatan-perbuatan yang awalnya disadari sebagai perbuatan yang tidak baik, yang jauh dari nilai luhur manusia, karena tingkat kreativitas manusia yang begitu bebas dijelajahi, segala hal dimungkinkan untuk diuji coba dan dilakukan. Sebuah perbuatan buruk yang awalnya disadari sebagai perbuatan buruk, menjadi sebuah kebiasaan karena setiap melakukannya ia tidak merasakan akibatnya secara langsung. Contohnya: korupsi.

 

Justru yang bisa tidak sehat adalah hati. Maka kita mengenal konsep Tombo Ati. Secara naluriah kita memahami bahwa hati adalah unsur dalam diri manusia yang bisa terkontaminasi oleh sakit. Bahkan di dalam Al-Qur’an, Allah jelas-jelas menyatakan hati itu bisa sakit, bahkan Allah bisa menambahkan sakit dalam hati manusia. Fii qulubihim marodhlun, fazaadahumullahu marodhlo.

 

Peradaban yang sedang kita hadapi saat ini adalah peradaban yang tidak sungguh-sungguh dalam berTuhan. Tuhan diakui keberadaannya, nama-Nya disebut-sebut, bahkan diteriakkan di mana-mana, tetapi manusia tidak serius menyembah kepada-Nya. Tuhan dipaksa untuk memenuhi keinginan manusia. Lebih parah lagi, Tuhan hanya dianggap sebagai pelengkap penderita.

 

Sayangnya, manusia juga setengah-setengah dalam menihilkan peran Tuhan. Seharusnya, kalau memang Tuhan tidak sungguh-sungguh diakui keberadaannya, sekalian saja kebebasan mutlak menjadi pijakan hidup manusia untuk melampiaskan nafsu. Kenapa tidak menindas sebanyak mungkin orang? Kenapa tidak mengambil hak orang lain sebanyak-banyaknya? Kenapa tidak memilih berkuasa selama-lamanya? Jika keberadaan Tuhan sudah tidak diakui secara sungguh-sungguh.

 

Ketika manusia tidak menggunakan potensi-potensi yang dimiliki akal secara seimbang, hanya menggunakannya untuk sekadar bertahan hidup dan meneruskan perkembangbiakan saja, dengan mengabaikan fungsi lain seperti kemampuan untuk pengambilan keputusan, kepribadian, proses intelektual, interaksi dan lain sebagainya, lantas di mana letak perbedaan antara manusia dengan binatang?

 

Akal sehat akan memberikan konfirmasi bahwa ada keadaan yang tidak beres dengan kondisi yang ada. Tetapi, karena terjadi dismanajemen fungsi akal itu tadi, kebobrokan justru menjadi momen yang menguntungkan. Sehingga sebisa mungkin menghindari adanya perbaikan sistem. Akan tidak mengherankan apabila kondisi yang terjadi di lingkungan, baik masyarakat, maupun lingkup negara, banyak terjadi tindakan-tindakan yang dirasa tidak sesuai dengan logika, seperti banyak kasus kriminal seperti kekerasan, perampasan hak orang lain, bahkan sampai menghilangkan nyawa.

 

Persoalannya bukan kita mampu atau tidak, melainkan kita mau atau tidak. Salah satu kekhawatiran yang berlebih dari manusia modern adalah kekhawatiran tidak bisa makan. Manusia berlomba-lomba menumpuk harta demi mencapai jaminan tidak lapar. Apakah salah menjadi orang kaya? Apakah salah menjadi penguasa? Tentu saja tidak. Asalkan yang dijunjung tinggi adalah asas kebermanfaatan bagi sesama manusia dan sesama makhluk hidup.

 

Wallahu a'lam bisshowab.

 

"Kalian berbicara bahwa dunia semakin rusak dan akan semakin rusak. Siapa yang merusak? Kalian sendiri.” -Emha Ainun Nadjib-


Jumat, 01 Juli 2022

Ngesrong



Mukadimah Poci Maiyah Juli 2022

Oleh : Mustofa Ups


Adakah kemungkinan kita tahu apa yang sebenarnya sedang kita jalani?

Bersediakah kita sebenarnya untuk tahu persis apa yang sesungguhnya yang kita cari?

Cakrawala yang manakah yang menjadi tujuan sebenarnya dari langkah-langkah kita?

Pernahkah kita bertanya bagaimana cara melangkah yang benar?

Pernahkah kita mencoba menyesali?

Hal-hal yang barang kali perlu disesali dari perilaku-perilaku kita yang kemarin?

Renungan lir-ilir (Emha Ainun Nadjib)


Membaca potongan syair di atas seketika mengusik hati dan akal fikiran kita. Sejauh ini banyak dari kita yang masih belum memahami apa yang sebetulnya sedang berlangsung dalam kehidupan ini. Bahkan tujuan utama kita hidup di dunia inipun masih banyak yang belum mengetahuinya, atau banyak yang sudah mengetahuinya tapi bingung dari manakah langkahnya akan di mulai untuk berjalan? Lantas, jika memang seperti itu? Bagaimana sebetulnya dengan apa yang sudah kita kerjakan selama ini? Kepada siapa kita mengabdikan diri sejauh ini? Berapa banyak sudah waktu yang kita buang? Mungkinkah kita bisa mencapai tujuan yang sejati dengan tanpa arah dan tujuan yang jelas?

