Senin, 27 Januari 2020

Menuju Cahaya

Cahaya Bergemerlapan #1


•••♥•••
Duhai pertanyaanku.
Aku bertanya kepadamu.
"Akankah ada jawaban di Alam Semesta ini yang mampu meyakinkan seluruh isi dari pertanyaan yang engkau ajaukan?"

Aku bertanya,
Kepadamu,
Wahai engkau yang penasaran dengan kehidupan semesta.

"Aku tak mengerti hidup ini.
Aku selalu bertanya siang dan malam.
Diriku dirudug rasa penasaran.

Aku ketakutan.
Aku kesepian.
Aku sendirian.
Aku kebingungang untuk menjawab pertanyaan ini."

"Aku tau,
Aku tau.
Kita jatuh bersama.
Berfikir...
Bagaimana caranya terbang ke angkasa.
Sayang...
Aku tahu semua terluka.
Aku tau semua berduka.

Dikhianati dunia.
Pehuh putus asa.
Kecewa.
Merapati tangis.
Sedih yang tiada hentinya.
Tapi siapa yang peduli dengan kisah ini?.
Siapa yang peduli perjuangan ini?.
Katakan kepadaku siapa yang memperdulikan ini?.
Katakan?.
..

Sebelum aku pergi menuju Cahaya.
Kamu tidak akan bisa menghalanginya.
Bait suci dalam hatimu adalah tempat ibadahku.
Kamu harus tau, Sayang.
Kamu harus tau jika aku akan mengajakmu pergi menuju Cahaya.

•••♥•••

Ketika aku pergi, ya aku pergi.
Aku akan dekat dengan Cahaya.
dan aku akan sirna terbakar Cinta.
Ya, ketika aku dekat dengan Cahaya.
Hanya akan ada dia, ya.
Aku akan tiada menyatu dengannya.
Ya, ketika aku pergi.
Aku akan dekat dengan Cahaya.
Dan aku akan sirna terbakar Cinta.
Ya, ketika aku dekat dengan Cahaya.
Hanya akan ada dia yang ada.
Dan aku akan sirna.
Ketika aku dekat dengan Cahaya.

•••♥•••

*Rizki Eka Kurniawan

Rabu, 22 Januari 2020

Ketidaktahuan Juga Adalah Pengetahuan

Nyaur Tadabbur Daur




Orang Maiyah tidak rendah diri untuk menemukan dirinya tidak berdaya atas sesuatu hal, dan tidak menjadi mungguh menyangka dirinya berdaya atas hal lain. Orang Maiyah tidak memfokuskan pandangan dan gerakannya pada perjalanan dirinya sendiri, melainkan pada Tuhan dan penugasan-Nya. Daur 18 : Hijrah Maiyah.

"Dari pembelajaran yang Mbah dedarkan," Mbah Markesot bertanya pada Kixut (panggilan Jon Quixote) sebelum diizinkannya berkelana. "Apakah manusia yang meminta pada Tuhan agar diciptakan, manusia ditawari untuk diciptakan, atau dipaksa diciptakan, menurutmu yang mana?"

"Apakah pengetahuanku tentang itu penting, Mbah?" tanya Kixut balik. Dari kecil memang dia terlatih mencari celah tanya dari apa saja yang disampaikan orang-orang. Saat baru bisa merangkai kata, Mbah Sot ingat, Kixut bertanya pada ibunya yang orang priyangan itu. "Mah, kalau bumi itu artinya rumah (bahasa sunda), kenapa orang-orang (manusia) suka merusak rumahnya sendiri?" hanya karena dia sering melihat orang-orang buang sampah di sungai.

"Kenapa kamu bertanya begitu?" sambil tersenyum, Mbah Sot bertanya balik.

"Bukankah Mbah Sot yang mengajarkan, kalau sebaiknya selalu mengutamakan petunjuk Allah daripada pengetahuan diri kita sendiri?"

"Haha," Mbah Sot tertawa girang. "Betul kamu, betul. Jadi, sudahkah kamu mendapat petunjuk tentang tiga hal yang Mbah tanyakan tadi?"

