Senin, 08 Februari 2021

Sesederhana itu, Menerima dan Memberi.

 


Reportase Poci Maiyah Februari 2021
Oleh: Rizki Eka Kurniawan

Bersyukurlah kepada Allah, bukan hanya atas apa yang Dia berikan, tetapi juga atas apa yang tak diberikan-Nya. Boleh jadi tidak diberi adalah pemberian. — Syams al Tabrizi: 40 kaidah Cinta

***

Langit itu tampak mendung, tetapi antusias orang-orang untuk maiyahan tak terbendung. Apa yang mengantarkan mereka datang ke sini? Apakah Poci Maiyah memiliki magnet tersendiri yang mampu menarik orang untuk tetap datang melingkar? Seperti ada sebuah cahaya di sana, yang membuat beberapa orang datang untuk mengejarnya. Mereka seakan menemukan pencerahan yang membuat hidup menjadi lebih terang, di masa pandemi yang serba gamang.

Selembaran mukadimah mulai dibaca. Kita bisa merasakan bagaimana berubahnya suasana. Saat kita benar-benar mendalami isinya, penulis seakan mengajak untuk tenggelam ke dalam samudera makna yang tak terhingga. Namun, juga menerbangkan kita kepada ketinggian langit pemahaman yang tidak bisa dimengerti dengan pikiran. Sehingga dalam salah satu kalimat dalam mukadimah tertulis, “Pada setiap puisi, ada bunyi yang melahirkan ekspresi.”

Ada bunyi di setiap puisi, ada makna, tujuan, harapan, dan ribuan bebunyian yang melagukan nada kehidupan yang ingin penulis sampaikan. Bebunyian yang melahirkan ekspresi, tindakan, sikap dan kehendak kita terhadap realita. Namun, ekspresi apa yang dimaksud oleh penulis di sini? Seakan ada yang tak selesai ia tuliskan, tetapi tak bisa tertuang dalam tulisan. Seperti sedang membaca kitab al-Hikam karya Ibnu Atha'illah. Penuh dengan aforisma-aforisma sufistik, dengan bahasanya yang khas dan menyiratkan aneka warna. Bagai puisi yang lembut penuh metafora. Namun, terkesan lugas menuturkan kebenaran seperti sebuah prosa yang penuh keindahan.

Bahkan ketika penulis disuruh untuk menjelaskan tulisannya, ia menjawab “Sebenarnya saya tidak menulis, saya hanya menaati peritah.” Sebagaimana para penyair yang seringkali tak menyadari bahwa dirinya telah menuliskan syair. Mohammad Azam, benar-benar menuliskan mukadimah ini penuh dengan kejujuran. Ia hanya menuliskan apa yang benar-benar ia lihat dan alami dalam kehidupan. Namun, ada satu pertanyaan besar dari penulis yang mendasari mukadimah berjudul 4MEMUJI ini. Pertanyaan itu adalah, “Apa sebenarnya rasa syukur itu?” Sebab dalam realitanya rasa syukur datang ketika melihat penderitaan orang lain. Maksudnya saat kita melihat orang sakit, kita baru bisa merasakan nikmat syukur diberi kesehatan. Hal ini seperti halnya kita sedang bersyukur di atas penderitaan orang lain. Jadi, adakah rasa syukur yang murni tanpa harus melibatkan penderitaan orang lain? Sebagaimana yang dipaparkan oleh Mbah Nahar dan Yi Fahmi bahwa selalu ada parameter perbandingan untuk bisa menemukan rasa syukur.

Satu pertanyaan lagi datang dari Mas Moka, “Rasa syukur itu dibuat oleh Tuhan atau manusia?” Ini merupakan pertanyaan sederhana, tetapi susah untuk menjawabnya. Sedangkan menurut penulis, rasa syukur itu merupakan konsep dari Tuhan yang diberikan oleh manusia. Tuhan yang mengajarkan manusia untuk bersyukur. Dia yang menciptakannya dan manusia yang menjalaninya.

Sebagaimana agama yang menjadi peredam dari seluruh kegelisahan manusia. Rasa syukur merupakan salah satu ajaran agama yang hadir dari Tuhan. Manusia tidak menciptakan rasa syukur, manusia hanya menjalankan apa yang telah ada sebelumnya.

Salah satu perempuan pun bercerita tentang pengalamannya merantau di Semarang. Saat ia merantau di Semarang, ia pernah dua hari tidak makan dan hanya bisa meminum air putih setiap hari untuk mengganjal rasa laparnya. Saat itu, ia benar-benar kehabisan uang karena management keuangan yang ia lakukan kurang baik. Hal itu membuat uangnya habis dengan sia-sia sampai untuk makan pun tak ada. Dalam dua hari tersebut, ia menangis di hadapan Allah. Sepenuhnya berpasrah dan berserah diri pada-Nya. Sebuah moment dimana ia tak bisa apa-apa dan hanya bisa berdoa, meminta kepada Yang Kuasa. Dan di saat itulah tiba-tiba ada transferan uang masuk ke rekeningnya. Entah siapa pengirimnya ia tak tau. Saat itu pula ia benar-benar merasakan nikmatnya rasa syukur yang mendalam. Nikmatnya bisa makan kembali yang sebelumnya ia tak bisa makan berhari-hari.

