Sabtu, 15 Februari 2020

PENYAKIT HATI YANG SUSAH DISEMBUHKAN



Reportase Poci Maiyah Februari 2020
Oleh: Lingkar Gagang Poci

Dalam kitab “Bidayah al-Hidayah” karya Imam Abu Hamid al-Ghazali. Ada hal yang sangat menarik dan masih sangat relevan dengan situasi kehidupan kita hari ini. Imam al-Ghazali mengatakan : 

“Janganlah kau memvonis syirik, kafir atau munafik terhadap seseorang ahli kiblat (orang yang masih shalat menghadap arah ka’bah). Karena yang mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati manusia, hanyalah Allah SWT. Maka, janganlah kau ikut campur (intervensi) dalam urusan hamba Allah dengan Allah SWT. Ketahuilah, bahwa pada hari kiamat kelak kau tidak akan ditanya: “mengapa kau tidak mau mengutuk si Anu? Mengapa kau diam saja tentang dia?”

Bahkan andaikata pun kau tidak pernah mengutuk Iblis sepanjang hidupmu, dan tidak menyebutnya sekalipun, kau pun tidak akan ditanyai dan tidak akan dituntut oleh Allah nanti di hari kiamat. Tetapi jika kau pernah mengutuk seseorang (makhluk Allah), maka kelak kau akan dituntut (oleh Allah SWT)”.

Mbah Nahar mengawali Sinau Bareng Poci Maiyah dengan penjelasan dari Kitab Bidayatul Hidayah dalam tema kali ini ‘Munafik’. Setelah dibuka dengan alfatihah dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Kang Mustofa sebagai moderator mengajak sedulur-sedulur Poci Maiyah untuk bertadarus tema.

Pertemuan sinau bareng kali ini, Jumat malam, 7 Februari 2020. Bertempat di Gedung Rakyat, Slawi. Berbeda dari biasanya, yang bertempat di Monumen GBN. Meski hujan lamat-lamat, namun jamaah yang berdatangan semakin khidmat. Di depan mereka, sudah duduk Kang Mus yang akan memoderatori sinau bareng sampai tengah malam nanti. Di sampingnya, sudah duduk menemani Kang Mus, ulama besar Poci Maiyah, Mbah Nahar. Menyapa sedulur-sedulur yang datang malam itu, Mbah Nahar mengawali dengan nasihat dari Imam Al Ghazali. Disusul dengan cerita Kang Moka tentang seorang atlet olahraga. Atlet itu telah memenangkan banyak perlombaan tingkat Nasional dan Asia. Namun kecewa, karena merasa tidak dihargai. Tidak mendapat dukungan oleh pemerintah. Akhirnya dia memutuskan untuk berhenti menjadi atlet. Membakar seluruh medali yang pernah didapatkannya, karena rasa kecewa tersebut. Suatu saat dia diundang pada sebuah acara, untuk menjadi narasumber dan motivator kepada para pemuda, namun dia menolak dengan alasan “Saya tidak berhak memberikan sebuah motivasi kepada mereka, karena saya sendiri telah gagal,” ia merasa telah gagal meyakinkan dirinya sendiri, untuk tetap menjadi atlet. Meskipun dia telah memenangkan banyak perlombaan, dia mengetahui dirinya telah gagal dan mengerti jika orang gagal tidak berhak memberikan motivasi terhadap orang-orang yang ingin sukses. Dari sini Kang Moka menjabarkan pelajaran yang didapatkannya. Menurutnya, orang seperti itulah yang merupakan ciri-ciri orang yang tidak munafik. Karena dia mengerti dirinya telah gagal, lantas dia merasa tidak pantas baginya untuk memberikan motivasi kepada seseorang. Orang yang tidak munafik adalah orang yang mengerti batas dan peranannya.