"Sebentar Mbah," kata Kixut sembari membuka quran digital android di tangannya. Remaja menjelang dewasa ini, nampaknya diajari untuk tak jauh-jauh dari 'rahmat terbesar' itu oleh kakeknya. "Jika hidup ini adalah tugas dan tanggungjawab yang nantinya diminta laporan akhirnya, maka inna arodlnal amanata alaa samawati wal ardli¹, dan karena itu, manusia ditawari, lalu meminta, kemudian diciptakan,"

"Lalu, mengapa di akhir ayat itu tuhan mengakhiri dengan, innahu kana dholuman jahuula? Tentu saja, jika kamu sudah mendapat jawab dari petunjuk akal yang dicahayai-Nya," Mbah Sot tak mau dibalas pertanyaan lagi nampaknya.

"Kalau ini, gimana Mbah, kholaqnahu min nuthfah fa idza huwa khosyimum mubiin²?"

Mbah Sot angguk-angguk sembari tersenyum dan menepuk pundak Kixut.

"Pahamilah, di maiyah yang kita mesrai bersama, Orang Maiyah tidak rendah diri untuk menemukan dirinya tidak berdaya atas sesuatu hal, dan tidak menjadi mungguh menyangka dirinya berdaya atas hal lain. Orang Maiyah tidak memfokuskan pandangan dan gerakannya pada perjalanan dirinya sendiri, melainkan pada Tuhan dan penugasan-Nya," pesan Mbah Sot. "Menyadari ketidaktahuanmu tentang Tuhan juga adalah termasuk hidayah (ma'rifat). Memahami ketidaktahuan adalah termasuk pengetahuan, dan mungkin itu yang mendasar, juga sangat penting. Kita tak lantas merasa rendah dengan ketidaktahuan, karena kita tak akan pernah berhenti belajar. Lalu kita pun tak lantas merasa mampu, apalagi pandai, ketika satu dua persoalan hidup dapat kita tuntaskan. Karena sejatinya itu adalah pertolongan Tuhan. Dimanapun kamu berada, Allah dan rasulullah yang menjadi tujuan kita, dan sumber mata air petunjuk utama. Selanjutnya, gunakan akalmu,"


¹Al-Ahzab ayat 72
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسٰنُ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.



²Ya Sin ayat 77
أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسٰنُ أَنَّا خَلَقْنٰهُ مِنْ نُّطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُّبِينٌ
Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!

Jumat, 17 Januari 2020

Salah Satu Cucu Mbah Markesot

Nyaur Tadabbur Daur 



Ma'iyah dan ma-iyah, yang pertama pakai 'ain, dan yang kedua pakai hamzah, hampir sama. Yang pertama itu berarti suatu wujud kebersamaan, membersamai, sedang yang kedua berarti air yang diturunkan dari langit, berjamaah. Dari bumi tumbuh ma'iyah, dan dari langit Tuhan turunkan ma-iyah : keduanya adalah berkah.

Jika kemunculan Mbah Markesot susah teridentifikasi, entah titisan Semar yang mampu keluar masuk dimensi lahir ataupun batin tanpa visa dan pasport, atau manusia yang lahir dari batu raksasa yang diturunkan dari surga, begitupun salah satu cucunya itu. Lahir tumbuh dari ma'iyah, diturunkan dalam benih air langit atas perintah Tuhan. Siapa dia? Tapi, untuk apa identitas jika cinta adalah rumahnya? Bukankah, tak perlu menunjukan KTP, hanya untuk membuktikan kita adalah manusia yang cenderung dalam berkasih sayang? Kecurigaan hanya untuk mereka yang tak menyempurnakan ikhtiar, bahwa Tuhan tak pernah jauh mengawasi kita dekat-dekat.