Gus Luay menjelaskan rasa syukur dengan lebih sederhana: kalau dalam terminologi bahasa Indonesia rasa syukur bisa kita sama artikan dengan kata ‘terima kasih.’ Jadi rasa syukur baru bisa terjadi ketika kita menerima sesuatu kita tak lupa juga untuk mengasih/memberi. Kedua hal ini harus seimbang. Jangan sampai kita hanya menerima lalu menimbun sesuatu untuk kesenangan sendiri. Jangan juga kita memberikan sesuatu yang tidak kita miliki. Kita harus bisa menyeimbangkan kedua hal tersebut agar bisa menikmati rasa syukur. Apa yang kita berikan itu yang kita dapatkan. Di al-Qur’an dijelaskan dalam QS. Al-An’am 6: Ayat 160: “Barang siapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barang siapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi).” Ayat lain juga menyebutkan :“Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman 55: Ayat 60).

Rasa syukur memang tak akan ada habisnya bila dibahas. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan secara sederhana. Sehingga hidup kita menjadi lebih tenang dan bahagia. Membahas rasa syukur membuatku teringat salah satu puisi Mullah Shadra:

 

Tuhan itu tak terbatas, tanpa ruang dan tanpa waktu

Namun Dia menjadi kecil sesuai dengan  pemahamanmu

Namun Dia akan datang sebatas kebutuhanmu

Namun keluasan-Nya sebatas harapanmu

Namun firman-Nya  sesuai keimananmu

 

Merka yang yatim, Dia menjadi ayah dan ibunya

Mereka yang butuh saudara, Dia akan menjadi saudaranya

Mereka yang putus harapan, Dia akan menjadi harapannya

Mereka yang tersesat, dengan-Nya akan menemukan jalan

Mereka yang berada dalam kegelapan, akan mendapatkan cahaya-Nya

Mereka yang sakit, akan disembuhkan-Nya

 

Tuhan akan menjadi segalanya dan bersama seluruh manusia

Namun dengan syarat keyakinan, dengan syarat sucinya hati, sucinya rohani

Dengan syarat menjauhkan perkawanan dengan kekejian

 

Cucilah hatimu dari segala debu

Cucilah pikiranmu dari segala pikir yang keliru

Cucilah mulutmu dari segala kata yang tak perlu

Karena Dia selalu menantimu dan memanggilmu di setiap hening lorong malammu

 

 

Tegal, 6 Febuari 2021

Catatan Milad Poci Maiyah ke-4

Rabu, 03 Februari 2021

4MEMUJI



Mukadimah Poci Maiyah Februari 2021

Oleh:  Moh. Azam Khoeruman

 

Membela hak yang lemah adalah kebenaran tapi besar merasa akan pembelaan adalah kelemahan.

 

Manusia lahir dari ketidaktahuan menjadi tahu. Ketidakberdayaan menjadi berdaya. Dalam sisi lain, manusia berjalan pada ritme masing-masing. Menggali konsep ideal yang melingkari dalam pemikirannya. Setiap sisi memiliki multi tafsir dan keberagaman bahasa. Di sanalah puncak manusia beradaptasi. Saling bersilaturahmi agar senantiasa terjadi kepekaan yang tajam. Hulu-hilir yang terjadi pada situasi pandemi, kurang lebih satu tahun ini menjadi bingkai baru. Artinya, perlu adanya refleksi diri dalam meneliti kembali pada hembusan makna-makna yang selama ini tak disapa dan tersentuh. Yah, kembali kepada rumah berhati. Rumah yang sejuk untuk didiami. Rumah yang memiliki ketepatan beristirahat. Di sinilah awal pertemuan dengan amemuji. Rasa syukur yang patut dirasakan dalam kebersamaan dan teliti dalam diri.

Pada setiap puisi, ada bunyi yang melahirkan ekspresi. Tak terkira seberapa lama kita memertahankan pertanyaan-pertanyaan dan melakukan uji studi sebuah jawaban. Padahal terkadang keduanya merasuk pada langkah perjalanan. Baik secara sadar maupun tidak, lupa atau ingat. Terkadang juga terlalu berputar balik pada sesuatu yang membuat kita tak lagi percaya diri hanya karena beberapa efek samping luar semata. Padahal kita sendiri tahu betul, dunia mana yang tidak salah? Dunia mana yang tidak hina? Atau sebaliknya, dunia mana yang tidak benar? Dan dunia mana yang tidak baik? Benturan memang diperlukan tapi apakah benturan akan menjadi gesekan yang memunculkan api dan mendinginkan pikiran? Atau justru membakar jiwa sampai kita tak lagi merasakan apa-apa?

