Kamis, 19 November 2020

Hewan yang Berpikir




Reportase Poci Maiyah November 2020

Oleh: Lingkar Gagang Poci



Sebagaimana tubuh, hati juga bisa lelah, carikan untuknya hikmah-hikmah yang indah. -Nahjal-Balaghan, Sayiddina Ali bin Abi Thalib

 

***

 

Bulan Oktober ini Poci Maiyah membahas satu tema bertajuk ‘Mbatin’, sesuatu yang semua orang pernah merasakan, mengalami, dan melakukannya di kehidupan. Pembahasan tema kali ini seakan sangat dikuasai oleh banyak orang sehingga setelah sesi pembacaan mukodimah selesai, banyak repson bermunculan.

 

Mbah Nahar menjabarkan pengertian mbatin seperti sebuah wadah (ruang) yang menampung banyak hal termasuk di antaranya ada prasangka baik dan buruk (khusnudon/suuzon), perkiraan, dan dugaan yang tak terucap ke luar. Jadi yang dimaksudkan Mbah Nahar lebih kepada sesuatu yang sifatnya psikis, terjadi di dalam diri seseorang. Tapi mbatin sendiri tak sekedar bersifat psikis, karena mbatin juga mempengaruhi tindakan seseorang ke luar seperti apa yang dikatakan oleh Mbah Bekhi bahwa semua hal yang ada di dalam tak akan mungkin secara terus menerus terpendam, ia pasti akan keluar menjadi sebuah tindakan.

 

Pengertian akan mbatin menjadi sangat beragam, setiap orang memiliki pengertian yang berbeda, mungkin karena mereka mengalaminya dengan pengalaman yang berbeda pula. Pengertian mbatin menurut Mas Azam lebih beda lagi dari Mbah Nahar ataupun Mbah Bekhi, baginya mbatin lebih condong kepada pertanyaan-pertanyaan esensial seperti pertanyaan "Siapa diriku? Untuk apa aku diciptakan? Apa yang harus aku lakukan?". Namun ada bias yang seringkali membuat kita susah untuk membedakan pertanyaan-pertanyaan tersebut, benarkah pertanyaan itu berasal dari batin (Hati) atau pikiran? Dua hal ini menjadi sesuatu yang samar dan sulit bagi kita untuk mengidentifikasinya. Tapi benarkah ada perbedaan antara hati dengan pikiran?

 

Al-qolb lazimnya kita maknai sebagai hati, tapi dalam pengertian lain al-qolb dimaknai sebagai ‘rasio’ atau pikiran-pikiran adalah satu-satunya yang dapat mempengaruhi seluruh anggota badan manusia seperti mata, telinga, mulut, hidung, lidah, tangan, kaki dan lain sebagainya. Itu mengapa semua tindakan manusia dipengaruhi oleh pikiran. Salah satu syair Maulana Rumi menegaskan hal ini:

 

Duhai saudaraku, esensi manusia ada pada pikiran

Selainnya, yang tersisa hanya daging dan tulang

(Matsnawi, jilid 2, bait 277)

 

Pikiran menjadi salah satu faktor penentu yang paling utama dalam kehidupan manusia. Manusia memiliki keistimewaan tersendiri ketimbang mahluk yang lain di bumi karena kemampuannya untuk berfikir, tanpa pikiran manusia akan sama seperti hewan oleh sebab itu kenapa manusia sering kali disebut sebagai al-insan hayawannatiq (AnimalRationale). Binatang yang berakal budi, binatang yang berpikir.

Kita seringkali lupa untuk memaknai kehidupan dalam satu kesatuan utuh. Kita cenderung memecah belahnya menjadi beberapa bagian, melihatnya sebagai bagian tersendiri dari yang lain seperti ketika kita memaknai hati dan pikiran. Haketkatnya hati dan pikiran memanglah dua hal yang berbeda yang ada pada dalam diri manusia, akan tertapi pikiran merupakan bagian dari satu kesatuan kerajaan hati. Sebagaimana yang ditulis dalam mukodimah Nafsu adalah budak, akal adalah perdana menteri, dan hati adalah rajanya.

Itu mengapa al-qolb bisa kita maknai sebagai ‘rasio’ atau pikiran, sebab yang dimaksud al-qolb bukan hanya merujuk pada hati tapi lebih tepatlnya al-qolb adalah satu kesatuan utuh yang mencakup segalanya. Al-qolb bisa berarti kerajaan hati yang di dalamnya terdapat raja dan staf-stafnya dalam mengelola tubuh manusia. Ia merupakan ruang yang menampung pikiran, hati, nafsu dan semua perangkat kehidupan dalam diri manusia.

Mbatin sendiri erat sekali hubungannya dengan pikiran karena dalam mbatin terkandung banyak persepsi—persepsi menghasilkan spekulasi dari spekulasi seseorang akan mendapatkan pengetahuan dan dari pengetahuan seseorang akan memperoleh kebenaran yang ia jadikan sebagai pedoman untuk melakukan suatu tindakan di kehidupan. Setiap orang dianjurkan untuk berpikir yang baik-baik karena kerap kali perjalanan seseorang selalu selaras dengan apa yang ia pikirkan. Maka hati-hati kalau berpikir, karena pikiranmu akan mempengaruhi lakumu, lakumu akan membentuk watakmu, dan watakmu akan menentukan takdirmu.

Berhati-hatilah...

 

 

وَاَ طِيْعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَا حْذَرُوْا ۚ فَاِ نْ تَوَلَّيْتُمْ فَا عْلَمُوْۤا اَنَّمَا عَلٰى رَسُوْلِنَا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ

wa athii'ulloha wa athii'ur-rosuula wahzaruu, fa ing tawallaitum fa'lamuuu annamaa 'alaa rosuulinal-balaaghul-mubiin

 

"Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul serta berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat) dengan jelas."