Lalu disusul pertanyaan menarik dari Kang Ajat, “Apakah ingkar janji termasuk munafik?” sebuah pertanyaan yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan tersebut langsung mendapat respon dari Kang Farid. Menurutnya, yang berhak menganggap munafik atas diri seseorang itu hanya Allah. Manusia tidak memiliki hak untuk menuduh seseorang adalah munafik. Nabi Muhammad hanya memberikan simulasi, berupa tanda-tanda orang munafik namun tidak langsung menuduhnya. Mbah Nahar selaku penyaji, ikut menambahkan apa yang telah dikemukakan oleh Kang Farid. Dia mengingatkan jika seseorang telah mengetahui ciri-ciri orang munafik, maka pengetahuan tersebut harus diperlakukan untuk dirinya, sebagai bahan untuk muhasabah. Mbah Nahar mengkutip sebuah Hadis Nabi yang mengemukakan salah satu ciri orang munafik adalah:

 وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ
Artinya “Jika berjanji diingkari”

Dari hadis ini bisa kita bedah bersama pengertiannya. Karena ingkarnya seseorang atas sebuah janji, juga memiliki alasan tersendiri yang terkadang tidak ia katakan. Dicontohkan semisal Yi Fahmi memiliki uang 5jt. Lalu Kang Ajat meminjam uang 5ribu kepada Yi Fahmi, dan berjanji akan membayarnya minggu depan. Setelah minggu depan, Kang Ajat tidak melunasi utangnya. Yi Fahmi menagih uang yang dipinjamkan kepada Kang Ajat. Secara rasional, perlakuan Yi Fahmi untuk menagih uang kepada Kang Ajat adalah benar adanya. Memang uang itu merupakan miliknya, namun secara sosial ini tidak baik. Mengingat kondisi Yi Fahmi yang masih memegang uang jutaan, namun masih memikirkan uang 5ribu yang dipinjam Kang Ajat. Dari Kang Ajat sendiri, secara rasional tidak melunasi utang pada hari yang telah dijanjikan adalah salah. Namun jika dalam waktu itu kondisi Kang Ajat memang sedang tidak memiliki uang sedikitpun, sehingga tidak bisa membayar uatang sesuai dengan yang telah ia janjikan, apakah itu merupakan kesalahannya? dan ia termasuk kedalam golongan orang munafik? Ini menjadi pertanyaan besar karena mungkin kemunafikan juga tidak bisa langsung diartibutkan kepada seseorang, tanpa tau kejelasan yang sebenarnya. Ini sebabnya Mbah Nahar mengatakan “Untuk urusan munafik itu masalah dia pribadi dengan Allah” jadi orang lain tidak berhak menuduhnya munafik. Mbah Nahar juga mengatakan kepada sedulur-sedulur Maiyah, untuk mengerti dan sadar akan dirinya sendiri. Jika merasa ingkar janji, maka jangan sering menjajikan sesuatu kepada orang lain. Makanya di Islam diajarkan untuk mengucapkan InsyaAllah (Semuanya tergantung ketentuan Allah). Namun pernyataan InsyaAllah harus didasarkan pada niat yang bulat, keinginan untuk menepati yang dikatakannya harus 99% dan ketentuan Allah itu 1% . Dengan begitu, kamu akan dipercaya oleh orang lain. Bukannya menjadikan ucapan IsyaAllah sebagai sebuah alasan untuk menolak sesuatu dengan cara yang halus.

Tak lama kemudian, Mas Hamzah mengajukan pertanyaan mengenai mukadimah. Hal yang ditanyakan adalah kesambungan antara tema munafik dengan ayat al-Hasyr ayat 13 yang terlampir dalam mukadimah. Pertanyaan ini langsung direspon oleh Kang Farid. Ayat al-Hasyr ayat 13 yang berbunyi:

تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ
Artinya :"Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada beraqal."

Memiliki keterkaitan dengan tema malam ini, karena ayat ini menceritakan sekelompok orang yang berkumpul, namun hatinya tak saling terhubung. Ini sama saja mereka berpura-pura senyum dihadapan orang, namun ternyata dalam hatinya sedang marah terhadap orang tersebut. Mbah Nun pernah menuliskan dalam bukunya jika ada sebuah burung yang menjadi akar kata dari kata munafik, intinya burung tersebut kalau ada sesuatu yang mengkhawatirkan atau menakutkan, dia akan menyembunyikan kepalanya. Ini merupakan sebuah simbol, jika kemunafikan adalah orang  yang menutup-nutupi kebenaran.

Dan pertanyaan lain dari Mas Hamzah lagi “Dalam kitab Syu’abul Iman, menyatakan jika munafik merupakan penyakit yang sulit disembuhkan, lantas bagaimana cara mengobatinya?” dari pertanyaan ini Mbah Nahar menjawab “Setidaknya jika sulit disembuhkan maka bisa diminimalisir.”

