Rabu, 07 Agustus 2019

Memerdekakan, Memaafkan Diri, dan Semesta.


Gelaran sinau bareng poci maiyah tegal di bulan kemerdekaan republik indonesia kali ini bertema 'Laguning Urip'. Seperti biasa, sinau bareng dibuka dengan mendoakan seluruh keluarga maiyah, bangsa, dan semesta yang disenyawakan dengan lantunan tahlil bersama. Setelah tahlil, lagu indonesia raya dinyanyikan, dan jamaah pun berdiri menyanyikannya. Bukti, meski kami adalah generasi yang diyatimkan negeri ini, kapatuhan dan cinta kami pada bapak dan ibu pertiwi (negeri ini) tetaplah konstan apapun yang terjadi.
Gelaran sinau bareng poci maiyah kali ini dimoderatori oleh kang Mustofa Ups, dan Mbak Intan dari Kalisoka. Sebelum masuk ke tadarus mukodimah, dua nomor dari Interim Band, shohibul bayti dilanjut Zidan an nabiiy dinyanyikan.
Pra tadarus mukodimah Kang Mus sedikit bercerita oleh-oleh dari sinau bareng di Kendal. Agar jangan merendahkan siapapun, sekalipun pada seseorang yang secara fisik terlihat tidak normal. Ada seorang ibu-ibu yang secara lidah kurang normal, kemarin di Kendal, tapi beliau mampu menyanyikan Indonesia raya.
Dilanjutkan sedikit cerita dari kang fakhrudin yang mendirikan taman baca di depan MI Nurul Hikmah Krandon. Sebagai rasa empat kang fakhrudin terhadap lingkungan untuk menumbuhkan minat baca anak-anak.
Selanjutnya pemaparan bedah poster dari desainer poster poci maiyah, mas oki.
"Untuk kali ini, temanya Laguning Urip," Mas Oki mengawali. "Untuk poster kali ini, poin pentingnya ada di gambar gitarnya. Gitar itu kan enam senar, disimbolkan dengan rukun iman. Disana ada dua orang, ayah dan anak, yang disimbolkan sebagai pejalan, musafir yang berjalan on the track di atas enam jalan rukun iman,"
Tadarus mukodimah didendangkan…
Kang Ali mengawali sinau bareng tema Laguning Urip bulan Agustus ini. "Ketika melakukan hal-hal yang baik, jangan sampai ketika di rumah justru menyesali itu." Lanjutnya. "Aku kesini itu karena kangen lama nggak berjumpa. Laguning urip itukan seperti irama hidup ini, ada senang, ada sedih, derita dan sebagainya. Maka mudah-mudahan semua nanti dapat urun rembug, kita saling belajar. Kemudian saya tegaskan, jangan salah paham bahwa kami yang disini lebih paham. Jangan malu-malu atau sungkan untuk menyampaikan pendapat,"
Pertanyaan pertama dari Kang As'ad, "Saya mau bertanya, semisal sudah terlanjur menyangka kalau yang didepan ini orang-orang yang lebih paham, itu bagaimana?"
Pertanyaan ini dijawab oleh Kang Ali langsung, "Sebenarnya saya bilang begitu biar bisa ngeles aja, misalnya nanti ada pertanyaan yang nggak bisa saya jawab. Kan saya tinggal bilang, ini yang di samping saya yang akan menjawabnya," jamaah pun tertawa. "Itukan jawaban guyon. Jadi gini mas, apa yang disampaikan penyaji disini kan, nggak harus setuju mas. Semisal pulang nanti ternyata penjelasan kami tidak sesuai, ya silahkan saja untuk berbeda,"
Selanjutnya respon dari Kang Fahmi, "Seperti tadi yang dijelaskan Mbah Nun ya, jangan sampai ada penghalang antara kita dengan rasulullah. Kami juga nggak mau begitu," lanjutnya. "Harmonisasi ya, seperti musik. Kalau cuma gitar ya nggak enak, kalo cuma drum ya kurang enak, artinya semua yang hadir disini berhak berpikir merdeka. Yang penting gondelan sama kanjeng nabi, istiqomah, nantinya akan datang momentumnya,"
Respon selanjutnya dari Kang Ulum dari Panggung, "Sekedar menambah sudut pandang ya," lanjutnya. "Selain memainkan Laguning urip tadi, atau musik, kita juga bisa menjadi pendengar. Bermain, sekaligus mendengarkan. Kalau lagu-lagu yang diciptakan manusia saja itu sudah enak, apalagi yang diciptakan Allah.
Direspon oleh Kang Mus, "Proses pencapaian rasa cinta pada allah dan rasulullah kan beda-beda," lanjutnya. "Ada yang dengan membaca sirah nabawiyah, ada juga yang mendengarkan lagu-lagu religi, ada yang senang dengan mengikuti maulid, dan sebagainya, semua tinggal pilih yang sesuai dengan panjenengan,"
Respon selanjutnya dari Mbah Nahar, "Seperti yang disampaikan Kang Ali, saya setuju kalau lagu kan banyak jenisnya ya. Ada dangdut, underground, dan sebagainya," lanjutnya. "Itu seperti orang yang menyelesaikan persoalan hidupnya. Ada yang pelan, mendayu-dayu seperti dangdut, ada juga yang keras, rock. Kalau kita tarik ke keluarga, ada banyak macam karakter orang yang menyelesaikan persoalannya dalam keluarga masing-masing, dan dipengaruhi oleh keluarga juga. Dan itu pun akan berefek di tempat kerja, karena menjadi lingkungan keluarga yang baru. Dan biasanya karakter seseorang dalam menyelesaikan persoalan itu menurut ibu, bagaimana hubungan emosional anak dengan ibu, itulah yang akan terbangun,"
Respon selanjutnya dari Kang Wahyu, koreografer Tegal yang menanggapi sekaligus membacakan syair singkat, "Adalah Engkau yang tak seperti…adalah Engkau yang tak sama… adalah Engkau yang tak serupa… adalah Engkau ketetapan… Engkau yang dimaksud ini, Allah, ya. Jangan biarkan aku salah menafsir dalam singgasana-Mu. Kau yang Maha Menggetarkan dan pemilik kesempurnaan." Respon tersebut lalu ia menjadikannya sebuah nyanyian.
Sebelum sinau bareng dilanjut, dua nomor Lir Ilir dilanjut dengan sholawat rasulullah dan Fix You dari Interin Band.
Sinau bareng dilanjut dari Kang Lu'ay sebagai kordinator Poci Maiyah, "Merespon dari Kang As'ad yang merespon bagaimana kalau sudah terlanjur menganggap penyaji nini orang-orang yang lebih paham, maka efeknya akan bubar. Akan bubar dimensi sinau bareng, yang ada malah belajar dan mengajar, karena di sinau bareng ini tidak ada yang lebih tahu, tidak ada yang lebih pinter, kita cuma syuro baynahum, menunjukan mana-mana respon yang bisa digunakan dalam hidup," lanjutnya. "Tidak ada yang kyai disini, bahkan kita tidak tahu bisa jadi disini ada aulia allah di antara kita. Memang urusan yang paling baik adalah yang pertengahan, khoirul umuri awsatuha, agar terjadi keseimbangan disana. Kita ambil contoh misalnya dalam sebuah urusan kita btak boleh over dosis, berlebihan. Semaisal ada orang yang pemaaf, itu juga tak boleh over dosis. Kalau ada orang minta-minta, kita jawab maaf, ada orang minta tolong kita jawab maaf, saking pemaafnya kita," jamaah tertawa segar.