(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 92)

 

 

 

 

 

 


Jumat, 06 November 2020

MBATIN





Mukadimah Poci Maiyah November 2020

Oleh : Lingkar Gagang Poci

 

“Kemanapun aku pergi, kubiarkan ruhaniku digembalai oleh Nabi. Muhammad adalah pengembalaku. Tubuh dan ruh ini hanyalah domba yang akan Ia hantarkan ke hadirat Yang Kuasa.”

 

 

Nyong wis mbatin, bakalen kaya kiye. Pernahkan kita membatin begitu?

Bolehkah manusia berprasangka? Memprediksi apa yang akan terjadi, lalu akhirnya membuat diri sendiri merasa kecewa? Bolehkah menyesali sesuatu yang telah terjadi, padahal itulah takdir Allah yang memang kita pilih? Jadi, kita yang menentukan takdir, atau memilihnya?

Nyong wis mbatin. Apa yang menjadikan manusia merasa mampu menggenggam masa depan? Sedangkan semenit ke depan kita masih hidup atau tidak sebenarnya di luar kendali kita?

Indera manusia didesain hanya untuk mengumpulkan data. Pikiran, akal, yang tidak terlalu penting, lama-lama memperdebatkan definisinya—adalah alat untuk mengolah data itu. Jika di dalam pikiranmu terjadi rasan-rasan, pertimbangan, pertempuran argumentasi, itu tandanya sedang terjadi proses olah data. Namun hati, tetap menjadi sang pengambil keputusan. Nafsu adalah budak, akal adalah perdana menteri, dan hati adalah rajanya. Jika seseorang sudah gagal dari dalam pikirannya, maka kenyataan hidupnya pun tak akan jauh dari itu. Rasan-rasan yang orang lakukan, entah itu di dalam diri sendiri atau bahkan bersama orang lain, selama akal tak benar memproses data inderanya, maka hasilnya adalah prasangka, dzon, yang seringkali justru membuatnya kecewa.

Manusia membuat ukuran-ukuran kehidupannya sendiri, lalu ketika itu membuatnya kecewa, mereka menyalahkan Tuhan. Manusia menciptakan ketakutan-ketakutannya sendiri. Membayangkan khayalan-khayalan sendiri. Menjatuhkan diri dalam jurang keputusasaan. Pesimis, lalu mengobatinya sendiri dengan keoptimisan—keberanian melawan pikirannya sendiri. Manusia menciptakan musuh, yang nantinya dia kalahkan sendiri. Hidup kok (kelihatan) repot begitu ya. Nyong wis mbatin.

Ketika Abdul Muthalib, kakek nabi tercinta, Muhammad sholallahu alaihi wa salam, mendatangi Abrahah untuk meminta kambing-kambing yang dirampas, apakah ia membatin, memprediksi apa yang akan terjadi? Hingga Abrahah heran, mengapa orang se-terhormat beliau tidak memintanya agar jangan menyerang Ka'bah, melainkan, seakan lebih penting kambing-kambing itu daripada rumah Tuhan.

Ketika Sang Nabi tercinta dipanggil Abu Lahab, saat pura-pura sakit, apakah hati beliau membatin? Sekalipun Jibril sudah mengingatkan bahwa itu adalah jebakan, agar tak jadi mendatanginya? Di kisah lain, apakah Rasulullah membatin, ketika Umar bin Khottob menyatakan masuk islam: jangan-jangan itu hanya rekayasa? Ketika disajikan daging kaki kambing setelah penaklukan Khaibar, melawan para yahudi yang keras kepala?Apakah Rasulullah membatin, dalam daging itu telah ditaburi racun? Yaamuqolibalqulb tsabitqolbi ala dinnika. Prasangka lahir dari ketiadaan ilmu yang memadai, keterburu-buruan pikiran memutuskan, lalu menjadi kesimpulan yang final, dan rasa cukup untuk tidak mengoreksi apa yang pernah dipikirkannya itu. Sedangkan, bahkan sinau bareng seperti ini pun bukan untuk mencari kesimpulan yang final, harga mati, melainkan terus belajar dan berani untuk mengubah apa-apa yang kemarin kita pahami sebagai 'kebenaran'. Dan hati Rasulullah, layamasuhuillalmuthoharun, hati yang suci. Ia mampu menembus sidratul muntaha, yang bahkan Jibril tak mampu sekadar menatap gerbangnya.

Hati yang telah kholas, selesai dengan keruwetan dunia. Hati yang telah total menundukan akal dan nafsu. Hati yang damai, tak ada pertentangan lagi di dalamnya. Tidak ada lagi rasan-rasan tentang sesuatu tanpa ilmu yang jelas. Hati yang suci, tidak terikat pada apapun selain Tuhan. Karena di akhirat nanti, tak ada harta atau anak yang mampu menyelamatkan manusia, selain hati yang damai—yang telah selesai urusannya terhadap segala apapun kompetisi keduniaan. Illa manataallahabiqolbin salim. Dunia ini milik-Nya, mengapa manusia repot memikirkannya? Surga tak dapat dimasuki tanpa syafaat sang Nabi, mengapa manusia merasa mampu menguasai?

Jadi, apa yang menjadikan manusia membatin? Apakah sebuah keburukan jika terlalu banyak membatin?Dalam presisi yang bagaimana membatin itu dibutuhkan?

Nyong wis mbatin akan sampai pada pertanyaan itu.

Kerap kali manusia memang suka mbatin akan keadaan yang dialaminya. Terutama pada keadaan yang mengganggu urusannya.Seakan-akan ia tak menerima keadaan tersebut secara apa adanya sehingga pikiran mereka menjangkau masa depan. Mencoba menghindari masa sekarang, membayangkan dunia yang lebih baik dan menyenangkan. Namun, mereka sendiri lupa untuk menikmati hidup di masa sekarang. Banyak orang yang mampu memikirkan hidup di masa depan. Namun sedikit orang yang mampu menjalani hidup di masa sekarang.