Ia adalah Jon Quixote, cucu Mbah Markesot yang entah di koordinat ruang dan waktu mana, tumbuh dari jutaan benih kebaikan yang beliau tanam. Tak peduli tempat, karena bahkan dari bebatuan pun dapat tumbuh bebungaan. Meski Jon tak seindah bunga, apalagi mawar yang sering jadi korban perkosaan, yang pasti ia lahir dengan misi kebaikan dan kebermanfaatan untuk banyak orang. Seperti hujan, air-airnya diperintah Tuhan ke tempat-tempat yang membutuhkan keberkahan. Meski bumi nampak basah dan kacau jika airnya berlebihan, tak ada keburukan yang pernah Tuhan berikan pada manusia. Seperti pelangi, orang-orang bergelar terpelajar mengatakan itu adalah cacat langit setelah hujan, tapi untuk anak-anak yang berlarian di bawah hujan, itu keindahan yang sangat mengenang. Di langit manapun, titik-titik air hujan akan melukis pelangi setelah mentari kembali menerangi. Bahkan cacing-cacing, di tanah manapun mereka terpendam, akan tercipta labirin-labirin indah meski mereka tak memiliki tulang dan cakar untuk menggali. Dan tokoh kita itu, Jon Quixote, jika binatang saja tahu untuk apa mereka diciptakan, maka mengapa manusia tak memahami untuk apa Tuhan mengadakannya, dan semesta yang menampungnya?



Sabtu, 11 Januari 2020

Kemala dan Bunga Matahari di Kepalanya


Gerimis merutuki salahnya. Senada dengan angin yang menyapa ramah. Gadis berkepang satu itu berjalan menunduk. Menghitung bunga matahari di dalam bulir tangis langit. Mana ada? Entahlah...

Sepeninggal dari perempuan yang rahimnya pernah jadi rumah sembilan bulan, ia tak pernah bosan. Terus mencari dan memberi. Memberi dan mencari. Apa-apa yang membuatnya memiliki selimut lebih tebal dari kotak kesepian dan kesedihan. Dialah Kemala.

Secarik kertas yang sedari tadi dilihatnya, segera dilipat kembali. Memasukkan di saku jaketnya warna navy. Mengayunkan langkah. Menuju tempat kata dunia paling ramah. Bernama “rumah.”

"Assa.... "
"Kemana aja? Hah? Malam gini baru pulang?"

Belum tuntas salam, seorang perempuan empat puluh tahunan itu memotong suara Kemala. Ditariknya lengan Kemala begitu cepat. Mendudukkannya pada ingatan bernama "Manut"

"Besok ada laki-laki datang ke rumah, bersikaplah yang ayu."

Kemala tak mempedulikannya. Ia segera melepas jaket dan masuk ke kamarnya.

"Dasar, anak gak manutan," gerutu perempuan bernama Juaeriyah itu.


**
6 November 2018

Tasyakuran bersama anak-anak yatim Panti Asuhan "Cahaya Kasih"

Tertegun Kemala memandangi catatan hariannya itu. Besok adalah tanggal berharga baginya. Ia masih jadi pengingat yang baik akan kenangan. Karena ia yakin--dengan mengingat dan merawatnya--dapat membaik.

"Aku harus tidur lebih cepat. Besok gaboleh telat," desirnya.

"Kemala!! Bude belum selesai bicara!!"

Dari balik pintu kamarnya, Budenya berdialog percuma. Karena dengan pintulah ia bicara. Mungkin juga dengan dinding dan peralatan antik di meja depannya.

**
"Terimakasih, Kak Mala. Sudah menghibur kami," salah seorang anak memeluk Kemala.

"Kak Mala puisinya bagus tadi. Aku mau baca puisi kayak Kak Mala," timpa salah seorang anak lainnya.

"Besok Kak Mala kesini lagi kan?" Bersusulan anak-anak itu sambil memeluk Kemala.

Ada perasaan haru tak terkira di raut wajahnya. Sebuah masa yang mengantarnya kepada pilihan lain. Hari itu adalah bahagia dan alpa, atau mungkin alpa dan bahagia. Tapi senyum dan sikapnya selalu menanamkan kelembutan, kepada siapa saja yang mampu membacanya.

"Kalian belajar yang rajin yah, biar jadi cahaya," peluk cium Kemala pada anak-anak.

"Kenapa harus jadi cahaya, Kak?" "Aku maunya jadi Guru! Biar bisa galakin anak-anaknya," celetuk salah seorang anak.

"Nah, itu. Guru yang baik menuntun menuju cahaya, bukan menakuti dengan cahaya."

**

Gerimis merutuki salahnya. Kembali dengan angin yang menyapanya lebih ramah. Namun tidak dengan langkahnya.
Air mata yang hendak turun dari ekor matanya, ditahannya segera. Ibunya pernah berpesan "Yang berharga di dunia ini setelah mata air adalah air mata."