Dari beberapa pertanyaan yang telah disinauni bersama, Gus Lu'ay manyatakan jika ingin mempelajari munafik, maka kita harus tahu level-level kemunafikan. Dia membagi level-level kemunafikan tersebut menjadi tiga level dengan bahasa yang agak kekinian. Level pertama, Newbie. Level kedua, Intermedia Tengah. Level ketiga, Hard. Dari tingkatan itu, setiap orang dapat mendiagnosa. Tanda-tanda kemunafikan dalam dirinya itu dalam level yang mana. Diagnosa ini penting, seperti yang disampaikan Mbah Nahar sebelumnya, jika tak bisa disembuhkan, setidaknya diminimalisir.




Makin malam, sinau tema munafik ini makin hangat. Ditambah humor-humor dari Mbah Nahar, Kang Bekhi, dan Kang Mus--membuat seakan-akan klaim munafik dari orang lain itu bukan sesuatu yang menakutkan. Dan memang demikian, dalam sinau bareng ini tak sedikit pun, baik pegiat ataupun sedulur poci maiyah yang datang, menganggap sesama orang beriman itu munafik. Entah itu keluarga, sahabat, atau bahkan orang-orang yang memang belum tersentuh cahaya hidayah di dalam hatinya. Seperti guyon dari Gus Lu’ay di ujung responnya, “Tetap bergembira meski hidup kita tak berguna.”

Pertanyaan terakhir nampaknya menjadi formula dalam sinau bareng malam itu, yaitu, “Apa bahayanya jika seseorang munafik di dalam perjuangan kita?” selama kurang lebih empat jam sinau bareng, mungkin closing pertanyaan inilah yang menjadi semacam rambu-rambu untuk kita semua. Bahwa, jika memang ada seseorang yang mampu mengetahui seseorang dalam kelompoknya itu adalah munafik, maka itu benar-benar akan memecah belah kekompakan. Persatuan. Sebagai manusia yang bukan nabi, mungkin itu adalah ujian terberat dalam berjamaah. Pertama, kita satu sama lain tak bisa menghakimi siapa saja yang bahkan memiliki tanda-tanda munafik, sebagai orang menafik. Karena itu adalah hak Allah dan Rasulullah. Kedua, tapi jika itu dibiarkan, maka perjuangan akan menghadapi kendala yang besar. Ibarat mobil, jika ada bagian dalam mobil yang rusak dan tak bisa diperbaiki atau diganti, maka perjalanan pun tak lancar lagi. Lalu, bagaimana bisa kita mengganti atau memperbaiki jika yang tahu hanyalah Tuhan? Klaim munafik jelas itu hanya Allah dan Rasulullah saja yang tahu. Tapi tanda-tandanya, setiap orang punya potensi yang sama. Selamatkan manusianya. Pancarkan cahaya ilahi, pada setan-setan yang bersembunyi dibalik setiap sifat kita.


Rabu, 05 Februari 2020

MUNAFIK



Mukadimah Poci Maiyah Februari 2020
Oleh: Lingkar Gagang Poci

Saya munafik, Anda pasti bukan. Saya hampir tidak pernah melakukan suatu perbuatan apa pun yang saya maksudkan benar-benar untuk perbuatan itu sendiri. Hati saya penuh pamrih tersembunyi  pikiran saya sarat strategi penipuan-tak hanya kepada orang lain, melainkan juga kepada diri saya sendiri. Kalau saya shalat, bukan saya benar-benar shalat. Saya ngakali Tuhan. Shalat saya hanya alat untuk mencari kemungkinan tambahan agar tercapai kepentingan tertentu yang saya simpan. Anda tak boleh tahu. Misalnya, shalat saya bertujuan agar cita-cita saya tercapai di bidang kekuasaan, kenaikan pangkat, atau pembengkakan deposito. Tapi, apa aslinya pamrih saya, Anda tak akan tahu. Sebab Anda terlalu meremehkan atau under estimate terhadap tingkat kejahatan dan keserakahan saya.

Tulisan di atas dari buku Mbah Nun yang berjudul, 'Jejak Tinju Pak Kyai : Burung Pilkada'. Sesuai tema kali ini, kita akan mensimulasikan strategi setan dalam diskusi sinau bareng malam ini.