Apalagi di masa pandemi saat ini, orang-orang mulai putus asa dan kehilangan harapan. Hatinya dipenuhi kecemasan dan ketakukan. Mbatin mereka tak jauh-jauh dari prasangka buruk. Keadaan lingkungan sekitar memang sangat memengaruhi kondisi batin seseorang. Jika lingkungannya dalam keadaan buruk, seseorang tersebut akan mbatin yang buruk-buruk begitu pula sebaliknya. Kita perlu menciptakan lingkungan yang baik, agar kondisi batin kita juga ikut baik.

Dunia sedang mengalami hardreset besar-besaran seperti pasca air bah di zaman Nabi Nuh. Di tengah wabah virus ini manusia diberi tiga pilihan pertama. Diam sekadar mbatin saja untuk menerima keadaan. Kedua, meninggalkan tempat yang telah tercemar virus agar terselamatkan. Ketiga, menerima segala sesuatu secara apa adanya dan berusaha untuk mengubahnya menjadi lebih baik.

Jika memiliki cinta kepada tanah kelahiran kita, maka yang dipilih adalah pilihan ketiga. Adanya penderitaan atau suatu masalah, merupakan suatu peluang untuk seseorang berjuang melakukan perubahan. Hanya saja untuk mengubah kehidupan kita tak bisa melakukannya hanya dengan mbatin saja, meskipun mbatin merupakan awal dari segala penciptaan. Ketika seseorang mbatin, maka ia akan berniat dengan kata-kata sebagai perantara. Niat adalah awal dari segala tindakan, dan kata-kata merupakan awal dari segala penciptaan. Ketika Allah berkata kunfayakun, maka alam semesta mulai tercipta.

Orang-orang yang telah selesai dengan dirinya, harus segera memenuhi tanggung jawabnya sebagai pengelola alam semesta (kholifatulfilardh). Jangan hanya berhenti pada ketenangan hati. Ketenangan hati bisa menjadi semacam egoisme untuk memertahankan kebahagiaan sendiri tanpa memerdulikan kebahagiaan orang lain. Ketika Nabi Muhammad miraj ke atas langit menemui Tuhannya. Ia tak melepaskan seluruh tanggung jawabnya sebagai Nabi di dunia, padahal dirinya telah bertemu dengan Allah. Menyaksikan langsung kehadiran-Nya. Saat kita telah melihat Tuhan, maka adakah keinginan lain yang ingin kita wujudkan? Pertemuan dengan Tuhan adalah puncak dari segala pencapaian, hingga ada seorang sufi besar berkata “Andaikan aku yang miraj ke sana dan bertemu dengan Allah, pastilah aku akan menetap di sana dan tidak akan kembali lagi di dunia”. Nabi Muhammad memilih untuk kembali ke dunia, karena rasa belas kasihannya kepada umat manusia. Ia tak mementingkan dirinya sendiri agar terselamatkan dari kehidupan dunia dan akhirat. Ia turun kembali ke dunia sebagai seorang penyelamat. Manempatkan dirinya sebagai seorang sahabat yang selalu ada menemani sepanjang perjalanan umatnya. Nabi Muhammad selalu memerhatikan kita dan kasih sayangnya selalu tercurah sebanyak curahan shalawat yang dilantunkan padanya.

Kaum muslimin bagaikan satu tubuh. Apabila dalam tubuh tersebut ada bagian yang sedang sakit, maka sakitlah semuanya. Kita selalu terikat dengan cinta dan kasih sayang. Kebebasan yang kita nikmati sendiri, akan terasa sepi. Kita perlu merajut hati orang-orang mukmin untuk melangkah bersama di kehidupan dunia menuju akhirat. Hati manusia selalu terhubung satu sama lain. Namun, seringkali pertalian itu terputus karena kita lebih memilih untuk berjuang sendiri-sendiri dan sibuk dengan urusan masing-masing. Jika terus begitu maka kehidupan dunia rasanya akan sama seperti kehidupan akhirat. Dimana orang-orang telah sibuk dengan urusan masing-masing dan tidak bisa meyelamatkan orang lain. Padahal suatu hari nanti di surga, kita akan membangun negeri bersama. Seorang anak yang telah masuk surga, akan memanggil-manggil ayah dan ibunya. Jika ternyata di surga tidak ada, maka ia akan mencarinya di neraka. Apabila ia menemuinya di neraka, ia akan mengajaknya masuk ke surga dan berdoa kepada Tuhan melalui perantara Nabi Muhammad agar diwujudkan permintaannya. Surga terlalu luas untuk dinikmati sendirian. Hidup adalah kebersamaan. Kesendirian adalahkematian yang sesungguhnya. Sudahkah kita mbatin akan hal ini? Jangan sampai nanti kalian kesepian ketika masuk surga dan mbatin “Lho kok disurga sepi, terus gimana aku bisa menikmatinya kalau hidup sendiran tanpa seorang teman?”

Nyong ora pengin mbatin kaya kuwe...

Meskipun kemungkinan hal tersebut tidak akan terjadi, karena proses masuknya kaum muslim ke surga akan lebih dulu melalui syafaat Nabi. Pada saat Nabi sedang mensyafaati, bukankah saat itu kita sedang berkumpul bersama? Menunggu waktu untuk membuka pintu surga bersama orang-orang tercinta. Akhir kehidupan adalah kebersamaan (maiyah) maka jangan berjalan sendirian!


