Senin, 30 Maret 2020

Lockdown Adalah Pertanyaan, Coronavirus Adalah Jawaban Yang Diam


"Semua pergerakan manusia adalah sebuah pertanyaan dan semua jawaban yang akan diterima selaras dengan pertanyaan yang diajukan" merupakan sebuah perkataan dari Rumi yang baru saja aku pahami.

Beberapa bulan akhir ini kita dikhawatirkan dengan menyebarnya coronavirus di berbagai daerah dan meningkatnya jumlah orang-orang yang telah positif terinfeksi covid-19. Hal tersebut membuat kita khawatir, takut, dan cemas untuk melakukan aktivitas keseharian kita. Bahkan semenjak pemerintah Kota Tegal mendapati ada 1 pasien yang positif terkena corona, Walikota Tegal, Deny Yon Supriyono langsung memutuskan untuk menutup semua akses ke wilayah Tegal menggunakan beton selama empat bulan. 49-50 titik akan ditutup menggunakan beton. Penutupan tersebut dilandasi atas rasa kekhawatirannya terhadap penularan coronavirus kepada warga Tegal, dikarenakan sebagian besar warga Tegal banyak yang merantau di luar kota terutama di Jakarta. Terhitung telah ada 495 orang yang telah positif corona di Jakarta. Jika orang-orang perantauan pulang ke Tegal memungkinkan bisa membawa dan menularkan virus ke orang-orang sekitar.

Berita tentang lokal lockdown yang di terapkan di Kota Tegal benar-benar menyebar dengan sangat cepat dan ramai di sosial media, melihat pemerintah Kota Tegal adalah yang pertama melakukan tindakan tersebut.

Kita telah melihat bahwa coronavirus adalah suatu masalah yang serius yang dihadapi oleh masyarakat global. Dalam salah satu postingan Facebook yang di kirim oleh Leo Pamungkas, ia mengirimkan tulisan dari salah satu filosof yang berpengaruh di zaman ini, Yuval Noah Harari yang telah di terjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Yuval Noah Harari adalah Penulis buku Sapines, Homo Deus dan 21 Lesson for the 21st Century. Tertulis dalam salah satu tulisannya di Finansial Times, 21/3/20.

"Kemanusiaan menghadapi krisis global. Bisa jadi krisis terbesar dalam generasi kita. Keputusan pemerintah dan masyarakat yang diambil untuk beberapa minggu ke depan sangat mungkin bakal menentukan keputusan di tahun-tahun mendatang. Keputusan tersebut akan memberi bentuk bukan hanya tentang kesehatan kita, tapi juga ekonomi politik dan kebudayaan. Kita harus bertidak cepat dan meyakinkan sekaligus memperhitungkan konsekuensi jangka panjang akibat tindakan ini."

Bahkan menurut Yuval Noah Harari ketika kita telah memilih beberapa alternatif bukan hanya sekedar menangani sebuah ancaman namun lebih lagi tentang dunia apa yang akan kita huni? Setelah badai berlalu, kemanusiaan akan tetap bertahan, beberapa besar dari kita akan tetap hidup tetapi kita akan menghuni sebuah dunia yang berbeda.

Menyikapi Corona sudah dua minggu terakhir ini Mbah Nun juga rutin mengirim tulisan-tulisannya di website caknun.com. Terhitung sudah ada 26 tulisan yang telah ia tulis seputar corona. Pada Tulisannya yang berjudul Sholat Malam dan Rasa Bersalah. Mbah Nun menuliskan

"Di Maiyahan saya sering menanyakan kepada Jamaah siapa pelaku utama perubahan? Allah menyatakan “innalloha la yughoyyiru ma biqoumin hatta yughoyyiru ma bianfusihim”. Allah tidak mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu mengubah nasibnya sendiri.

Ummat manusia menyelenggarakan perubahan sejarah dengan membangun peradabannya dengan karakter Iblis, ilmu Dajjal dan budaya Ya’juj dan Ma’juj — maka Allah mengabulkannya dengan memuncaki setiap tahap perubahan yang dilakukan oleh manusia. Dan tatkala hari-hari ini semua penduduk bumi cemas, panik dan paranoid oleh Coronavirus, tak seorang pun bertanya: “Apakah kita selama ini salah sebagai manusia? Apa salah kita? Apa dosa kita? Apa dismanajemen kita? Apa pengingkaran kita atas keseyogyaan hidup?” "

Tulisan tersebut selaras dengan apa yang dikatakan oleh Yuval Noah Harari bahwa setelah badai corona ini berlalu kita akan menghuni dunia yang baru. Coronavirus memang telah merubah banyak kebiasaan masyarakat, bahkan mungkin telah sedikit berhasil untuk merevolusi mental masyarakat dunia. Masyarakat mulai mengambil alternatif untuk menyelamatkan dirinya, mereka mulai berfikir untuk mengutamakan kesehatan ketimbang kepentingan. Benar jika teman saya Abdullah Farid, salah satu jurnalis Poci Maiyah mengatakan jika Coronavirus telah mengajarkan umat manusia untuk rajin mencuci tangan.

Dalam sebuah rapat perusahaan saya mengatakan "Coronavirus mengakibatkan dampak psikologis yang besar pada masyarakat berupa rasa ketakutan, dan jika masyarakat berada dalam ketakutan makan ia tidak akan memikirkan yang lainnya kecuali dirinya sendiri, mereka akan sibuk menyelamatkan dirinya  sendiri. Itu berarti masyarakat tidak akan lagi konsumtif dan tingkat pasar kita akan menurun." Namun apalah pernyataan saya ini tidak benar-benar didengarkan. Beberapa masyarakat memang lebih memilih kesehatan ketimbang kepentingan namun jika kesehatan di sandingkan dengan ekonomi mereka akan kebingungan untuk memilihnya diantara keduanya. Konsep ekonomi yang digunakan masyarakat modern masih mengutamakan keuntungan ketimbang keselamatan bersama, sehingga efek yang di timbulkan pada akhirnya kita tidak bisa menempatkan diri untuk kapan kita tampil dan berdiam dalam pasar agar tidak masuk kedalam kekacauan badai yang besar.