Apa itu munafik? Em, bukankah definisi nantinya akan subyektif? Baiklah, kita kecup salim lengan Rasulullah, menggunakan dasar yang beliau sampaikan. Tanda munafik ada tiga - di riwayat lain ada empat. Pertama, dusta menjadi karakter dirinya. Kedua, ingkar janji itu semudah meludah. Ketiga, jika diberikan amanah, dia menyepelekan dan tak mau menyelesaikan. Keempat, curang, atau tak mau mengakui kekalahan ketika berdebat, atau menggunakan cara curang untuk membalas orang yang merasa mengalahkannya.

Sebelum dilanjut, apa hukum orang menuduh orang lain munafik? Mengapa tanda munafik sesulit itu? Akan susah mengukur ketepatan, misal, dusta menjadi karakter, mudah mengumbar janji seumur hidup, dan sebagainya. How if - bagaimana jika, Rasulullah menentukan tanda itu memang agar umatnya kelak tak mudah menilai, atau bahkan menuduh orang lain munafik? Seperti syarat orang beriman terhukumi zina: harus melihat langsung ketika 'tiang' masuk ke 'liang', disaksikan live (langsung) 4 orang yang melihat itu, dan atas dasar kerelaan bukan perkosaan agar jelas mana yang akan dihukumi cambuk, 80 kali, 100 kali, atau bahkan rajam sampai mati. Agar umatnya kelak tak mudah mempersangkai atau bahkan menuduh perempuan beriman berzina. Bahwa orang-orang beriman, tak dikehendaki rasulullah untuk saling menuduh munafik satu sama lain.

Lalu, bagaimana mangatasi virus tersebut untuk diri sendiri, dan orang lain?

Misalnya dusta yang mengkarakter. Apakah peringatan fa bi ayyi-ala-i robbiku ma tukadziban, kadzib, kadzaba, termasuk itu? Orang yang mendustakan tiap rahmat yang Allah berikan, sampai harus diingatkan 31 kali. Dan apakah ayat itu bisa menjadi formula, agar kita berhati-hati pada dusta, yang sebenarnya itu lebih pada kufur nikmat? Lalu kepura-puraan, bagaimana mengukurnya, itu benar kamuflase atau justru ketulusan? Manusia akan kebingungan untuk memastikan ini. Karena wilayah hati, sepenuhnya adalah urusan-Nya.

Bagaimana dengan ungkapan, bermuka dua, srigala berbulu domba? Uang koin kita bermuka dua, berarti itu tanda munafik? Em, ini melenceng jauh. Bagaimana dengan srigala dan domba yang dibawa-bawa? Tidak ada binatang sebuas sekaligus semalas manusia. Tidak ada binatang kejam, hewan malas, apalagi srigala dan domba, bukankah baik buruk itu hanya untuk manusia yang memang diberikan dua jalan itu? Srigala tak bisa disebut kejam ketika dia menghabisi rusa. Hanya manusia yang bisa disebut kejam karena membiarkan manusia lain tertindas, sedang sebenarnya ia mampu untuk menolongnya. Sekalipun, misalnya hanya dengan ketulusan doa.

Apakah sama munafik di depan manusia, di depan Kanjeng Nabi, dan di Hadapan Allah?

Jika kita belajar jejak hidup Kanjeng Nabi, hanya Allah yang mengetahui ukuran seseorang itu munafik. Lalu diturunkannya ayat yang menjelaskan kemunafikan orang-orang tersebut. Banyak contoh dalam perjanjian hudaibiyah, perang uhud, perang khondak, Abdullah bin Ubay saat mau disholati, dsb. Apakah, karena memang di jaman itu Rasulullah, sebagai simbol kebenaran masih hidup, sehingga yang berpura-pura beriman disebut munafik? Kubunya jelas: Rasulullah sang kebenaran, yang pura-pura disebut munafik, dan yang menolak disebut kafir. Lalu, bagaimana sekarang, tidak ada satu manusia pun jaman ini yang kebenarannya se-legitimate (sah, kuat) Rasulullah? Bagaimana dengan yang terjadi di jaman ini, ketika sesama orang beriman saling menuduh munafik, tanpa benar-benar paham kemunafikan itu apa. Tak paham presisinya, komprehensi (kemenyeluruhan) arah pandangnya, sebab sosio-psikologisnya, pangkal dan ujungnya mengapa seseorang itu berdusta, ingkar janji, khianat, atau bahkan curang.