Kamis, 01 Oktober 2020

OBA(H)ATI



Mukadimah Poci Maiyah Oktober 2020

Oleh: Lingkar Gagang Poci


"Jiwa semua manusia mendambakan ketenteraman, muthmainnah, damai, penuh ukhuwah, persatuan kesatuan, keutuhan, almutahabbina fillah, potensialitas surga." (Tetes: Tafakur dan Kekeruhan)

 

Kurang dari 100 hari lagi kita selesai bermain di rentang tahun 2020. Tahun paling lontang lantung (kata seorang sedulur PM). Awal tahun sudah diberi kado virus, dan di akhir tahun ini kabar tsunami berpuluh meter mengancam saudara-saudara kita di sepanjang pantai selatan jawa. Dengan segala kerendahan dan kehinaan diri, kita berdoa kepada Tuhan, mudah-mudahan Dia berkenan selalu melindungi—meski sungguh tak ada potret kelayakan kita untuk itu.

Masih tegarkah jiwa kita dengan musibah ini? Masih tegapkah mental kita di hadapan sembako dan BLT yang dibagikan ‘rata’? Atau mendadak mengumpulkan data diri untuk berbaris rapi bersama mereka, yang tiap hari pun sama: dilemahkan di negeri ini? Masih teguhkah pikiran kita, berhadapan dengan pilihan : mengharap bantuan pada istana untuk anak istri tercinta, ataukah tetap berdiri di atas kaki sendiri? Bergerak kemana pun saja, obah, ikhtiyar— menjemput rezeki-Nya, meski tak tahu dengan kerja apa. Hidup memang tak selalu tentang benar dan salah. Ada spektrum lain yang sebaiknya kita pelajari, agar semakin arif menyikapi semua itu.

Hanya satu wabah saja, sakitnya berjamaah. Bukan hanya fisik manusia saja yang terancam, tapi juga perekonomian, pendidikan, rumah tangga, bahkan negara pun sangat nampak lemahnya. One shoot, one kill. Satu kesatuan besar, hanya dengan satu tembakan, seperti efek domino. Semua goyah, ber-obah , nyaris roboh. Belum tergerakkah hati kita untuk kembali? Alam ya'ni lilladzina amanu antakhsya'a qulubuhum li dzikrillah wa ma nazala minal haq.

Obat apa yang akan kita gunakan untuk menghadapi ini? Masihkah sujud-sujud itu terasa nikmat? Masihkah sabar di hati ini kita tetap jaga kuat? Masihkah menganggap kitab suci itu menjadi jalan solusi untuk persoalan ini? Atau justru ketiadaan obatlah, obat yang sesungguhnya? Seperti doa-doa yang nampak tak terdengar, sapaan para hamba yang seakan teracuhkan. Dia menanti, menguji, seberapa cinta para hamba kepada-Nya. Manusia hanya diminta untuk berusaha, berikhtiyar, menjalani proses, rakaat yang entah panjang entah pendek, atau obah, karena hanya orang mati yang tidak ber-obah. (yen obah medeni bocah)

Obahati, gerakan hatimu, sembuhkan luka jiwamu. Seperti pesan seorang sufi, “Biarlah bekas luka hatimu terlihat, karena orang-orang yang ada di jalan cinta, dikenal dari bekas-bekas lukanya.” Hanya dengan bertahan, seseorang akan menang. Memenangkan hati, jiwa, dan dirinya, yang tak roboh oleh ujian-ujian hidup kelak nantinya. Obati hatimu, lalu bergeraklah, karena bagaimana seseorang akan berjalan benar, jika dari sisi hatinya ia masih terluka parah? Karena sejatinya, jiwa semua manusia mendambakan ketenteraman, muthmainnah, damai, penuh ukhuwah, persatuan kesatuan, keutuhan, almutahabbina fillah; potensialitas surga.

Dengan washilah sinau bareng dalam gelaran Poci Maiyah ini, kita semua berikhtiyar, obah, menolak diam, melawan kebingungan meski belum pasti ditunjukan jalan, mengobati hati, berharap cinta sang nabi dan kerelaan Tuhan. Karena, jika memberi solusi persoalan kita belum mampu pasti, setidaknya hidup kita tak menambah beban dunia ini.


Jumat, 11 September 2020

Memimpikan Muhammad




Reportase Poci Maiyah September 2020
Oleh: Lingkar Gagang Poci

Matahari timur mulai muncul dan bersinar, sedang matahari barat cahayanya mulai memudar lalu tenggelam. Semilir angin terhempas di tengah kota yang tertutup awan mendung, dengan penuh petir ketakutan dan badai ketidakpastian. Tapi angin-angin masih membawa mimpi kepada semua orang, hingga hujan di bulan september turun mengguyur tanah yang gersang. Poci Maiyah kembali membuka tutupnya dikala hujan sehingga ia terisi oleh ribuan butir air cahaya, dan jama'ah Maiyah berbondong-bondong mulai datang melingkar menjadi cawan kosong yang haus untuk diisi butiran air cahaya-Nya.


وَرَاَ يْتَ النَّا سَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَا جًا ۙ 

Wa ro`aitan-naasa yadkhuluuna fii diinillaahi afwaajaa

"Dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah," (QS. An-Nasr 110: Ayat 2)


Di Rumah Tahfidz Darul Qur'an Al-Mahmudiyah tempat orang-orang mempelajari al-Qur'an, menjadi tempat diadakannya kembali Maiyahan secara terbuka setelah sekian lama ikut ter-lockdown akibat wabah virus corona. Poci Maiyah seakan sedang nlilir dari tidur panjangnya, ia mulai membuka mata dan kembali melihat dunia. 