Ingsun amemuji asma ing Allah: Tak ada hal yang kutahu selain keterbatasan diri atau batasan-batasan yang ditemukan dari kebebasan. Aku terselimuti ruang dan waktu, bagai panah tak terkendali. Arah mana yang ditujui atau dari mana asal muasal diri. Dalam sepi kurapalkan nama Sang Maha, dalam hening kuajak suara duduk bersua, dalam sunyi kuajak hati menerima, dan dalam keramaian kusaksikan ketidakberdayaan diri dalam segala urusan. Muncul lah sebuah pertanyaan, apa yang membedakan antara melarikan diri dalam kesendirian karena tak bertanggung jawab akan sesuatu dan diamnya manusia yang refleksi dalam upaya mencari beberapa solusi-solusi yang dimantapkan hati? Ciri dan identifikasinya seperti apa? Yah, pastinya ini semua tidak untuk meramal sesama tapi agar lebih berwaspada dari nafsu diri. Mungkin hal ini akan jadi awal kalimat sedulur membersamai dalam tanpa meninggalkan kerendah-hatian.

Kang welas ing dunya, asih ing akhirat: Dalam arus kehidupan yang keras dan lunak ini, fenomena-fenomena yang tak kurang lebih dan beberapa sifat yang ditemui, tidak lain karena sifat Tuhan selalu memberi dalam pancaran kasih dan sayangnya. Terlepas dari bahasa dan makna. Keyakinan seorang penerima dari Tuan-nya tak akan pudar. Karena tak mungkin kebencian dan kegelapan menjadi penghalang sifat kasih sayang Tuhannya. Kesadaran akan keberlangsungan Tuhan yang tak henti-henti dalam memberi, pastinya tidak gampang kita atas namakan untuk diri sendiri. Karena Tuhan tidak etis diperlakukan untuk kepentingan belaka, tanpa pengecualian. Lalu bagaimana cara kita membedakan atau merasakan getaran panggilan-Nya agar tersadar dan mau menerima segala yang ditakdir-Nya? Apa yang ditanamkan para kekasih-Nya agar kita memiliki bekal dan harapan? Dan pastinya sedulur-sedulur akan meresponnya. Enggak fair dong kalau asupan Tuhan hanya untuk beberapa saja? Katanya menyeluruh? Mari bincangkan dengan kelapangan.

Sembah sujud kulo mugi paring rido: Pandemi ini (mungkin) membuat beberapa dari kita tidak lagi mengenal bahasa bersama maknanya. Tidak mengenal mana yang murni bersama hikmahnya. Entah karena kahanannya memang sedang digodog agar kita matang dan tanek. Entahlah, karena memang tidak ada sesuatu yang membuatku merasa memiliki. Dari kesemua itu tidak lain pemberian semata. Tidak ada hal yang kutemui kecuali manusia yang sedang mencari rido Tuhannya. Atau tidak ada bahasa lagi pemaknaanku tentang bagaimana Tuhan memberikan haknya kepada makhluknya. Terbantah oleh ratusan kejadian dan membumi pada setiap hakikatnya. Namun, ini semua tidak membuat diri ini terpedaya pada logika sinonim. Artinya menyamakan sesuatu yang berbeda, dimana tidak lagi adanya interaksi penyambung rasa antar sesama agar sinau bareng lagi. Dan dalam logika sinonim, seperti halnya dua orang menceritakan tentang pengalamannya secara bersamaan atau melapalkan Tuhan secara bersamaan tapi telinga kita lebih setuju pada salah satu dari mereka? Apakah ini tentang rasa atau ini juga ini tergantung pola serap pendengaran kita? Atau karena kita tahu beberapa aplikatif dari keduanya? Sebenarnya, seberapa berhak kita manafsirkan sesuatu dan bagaimana cara kita merefleksikannya pada kehidupan? Memang hidup ini terkadang seperti layang-layang yang perlu ditekuk agar hembusan angin tidak membuat kita goyah dan tetap stabil dalam melayangnya. Pastinya dalam arus pandemi ini, dulur-dulur menemukan hikayat kehidupan yang telah dilaluinya. Bagaimana mungkin saya tahu, sedangkan puzzle-puzzle tersebut ada pada kalian? Mari kita bincangkan dengan kejujuran. Karena setahu saya manusia sangat sigap dalam respon pembacaan di luar dirinya dan menyinergikan apa yang telah ditemuinya, agar kita saling mengingatkan dalam kebaikan. Menempatkan sesuatu pada haknya.

Katahe duso nyuwun pangapuro: Pada setiap lembaran terdapat kecacatan. Pada setiap takdir terselimuti keniscayaan. Sedang rembulan menemani pada setiap rintik do’a. Matahari menerangi jiwa yang mulia. Tuhan bersemayaman di mana-mana. Gunakanlah akal sehat dan hati legawa dalam memaknainya, karena terperinci belum tentu kau mengenalnya. Bukankah kamu lebih tau Dia apa dan siapa di balik wujudmu? Dengarkanlah bunyi pada setiap malam yang disampaikan gelap kepada fajar. Jangan kau lakukan yang membuat dirimu ragu dan lakukan apa yang bisa kau lakukan bersama peniadaan pencarian.