Oleh sebabnya manusia harus mulai merenungi segala sesuatu yang telah di lakukan selama ini, satu sama lain harus saling sadar dan saling bantu, yang kaya membantu perekonomian yang miskin, yang miskin mengamankan kesehatan yang kaya. Perusahan-perusahaan harus memilih alternatif lain dalam bekerja agar kariyawannya merasa aman dan laju perusahaan tetap berjalan, bila perlu bisa berpuasa sebentar untuk meraup keuntungan. Masyarakat juga harus mulai menaati aturan, diam di rumah guna memperkecil angka penyebaran virus corona. Kita butuh saling percaya dan bekerjasama dalam menangani masalah ini. Kemanusiaan harus dibangun kembali dengan kepercayaan, baik pemerintah, tenaga medis dan jurnalis harus saling bersinergi dan berharmoni dalam menangani dan menyampaikan informasi mengenai penyebaran virus ini. Masa depan ditentukan di masa sekarang, keputusan pemerintah dan masyarakat untuk beberapa minggu ke depan adalah sebuah penentuan sekaligus langkah kecil untuk memulai perubahan.

Dan sebelum saya akhiri tulisan kali ini, mari sejenak kita kembali pada pernyataan Rumi "Semua pergerakan manusia adalah sebuah pertanyaan dan semua jawaban yang akan diterima selaras dengan pertanyaan yang diajukan". Bisa kita ambil kesimpulan jika semua alternatif yang kita lakukan hari ini untuk melockdown sebuah daerah, menerapkan Work From Home, dan menekankan masyarakat untuk di rumah saja adalah sebuah pertanyaan bagi manusia tentang ketidakpastian akan wabah corana, "Kapan wabah ini akan berhenti? Bagaimana sikap kita menangani masalah ini? Akankah kita semua akan selamat?" Manusia terus bertanya dengan kerendahatiannya kepada Tuhan dan jika semua pertanyaan itu dilandaskan pada keselamatan, kesejahteraan, dan kedamaian bersama maka jawabannya akan setimpal dengan pertanyaannya. Pertanyaan baik akan di jawab dengan jawaban yang baik maka niatkanlah segala upaya mulai hari ini untuk kebaikan bukan keuntungan, kesenangan, dan keselamatan individual. Dan bisa jadi coronavirus malah merupakan jawaban atas semua aktivitas manusia modern ini yang selalu ingin meraih keuntungan dalam jumlah besar dan mempercepat kerja industri. Bukankan setiap hari manusia sering bertanya "Berapa keuntungan yang kita dapatkan hari ini? Kenapa kita tak mengambil keuntungan sebayak-banyaknya selagi kita bisa? Bukankah kita bisa memanfaatkan semuanya untuk kesenangan kita?" Pertanyaan yang diajukan dalam setiap pergerakan manusia yang mungkin mereka sendiri tidak menyadarinya dan inilah jawabannya setimpal dengan apa yang telah mereka kerjakan. Tuhan sesuai dengan prasangka. WallahuAlam

Dukuhturi, 29 Maret 2020

Obat Covid-19


Sedulur Medang Poci Maiyah, sejenak mari kita sinau sedikit tentang bio-spiritual, istilah agar kita tak memisahkan semua ilmu-ilmu berstruktur barat dari sumbernya : yaitu Allah.

Demam, dan umumnya merasa tak enak badan, adalah kondisi yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh merespons infeksi. Itu adalah sunnatullah, ketika ada sesuatu yang 'tak beres' tubuh melapor ke 'pikiran', bahwa ada sesuatu yang perlu dibersihkan. Nah, tulisan ini mungkin seputar itu : kebersihan. Seperti mesin motor misalnya, atau handphone, ketika ada sesuatu yang eror, atau tak berjalan semestinya, umumnya kita merasa ada yang perlu diperbaiki. Sebelum ke inti tulisan, demam dan tak enak badan adalah gejala ketika tubuh mengeluarkan sitokin, zat kimia yang melawan habis-habisan patogen (bakteri, virus, organ transplantasi, dsb) dari dalam tubuh. Daya imun tubuh menjadi semacam 'tentara Allah' yang bekerja menjaga tiap makhluknya yang berjasad dari dalam diri. Tugasnya adalah mengenali, kemudian melawan, membuang atau bahkan menghabisi semua patogen yang masuk ke dalam tubuh. Asysyadu kholqon am man kholaqna? Tak perlu kau ke luar bumi menjelajah angkasa, karena di dalam tubuhmu juga ada kedasyatan kekuasaan-Nya. Lalu, apa yang menjadikan daya imun tubuh dikalahkan patogen? Apa yang mempengaruhi kuat atau lemahnya imun tubuh manusia?

Tulisan selanjutnya bukan tentang biologi.

Covid-19 probably adalah obat kekotoran zaman ini. Masjidil Haram ditutup, haji dan umroh dilarang (untuk sementara waktu), bukankah itu adalah 'kode' tentang doa-doa guru-guru kita yang kecewa dengan 'pemilik' rumah Allah itu? Teknologi super canggih yang ditemukan para manusia cerdas pandai di barat sana, tapi oleh virus kecil itu mereka dipermalukan. Ibarat tubuh, atau mesin motor yang kotor, itu harus segera diperbaiki. Tapi karena manusia sudah terlampau merasa sakti, DNA-DNA Fir'aun milenial yang bermutasi di jaman akhir ini terlalu dungu. Mereka tak merasa bahwa dirinya ada yang rusak, eror, harus segera diperbaiki. Maka istilah-istilah yang kita pakai untuk Covid jenis ini pun sebenarnya adalah penyakit-penyakit kita sendiri.