Salah satu pembahasan yang menarik banyak perhatian di tema Nglilir: Jejodohing Cahyo (Perjodohan Cahaya) adalah tentang mimpi. Berawal dari Mba Bella, perempuan yang sering ikut menyayikan lagu di setiap Maiyahan bersama band Interm. Ia bercerita kalau dulu ia pernah bermimpi bertemu mbahnya yang marah-marah kepadanya, mbahnya menyuruh ia untuk tidak pernah meninggalkan sholat, lalu pertanyaan muncul dalam dirinya "Siapa sebenarnya yang ada dalam mimpi saya? Apakah dia benar mbah saya? Bukankah orang yang meninggal itu langsung kembali ke Allah? Kenapa ia bisa hadir dalam mimpi saya? Apakah ia adalah ruh mbah saya?" Namun dari pertanyaan Mba Bella memunculkan pertanyaan baru dari beberapa jama'ah, sekiranya begini "Bagaimana kita bisa beransumsi bahwa yang hadir dalam mimpi Mba Bella adalah ruh mbahnya sedangkan dalam al-Qur'an dijelaskan bahwa untuk urusan ruh adalah adalah urusan Allah dan manusia tidak bisa mengetahuinya bahkan ketika Nabi Muhammad ditanya tentang ruh ia hanya menjawab bahwa ruh itu urusan Allah"



وَيَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِ ۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَاۤ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا

Wa yas`aluunaka 'anir-ruuh, qulir-ruuhu min amri robbii wa maaa uutiitum minal-'ilmi illaa qoliilaa

"Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh, katakanlah, Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit." (QS. Al-Isra' 17: Ayat 85)


Pertanyaan yang melahirkan pertanyaan membuat pembahasan menjadi sangat kompleks. Namun ada salah satu perkataan menarik dari seorang penyair sufi bernama Jalaluddin Rumi "Jika teguran pergi, begitu pula dengan cinta. Dan cinta akan tetap tinggal, jika teguran terus ada". Lantas apa kaitannya pernyataan ini dengan mimpi Mba Bella yang dimarahi Mbah nya? Bisa jadi kehadiran mbah dari Mba Bella dalam mimpinya adalah bukti rasa cinta dari mbahnya kepada cucunya, sebab orang-orang yang mencintai akan selalu menegur orang yang dicintainya ketika ia melakukan kesalahan. Kalau kalian sering menonton serial anime Naruto pasti akan sering menjumpai episode yang bercerita ketika Naruto tiba-tiba berubah menjadi moster musang ekor sembilan (Kyubi) lalu dirinya tak terkendali dan mengamuk, lantas dalam dirinya tiba-tiba ia seakan seperti berada di alam mimpi bertemu dengan Ayahnya Minato atau Ibunya Kushina yang menyegel Kyubi dalam tubuhnya. Kehadiran mereka adalah untuk mengingatkan Naruto agar segera sadar dan bisa mengendalikan dirinya agar tidak banyak melakukan kesalahan yang mengakibatkan banyak kerusakan di desa. Ah tapi kita tidak akan membahas panjang lebar tentang Naruto, kita akan kembali ke pembahasan utama tentang mimpi.


Tapi sebelum itu pertanyaan ini belum terjawab "Bukankah orang yang telah meninggal itu ruhnya langsung kembali ke Allah? Bagaimana ia bisa hadir dalam mimpi?" Mari kita membahas hal ini lebih detail. Dalam banyak cabang ilmu mulai dari sains, filsafat dan agama sepakat bawasanya apapun yang tercipta sifatnya abadi, jadi kematian bukanlah akhir dari kehidupan, kematian hanyalah awal untuk menuju kehidupan baru. Ketika manusia meninggal, tubuhnya akan sirna, ruhnya akan kembali ke Tuhan, namun dalam diri manusia tidak hanya sekedar tubuh dan ruh saja, di dalam jiwa ada banyak unsur pembentuk di dalamnya. Diantaranya ada pikiran, perasaan, dan memori yang bisa bertransformasi menjadi wujud baru. Ketiga unsur tersebut juga bisa masuk kedalam jiwa orang lain. Kalau dalam ilmu kedokteran itu kita mengenalnya dengan DNA, namun kalau dalam Psikoanalisis disebut Colective Unconciousness (Bawah sadar kolektif) yang berisi ingatan-ingatan yang diwarisi oleh leluhur dari generasi ke generasi. Seorang kakek biasa mewarisi keahliannya ke anak cucunya tanpa harus ia mengajarinya, ini biasa terjadi secara alami dan orang yang diturunkan pun tidak akan menyadari jika dia bisa melakukan  keahlian yang sama seperti kakeknya, makanya ada beberapa etnis yang mewarisi suatu keunggulan tertentu yang mampu melahirkan orang yang pintar-pintar, faktor genetik tersebut mampu mewaris ke lintas generasi dan saling terhubung secara tidak sadar, bahkan kata Carl Gustav “Ada sisa psikis perkembangan manusia yang menumpuk dari generasi ke generasi” termasuk juga sikap batin mampu mempengaruhi DNA seseorang yang nantinya akan mewaris ke anaknya. Sebagaimana penyataan Gus Luay bawasanya manusia memiliki lapisan-lapisan hijab dalam dirinya, lapisan-lapisan tersebut di antaranya ada :


Lapisan pertama ada  memori pikiran :

Memori yang terbentuk dari pola pikir masyarakat, mempengaruhi kebudayaan, norma sosial yang berlaku dalam satu wilayah masyarakat.

Lapisan kedua, ada memori DNA,

Memori yang terbentuk dari faktor keturunan, mempengaruhi bentuk tubuh, diantaranya ada rambut, warna kulit, warna mata, dll.

Lapisan ketiga ada memori sel, 

Memori yang terbentuk dari organisme biologi, mempengaruhi ketahanan tubuh

Lapisan keempat, ada memori atom.

Memori yang terbentuk dari awal mula proses penciptaan alam semesta, mempengaruhi segala hal yang tercipta di alam semesta


Masing-masing lapisan memori bisa mewaris dari satu generasi ke generasi, membawa banyak informasi dan mempengaruhi kehidupan. Barangkali mungkin hal ini yang membuat Mba Bella bisa bermimpi bertemu dengan Mbahnya, melalui sisa-sisa psikis yang diturunkan mbahnya kepada dia.




Lalu sebenarnya apa itu mimpi?