 “Ada apa gerangan? Kenapa kau tundukkan kepala sambil menyembunyikan lebam kedua matamu?” Tanya ro’sun. “Aku tak tahu, benar-benar tak tahu. Adakah hal yang lebih jujur daripada kesunyian? Adakah sesuatu yang menghangatkan ruang dan waktu kecuali cahaya? Adakah ruang yang membuatku tidak menceritakan kelemahan pada Sang Maha? Adakah dimensi yang lebih indah daripada berdo’a? Dan apakah di zaman ini tidak diperbolehkan mempelajari kehidupan Rosul Muhammad sebagaimana aku melihat sosok penerusnya yang selalu optimal dan membumi dalam membersamai? Apakah harus kusimpan dalam-dalam nikmat bersholawat sedangkan air mata berhak untuk mengungkapkanya? lanjutnya.Tak benar kau seperti itu, segala sesuatu yang bersifat kejujuran tak boleh kau selingkuhi hanya pada hening dan terpendam pada diri sendiri saja. Keluarkan saja… Bukankah itu semua tak pernah kau kira? Bincangan mesra antara dirimu dan sesuatu yang membuatmu rindu itu?  Karena saat kau mengekspresikannya, beberapa  kemungkinan akan menghampiri dan menumbuhkan rasa rindumu pada siapa yang sejati dan apa yang sebenarnya kita harus juga wajar dilakukan,” respon shudrun. “Baiklah, Maukah malam ini, dulur-dulur mendendangkan nada syair yang populer? Pinta ro’sun . “Apa itu?” tanya Shodrun. “Syair I’tirof yang dikenal dari Abu Nawas.”

 

 

Jumat, 01 Januari 2021

APA IYA AW?

 

 Mukadimah Poci Maiyah Januari 2021

 

 

“Kalau kutanya kenapa kamu membaca ini, bisakah kamu memberikan alasannya?”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

________

 

 

“Jangan terburu-buru merespon!”

.

.

.

.

.

.

 

“Kenapa ingin segera menuju halaman selanjutnya? Apakah dengan memilih melewati pertanyaan itu, lantas kamu merasa terbebas darinya? Apakah kamu yakin pertanyaan itu, tidak mengintai mengikutimu, menguntit persis di dekatmu seperti arah bayanganmu sendiri, yang menempel ketat kemanapun kamu pergi?

Apakah dengan memilih langsung menuju selanjutnya, kamu tidak merasa banyak hal yang telah hilang, yang sebenarnya bisa kamu dapatkan, namun kesempatan itu telah lepas dari genggamanmu. Kesempatan itu, kamu lewati begitu saja?

Ataukah, dengan pilihanmu saat ini, sebenarnya kamu sedang menunjukan siapa dirimu, apa levelmu, sejauh apa tingkat pengendalian dirimu, dan di mana pula tingkat kedewasaanmu saat ini..?

Termasuk dengan pilihanmu saat ini, bisa jadi, kamu sebenarnya sedang membeberkan dirimu sendiri, dengan gesture dan ekspresimu yang menceritakan penyebab kenapa kamu seringkali gagal, juga alasan kenapa kamu selalu terjebak untuk memilih bersembunyi dibalik kebohongan-kebohongan, tidak mencoba berusaha lebih keras, melarikan diri dari realita, dan  ….

 

FOKUS!

Jangan malah ngobrol dengan dirimu sendiri! Kendalikan khayalanmu! Jangan biarkan pikiranmu berkeliran entah kemana, kamu tidak sedang sendirian disini!

 

Alih-alih menjawab pertanyaan itu, kenapa kamu malah terus membaca ini? Atau jangan-jangan, sepanjang membaca tulisan ini , lebih sial lagi, di detik ini, kamu baru menyadari bahwa kamu lupa siapa namamu, seperti apa wajah orang tuamu, di mana tempat kamu tinggal, kapan tanggal lahirmu, dan bahkan lupa jenis kelaminmu sendiri?

Aiiiiih … jadi,

 

“Kalau kutanya kenapa kamu membaca ini, bisakah kamu memberikan alasannya?”

 

Pun dengan jawaban itu, sudahkah kamu memperhatikan kemungkinan-kemungkinan yang lain? Apa iya itu jawaban penuhmu? Apa iya itu jawaban akhirmu? Apa iya kamu benar-benar faham dan mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan dirimu saat ini? Apa iya yang kamu anggap benar selama ini betul-betul benar? Apa iya itu juga benar batas kemampuan dan kemauanmu? Apa iya kamu tidak melewatkan banyak hal?

Apa iya,

Aw?

Kamis, 19 November 2020

Hewan yang Berpikir




Reportase Poci Maiyah November 2020

Oleh: Lingkar Gagang Poci



Sebagaimana tubuh, hati juga bisa lelah, carikan untuknya hikmah-hikmah yang indah. -Nahjal-Balaghan, Sayiddina Ali bin Abi Thalib

 

***

 

Bulan Oktober ini Poci Maiyah membahas satu tema bertajuk ‘Mbatin’, sesuatu yang semua orang pernah merasakan, mengalami, dan melakukannya di kehidupan. Pembahasan tema kali ini seakan sangat dikuasai oleh banyak orang sehingga setelah sesi pembacaan mukodimah selesai, banyak repson bermunculan.