"Assa ...."

Belum sampai salam terselaikan, Budenya sudah menghadang di ujung pintu. Seolah membawa berbagai serdadu. Siap menyerbu. Sorot matanya tak lagi memandang kasih.

"Sudah berapa kali Bude bilang? Jangan pulang hujan-hujanan!! Ini juga hampir malam! Kalau ada apa-apa gimana. Hah? Susah banget manut sih? Mau jadi apa kamu, hah?"

"Mau jadi bunga matahari," desir hatinya.

"Kenapa diem? Hah? Sudah gabisa bicara? Kalau gak ada Bude kamu mau tinggal sama siapa?"

"Kemala capek. Mau ke kamar," Kemala melepas cengkraman tangan Budenya. Segera mengayunkan langkah menuju kamarnya.


Dengan terisak, ia membuka kertas di saku jaketnya.

Untuk perempuan yang rahimnya pernah jadi rumah pertama dan ternyaman.

Hari ini ulang tahun Ibu, yang ke empat puluh satu. Ibu baik-baik saja, kan? Kemala rindu. Sangat rindu. Kemala tau belum jadi anak yang baik buat Ibu. Tapi Kemala ingat selalu pesan Ibu. Untuk selalu datang dan menghibur di panti itu. Sekarang Kemala tau. Tidak ada kebahagiaan di dunia ini. Yang ada membahagiakan. Ibu ingin Kemala selalu membahagiakan mereka kan? Kemala sudah berusaha manut, Bu. Tapi, Bude? Aku tak tau.

Dari anakmu yang ingin jadi matahari.

Kemala Hayati.

***

ANA

Kamis, 09 Januari 2020

Pemuda yang Menempuh Jalan Cinta

Catatan Singkat Sinau Bareng Poci Maiyah Januari 2020
Oleh : Lingkar Gagang Poci



Sekelumit ekspresi beliau sepertinya sudah sangat kelelahan, ada nanar mata sedikit putus asa dan ingin meluapkan amarah pada sorot matanya. Tapi, siapapun yang berada pada posisi beliau, mungkin akan sangat mafhum kenapa itu bisa merasukinya.

Hujan cukup kerap, beberapa jamaah sudah tiba, persiapan belum juga beres, soundsystem entah kenapa menjadi sulit settingannya, ditambah beberapa penggiat nyaman duduk menunggu , dan waktu menunjukan semakin larut di ruang sempit rutinan pada malam itu. Melihat atmosfer ini saja sudah cukup membuat canggung dan menambah panik. Apalagi jika kemungkinan besar beliau juga belum makan, ini bisa sangat berbahaya. Karena manusia yang meluapkan amarah bisa jauh lebih mengerikan ketimbang gorila yang dirusak sarangnya.

Tapi Robb begitu sayang terhadap pemuda yang disebut "Beliau" di catatan ini. Bagaimana tidak? Ada istilah unik di Maiyah berbunyi "Jika engkau belum bisa menyelesaikan masalah di sekitarmu, minimal jangan menambah-nambah masalah."

Dan terlihat sepertinya tidak ada yang menggoda beliau dengan cara absurd (meludahi mukanya semisal) untuk sampai meledak amarahnya. Dan bisa jadi, inilah yang membuat beliau mulia di Sisi Allah.

Karena saya rasa, ikhtiarnya tidak menjadi sia-sia dengan hadirnya jumlah jamaah yang tidak kunjung habis semakin berlarutnya malam. Cukup aneh, dengan kondisi hujan tapi kuantitas jamaah malah semakin ramai. Ada yang mengenakan jas hujan, ada yang rombongan membawa mobil, ada yang baru saja melepas jas hujannya langsung membantu meracik kopi untuk para sedulur lainnya. Ah, beliau hanya seorang pemuda dengan postur yang sederhana juga. Jomblo yang sedang belajar berlatih menempuh jalan Cinta, menikmati laku rohman serta menyelami makna rahmah. Namanya Wisnu.

Mungkin makna namanya sedang berdenyut dan menyala perlahan malam itu untuk mengutuhkan siklus perjalanannya. Seperti Dewa Wisnu dalam mitologi kuno yang berperan memelihara dan melindungi segala ciptaan Brahman, seperti itu juga Beliau, Mas Wisnu pada malam itu.