How if, bagaimana jika, itu (kemunafikan) memang adalah strategi jenius setan yang dilempar seperti dadu, di tengah-tengah orang beriman agar mereka satu sama lain tak dapat saling (di)percaya, tak mampu saling memahami : tahsabuhum jami'an wa qulubuhum syatta?

Jumat, 31 Januari 2020

Rumah Paling Ramah



Rumah ini pilihan Ibu. Dipilih karena batu-batu rindu. Disapu oleh berbagai waktu. Karena Ibu, lalu rumah ini juga pilihan Ayah. Dibangun dengan payah.  Lahirlah aku: Kemala Dewandaru. Kau pasti sudah bisa menebak siapa ayahku, bukan? Ya, Dewandaru. Lengkapnya, Ahmad Dewandaru.


Tapi aku tak mau bercerita perihal Ayah. Karena kata Ibu, Ayah sedang melukis senyum di awan. Tak bisa diganggu. Sekedar menceritakannya pun tak boleh kata Ibu. Ku anggukan kepalaku, tiap kali tangan Ibu lembut membelai kepalaku.

"Nak, kamu ndak apa-apa ndak berangkat sekolah. Asal tetep giat belajar, yah..." tuturnya lembut.
"Kenapa begitu, Bu?"
"Sebab sekolah hanya satu tempat belajar. Kehidupan adalah tempat kamu belajar sesungguhnya. Agar... "
"Agar punya jiwa yang lembut. Tak hanya akal yang cerdas!" ucapku ceria.
"Hafal, yah?"

Aku masih ingat, pagi ini Ibu mengucapkannya ke dua ratus tujuh puluh  dua kali. Ya, aku menyebut itu karena aku selalu menuliskannya di buku diary.

**

Tiga hari lagi ulang tahun Ibu. Aku tak memberi apapun sebagai hadiah untuknya. Sebab ia pun tak suka merayakannya. Bukan sebab halal haram yang dikatakan agama. Ibuku jarang sekali melarang dan memerintahkan sesuatu padaku, langsung menyebut "Ini haram! Itu halal!" Meskipun dengan begitu pun sah-sah saja. Namun ia berbeda. Ia selalu menjelaskannya begitu ramah, lembut, dan bersahaja.

"Bu, Kemala ijin pergi ke rumah temen,"
"Mau ada apa, Nak?"
"Dia minta bantuan Kemala ngerjain tugas,"
"Kenapa nggak temennya aja yang kesini?"
"Kendarannya lagi mogok. Ndak tega kalau suruh ngangkot. Biar Kemala aja kesana. Sekalian main,"
"Kemala ndak berangkat sekolah. Tapi belajar ke rumah temen?"
"Kan kata Ibu kehidupan adalah tempat belajar yang sesungguhnya," ucapku seraya menirukan gaya Ibu saat mengucapkannya. Tersenyum lembut. Candaku.

Aku pun pergi membawa senyuman. Tanpa perlu ku ambil dulu dari awan. Ataupun susah-susah ku lukis dulu seperti pekerjaan Ayah. Entahlah. Aku tak mau mengingatnya. Yang ku ingat: aku mau kasih hadiah ke Ibu. Apapun itu.

**
Pagi ini temanku mengabari. Agar aku segera berangkat karena jadwal presentasi. Aku tak begitu bersemangat diri. Ibu mendekatiku.
"Kenapa belum berangkat, Nak?"
"Males, Bu. Dosennya gak enak. Sering gak masuk. Kalau presentasi, juga gitu-gitu aja yang dengerin. Kayak ndak antusias," keluhku.
"Niat Kemala kuliah apa?"
"Ya belajar, Bu,"
"Nah, tidak ada yang sia-sia dari orang yang menempuh perjalanan menuntut ilmu. Belajar. Bahkah ikan di lautan pun turut mendoakan spesial untuk mereka. Masa ndak mau dido'akan?"
"Meski Ibu selalu nasehatin Kemala belajar ndak harus di kelas, sekolah, dsb. Tapi bukan berarti jadi males. Yah?"
"Iya, Bu. Nak, kamu ndapapa ndak berangkat sekolah. Asal tetep giat belajar, yah..." aku mengulang gaya Ibu saat menasihatiku. Dengan senyum lembutnya. Senyum paling ramah.
"Sebab sekolah hanya satu tempat belajar. Kehidupan adalah tempat kamu belajar sesungguhnya. Agar... " aku masih menirukan gayanya.
"Agar punya jiwa yang lembut. Tak hanya akal yang cerdas!" ucap Ibu melanjutkan intonasiku.
"Kemala sayang Ibu," ku peluk ia dan bersegara berangkat ke kampus.