Mau sampai kapan manusia bumi ini merasa semua ilmunya terpisah dari Sang Pemilik semesta? Sampai kapan dokter-dokter dan semua orang cerdas itu tak membawa, enggan nggondeli jubah kanjeng nabi, menolak mensujudkan semua ilmu dan semua ikhtiarnya pada Allah? Harus dengan bukti apalagi? fa bi ayyi-ala-i robbikuma tudziban, sampai teknologi setinggi apa engkau akan menolak bahwa dengan virus kecil pun kalian tak berdaya apalagi dengan Kekuatan-Ku? Tahun 2020 kalian ternyata ditampar virus kecil yang menjadikanmu sadar, bahwa cuci tangan, wudhu, dan mandi adalah hal yang harus kalian pelajari dan langgengkan? Katanya sudah sampai ke bulan, tapi kok cuci tangan saja masih salah?

Kemudian ada istilah menjaga jarak sosial (social distance), jaga jarak fisik, tak boleh salaman, masjid ditutup, sholat di rumah, 'kode-kode' (ayat-ayat) sejelas itu kita tak paham? Gelar terpelajarmu untuk apa selama ini : Tuhan akhirnya 'marah', seakan berkata pada kita. Sudahlah, jaga jarak sosialmu, kalian berdekatan tapi hati kalian berjauhan, bercerai berai, tahzabuhum jami'an wa qulubuhum syatta. Jaga jarak fisik, karena bahkan suami istri pun setelah mereka bergaul masih menyimpan curiga dan prasangka antar sesamanya. Tak perlu basa-basi salaman, karena hatimu ternyata penuh dengan penolakan. Masjid ditutup dnn sholat di rumah masing-masing, karena kita sholat, kita berjamaah, tapi setelah sholat kita lupa bahwa ada follow up dari sholat kita itu. Bekerja, belajar, berbagi, dan terus membersihkan diri. Fa wailulil musholin, semua itu adalah penyakit-penyakit yang kita tidak merasa sakit karenanya. Kemudian dari itu tak pernah belajar memperbaiki diri, membersihkan diri, luar dan dalam, sampai Allah harus menurunkan 'obat' yang manusia serentak menyebut mereka musuh : Bersama melawan Corona.

Bukan berarti mendikotomi, tapi kita orang-orang timur harus sadar diri. Bahwa tugas kita lebih berat dari mereka yang membanggakan teknologi dan penelitian ke luar diri. Kesaktian orang-orang timur ada dalam pencarian ke dalam diri. Wa fil ardli ayaatul lil muuqinin wa fii anfushikum, tanpa menolak bahwa teknologi juga adalah sunnatullah yang perlu kita pelajari juga. Bisa jadi, Covid-19 ini justru adalah obat untuk sekaratnya zaman ini. Sedangkan obat untum Covid-19 ini, seperti di atas, virus apapun akan dilawan, bahkan mungkin ditundukan, 'didamaikan', bagi tiap manusia yang sudah mendamaikan diri dari sisi dalamnya. Man arofa nafsah, faqod arofa robbah, daya imun manusia equivalen dengan kedamaian batinnya. Semakin damai ia, semakin patogen takdzim padanya. Bagaimana mungkin nusantara yang pernah menjadi guru dunia kini justru bermakmum pada barat yang bahkan cuci tangan saja baru mau belajar?

Kamis, 26 Maret 2020

Muhasabah Corona : Kembali Pada Cinta



Sebab, dalam kebenaran, cinta yang mulia muncul dari pengetahuan yang mulia tentang sesuatu yang dicintainya, dan jika kau hanya sedikit mengetahuinya, maka kau juga hanya mampu mencintainya sedikit, atau tidak sama sekali — Leonardo da Vinci


Manusia abad modern adalah manusia rasional yang menjadikan akal sehat sebagai dasar untuk membangun peradaban. Mereka telah berhasil mengeksplorasi dan mengoptimalisasi alam pikiran, menguak-nguak misteri alam semesta dan merealisasikan segala sesuatu yang dulunya adalah mustahil di kehidupan menjadi nyata. Manusia modern memiliki pengetahuan yang tinggi, cerdas dan berambisi untuk menguasai dunia. Ilmu dan pengetahuan mereka berkembang pesat dan dunia seakan tampak sebagai perhiasan yang berhasil mereka tambang.

Mereka telah bisa mengamati dan mempelajari pergerakan dan sifat-sifat atom dalam ranah quantum, melukiskan anatomi tubuh manusia dengan begitu detailnya, mengamati DNA untuk mendapatkan informasi genetika pada setiap organisme, mengembangkan kecerdasan buatan untuk memudahkan pekerjaan. Manusia modern benar-benar telah bisa menata segala sesuatu dengan terstruktur, mengklarifikasi fauna dan flora berdasarkan kingdom, divisi, filum, kelas, subkelas, ordo, famili, subfamili, genus, spesies, dan subspesies.

Membangun sebuah pusat informasi (server) besar yang saling terhubung tanpa harus mendatanginya langsung. Manusia modern bisa mengakses segala sesuatu hanya dengan menggunakan sebuah mesin pencari di internet. Jarak yang jauh menjadi semakin dekat melalui perkembangan komunikasi daring. Facebook, Twitter, Instagram, WhatsApp, Line dan beragam sosial media lainnya memudahkan manusia untuk berkomunikasi di manapun mereka berada.

Aerodinamaika, lokomotif, dan otomotif membuat manusia mampu berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan mudah dalam waktu yang sangat singkat. Manusia tidak lagi mengandalkan angin untuk berlayar mengarungi samudera dan berpergian ke luar negeri. Mereka telah mempunyai mesin yang canggih yang bisa menggerakkan mereka ke tempat tujuan yang mereka inginkan. Apa yang di ramalkan Prabu Jayabaya sebagai kreta terbang di atas awan dan apa yang dirumuskan oleh Leonardo da Vici sebagai transportasi udara telah menjadi nyata.