Juni di sela kepungan udara dingin sudah kita lalui bersama di hari-hari kemarin. Saatnya kita melangkah di bulan Juli yang juga masih di selimuti hawa dingin yang menyejukkan ini. 

"NGESRONG" Adalah tema yang kita pilih untuk gelaran sinau bareng di edisi kali ini.

Dalam bahasa jawa, Ngesrong bisa di artikan dengan tidak tepat sasaran, tidak pas, tidak sesuai dan sebagainya. Bila di uraikan, gambaran tentang Ngesrong adalah sebuah keadaan yang mana hasil yang didapat tidak sesuai dengan apa yang sudah di perhitungkan sebelumnya. Beberapa contoh kejadian yakni ketika kita menjadi siswa di sekolah, di pesantren, maupun di kampus. Atau ketika kita sudah berpuluh-puluh kali hadir di forum-forum diskusi, seminar dan sebagainya. Tentu banyak teori-teori yang sudah kita dapatkan dan tersimpan di file diri kita.

Tapi mengapa saat tiba momentum Allah menguji dengan kejadian yang serupa, pengetahuan itu tidak bisa kita gunakan? Kalaupun kita gunakan, mengapa efek yang terjadi justru malah membuat sakit dan benturan? Ataupun kita balikkan, ketika kita merasa sudah melakukan gerakan, pengaplikasian nilai, baik di kehidupan pribadi, maupun di suatu perkumpulan/komunitas.

Mengapa itu semua tidak bisa memperluas diri kita? Membuat kita justru malah menganggap yang lain tidak sempurna? Tidak bisa meningkatkan keyakinan kita kepada sang pencipta? Dan tidak menumbuhkan kepatuhan-kepatuhan kepada-Nya?

Setiap manusia di bekali oleh Tuhan akal yang cara kerjanya begitu luar biasa. Dia bisa menampung banyak sumber informasi dari apa yang sudah di lihat oleh matanya, didengar oleh telinganya, dihirup oleh penciuman hidungnya, dan dirasakan oleh kepekaan hatinya. Bahkan dia juga bisa  menganalisa peristiwa-peristiwa apa saja yang sudah di lewati dalam perjalanan hidupnya. Dengan inilah kemudian manusia membekali diri sebelum akhirnya bergerak dan melakukan tindakan-tindakan. 

POCI MAIYAH Di tahun ke 6 ini telah menjadi laboratorium nilai, dengan banyak sekali sumber informasi yang menjadi rujukan pembahasannya. Bahkan tidak hanya di POCI MAIYAH,di luar sana banyak sekali forum-forum diskusi,kajian-kajian ilmiah,seminar,pengajian,maupun training motivasi yang memperkaya ruang keilmuan di masa sekarang. Data-data inilah yang menjadi benih-benih tanaman kehidupan agar hasilnya bisa kita nikmati dengan rasa syukur. 

Ibarat sebuah pohon, tentu siapa saja yang sudah menanamnya ingin merasakan manis buahnya. Lalu siapa yang akan merawat benih-benih pengetahuan itu hingga menjadi pohon besar yang rindang dan berbuah.? Tentu kita sendiri.

Aplikatif terhadap apa yang sudah kita ketahui adalah pupuk yang paling bagus dan paling menyuburkan untuk menumbuhkan dengan baik pohon itu. Meski seringkali setelah tumbuh dan berbuah, selalu saja ada buah yang tidak sempurna, baik bentuk maupun rasanya. Itulah yang kemudian perlu kita perbaiki lagi dengan pengetahuan-pengetahuan baru. Agar sesudahnya bisa meminimalisir hasil buah yang tidak sempurna itu. Kurang lebih seperti itulah prosesnya hingga akhirnya hakikat ilmu bisa kita dapatkan.

Dalam falsafah jawa sering kita dengar,bahwa "Ilmu iku kelakone kanthi laku" Senada dengan itu, Mas Sabrang Damar Panoeluh menjabarkan bahwa : "Ada jarak antara pengetahuan dan ilmu,pengetahuan menjadi ilmu hanya jika sudah menjadi laku".

Itulah yang harus kita upayakan secara terus menerus agar sejatinya ilmu tadi,bisa memancar di jiwa dan menerangi kita. Bahkan tidak menutup kemungkinan bisa juga  menerangi orang-orang di sekitar kita.

Al 'ilmu nur Begitu kata Rasulallah. Bahwa ilmu adalah cahaya.

Dalam pembahasan lain, ada sumber yang mengatakan, bahwa pengetahuan maupun ilmu dan amal adalah satu kesatuan yang harus selalu bertaut satu sama lain. Yang keduanya harus terus bergandengan sebagai bekal kita menjalani kehidupan ini. Sehingga apa yang sudah kita pelajari dan kita sinauni bersama-sama, serta apa yang sudah kita kerjakan dan kita terapkan baik pada diri sendiri maupun di kehidupan sosial kita sejauh ini, bisa kita petik hasil buahnya dan kita nikmati manis rasanya. 

Untuk mencapai tujuan itu, tidak ada cara lain selain kita sendiri yang harus berusaha keras mengaplikasikannya, mengumpulkan kembali bahan-bahan teori dan pengetahuan kita, memperluas jangkauan kita, dan menebarkan hikmah-hikmah kepada semua.

Sampai kapan? Sepanjang Allah masih menghembuskan nafas pada diri kita. 

Wallahu A'lam Bisshowab.