**
"Kue spesial untuk Ibu. Perempuan teramah sepanjang rumah,"
"Lho, kok hanya sepanjang rumah?"
"Karena rumah tak pernah terukur luasnya. Tapi di sana kita bisa rasain kedalamannya. Mana rumah yang penuh ramah. Dan mana rumah yang penuh jengah."
"Hah?"
"Iya. Itulah rumah hati. Ibulah rumah terrraamaah," ku peluk ia penuh kasih.
"Nak, terimakasih, ya. Kamu satu-satunya anak Ibu yang lembut dan penuh kasih,"
"Kan emang anak Ibu cuma satu, kan?"
"Kamu tuh ya... " ia memelukku penuh kasih.
Ku lihat matanya mulai gerimis. Menitikkan air sedih dan bahagia. Bahagia dan sedih. Namun, tak kan kubiarkan menjadi hujan deras.

"Ibu, jangan sedih,"
"Ibu bahagia, Nak,"
"Ibu pengin apa dari Kemala?"
"Ibu tak punya keinginan... "
"Harapan? Setidaknya apa yang harus Kemala lakukan buat Ibu?"
"Ibu hanya berharap bisa memesan awan untuk menjagamu, kala Ibu tak lagi bisa bersamamu, Nak."
"Ibu bicara apa, Bu? Maafin Kemala kalau menyakiti hati Ibu," kupeluk ia erat. Dan ekor matanya makin menderas. Tak bisa kutebas.
"Nak, Ibu juga punya hadiah untukmu. Lupa Ibu ambil. Sudah Ibu taruh di meja samping kamar Ibu. Tapi Ibu agak pusing, Nak."
"Ibu istirahat dulu aja. Kan besok nanti bisa Kemala ambil sendiri. Ini masih terlalu dini hari. Ibu istirahat aja, ya."

**

Aku membuka sebuah kotak kecil di bekas kamar Ibu. Yang berdindingkan kesunyian. Beratapkan kesabaran. Sebuah kotak persegi berlapiskan warna hitam. Dan bermotifkan bunga matahari yang di atasnya ada awan. Ku buka pelan sepotong surat di dalamnya. Digulung manis, berpita suci.

Untuk anakku, Kemala Dewandaru
 
Maafkan Ibu yang selalu tak membolehkan bertanya tentang Ayah.
Bahkan sekedar menceritakannya.
"Ia sedang melukis senyuman di awan"
Begitu kataku kepadamu, selalu.
Entah, bagaimana kamu memahaminya, Nak.
Ibu hanya takut, kamu membenci Ayah.
Atau mengandung luka dengan payah.
Saat kau mengenal kata Ayah.
Tapi mungkin ada saatnya kau pun akan mengetahuinya, Nak. Maka Ibu menuliskannya. Dengan tinta segala kepasrahan diri.
"Ayahmu bersama bunga yang lain. Meninggalkanmu saat batu-batu rindu rumah: berdiri gagah."
Tapi jangan khawatir, Nak. Ibu akan selalu memesan awan untuk menjagamu. Di saat mata terbuka. Maupun terlelapku. Entah bagaimanapun Ayahmu, Ibu harap tak ada kebencian yang tumbuh setelah kau membaca surat ini, Nak.
 
Dari Ibumu yang semoga selalu memiliki jiwa yang ramah sepanjang rumah; seperti katamu.
 
Kinasih.


Ibu, kenapa pergi secepat ini? Tangis batinku.


ANA






Senin, 27 Januari 2020

Menuju Cahaya

Cahaya Bergemerlapan #1


•••♥•••
Duhai pertanyaanku.
Aku bertanya kepadamu.
"Akankah ada jawaban di Alam Semesta ini yang mampu meyakinkan seluruh isi dari pertanyaan yang engkau ajaukan?"

Aku bertanya,
Kepadamu,
Wahai engkau yang penasaran dengan kehidupan semesta.

"Aku tak mengerti hidup ini.
Aku selalu bertanya siang dan malam.
Diriku dirudug rasa penasaran.