 

Mbah Nahar menjabarkan pengertian mbatin seperti sebuah wadah (ruang) yang menampung banyak hal termasuk di antaranya ada prasangka baik dan buruk (khusnudon/suuzon), perkiraan, dan dugaan yang tak terucap ke luar. Jadi yang dimaksudkan Mbah Nahar lebih kepada sesuatu yang sifatnya psikis, terjadi di dalam diri seseorang. Tapi mbatin sendiri tak sekedar bersifat psikis, karena mbatin juga mempengaruhi tindakan seseorang ke luar seperti apa yang dikatakan oleh Mbah Bekhi bahwa semua hal yang ada di dalam tak akan mungkin secara terus menerus terpendam, ia pasti akan keluar menjadi sebuah tindakan.

 

Pengertian akan mbatin menjadi sangat beragam, setiap orang memiliki pengertian yang berbeda, mungkin karena mereka mengalaminya dengan pengalaman yang berbeda pula. Pengertian mbatin menurut Mas Azam lebih beda lagi dari Mbah Nahar ataupun Mbah Bekhi, baginya mbatin lebih condong kepada pertanyaan-pertanyaan esensial seperti pertanyaan "Siapa diriku? Untuk apa aku diciptakan? Apa yang harus aku lakukan?". Namun ada bias yang seringkali membuat kita susah untuk membedakan pertanyaan-pertanyaan tersebut, benarkah pertanyaan itu berasal dari batin (Hati) atau pikiran? Dua hal ini menjadi sesuatu yang samar dan sulit bagi kita untuk mengidentifikasinya. Tapi benarkah ada perbedaan antara hati dengan pikiran?

 

Al-qolb lazimnya kita maknai sebagai hati, tapi dalam pengertian lain al-qolb dimaknai sebagai ‘rasio’ atau pikiran-pikiran adalah satu-satunya yang dapat mempengaruhi seluruh anggota badan manusia seperti mata, telinga, mulut, hidung, lidah, tangan, kaki dan lain sebagainya. Itu mengapa semua tindakan manusia dipengaruhi oleh pikiran. Salah satu syair Maulana Rumi menegaskan hal ini:

 

Duhai saudaraku, esensi manusia ada pada pikiran

Selainnya, yang tersisa hanya daging dan tulang

(Matsnawi, jilid 2, bait 277)

 

Pikiran menjadi salah satu faktor penentu yang paling utama dalam kehidupan manusia. Manusia memiliki keistimewaan tersendiri ketimbang mahluk yang lain di bumi karena kemampuannya untuk berfikir, tanpa pikiran manusia akan sama seperti hewan oleh sebab itu kenapa manusia sering kali disebut sebagai al-insan hayawannatiq (AnimalRationale). Binatang yang berakal budi, binatang yang berpikir.

Kita seringkali lupa untuk memaknai kehidupan dalam satu kesatuan utuh. Kita cenderung memecah belahnya menjadi beberapa bagian, melihatnya sebagai bagian tersendiri dari yang lain seperti ketika kita memaknai hati dan pikiran. Haketkatnya hati dan pikiran memanglah dua hal yang berbeda yang ada pada dalam diri manusia, akan tertapi pikiran merupakan bagian dari satu kesatuan kerajaan hati. Sebagaimana yang ditulis dalam mukodimah Nafsu adalah budak, akal adalah perdana menteri, dan hati adalah rajanya.

Itu mengapa al-qolb bisa kita maknai sebagai ‘rasio’ atau pikiran, sebab yang dimaksud al-qolb bukan hanya merujuk pada hati tapi lebih tepatlnya al-qolb adalah satu kesatuan utuh yang mencakup segalanya. Al-qolb bisa berarti kerajaan hati yang di dalamnya terdapat raja dan staf-stafnya dalam mengelola tubuh manusia. Ia merupakan ruang yang menampung pikiran, hati, nafsu dan semua perangkat kehidupan dalam diri manusia.

Mbatin sendiri erat sekali hubungannya dengan pikiran karena dalam mbatin terkandung banyak persepsi—persepsi menghasilkan spekulasi dari spekulasi seseorang akan mendapatkan pengetahuan dan dari pengetahuan seseorang akan memperoleh kebenaran yang ia jadikan sebagai pedoman untuk melakukan suatu tindakan di kehidupan. Setiap orang dianjurkan untuk berpikir yang baik-baik karena kerap kali perjalanan seseorang selalu selaras dengan apa yang ia pikirkan. Maka hati-hati kalau berpikir, karena pikiranmu akan mempengaruhi lakumu, lakumu akan membentuk watakmu, dan watakmu akan menentukan takdirmu.

Berhati-hatilah...

 

 

وَاَ طِيْعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَا حْذَرُوْا ۚ فَاِ نْ تَوَلَّيْتُمْ فَا عْلَمُوْۤا اَنَّمَا عَلٰى رَسُوْلِنَا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ

wa athii'ulloha wa athii'ur-rosuula wahzaruu, fa ing tawallaitum fa'lamuuu annamaa 'alaa rosuulinal-balaaghul-mubiin

 

"Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul serta berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat) dengan jelas."