Sekarang untuk melihat dunia, manusia modern tidak lagi harus seperti I-Tshing, Marcopolo, Ibnu Batutah, Ibnu Fadlan, Christoper Columbus, Vasco da Gama yang berlayar menggunakan kapal dan mengembara menggunakan kuda untuk melihat dunia luar. Manusia modern bisa menggunakan pesawat terbang, kapal pesiar, mobil dan motor yang mempersingkat waktu perjalanan atau mereka tinggal mengaksesnya langsung pada sebuah komputer atau smartphone yang mereka punya dan seluruh dunia seakan ada di sana.

Langit mereka bidik menggunakan teleskop dan satelit, wahana antariksa bertebaran di angkasa. Manusia telah berhasil mendarat ke bulan dan membangun stasiun luar angkasa. Bahkan manusia mencoba mencari-cari planet lain yang memungkinkan untuk mereka tinggali selain di bumi.

Betapa luar biasa pencapaian manusia modern yang kita lihat hari ini. Peradaban modern benar-benar maju. Semua itu dicapai atas rasa penasaran dan keingintahuaan manusia. Atas semangat untuk mewujudkan pencapaian-pencapaian dan impian manusia untuk menaklukan dunia.

Manusia terus bereksperimen, mengembangkan teori ilmiah dan mempraktekannya dalam dunia nyata. Namun manusia mulai tamak mengeruk habis-habisan sumber daya alam. Manusia telah menyadari bahwa dunia ini adalah lahan yang mendatangkan banyak keuntungan sehingga penemuan-penemuan manusia membuka pintu bagi kapitalisme untuk mencapai masa kejayaannya.

Inilah yang terjadi sekarang ini, pengetahuan mereka tidak dilandasi dengan cinta sehingga pencapaian manusia membuat mereka terbutakan dunia. Menjadi rakus dan sangat berambisi untuk menguasainya. Globalisasi adalah salah satu pintu utama untuk manusia menguasai dunia, dengan itu mereka sekarang bisa menjangkau ke mana saja untuk meksploitasi alam semesta.

Covid-19 telah memperlambat laju perputaran peradaban manusia bahkan hampir saja menghentikannya. Kita lihat di China, Itali, Belanda, Prancis, Saudi Arabia, Denmark, Malaysia, Belgia dan beberapa negara lainnya dilock down. Hening, sunyi. Seakan-akan Covid-19 mampu meredakan ambisi-ambisi manusia untuk menaklukan dunia, memperlambat segalanya, membuat mereka tidak lagi konsumtif untuk menikmati hasil produksi yang selalu digemblek dan dipercepat utuk mendapatkan jumlah besar dan apakah revolusi industri 4.0 dan 5.0 yang digadang-gadang manusia modern untuk miningkatkan produksi demi kebutuhan pasar. Apakah gagasan itu sekarang berjalan di tengah arus yang seperti sekarang? Manusia modern seakan digiring untuk beristirahat sebentar, berdiam, merenungi dosa-dosa yang telah mereka lakukan. Manusia modern memang telah berhasil menggunakan akal untuk mengelola alam semesta, tapi mereka melupakan hati sebagai pusat pembendaharaannya. Sehingga akhirnya yang terlahir adalah ketamakan-ketamakan, kerakusan, kesombongan dan rasa ingin menguasai segalanya. Segala upaya manusia untuk mencapai kemajuan hanya untuk dirinya, bukan untuk keselamatan bersama, sehingga mereka tega untuk mengeksploitasi alam semesta dengan begitu besarnya. Tiada cinta, tiada keselamatan, tiada kesejahteraan dan tiada kemanusiaan dalam peradaban ini!.

Akankan Covid-19 sengaja datang untuk menuntut manusia ke dalam era baru? Memuat manusia untuk berhenti melanjutkan kerusakan-kerusakan yang telah mereka lakukan, merubah dan mereformasi semua system yang ada di dunia? Akankah kita adalah salah-satu bagian dari spesies yang mampu bertahan untuk memulai era baru itu? Yang lebih melandaskan cinta dan keselamatan alam semesta. Akankah iya manusia mampu mengemban kembali amanat itu? Menjadi khalifah di dunia yang telah ditakdirkan Tuhan?.

Pertanyaan demi pertanyaan akan menghantui umat manusia, apakah umat manusia bisa menjawabnya? laqod anzalnaaa aayaatim mubayyinaat, wallohu yahdii may yasyaaa`u ilaa shiroothim mustaqiim.

Langit dan bumi akan menjadi saksi.



Rizky Eka Kurniawan

Kamis, 19 Maret 2020

Merawat yang Kian Bermanfaat



Catatan Singkat Milad 3 Tahun Poci Maiyah
Oleh : Lingkar Gagang Poci


Bertajuk 'Ng3rumat', Poci Maiyah mengadakan miladnya yang ketiga tahun. Sabtu malam (28/2). Apa makna 'ng3rumat', turut menjadi pengantar yang asyik malam itu. "Biasanya kata merawat identik dengan orang menanam. Saya melihat di poci maiyah sibuk menanam. Seolah tak terpikir akan panen." "Bahkan saat menyelenggarakan acara, anehnya tanpa ada proposal. Murni kesadaran diri, dari berbagai jiwa. Namun, hasilnya melebihi perkiraan. Ini kan absurd." Tutur Mbah Nahar. Di dalam Maiyah kita sama-sama saling menabur kebaikan. Maiyah adalah nilai. Yang kan bermakna sesuai pribadi orang saat menerapkannya dalam kehidupan.