Aku ketakutan.
Aku kesepian.
Aku sendirian.
Aku kebingungang untuk menjawab pertanyaan ini."

"Aku tau,
Aku tau.
Kita jatuh bersama.
Berfikir...
Bagaimana caranya terbang ke angkasa.
Sayang...
Aku tahu semua terluka.
Aku tau semua berduka.

Dikhianati dunia.
Pehuh putus asa.
Kecewa.
Merapati tangis.
Sedih yang tiada hentinya.
Tapi siapa yang peduli dengan kisah ini?.
Siapa yang peduli perjuangan ini?.
Katakan kepadaku siapa yang memperdulikan ini?.
Katakan?.
..

Sebelum aku pergi menuju Cahaya.
Kamu tidak akan bisa menghalanginya.
Bait suci dalam hatimu adalah tempat ibadahku.
Kamu harus tau, Sayang.
Kamu harus tau jika aku akan mengajakmu pergi menuju Cahaya.

•••♥•••

Ketika aku pergi, ya aku pergi.
Aku akan dekat dengan Cahaya.
dan aku akan sirna terbakar Cinta.
Ya, ketika aku dekat dengan Cahaya.
Hanya akan ada dia, ya.
Aku akan tiada menyatu dengannya.
Ya, ketika aku pergi.
Aku akan dekat dengan Cahaya.
Dan aku akan sirna terbakar Cinta.
Ya, ketika aku dekat dengan Cahaya.
Hanya akan ada dia yang ada.
Dan aku akan sirna.
Ketika aku dekat dengan Cahaya.

•••♥•••

*Rizki Eka Kurniawan

Rabu, 22 Januari 2020

Ketidaktahuan Juga Adalah Pengetahuan

Nyaur Tadabbur Daur




Orang Maiyah tidak rendah diri untuk menemukan dirinya tidak berdaya atas sesuatu hal, dan tidak menjadi mungguh menyangka dirinya berdaya atas hal lain. Orang Maiyah tidak memfokuskan pandangan dan gerakannya pada perjalanan dirinya sendiri, melainkan pada Tuhan dan penugasan-Nya. Daur 18 : Hijrah Maiyah.

"Dari pembelajaran yang Mbah dedarkan," Mbah Markesot bertanya pada Kixut (panggilan Jon Quixote) sebelum diizinkannya berkelana. "Apakah manusia yang meminta pada Tuhan agar diciptakan, manusia ditawari untuk diciptakan, atau dipaksa diciptakan, menurutmu yang mana?"

"Apakah pengetahuanku tentang itu penting, Mbah?" tanya Kixut balik. Dari kecil memang dia terlatih mencari celah tanya dari apa saja yang disampaikan orang-orang. Saat baru bisa merangkai kata, Mbah Sot ingat, Kixut bertanya pada ibunya yang orang priyangan itu. "Mah, kalau bumi itu artinya rumah (bahasa sunda), kenapa orang-orang (manusia) suka merusak rumahnya sendiri?" hanya karena dia sering melihat orang-orang buang sampah di sungai.

"Kenapa kamu bertanya begitu?" sambil tersenyum, Mbah Sot bertanya balik.

"Bukankah Mbah Sot yang mengajarkan, kalau sebaiknya selalu mengutamakan petunjuk Allah daripada pengetahuan diri kita sendiri?"

"Haha," Mbah Sot tertawa girang. "Betul kamu, betul. Jadi, sudahkah kamu mendapat petunjuk tentang tiga hal yang Mbah tanyakan tadi?"

"Sebentar Mbah," kata Kixut sembari membuka quran digital android di tangannya. Remaja menjelang dewasa ini, nampaknya diajari untuk tak jauh-jauh dari 'rahmat terbesar' itu oleh kakeknya. "Jika hidup ini adalah tugas dan tanggungjawab yang nantinya diminta laporan akhirnya, maka inna arodlnal amanata alaa samawati wal ardli¹, dan karena itu, manusia ditawari, lalu meminta, kemudian diciptakan,"

"Lalu, mengapa di akhir ayat itu tuhan mengakhiri dengan, innahu kana dholuman jahuula? Tentu saja, jika kamu sudah mendapat jawab dari petunjuk akal yang dicahayai-Nya," Mbah Sot tak mau dibalas pertanyaan lagi nampaknya.