Apakah itu sebuh perantara bagi kita untuk bertemu orang-orang dan mengakses banyak informasi di masa lalu? Apakah ia berada dalam ketidaksadaran, pra-kesadaran atau kesadaran? Ada salah satu jama'ah yang berkata bawasanya mimpi adalah sebuah isyarat (hikmah) dari Allah, seperti Nabi Yusuf yang bisa menakwil mimpi sebagai sebuah isyarat akan sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Semua mimpi adalah isyarat yang bisa di tafsirkan.


Seorang sufi besar dari Andalusia, Muhyiddin Ibnu Arabi berpendapat "Nabi Yusuf bermimpi melihat benda-benda langit bersujud kepadanya dan menganggap mimpi itu sebagai kenyataan, namun Nabi Muhammad menganggap baik dalam dunia mimpi ataupun dunia nyata adalah mimpi, takwil akan kebenaran hanya bisa terbuka di alam kematian". Tapi di sisi lain Ibnu Arabi juga menganggap mimpi sebagai kenyataan, terlihat pada salah tulisannya di bab pertama Al-Futuhat Al-Makkiyyah Jilid 1. Dia bercerita saat dirinya bertemu dengan Nabi Muhammad "Kepada beliau yang aku menyaksikannya ketika aku menulis pengantar kitab ini di alam hakikat-hakikat imajinal (misal/khayal/imajinasi)..." dalam pernyataan ini Ibnu Arabi membenarkan mimpinya ketika ia bertemu dengan Nabi Muhammad sehingga ia melanjutkan tulisannya "Ketika aku menyaksikan beliau di alam tersebut sang tuan (Nabi Muhammad) yang maksum maksud tujuannya, terjaga penyaksian-penyaksiannya, yang ditolong dan dikukuhkan—seluruh rosul berbaris dihadapannya, dan umatnya, yang adalah umat terbaik, berkumpul mengitarinya." 


Imajinasi juga merupakan mimpi, sebagaimana harapan adalah mimpi orang-orang yang terjaga dan bentuk dari harapan adalah imajinasi. Lantas apakah imajinasi atau mimpi merupakan suatu kenyataan? Lalu bukankah tidak ada yang tau rupa Nabi Muhammad sehingga tidak bisa satu pun seseorang yang bisa mengimajiasikannya. Lantas bagaimana Nabi Muhammad bisa hadir dalam imaji Ibnu Arabi?


Untuk penafsiran akan mimpi, Mbah Nahar memberikan suatu metode yang baik bahwa mimpi sebenarnya tergantung pada pemaknaannya, belum tentu orang yang bermimpi keluarganya yang telah meninggal berarti ia akan meninggal karena diajak oleh keluarganya melalui mimpi. Seperti Nabi Ibrohim yang memaknai mimpi mengorbankan anaknya sebagai sebuah kebenaran, padahal mungkin saja mimpi tersebut bisa merupakan hanya suatu isyarat agar Nabi Ibrohim tidak terlalu terikat dengan anaknya dan selalu bisa beribadah kepada-Nya. Namun mimpi ini dibenarkan oleh Nabi Ibrohim.


قَدْ صَدَّقْتَ الرُّءْيَا ۚ اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ

Qod shoddaqtar-ru`yaa, innaa kazaalika najzil-muhsiniin

"Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik."

 

Mimpi bisa berarti isyarat ataupun sebuah kebenaran tergantung dari pemaknaannya, selagi kita memaknainya dengan baik maka hasilnya akan baik sama seperti Nabi Ibrohim, anaknya yang dikorbankan tiba-tiba berubah menjadi seekor kambing.


Yang terakhir, ada salah seorang bertanya, bagaimana kita bisa mengenali bahwa kita bermimpi bertemu Nabi Muhammad? Sedangkan tidak ada yang mengetahui wajah beliau dan kita tidak pernah melihat wajahnya sebelumnya. Sebagaimana Ibnu Arabi yang menemui Nabi Muhammad dalam alam imajinasi padahal wajah Nabi Muhammad belum pernah ia lihat, bagaimana mungkin ia bisa megimajinasikannya?


Ada suatu kesadaran yang tidak sadar, mimpi juga bisa masuk dalam itu. Seseorang bisa bermimpi atau berimajinasi dengan tiba-tiba terlintas, terbesit dalam bayangannya tentang seseorang yang tidak ia kenal, tidak pernah ia lihat. Tapi dalam mimpi tersebut seakan-akan ia telah mengenalinya, merasa dekat dengannya meskipun di alam nyata ia belum pernah bertemu dengannya sebelumnya. Sebab tidak ada satu pun mahluk di dunia ini yang bisa bermimpi bertemu Nabi Muhammad kecuali jika Nabi Muhammad menghendakinya sendiri, jadi tidak ada orang yang bisa mengimajinasikannya, memimpikannya, kecuali jika Nabi Muhammad sendiri yang menghendakinya untuk hadir dalam imajinasi ataupun mimpi seseorang.


Berbicara tentang mimpi mungkin tiada habisnya, seribu satu malam tak akan cukup menjelaskannya. Mimpi tetaplah mimpi, ia adalah rahasia dan tetap menjadi rahasia.


WallahuAlam



***


Sesungguhnya alam jadian begitu ajaib dalam fluktuasinya

Di dalamnya terdapat lukisan dan goresan


Perhatikanlah ia, niscaya akan kau lihat di dalamnya ciptaan-ciptaan baru yang belum pernah ada,

Kerena sebuah tulisan adalah goresan dari segala sisinya


Sungguh eksistensi adalah misteri

Yang membingungkan pengamatannya.

Alam jadian dijadikan tertulis, dan lembaran dibentangkan


—Ibnu Arabi, Al-Futuhat Al-Makkiyyah Jilid 5


Rabu, 02 September 2020

NGLILIR

Jejodohing Cahyo - Perjodohan Cahaya


Mukadimah Poci Maiyah September 2020
Oleh : Lingkar Gagang Poci 

I

 

Jum'at kemarin tepat sepuluh muharom, dan sedari awal suro, kulihat orang-orang Islam di Tegal masih semangat dan berantusias menyambut tahun baru Islam itu. Seolah telah tersimpan memori di lubuk jiwanya, bahwa akhir dzulhijjah, juga adalah hijrahnya menuju masa yang baru.