(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 92)

 

 

 

 

 

 


Jumat, 06 November 2020

MBATIN





Mukadimah Poci Maiyah November 2020

Oleh : Lingkar Gagang Poci

 

“Kemanapun aku pergi, kubiarkan ruhaniku digembalai oleh Nabi. Muhammad adalah pengembalaku. Tubuh dan ruh ini hanyalah domba yang akan Ia hantarkan ke hadirat Yang Kuasa.”

 

 

Nyong wis mbatin, bakalen kaya kiye. Pernahkan kita membatin begitu?

Bolehkah manusia berprasangka? Memprediksi apa yang akan terjadi, lalu akhirnya membuat diri sendiri merasa kecewa? Bolehkah menyesali sesuatu yang telah terjadi, padahal itulah takdir Allah yang memang kita pilih? Jadi, kita yang menentukan takdir, atau memilihnya?

Nyong wis mbatin. Apa yang menjadikan manusia merasa mampu menggenggam masa depan? Sedangkan semenit ke depan kita masih hidup atau tidak sebenarnya di luar kendali kita?

Indera manusia didesain hanya untuk mengumpulkan data. Pikiran, akal, yang tidak terlalu penting, lama-lama memperdebatkan definisinya—adalah alat untuk mengolah data itu. Jika di dalam pikiranmu terjadi rasan-rasan, pertimbangan, pertempuran argumentasi, itu tandanya sedang terjadi proses olah data. Namun hati, tetap menjadi sang pengambil keputusan. Nafsu adalah budak, akal adalah perdana menteri, dan hati adalah rajanya. Jika seseorang sudah gagal dari dalam pikirannya, maka kenyataan hidupnya pun tak akan jauh dari itu. Rasan-rasan yang orang lakukan, entah itu di dalam diri sendiri atau bahkan bersama orang lain, selama akal tak benar memproses data inderanya, maka hasilnya adalah prasangka, dzon, yang seringkali justru membuatnya kecewa.

Manusia membuat ukuran-ukuran kehidupannya sendiri, lalu ketika itu membuatnya kecewa, mereka menyalahkan Tuhan. Manusia menciptakan ketakutan-ketakutannya sendiri. Membayangkan khayalan-khayalan sendiri. Menjatuhkan diri dalam jurang keputusasaan. Pesimis, lalu mengobatinya sendiri dengan keoptimisan—keberanian melawan pikirannya sendiri. Manusia menciptakan musuh, yang nantinya dia kalahkan sendiri. Hidup kok (kelihatan) repot begitu ya. Nyong wis mbatin.

Ketika Abdul Muthalib, kakek nabi tercinta, Muhammad sholallahu alaihi wa salam, mendatangi Abrahah untuk meminta kambing-kambing yang dirampas, apakah ia membatin, memprediksi apa yang akan terjadi? Hingga Abrahah heran, mengapa orang se-terhormat beliau tidak memintanya agar jangan menyerang Ka'bah, melainkan, seakan lebih penting kambing-kambing itu daripada rumah Tuhan.

Ketika Sang Nabi tercinta dipanggil Abu Lahab, saat pura-pura sakit, apakah hati beliau membatin? Sekalipun Jibril sudah mengingatkan bahwa itu adalah jebakan, agar tak jadi mendatanginya? Di kisah lain, apakah Rasulullah membatin, ketika Umar bin Khottob menyatakan masuk islam: jangan-jangan itu hanya rekayasa? Ketika disajikan daging kaki kambing setelah penaklukan Khaibar, melawan para yahudi yang keras kepala?Apakah Rasulullah membatin, dalam daging itu telah ditaburi racun? Yaamuqolibalqulb tsabitqolbi ala dinnika. Prasangka lahir dari ketiadaan ilmu yang memadai, keterburu-buruan pikiran memutuskan, lalu menjadi kesimpulan yang final, dan rasa cukup untuk tidak mengoreksi apa yang pernah dipikirkannya itu. Sedangkan, bahkan sinau bareng seperti ini pun bukan untuk mencari kesimpulan yang final, harga mati, melainkan terus belajar dan berani untuk mengubah apa-apa yang kemarin kita pahami sebagai 'kebenaran'. Dan hati Rasulullah, layamasuhuillalmuthoharun, hati yang suci. Ia mampu menembus sidratul muntaha, yang bahkan Jibril tak mampu sekadar menatap gerbangnya.

Hati yang telah kholas, selesai dengan keruwetan dunia. Hati yang telah total menundukan akal dan nafsu. Hati yang damai, tak ada pertentangan lagi di dalamnya. Tidak ada lagi rasan-rasan tentang sesuatu tanpa ilmu yang jelas. Hati yang suci, tidak terikat pada apapun selain Tuhan. Karena di akhirat nanti, tak ada harta atau anak yang mampu menyelamatkan manusia, selain hati yang damai—yang telah selesai urusannya terhadap segala apapun kompetisi keduniaan. Illa manataallahabiqolbin salim. Dunia ini milik-Nya, mengapa manusia repot memikirkannya? Surga tak dapat dimasuki tanpa syafaat sang Nabi, mengapa manusia merasa mampu menguasai?

Jadi, apa yang menjadikan manusia membatin? Apakah sebuah keburukan jika terlalu banyak membatin?Dalam presisi yang bagaimana membatin itu dibutuhkan?