Selaian Mas Wisnu terlihat pemuda lainnya sedang menyeduh kopi membuat malam yang dingin itu terasa hangat. Dingin menjadi ilusi dan kehangatan menjadi kenyataan paling murni. Ada cinta, lewat seduhan kopi yang mereka buat. Dengan seduhan kopi para jamaah mulai merasakan kehangatan cinta mereka. Meskipun malam belum usai meredakan tangisnya. 

Beberapa jama'ah terlihat menggigil kedinginan menggunakan jaket tebal, salah satu pegiat datang di hadapannya, menghidangkan kopi yang telah dibawa. Jama'ah tersebut tersenyum bahagia. Memimum kopi yang telah berada di tangan kanannya, wajahnya ceria seperti terkena cahaya mentari di pagi hari, lalu berkata, "Terimakasih ya untuk kopinya..."

Seduhan kopi yang ia bawa, membuat hangat tubuh para jama'ah yang meminumnya. Begitulah cinta bereaksi sebanding dengan ekspresi cinta yang telah diberi. Ekspresi-ekspresi cinta yang mereka berikan adalah bentuk sederhana dari ungkapan cinta yang bisu tanpa mengharapkan pengakuan. Melalui ketulusan hatinya, selimut-selimut cinta tercipta. Menyelimuti jama'ah yang telah duduk melingkar di malam hari itu, melalui selimut tersebut kehangatan terasa dalam tiap-tiap jiwa yang ada.

Adalah mustahil bagi manusia untuk memberikan sesuatu yang tidak mereka punya. Seseorang tidak akan bisa memberikan cinta, jika dia tidak memiliki cinta dalam dirinya. Maka begitu mereka sesungguhnya telah menemukan cinta tersebut dalam dirinya karena telah mampu memberikan cinta yang mereka punya kepada orang-orang yang di sekitarnya.

Kedua Pemuda tersebut adalah Mas Oman dan Mas Bashit yang selalu singap membuatkan kopi di setiap maiyahan. Mereka-mereka adalah pemuda yang menempuh jalan cinta, yang telah mampu berperan bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya, apa yang mereka lakukan adalah sebuah bentuk estetika yang indah yang mampu membuat orang-orang yang dekat dengannya merasakan keramahan, kasih sayang, dan kelembutan hati, merekalah para penempu jalan cinta sebagaimana yang pernah dikatakan Mbah Nun “Lakukan apa yang kamu kerjakan didunia ini karena untuk perjalanancintamu kepada Allah”

Dan Judul tema pada malam itu yang merupakan pertanyaan singkat berbahasa Tegalan"Koen Bisa Apa?" seakan telah terjawab melalui perlakuan, perbuatan, dan segala apa yang telah mereka kerjakan. Mereka telah menjawab pertanyaan tersebut tanpa menggunakan kata, namun sangat terasa meresap hangat ke dalam jiwa, karena pada dasarnya menyatakan cinta adalah hal yang mudah tapi pernyataan cinta itu butuh bukti dan fakta.

Rabu, 08 Januari 2020

Cuaca Adalah Rahmat, Maiyahan Tetap Istiqomah.

Catatan Singkat Sinau Bareng Poci Maiyah Januari 2020
Oleh : Lingkar Gagang Poci 


Dunia ini berisi proses silih berganti antara cinta dan pertikaian, apabila cinta berkuasa maka musnahlah semua unsur-unsur yang menimbulkan pertikaian dan kekacauan. Begitupula sebaliknya.

Jum’at malam, 3 Januari 2020, gelaran Sinau Bareng Poci Maiyah Tegal diperjalankan. Cuaca selalu bersahabat, hujan ataupun terang berbintang, keduanya tetaplah rahmat. Tempat yang biasanya di Monumen GBN Slawi bergeser ke Gedung Rakyat. Di luar atau di dalam ruangan, ramai atau hanya beberapa orang, cinta Tuhan selalu terasa nikmat. Datang dari berbagai warna, mereka berkumpul di sana. Meski hujan menyapa, tak menyurutkan sinar ceria. Tiada malam tanpa rasa. Cinta tetap hadir di dalamnya.