 

"Ya Allah, wahai Yang memberikan jalan keluar dari segala kesusahan, wahai Yang mengeluarkan  Zun Nun pada hari Asyura,..."

 

Benarkah kita telah jua mendapatkan berkah Nabi Yunus dari keterpurukan dan kepungan-kepungan yang membuat gelap aql dan nurani? Untuk keluar dari lockdown gelapnya samudera dunia?

 

"Wahai Yang menghimpun semua keturunan Ya’qub pada hari Asyura,"

 

Sudahkah ini juga menjadi momentum kita, atas apa yang telah di alami Yusuf muda? Tersisih, dicemburui, dan disalah fahami oleh saudara-saudaranya. Hilang jauh dari keluarga, lalu menjadi orang asing di negri asing pula. Digoda, difitnah, dipenjara, terlock down bersama orang-orang asing dengan kepercayaan asing pula? Hingga Robb berkenan menghimpun kembali keluarga Nabi Ya'qub di masa senjanya?

 

Sudahkah, kita bisa kembali pulang?

 

"Wahai Yang mengampuni dosa Daud pada hari Asyura, wahai Yang melengkapkan penyakit Ayyub pada hari Asyura, wahai Yang mendengar seruan Musa dan Harun pada hari Asyura, wahai Yang menciptakan ruh Muhammad saw pada hari Asyura."

 

Inikah masanya? Masa kita nglilir terbangun untuk menerima. Menghujamkan akar kita kuat-kuat ke dalam bumi, lalu merangkak naik menuju langit menggapai arsy menjumpa lauh mahfudz? Momentum para maiyyin untuk menghijrahi cahaya, dan me-Muhammadkan diri.

 

Muhammadkan Hamba?

 

*

 

II

 

"Iedul Yatama" tandas para mubaligh menyampaikan moment muharrom ini. Entah anak-anak siapa itu? Berduyun berdiri berjejer satu-persatu dipanggil nama-namanya.

 

WAllahi mata mereka adalah binar mata lugu ketidak tahuan yang aqil balighpun belum tercapai, bahkan bisa jadi gravitasi juga belum mengenali mereka.

 

Satu persatu orang dewasa menyalami, membelai, memberikan mereka amplop-amplop putih.

 

Namun di pojokan, kulihat ada ibu yang menangis tersedu-sedu.

 

Entah ia merindukan ayah dari anaknya, ataukah getir melihat putera semata wayangnya tumbuh tanpa seorang bapak?

 

Sholawat semakin mendengung diatas panggung sedang tangis ibu semakin menjadi-jadi.

 

"Wahai Yang Maha Pemurah di dunia dan di akhirat, panjangkanlah usiaku dalam taat kepada-Mu, mencintai-Mu dan mendapat ridha-Mu wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang. Hidupkanlah pula aku dalam kehidupan yang baik dan wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan iman. Wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang."

 

Kiranya, memang tidak ada yang boleh Tunggal selain Maha Tunggal itu sendiri di semesta ini. Setiap makhluk terhubung berpasangan dengan lainnya;  siang-malam dengan seluruh lapisannya, persifatan laki-laki dan perempuan dengan segala keragamannya, awal dan akhir dengan setiap partikel misterinya, pun kebahagiaan, kesedihan, rasa haru juga atas dorongan berserah lalu tunduk kepada sesuatu yang tidak bisa dimengerti.

 

Anak-anak yatim sumringah bergembira menerima hadiah, sang ibu menangis merindukan sesuatu. Yang menikah berbahagia di pematang dzulhijjah, yang sendiri masih terus mempertanyakan diri.

 

Perjodohan-perjodohan takdir terus merayap membayangi manusia, mengintai sekaligus menemani untuk terus bertanya kepada manusia. Gerangan apakah manusia memahami ketersambungannya dengan rahmat, berkah, hidayah, taufik dan keselamatan dalam setiap kejadian dan pengalaman yang ia alami? Sudahkah setiap hati yang mencari menemu cahaya? Sudahkah dzulumat (kepungan-kepungan gelap) itu menuju Nuur (satu cahaya)? Sudahkah tali-tali cahaya berjodohan dengan kesadaran?

 

Atau, jangan-jangan, sudah lupakah kita bagaimana caranya kembali mencintai?

Selasa, 04 Agustus 2020

Semesta Ismail

Mencapai Derajat Cinta dan Ketaatan


Mukadimah Poci Maiyah Agustus 2020
Oleh: Lingkar Gagang Poci

Bismillah. Sebelum membaca mukadimah malam ini, mari kita berdoa bersama, "Ya Nur kulli syay Anta alladzi falaqa al-zhulumat nuruhu (Wahai Cahaya segala sesuatu, Engkaulah yang cahayanya membelah semua kegelapan)". Mudah-mudahan Allah memberikan cahaya pada kita sehingga jiwa kita dibersihkan sebersih-bersihnya. Amiin.


***

Kita akan melakukan sedikit simulasi. Khususnya untuk mengecek seberapa kotor jiwa kita. Lebih khususnya, selama kabar-kabar sampah media tentang corona memenuhi pikiran kita.


Siap ya?


Oke.


Lihat telapak tangan kita masing-masing.


Sudah? Oke.

 

Ayat Tuhan apa yang tersirat disana? Atau, sadarkah garis-garis di telapak tangan itu juga adalah cara Tuhan ingin berkomunikasi dengan kita? Telapak tangan lebih anti kuman/bakteri, lho. Lebih sakti daripada kulit punggung telapak tangan. Butuh bukti? Coba main sama ubur-ubur di laut.