Ng3rumat menurutnya hampir sama dengan memelihara. Kalau memelihara hanya melestarikan dari kecil sampai besar, merawat itu menyembuhkan. Namun merawat lebih ke tingkat lanjutan dari memelihara. Analoginya seperti perawat. Iya menggunakan kata merawat. Bukan pemelihara. Sebab itu identik dengan menyembuhkan, ada yang sakit sebelumnya. Nah, ng3rumat adalah perpaduan keduanya. Kalaupun kita menanam padi tumbuhnya rumput, tetap ada kesempatan untuk memanen padi. Tetapi saat kita menanam rumput, tidak akan pernah memanen padi. Begitulah analogi kebaikan. Apapun itu, tidak ada yang sia-sia dari menanam kebaikan. Bila menyemai keburukan, tidak mungkin muncul kebaikan. Ia menutup memaknai ng3rumat dengan nasihat dari Syekh Ibnu Athaillah.

"Tanamlah dirimu di tanah kerendahan, sebab sesuatu yang tumbuh dari yang tidak ditanam tidak sempurna hasil buahnya."

Semakin bergulirnya waktu, hujan yang sempat mengguyur GBN Slawi itu mulai meredakan sendu. Hanya sedikit rintik gerimis yang merekah. Para jama'ah maiyah pun kian bertambah. Segelas kopi dan kenduri khasnya, tersaji dari pegiat Maiyah yang menyapa ramah. Acara pun berlanjut saat Sabrang MDP mulai menuturkan percik-percik nasehat indahnya. Apa itu ng3rumat? Seolah warna pertanyaan itu kian bertambah pekat.

"Yang membuat kita (homo sapiens) bertahan sampai sekarang dari pada spesies lain bukanlah karena kepandaian, dan sebagainya. Tapi karena kemampuan untuk bersosial. Ng3rumat orang terdekat. Saling membantu satu sama lainnya." Mas Sabrang  mengawalinya. Iapun menganalogikan pentingnya saling membantu yakni ketika ada tiga orang tertangkap macan. "Saat ada 3 orang yang tertangkap macan, apa jadinya kalau hanya sibuk melarikan diri sendiri, tanpa saling membantu? Kemungkinan tidak akan selamat. Akan berbeda saat saling membantu, besar kemungkinan akan selamat semua." "Indonesia punya potensi luar biasa untuk itu. Soekarno pernah mengatakan, 'bila yang lima (pancasila) saya remas, maka akan menjadi gotong royong,'"



"Esensi gotong royong itu luar biasa. Namun masalahnya adalah ketidakmampuan kita mengupdate peradaban. Kita memaknai gotong royong pada umumnya hanya sebatas kerja bakti antar tetangga, tidak sampai ranah DPR. Karena apa? Gotong royong akan ada saat seseorang memahami musuhnya adalah masalah, bukan orang lain, dan itu tidak terjadi di ranah petinggi kita."

Beliau pun mengatakan bahwa dengan ilmu paling mudah untuk digotong royong. Semakin dibagi, akan semakin pintar. Kian bermanfaat tak terbatas masa. Lain halnya kalau perkara uang, jabatan, dan lainnya.
"Konsep sinau bareng melandasi itu semua. Kita tidak bertanggung jawab menguasai semua ilmu. Tiap orang saling mengisi. Punya kepandaian masing-masing." Beliau juga menekannya betapa pentingnya merawat ruang publik. Ruang publik saat ini tak jauh dari sosial media. Namun, sosial media yang kita saksikan hari ini, tak menyediakan itu. Hampir seluruhnya hanya bicara popularitas, bukan kapabilitas. Betapa banyak artis yang jadi DPR, padahal ia tak memiliki kapabilitas di dalamnya. Kumpulan masyarakat akan hancur kalau tak mampu merawat ruang publiknya. Semua orang jadi mudah berbicara terhadap apa saja. Menghilangnya kepakaran di ruang publik. Gotong royong bukan jargon. Tapi jantungnya Indonesia. Maka dari itu, mari bergotong royong dengan menjaga ilmu. Agar terlihat mana yang kompeten dan yang tidak. Membawa Indonesia lebih maju."


Jumat, 13 Maret 2020

Sabrang MDP: "Mengenal diri saja mengenal Tuhan, apalagi jika merumat.”


Reportase Milad 3 Tahun Poci Maiyah
Oleh: Lingkar Gagang Poci

Gelap yang kian jatuh, tak membuat semangat runtuh. Jamaah dari berbagai daerah tetap sedia — menyimak seksama. Hujan yang mulai reda — kian menyisakan aroma petrichornya. Setelah Sabrang MDP menjelaskan tentang merumat, berbagai respon pun bermunculan. Respon pertama datang dari pegiat Cirebes (Cirebon-Brebes). “Apa yang menjadikan energi pergerakan mahasiswa tidak sebesar ketika tahun 1998?” berdasarkan dari analisisnya, bahwa kegiatan aksi mahasiswa yang menggugat kebijakan pemerintah tak berefek sebesar di akhir abad ke-20 itu. Pertanyaan selanjutnya dari Kang Trian asal Margasari yang nampaknya sedang dalam keruwetan perjalanan pencarian jati diri sejati. “Ngerumat diri yang sejati itu bagaimana?” dilanjut pertanyaan dari Mbak Karmila, jamaah Cirebes, yang menanyakan bagaimana cara ngerumat diri, dalam konteks gotong royong dari diri sendiri. Menarik. Sangat nampak, sinau bareng Milad Poci Maiyah yang ke-3 ini begitu khidmat — cahaya pemahaman meresap pelan, respon jamaah pun tumbuh satu per satu — tak tertahankan. Menambah syahdu acara Milad Poci Maiyah  ke-3 yang bertempat di GBN Slawi, Jum'at malam sabtu itu. (28/2)

Mas Sabrang mendedar analisisnya tentang demonstrasi atau aksi mahasiswa — yang beliau juga ikut mengamati geliat pergerakan anak muda bangsa ini. Cerita tentang kritik teman-teman mahasiswa di Surabaya, agar beliau juga ikut menggugat kebijakan pemerintah, berjuang (atas nama) membela rakyat, atau turun ke jalan. Entah apa yang merasuki mereka, Mas Sabrang dengan gerilyanya, justru super aktif ‘turun ke jalan’ menemui sedulur-sedulur maiyah untuk ‘revolusi sosial’. Dengan thariqat ikhtiar memperbaharui manajemen bangsa dan negara; dengan makrifat tatanan kenegaraan baru, berbekal bisyaroh komplikasi pemerintahan baru, dan pengorbanan yang tak dapat terukur, bersama sedulur maiyah di seluruh negeri. Turun ke jalan seperti apa yang dimaksud, jika mereka hanya turun ke jalan per momentum, kami tiap pekan, tiap bulan turun ke jalan menguatkan mental, intelektual, spiritual — meski sebagian juga ada yang ikut karena lari dari kejombloan yang radikal. Sungguh nackal nasib padamu, kawan. Sabar ya.