Dari para jamaah seakan jawaban, bahwa semangat bukan perihal quote semata. Ada banyak hal yang lebih memakna lewat mata. Mata-mata kepedulian pun mengaroma. Lewat para jamaah dan para pegiat di sana. Hujan tak hanya sekedar mengingatkan kenangan, tapi membuat kenangan. Dan malam itu, adalah kenangan yang tak akan luruh di awal dua ribu dua puluh. Tiada yang pergi dari hati. Tiada yang hilang dari kenangan. Sebab kenangan yang terukir dalam hati, dan tersimpan dalam ingatan, tak akan pernah terlupakan. Betapa semangatnya para sedulur maiyah tergambarkan. Dengan tetap melaknakan gelaran sinau bareng di saat pada sabtu malam.

Mungkin sebelumnya pertanyaan ini lah yang terlintas lebih dulu di benak-benak sedulur Maiyah“Bengi kieudan apa orayah?” dikarenakan sekitar pukul 17.00 langit di daerah slawi (lokasi sinau bareng poci maiyah) terlihat mendung, namun hujan tak juga turun. Padahal dalam beberapa hari belakangan, hampir setiap hari hujan selalu mengguyur. Selepas Maghrib, terlihat dari selatan kota slawi, petir dan gludug terdengar, angin semilir juga seperti mengabarkan bahwa hujan akan datang.

“Nyong ngenteni nang mburi GBN.”
Pesan singkat dari salah satu penggiat bahwa ia mengabarkan sudah tiba di belakang monumen GBN, lokasi yang biasanya digunakan untuk rutinan sinau bareng.

”Kie sidane nang endi Maiyahane? Nang GBN apa Gedung Rakyat?”
Pertanyaan muncul dari beberapa sedulur yang ingin memastikan lokasi sinau bareng malam itu. Namun hingga Jama’ah Isya selesai, belum ada kepastian untuk lokasi maiyahan.

“Menurutku mending langsung ke Gedung Rakyat. Gumayun dan sekitare bledek ngampar nemen.”
Mbah Nahar lewat grup whatsapp mengusulkan bahwa sinau bareng pindah lokasi ke Gedung Rakyat. Karena memang malam itu gludug benar-benar mengabarkan bahwa hujan akan segera turun.

Sekitar pukul 19.30 lebih, Kang Koor tiba di lokasi belakang GBN dengan membawa soundsystem dan mengabarkan bahwa  Lokasi pindah bae nang gedung rakyat.” Dengan sigap beberapa sedulur yang standby di belakang GBN langsung mengangkut peralatan yang akan dibawa ke Galery Gedung Rakyat.

Sinergi malam itu begitu nyata. Saling berperan dalam ruang yang membesar, menyatu dalam perbedaan, bersama menuntaskan tugas Tuhan. Karena tak mungkin sesuatu dapat terselesaikan tanpa sinergi, kerjasama, persilangan jalan kebaikan, meski setiap manusia memiliki jalan hidup masing-masing. Matahari di siang hari, sedang bintang dan bulan di malam hari. Gunung menjulang menjadikan bumi tak goyang, dan laut yang dalam menyimpan begitu banyak yang manusia butuhkan. Tangan kanan harus bersinergi dengan tangan kiri, begiti juga mata, telinga, mulut dan sebagainya.


Tidak ada orang bodoh mutlak, seperti halnya orang cerdas mutlak. Bahkan Rasulullah pun oleh Allah dikehendaki untuk lupa, sanuqri-ukafalatansaa illa masyaa allah. Maka dibukakanlah pintu saling mengingatkan, tawashoubilhaq watawa shoubish shobr wabilmarhamah. Kita mungkin cerdas di satu sisi, tapi memiliki kebodohan di sisi yang lain. Kita mungkin banyak hal yang bodoh dalam sekian hal, tapi pasti memiliki kecerdasan di hal-hal tertentu. Tuhan tak marah dengan kebodohan yang kita miliki selama terus belajar. Tapi Dia akan marah ketika kita mengerti, bahkan membaca dan memahami kitab-Nya namun menyembunyikan itu, apalagi untuk diri kita sendiri. Paham, tapi menolak untuk melakukan tanpa alasan yang adil.