 

Lagi.

 

Lihat sekitar kita.

 

Tembok, atap, langit, pohon, segala sesuatu, ayat Tuhan apa yang sedulur-sedulur bisa dapatkan dari sana?

 

Afala yatadabarunalqur'an am'ala qulubil aqfaluha.

 

Semakin kita terhubung dengan ayat-ayat itu, semakin bersih jiwa kita. Tapi, selain bersihnya jiwa,bukanlah usaha kita (itu murni fadhol-nya Allah), juga tak perlu lebay. Kekuatan bukanlah ketika kita mendapatkannya. Melainkan ketika kita mampu mengendalikan. Tak terikat sama sekali padanya.

 

Dan kebersihan jiwa, la yamasuhuillal muthoharun, hanya semesta jiwa yang telah disucikanlah, yang mampu mencapai-Nya. Kita akan belajar dari Ibrihim (ada lagunya, lho, dari nasyid tahun 2000an).

 

yaaaabatif'almaatu`marusatajiduniii in syaaa`allohuminash-shoobiriin

 

"Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar." (QS. As-Saffat 37: Ayat 102)

 

Di Maiyah, kita belajar banyak formula. Dalam ayat itu, ada koordinat ‘perintah Tuhan’, yang dikehendaki Tuhan, ‘yang dibolehkan Tuhan’, dan ‘yang dibiarkan Tuhan (istidroj).

 

Yang diperintahkan Tuhan adalah ketundukan/ketaatan total, hanifanmuslima. Yang dikehendaki Tuhan adalah kontinuitas dalam jalan-Nya, ihdinashirotholmustaqim. Yang dibolehkan Tuhan adalah kebutuhan dan nafsu-nafsu yang baik, innanafsa la-amarotubissu-i, illa ma rohimarobbi. Yang dibiarkan Tuhan adalah kemaksiatan, karena selain Dia punya Al Ghofur, Dia juga ingin menunjukan keadilan atas janji-Nya, faalhamahafujurohawataqwaha.

 

Ibrahim pun meletakan Ismail dihadapannya untuk disembelih. Ketika pisau terangkat hendak menyembelih, Allah langsung memanggilnya.

 

wanaadainaahu ay yaaa ibroohiim

 

"Lalu Kami panggil dia, Wahai Ibrahim!"

 

Tentu, Tuhan tidak sedang nge-prank Ibrahim. Meskipun Tuhan senang, dan sering bercanda, fitnes perasaan dengan hamba-hamba-Nya. Ibrahim menjadi ‘ibrah’ (pelajaran) pertamatentang derajat cinta dan ketaatan. Yang nantinya disempurnakan oleh Nabi Muhammad Sholallah Alaihi Wassalam.

 

Di suatu hadits, saksi atas dakwah Ibrahim, Musa, Isa, dan nabi-nabi yang lain adalah Nabi Muhammad. Beliau adalah keturunan dari jalur Ismail. Semesta Ismail mengajarkan kita untuk 'hijrah', dari derajat nafsu/keinginan, melangkah kepada ketuntasan kebutuhan. Memilih menjadi bagiandari cinta yang rasulullah bawa, yang semuanya terbingkai dalam jalan ketaatan/ketundukan total, hanifanmuslima.

 

 

qod shoddaqtar-ru`yaa, innaa kazaalika najzil-muhsiniin

 

"Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik."

 

innahaazaalahuwal-balaaa`ulmubiin

 

"Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata."

 

Fakta adalah permukaan. Realitas adalah keseluruhan permukaan dan kedalaman. Ujian terberat manusia pertama adalah ketika ia harus meninggalkan apa yang dikejarnya: Impian, ambisi, hasrat. Ketika derajat ini terlampaui, manusia baru menjadi manusia (karena memasuki derajat kebutuhan). Namun belum menjadi seorang hamba (abdullah). Karena (maqom) ‘abdullahadalah mereka yang telah meruntuhkan semua 'ego diri', 'keakuan', yang dengan otomatis, ia memilih cinta pada Tuhan ketika jalan untuk memeluk dunia terbuka lebar. Dan ketika telah sampai ke maqom cinta, ia secara otomatis akan dibukakan amanah Tuhan. Mengantarkannya dalam kordinat 'kholifah', Innija'ilunfilardli kholifah.

 

wafadainaahubizib-hin 'azhiim

 

"Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar."

 

Orang-orang beriman tak mungkin kalah, Qodaflahalmu'minun. Jika di dunia ini mereka tak mendapatkan kebahagiaan (yang dicari semua manusia), maka setelah mati mereka pasti mendapatkannya. Itu janji Tuhan. Seperti Ibrahim yang dengan tegar menerima 'prank' Allah itu, secara cash Allah ganti ketaatan itu dengan mukjizat. Ismail digantikan dengan hewan qurban yang besar.

 

wataroknaa 'alaihifil-aakhiriin

 

"Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang        kemudian,"

 

Semesta Ismail : Keimananmu, tergantung sebesar apa pengorbananmu. Merelakan diri melepas semua keinginan, mencukupkan kebutuhan, lalu menerima daulat panji rasulullah untuk menjadi bagian dari cinta yang rasulullah bawa: rahmatanlilalamin.

 

salaamun 'alaaaibroohiim

 

"Selamat sejahtera bagi Ibrahim."

(QS. As-Saffat 37: Ayat 104-109)

 

Wa ala alaihi Ibrohim.

 

Qolbun salim. Ketika dunia memburuk, yang pertama harus diselamatkan adalah hati kita. “Alamya'nililladzina amanu antakhsya'a qulubuhum li dzikrillahi wa ma nazalaminalhaq”, belum datangkah waktunya, ayat-ayat Allah yang kita simulasikan di atas itu memanggil-manggil dan menyapa kita? Faayna ma tadzhabun? Engkau lari kemana, sedang Aku memanggil-manggilmu mendekat?