“Menurut saya naif, jika menganggap demo itu memecahkan masalah. Pada akhirnya demonstrasi itu menjadi panggung berjoged/karnaval saja. Lalu berselfi, kemudian pulang, dan melakukan aktifitas hedon seperti kemarin dan sebelumnya." “Rakyat memang kekuatan besar, tapi mereka adalah cair, dan tak bisa dipadatkan,” tidak bisa ‘dilembagakan’, kemudian aksi sebelumnya yang berupa alumni-alumni demo mereka di pertama kali, hanya menyisakan mereka yang terikat dengan suatu misi pribadi. “Tidak ada dalam sejarah sebuah revolusi mental yang besar, kecuali disebabkan oleh darurat sosial. Kita tak akan berubah, selama yang dipikirkan selalu orang vs orang, belum orang vs masalah. Kalau saya mau menebang pohon di hutan, yang saya lakukan lebih dulu adalah mengasah kapaknya. Sebelum berangkat ke ‘hutan’ (medan perjuangan untuk menjadi pahlawan), asah dulu kapakmu.”

Di Maiyah kita sinau tentang ilmu pawang. Kewaskitaan manusia nusantara yang tak dimiliki dan tak akan pernah dimiliki manusia modern dimanapun mereka berada. Ilmu gerilya tingkat tinggi, nampak santai, tapi ternyata telah terhitung dan terkonsolidasi segala sesuatunya. Ketika momentum berjumpa dengan lawan datang, dengan sendirinya lawan itu tak berdaya. Filsafat perang lainnya yang tak kalah tinggi dari Jawa adalah kesaktian orang nusantara dulu, yang mampu memenangkan pertempuran tanpa perang, tanpa pertumpahan darah. Karena yang leluhur kita ajarkan adalah beladiri melawan masalah, orang vs masalah. Bukan petarung hebat, ketika ia mampu menjatuhkan lawannya selama ia adalah orang. Sebaliknya, orang kuat adalah mereka yang mampu mendamaikan (bukan hanya sekedar kalah-menang) amarah dalam dirinya sendiri, dan juga masalah-masalah yang dihadapi dalam lingkup sosialnya. Nampak tegang, tapi ketika masalah berdiri berhadapan, ia mengecup tangan dan mengucapkan salam perdamaian pada sang pawang tersebut.

Kemudian merespon pertanyaan dari Kang Trian, Mas Sabrang menjelaskan tentang konsep diri, “Jika kita mengenal diri, maka kita akan mengenal Tuhan. Mengenal diri saja mengenal Tuhan, apalagi jika merumat, akan menjadi bagian dari cinta yang rasulullah bawa: rahmatan lil alamin." “Sedangkan bagaimana kita tahu apa yang kita cari sedangkan kita sendiri tak tahu apa itu, salah satunya adalah dengan proses eliminasi. Terus berpikir. Karena seringkali kita tidak paham, kita sedang menolong atau justru membebani, termasuk diri sendiri. Kita harus sadar positioning, kesadaran dalam ‘ruang dan waktu’. Kalau misalnya kita menjenguk orang sakit, itu kan baik. Tapi kalau kita menjenguk orang sakit di waktu ia mau istirahat karena kecapean menerima banyaknya penjenguk? Itukan beban juga,” kemudian Mas Sabrang MDP melanjutkan, “Peradaban modern itu dibangun dengan dasar kompetensi, kemudian popularitas, sedangkan peradaban Islam dibangun berdasarkan asas manfaat,” yang paling nampak dari peradaban modern adalah karakter transaksional. Asas kompetensi itu baik, jika dikembangkan menjadi asas manfaat, tanpa harus transaksional. Kamu bisa apa, saya beli. Aku bisa ini, kalau mau harus beli. Maka yang terjadi adalah gap, ketimpangan sosial, buta kebutuhan mendasar umat manusia, tentang cinta, tentang kebermanfaatan, tentang Tuhan.




Sinau bareng Milad Poci Maiyah ke-3 malam itu makin malam semakin khusyu. Respon selanjutnya dari Kang David yang menanyakan tentang hakekat kekuasaan, “Merujuk ke ‘ada’-nya Allah, kita harus menggunakan apa untuk mencapai-Nya? Untuk mengenal yang mewujudkan kita itu caranya bagaimana?” selanjutnya dari Kang Ahmad asal Lebaksiu, “Gotong royong seperti apa untuk ngerumat pejabat-pejabat yang tak kapok korupsi?”
Pertanyaan semakin mendalam, ketika dilanjutkan oleh Kang Subekhi, “Kalau Gus Baha kan mengatakan sanad ilmu itu penting, sedangkan Mbah Nun mengatakan agar berdaulat atas diri sendiri, itu bagaimana kita menyikapinya?
“Pakai apa kita untuk mengenal Tuhan? Akal dan iman. Daripada menggunakan energimu untuk kerumitan, lebih baik menggunakan energi besar itu untuk berbuat kebaikan,” Kang Lu’ay merespon pertanyaan dari Kang David.