"Kalau ini, gimana Mbah, kholaqnahu min nuthfah fa idza huwa khosyimum mubiin²?"

Mbah Sot angguk-angguk sembari tersenyum dan menepuk pundak Kixut.

"Pahamilah, di maiyah yang kita mesrai bersama, Orang Maiyah tidak rendah diri untuk menemukan dirinya tidak berdaya atas sesuatu hal, dan tidak menjadi mungguh menyangka dirinya berdaya atas hal lain. Orang Maiyah tidak memfokuskan pandangan dan gerakannya pada perjalanan dirinya sendiri, melainkan pada Tuhan dan penugasan-Nya," pesan Mbah Sot. "Menyadari ketidaktahuanmu tentang Tuhan juga adalah termasuk hidayah (ma'rifat). Memahami ketidaktahuan adalah termasuk pengetahuan, dan mungkin itu yang mendasar, juga sangat penting. Kita tak lantas merasa rendah dengan ketidaktahuan, karena kita tak akan pernah berhenti belajar. Lalu kita pun tak lantas merasa mampu, apalagi pandai, ketika satu dua persoalan hidup dapat kita tuntaskan. Karena sejatinya itu adalah pertolongan Tuhan. Dimanapun kamu berada, Allah dan rasulullah yang menjadi tujuan kita, dan sumber mata air petunjuk utama. Selanjutnya, gunakan akalmu,"


¹Al-Ahzab ayat 72
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسٰنُ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.



²Ya Sin ayat 77
أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسٰنُ أَنَّا خَلَقْنٰهُ مِنْ نُّطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُّبِينٌ
Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!

Jumat, 17 Januari 2020

Salah Satu Cucu Mbah Markesot

Nyaur Tadabbur Daur 



Ma'iyah dan ma-iyah, yang pertama pakai 'ain, dan yang kedua pakai hamzah, hampir sama. Yang pertama itu berarti suatu wujud kebersamaan, membersamai, sedang yang kedua berarti air yang diturunkan dari langit, berjamaah. Dari bumi tumbuh ma'iyah, dan dari langit Tuhan turunkan ma-iyah : keduanya adalah berkah.

Jika kemunculan Mbah Markesot susah teridentifikasi, entah titisan Semar yang mampu keluar masuk dimensi lahir ataupun batin tanpa visa dan pasport, atau manusia yang lahir dari batu raksasa yang diturunkan dari surga, begitupun salah satu cucunya itu. Lahir tumbuh dari ma'iyah, diturunkan dalam benih air langit atas perintah Tuhan. Siapa dia? Tapi, untuk apa identitas jika cinta adalah rumahnya? Bukankah, tak perlu menunjukan KTP, hanya untuk membuktikan kita adalah manusia yang cenderung dalam berkasih sayang? Kecurigaan hanya untuk mereka yang tak menyempurnakan ikhtiar, bahwa Tuhan tak pernah jauh mengawasi kita dekat-dekat.

Ia adalah Jon Quixote, cucu Mbah Markesot yang entah di koordinat ruang dan waktu mana, tumbuh dari jutaan benih kebaikan yang beliau tanam. Tak peduli tempat, karena bahkan dari bebatuan pun dapat tumbuh bebungaan. Meski Jon tak seindah bunga, apalagi mawar yang sering jadi korban perkosaan, yang pasti ia lahir dengan misi kebaikan dan kebermanfaatan untuk banyak orang. Seperti hujan, air-airnya diperintah Tuhan ke tempat-tempat yang membutuhkan keberkahan. Meski bumi nampak basah dan kacau jika airnya berlebihan, tak ada keburukan yang pernah Tuhan berikan pada manusia. Seperti pelangi, orang-orang bergelar terpelajar mengatakan itu adalah cacat langit setelah hujan, tapi untuk anak-anak yang berlarian di bawah hujan, itu keindahan yang sangat mengenang. Di langit manapun, titik-titik air hujan akan melukis pelangi setelah mentari kembali menerangi. Bahkan cacing-cacing, di tanah manapun mereka terpendam, akan tercipta labirin-labirin indah meski mereka tak memiliki tulang dan cakar untuk menggali. Dan tokoh kita itu, Jon Quixote, jika binatang saja tahu untuk apa mereka diciptakan, maka mengapa manusia tak memahami untuk apa Tuhan mengadakannya, dan semesta yang menampungnya?