Nyong wis mbatin akan sampai pada pertanyaan itu.

Kerap kali manusia memang suka mbatin akan keadaan yang dialaminya. Terutama pada keadaan yang mengganggu urusannya.Seakan-akan ia tak menerima keadaan tersebut secara apa adanya sehingga pikiran mereka menjangkau masa depan. Mencoba menghindari masa sekarang, membayangkan dunia yang lebih baik dan menyenangkan. Namun, mereka sendiri lupa untuk menikmati hidup di masa sekarang. Banyak orang yang mampu memikirkan hidup di masa depan. Namun sedikit orang yang mampu menjalani hidup di masa sekarang.

Apalagi di masa pandemi saat ini, orang-orang mulai putus asa dan kehilangan harapan. Hatinya dipenuhi kecemasan dan ketakukan. Mbatin mereka tak jauh-jauh dari prasangka buruk. Keadaan lingkungan sekitar memang sangat memengaruhi kondisi batin seseorang. Jika lingkungannya dalam keadaan buruk, seseorang tersebut akan mbatin yang buruk-buruk begitu pula sebaliknya. Kita perlu menciptakan lingkungan yang baik, agar kondisi batin kita juga ikut baik.

Dunia sedang mengalami hardreset besar-besaran seperti pasca air bah di zaman Nabi Nuh. Di tengah wabah virus ini manusia diberi tiga pilihan pertama. Diam sekadar mbatin saja untuk menerima keadaan. Kedua, meninggalkan tempat yang telah tercemar virus agar terselamatkan. Ketiga, menerima segala sesuatu secara apa adanya dan berusaha untuk mengubahnya menjadi lebih baik.

Jika memiliki cinta kepada tanah kelahiran kita, maka yang dipilih adalah pilihan ketiga. Adanya penderitaan atau suatu masalah, merupakan suatu peluang untuk seseorang berjuang melakukan perubahan. Hanya saja untuk mengubah kehidupan kita tak bisa melakukannya hanya dengan mbatin saja, meskipun mbatin merupakan awal dari segala penciptaan. Ketika seseorang mbatin, maka ia akan berniat dengan kata-kata sebagai perantara. Niat adalah awal dari segala tindakan, dan kata-kata merupakan awal dari segala penciptaan. Ketika Allah berkata kunfayakun, maka alam semesta mulai tercipta.

Orang-orang yang telah selesai dengan dirinya, harus segera memenuhi tanggung jawabnya sebagai pengelola alam semesta (kholifatulfilardh). Jangan hanya berhenti pada ketenangan hati. Ketenangan hati bisa menjadi semacam egoisme untuk memertahankan kebahagiaan sendiri tanpa memerdulikan kebahagiaan orang lain. Ketika Nabi Muhammad miraj ke atas langit menemui Tuhannya. Ia tak melepaskan seluruh tanggung jawabnya sebagai Nabi di dunia, padahal dirinya telah bertemu dengan Allah. Menyaksikan langsung kehadiran-Nya. Saat kita telah melihat Tuhan, maka adakah keinginan lain yang ingin kita wujudkan? Pertemuan dengan Tuhan adalah puncak dari segala pencapaian, hingga ada seorang sufi besar berkata “Andaikan aku yang miraj ke sana dan bertemu dengan Allah, pastilah aku akan menetap di sana dan tidak akan kembali lagi di dunia”. Nabi Muhammad memilih untuk kembali ke dunia, karena rasa belas kasihannya kepada umat manusia. Ia tak mementingkan dirinya sendiri agar terselamatkan dari kehidupan dunia dan akhirat. Ia turun kembali ke dunia sebagai seorang penyelamat. Manempatkan dirinya sebagai seorang sahabat yang selalu ada menemani sepanjang perjalanan umatnya. Nabi Muhammad selalu memerhatikan kita dan kasih sayangnya selalu tercurah sebanyak curahan shalawat yang dilantunkan padanya.

Kaum muslimin bagaikan satu tubuh. Apabila dalam tubuh tersebut ada bagian yang sedang sakit, maka sakitlah semuanya. Kita selalu terikat dengan cinta dan kasih sayang. Kebebasan yang kita nikmati sendiri, akan terasa sepi. Kita perlu merajut hati orang-orang mukmin untuk melangkah bersama di kehidupan dunia menuju akhirat. Hati manusia selalu terhubung satu sama lain. Namun, seringkali pertalian itu terputus karena kita lebih memilih untuk berjuang sendiri-sendiri dan sibuk dengan urusan masing-masing. Jika terus begitu maka kehidupan dunia rasanya akan sama seperti kehidupan akhirat. Dimana orang-orang telah sibuk dengan urusan masing-masing dan tidak bisa meyelamatkan orang lain. Padahal suatu hari nanti di surga, kita akan membangun negeri bersama. Seorang anak yang telah masuk surga, akan memanggil-manggil ayah dan ibunya. Jika ternyata di surga tidak ada, maka ia akan mencarinya di neraka. Apabila ia menemuinya di neraka, ia akan mengajaknya masuk ke surga dan berdoa kepada Tuhan melalui perantara Nabi Muhammad agar diwujudkan permintaannya. Surga terlalu luas untuk dinikmati sendirian. Hidup adalah kebersamaan. Kesendirian adalahkematian yang sesungguhnya. Sudahkah kita mbatin akan hal ini? Jangan sampai nanti kalian kesepian ketika masuk surga dan mbatin “Lho kok disurga sepi, terus gimana aku bisa menikmatinya kalau hidup sendiran tanpa seorang teman?”