Pembahasan Tentang Hakekat

Pernyataan Mas David tentang “Awas ada listik nanti tersengat mati, padalah yang punya kuasa untuk mematikan itu cuma Allah. Tapi kalau Allah berkehendak listrik bisa mematikan bagaimana?. Seperti pernyataan Syech Abdul Qodir al-Jalani “Ilahi anta maqsudi wa ridhoka matlubi a’tini mahababataka wa ma’rifataka” yang artinya Tuhanku, Engkaulah yang kutuju dan ridho-Mu yang kuharapkan, beri daku kecintaan dan makrifat kepada-Mu. Jadi kalau sama Allah urusannya cinta.
Di Maiyah kita berlatih untuk percaya bahwa satu-satunya kepastian adalah mati. Karena kita belum benar-benar terbangun untuk mengerti kebenaran sebelum melewati kematian.

Kalau memang kamu sudah putus asa mencari kebenaran. Kenapa tidak kamu gunakan energimu untuk berbuat kebaikan?


Qul inkuntum tuhibbunallah fattabi'uunii. 
Katakanlah (wahai Muhammad) jika kamu mencintai Allah swt, (bersukur atas nikmat yang telah diberikanNya pada kita), maka ikutilah aku (Muhammad saw). Karena satu-satunya pintu untuk mengenal Allah adalah Nabi Muhammad.

Dan apakah pantas mahluk mensifati Tuhan? Tidak ada mahluk yang bisa mensifati Tuhan. Kita tahu tentang Tuhan juga dari Tuhan sendiri yang memberi tahu. Daripada bingung mencari pangeran lebih baik mencari jodoh. Gelgak Gus Luay membuat jama’ah tertawa gembira.
Dilanjutkan respon dari Sabrang MDP, “Manusia memiliki sesuatu yang tak dimiliki Tuhan, yaitu limitasi. Dan nabi-lah yang melebarkan limitasi manusia, semakin mengenal keterbatasan dirinya. Seperti tetes air yang menuju laut."

Perjalanan manusia adalah bagaimana dia bisa melebarkan limitasinya sampai kembali kepada Yang Maha dan kita sebagai manusia harus menikmati perjalannanya.


Pembahasan Tentang Sanad

"Dan tentang sanad, jelas itu penting. Tapi tidak semua orang dapat mengakses ke kitab-kitab atau para ulama. Harus tetap ada ilmu yang aksesnya mudah didapat semua orang. Dan itu adalah pengalaman. Sanad pengalaman itu langsung dari Tuhan. Itu yang disampaikan Simbah tentang kedaulatan diri. Maka yang mampu mepelajari kitab-kitab, pelajarilah secara sungguh-sungguh. Dan yang baru bisa mengakses pengalaman sendiri, pelajarilah secara sungguh-sungguh juga”

Pembahasaan Tentan Tipe Orang Berfikir

“Tipe berpikir orang itu kan ada empat,” Sabrang MDP melanjutkan. “Ada tipe berpikir deklaratif, yang akrab dengan kata ‘atau’. Contoh, kamu mau buah mangga, atau jambu? Ada tipe kumulatif, yaitu dengan kata ‘dan’, contoh, kamu mau buah mangga dan jambu? Ada tipe berpikir serial, contoh, jika kamu mau jambu, mangga, apel, maka... dan keempat tipe paralel, yaitu berpikir secara komprehensif, dari berbagai sudut pandang, akar-pangkal, luar dalam, dst. Sedangkan kebanyakan pejabat cara berpikirnya sederhana, begitupun rakyat yang memilihnya. Maka di sanalah pentingnya ruang publik, karena darisanalah peradaban akan bergerak.

Pembahasan Tentang Hemofili

Kita sering salah mengartikan kata hemofili, di kamus bahasa indonesia itu berbeda dengan arti yang sebenarnya. Hemofili itu orang-orang yang memiliki interest (ketertarikan/minat) yang sama.” Selama ruang publik belum ada, dan para pejabat kita masih sikut-sikutan untuk menang, bangsa ini tak akan berubah. “Karena itulah kita mau seperti ini, untuk mengangkan mereka yang tak bisa terangkat karena ekonomi, karena tak punya koneksi, dan tak mau sikut-sikutan dengan saudaranya sendiri.”

Semoga dengan berbagai nilai yang tersirat maupun tersurat, dapat menjadi bahan merumat; mengenal, merawat diri, hingga mengenal Tuhan dalam segala perjalanannya.

Senin, 24 Februari 2020

NG3RUMAT


Mukadimah Milad 3 Tahun Poci Maiyah
Oleh: Lingkar Gagang Poci


Terkadang kita meracau, terkadang pula kita mengigau. Itulah perkataan dan penilaian orang-orang di luar sana. Terkadang kita merasa kesepian, terkadang kita merasa tak tentu arah menempuh tuju yang Satu. Jalan sunyi yang benar-benar sepi dengan tari-tari. Entah imajinasi ataukah halwah hati menemani. Itulah rasa-rasa di perputaran dauriah kehidupan tak bertepi. Namun tak mengapa, wa in lam takun ghodlobun 'alayya fala ubaliy. Kami malu dan sangat berendah hati di hadapan Keagungan Cinta-Nya. 

Tak berani kami mengungkap siapa sejatinya kami. Tak bernekat pula kami menguak-nguak misteri. Apakah kami pecinta, pemberontak, pemimpi, penerus para nabi, ataukah bukan apa-apa sama sekali--tak menjadi su'al. Asal Ia dan Kekasih-Nya menerima sungkem dari kami, terkira tak ada yang akan lebih lezat dan manis ketimbang ini. 

Kami tunduk, kami bergembira. Kami taat, kami percaya diri. Kami tiada ialah memang hanya Ia yang Ada. 

Satu-satuNya, tanpa dua, dan tiga. 

Satu-satuNya, meski hidup seribu kali, tetaplah Dia, Yang Ada dan Tiada dua. 

Kami berpasrah, puas, dan kami bergembira menyambut Tajalli-Nya.

Kami mencoba berpegang erat pada-Nya. Menepaki tangga-tangga kehidupan yang tiada kami mengerti ujungnya. Menikmati alunan musik yang Tuhan mainkan dalam ritme-ritme fraktal, namun beraturan. Terbentur dengan beberapa aksidensiyang membuat diri kami harus merasakan hidup dan mati berulang-ulang kali. Namun kami tetap mencoba tenang dan menikmatinya. Sebuah rahasia indah di balik pertikaian alam semesta. Kami melihat ledakan-ledakan besar yang menciptakan kembali kehidupan, betapa estetik dan anggunnya setiap partikel yang berhamburan di angkasa. Kembali bersatu dan menciptakan dunia baru. Terlihat jelas dalam stuktur jagat kosmos kami. Seluruh benda berputar indah membentuk koreografi.

Biarpun kami sendiri melihat keindahan ini. Biarpun kami merasa sangat sunyi dan sepi untuk melihatnya sendiri, tapi kami bahagia menjadi saksidari keagungan-Nya, meskipun kami bagai Ashabul Kahfi yang berada dalam goa selama 309 tahun lamanya. Terasingkan dan tidak mengerti apa-apa tentang kehidupan di luar, tetapi dalam lubuk hati yang terdalam kenyakinan tetap kami pegang.

لّٰـكِنَّا هُوَ اللّٰهُ رَبِّيْ وَلَا اُشْرِكُ بِرَبِّيْ اَحَدًا

Lākinna huwallāhu rabbī wa lā usyriku birabbī aḥadā

"Tetapi aku (percaya bahwa), Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan Tuhanku dengan sesuatu pun." (QS. Al-Kahf 18: Ayat 38)

Tetapi kami tidak tau bagaimana kami harus bercerita tentang keindahan dan keangungan-Nya. Andaikan kami bisa mengajak orang-orang ikut mencintai Allah dan Rosul-Nya, pastilah kami bahagia mampu melihat bersama keindahan dan keagungan-Nya. Karena kami telah sadar akan kesementaraan dan ketaksubtansian segala sesuatu selain Allah (ma siwallah) dan pandangan kami telah melihat bahwa material adalah sesuatu yang tak permanen. Suatu saat akan hancur, musnah, sirna, lenyap, dan tak tersisa di kehidupan kemudian.

Kami menjadikan Allah sebagai satu-satunya subtansi dan mencapai kehampaan-kehampaan dalam sifat dasar seluruh penciptaan semesta. Kami telah menyaksikan (syahdah), menyatakan kepercayaan dan pengakuan kami akan keesaan Allah dan Kerosullan Nabi Muhammad, La ilaha i lla l-Lah muhammadar rosulu l-Lah.

Syahdah akan menuntun manusia kesuatu keluasan (Insyirah) dari seluruh perjuangannya untuk ngerumat (merawat), mempertahankan dan memelihara iman dalam dirinya. Intenfikasi iman dan pengalaman spiritual dalam Islam adalah kelapangan dada (insyirāh al-shadr) sebagaimana Allah SWT berfirman:

اَلَمْ نَشْرَحْ لَـكَ صَدْرَكَ ۙ 

Alam nasyrah laka shadraka

"Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?," (QS. Al-Insyirah 94: Ayat 1)

Sehingga melalui pengalaman-pengalaman tersebut, manusia akan menjumpai suatu ruang megah dalam jiwanya. Menghentikan segala penyempitan-penyempitan yang pernah menekan jiwanyamenjadi dangkal sedangkal dangkalnya. Manusia akan terbebas dari belenggu duniawi dan mendapati langit tertinggi yang menentukan ruang di bawahnya.

Sebab Allah telah meniupkan ruh kepada setiap materi yang berpasrah kepada-Nya. Bagaikan burung yang dibuat Isya dengan tanah liat. Lalu Allah meniupkan ruh kedalamnya sehingga burung tersebut mampu mengepakan sayapnya kelangit. Begitulah jiwa orang-orang yang pasrah kepada-Nya. Tertiup ruh sehingga dia bisa hidup di alam dunia dan merasakan kegembiraan setiap kali menyadari kehadiran Allah. Manusia hidup dan diberi amanah, maka iapun harus taat dan meruwat amanah Allah dengan kelapangan di dadanya.

Allah SWT berfirman:


اِنَّا عَرَضْنَا الْاَ مَا نَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَا لْجِبَا لِ فَاَ بَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَ شْفَقْنَ مِنْهَا وَ حَمَلَهَا الْاِ نْسَا نُ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًا ۙ 

Innaa 'aradhnaa al-amaanata 'alaa alssamaawaati waal-ardhi waaljibaali fa-abayna an yahmilnahaa wa-asyfaqna minhaa wahamalahaa al-insaanu innahu kaana zhaluuman jahuulaan

"Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh," (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 72)

Seorang pun bertanya-tanya tentang tulisan ini, "Lantas siapakah yang dimaksud kami dalam tulisan ini? kami pun ikut bertanya-tanya dan bingung tentang diri kami sendiri. Sebab kami tidak pernah mendapati kepastian siapa saja yang termasuk golongan kami dalam tulisan ini. Berapa jumlah banyak diri kami. Kami tidak tahu sama sekali dan barangkali kami tidak termasuk dalam golongan kami yang disebutkan dalam tulisan ini" Allah pun akhirnya menjawab

قُلِ اللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوْا ۚ لَهٗ غَيْبُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ اَبْصِرْ بِه وَاَ سْمِعْ ۗ مَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِه مِنْ وَّلِيٍّ ۗ وَلَا يُشْرِكُ فِيْ حُكْمِه اَحَدًا

Qulillāhu a'lamu bimā labiṡụ, lahụ gaibus-samāwāti wal-arḍ, abṣir bihī wa asmi', mā lahum min dụnihī miw waliyy, wa lā yusyriku fī ḥukmihī aḥadā


"Katakanlah, Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); milik-Nya semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tidak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain Dia, dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan." (QS. Al-Kahf 18: Ayat 26)