Nyong ora pengin mbatin kaya kuwe...

Meskipun kemungkinan hal tersebut tidak akan terjadi, karena proses masuknya kaum muslim ke surga akan lebih dulu melalui syafaat Nabi. Pada saat Nabi sedang mensyafaati, bukankah saat itu kita sedang berkumpul bersama? Menunggu waktu untuk membuka pintu surga bersama orang-orang tercinta. Akhir kehidupan adalah kebersamaan (maiyah) maka jangan berjalan sendirian!


Kamis, 01 Oktober 2020

OBA(H)ATI



Mukadimah Poci Maiyah Oktober 2020

Oleh: Lingkar Gagang Poci


"Jiwa semua manusia mendambakan ketenteraman, muthmainnah, damai, penuh ukhuwah, persatuan kesatuan, keutuhan, almutahabbina fillah, potensialitas surga." (Tetes: Tafakur dan Kekeruhan)

 

Kurang dari 100 hari lagi kita selesai bermain di rentang tahun 2020. Tahun paling lontang lantung (kata seorang sedulur PM). Awal tahun sudah diberi kado virus, dan di akhir tahun ini kabar tsunami berpuluh meter mengancam saudara-saudara kita di sepanjang pantai selatan jawa. Dengan segala kerendahan dan kehinaan diri, kita berdoa kepada Tuhan, mudah-mudahan Dia berkenan selalu melindungi—meski sungguh tak ada potret kelayakan kita untuk itu.

Masih tegarkah jiwa kita dengan musibah ini? Masih tegapkah mental kita di hadapan sembako dan BLT yang dibagikan ‘rata’? Atau mendadak mengumpulkan data diri untuk berbaris rapi bersama mereka, yang tiap hari pun sama: dilemahkan di negeri ini? Masih teguhkah pikiran kita, berhadapan dengan pilihan : mengharap bantuan pada istana untuk anak istri tercinta, ataukah tetap berdiri di atas kaki sendiri? Bergerak kemana pun saja, obah, ikhtiyar— menjemput rezeki-Nya, meski tak tahu dengan kerja apa. Hidup memang tak selalu tentang benar dan salah. Ada spektrum lain yang sebaiknya kita pelajari, agar semakin arif menyikapi semua itu.

Hanya satu wabah saja, sakitnya berjamaah. Bukan hanya fisik manusia saja yang terancam, tapi juga perekonomian, pendidikan, rumah tangga, bahkan negara pun sangat nampak lemahnya. One shoot, one kill. Satu kesatuan besar, hanya dengan satu tembakan, seperti efek domino. Semua goyah, ber-obah , nyaris roboh. Belum tergerakkah hati kita untuk kembali? Alam ya'ni lilladzina amanu antakhsya'a qulubuhum li dzikrillah wa ma nazala minal haq.

Obat apa yang akan kita gunakan untuk menghadapi ini? Masihkah sujud-sujud itu terasa nikmat? Masihkah sabar di hati ini kita tetap jaga kuat? Masihkah menganggap kitab suci itu menjadi jalan solusi untuk persoalan ini? Atau justru ketiadaan obatlah, obat yang sesungguhnya? Seperti doa-doa yang nampak tak terdengar, sapaan para hamba yang seakan teracuhkan. Dia menanti, menguji, seberapa cinta para hamba kepada-Nya. Manusia hanya diminta untuk berusaha, berikhtiyar, menjalani proses, rakaat yang entah panjang entah pendek, atau obah, karena hanya orang mati yang tidak ber-obah. (yen obah medeni bocah)

Obahati, gerakan hatimu, sembuhkan luka jiwamu. Seperti pesan seorang sufi, “Biarlah bekas luka hatimu terlihat, karena orang-orang yang ada di jalan cinta, dikenal dari bekas-bekas lukanya.” Hanya dengan bertahan, seseorang akan menang. Memenangkan hati, jiwa, dan dirinya, yang tak roboh oleh ujian-ujian hidup kelak nantinya. Obati hatimu, lalu bergeraklah, karena bagaimana seseorang akan berjalan benar, jika dari sisi hatinya ia masih terluka parah? Karena sejatinya, jiwa semua manusia mendambakan ketenteraman, muthmainnah, damai, penuh ukhuwah, persatuan kesatuan, keutuhan, almutahabbina fillah; potensialitas surga.

Dengan washilah sinau bareng dalam gelaran Poci Maiyah ini, kita semua berikhtiyar, obah, menolak diam, melawan kebingungan meski belum pasti ditunjukan jalan, mengobati hati, berharap cinta sang nabi dan kerelaan Tuhan. Karena, jika memberi solusi persoalan kita belum mampu pasti, setidaknya hidup kita tak menambah beban dunia ini.