"Dunia tidak butuh pahlawan, dunia butuh orang-orang baik yang tak ingin dikenal," lanjut Kang Lu'ay. "Dari tema Laguning urip ini juga kita belajar menemukan martabat kita masing-masing, mencari presisi," kemudian beliau melanjutkan sebuah fabel, cerita binatang yang mengibaratkan seekor harimau yang kehilangan martabatnya sebab kemarahan pada kancil.
Respon selanjutnya dari Kang Dani pegiat Maiyah Cirebes, "Kalau di maiyah sebenarnya tidak ada batas geografis ya, di tempat manapun sebenarnya ini hanya titik-titik atau kordinat maiyah," lanjutnya. "Kita identifikasikan dulu apa itu lagu, apa itu musik, ada tangga nada, ritme, dan sebagainya. Jadi semua lagu itu hak setiap orang, sama seperti pilihan-pilihan hidup masing-masing. Tujuan dari semua itu adalah satu, keharmonisan hubungan manusia baik itu secara horisontal, vertikal, atau turunan lainnya,"
Respon selanjutnya dari Mbak Endang yang menceritakan sedikit kisah hidupnya ketika sakit, "Tidak ada bayangan lain selain Allah saat sakit itu," lanjutnya. Beliau juga menyarankan bagi siapa saja yang sakit kanker, beliau siap memotivasi dan juga untuk yang patah semangat hidup, beliau siap membantu. Satu syair dari Mbak Endang :
Engkau ingin kembali
Mengulang waktu yang telah pergi
Menangis, menyesal, bersedih
Sang waktu tak berguna
Tak berguna sesal mengeluh
Tak berguna air mata membanjir
Tak berguna sedih
Tinggalah kini sepi sendiri
Jaga kami ya allah
Dari siapan waktu yang Kau beri
Jaga kami ya allah
Dari dzikir yang jauh dari hati
Jaga kami ya allah, ya allah….
Respon selanjutnya dari Kang Ali yang berterima kasih pada Mbak Endang yang memotivasi mereka yang sakit, "Saya jadi teringat dengan bukunya Gus Ulil, bahwa ketika seseorang sedang sakit, riwayat dari Ibn Athoilah, Allah ingin mengenal lebih dekat dengan Hamba-Nya. Bahwa ketika seorang hamba sedang diuji, maka dari ujian itu adalah bukti cinta dari Allah, Dia sedang ingin mendekat,"
Respon selanjutnya dari Kang Heru pegiat Maiyah Cirebes, "Menanggapi ayat yang dikutip di mukodimmah, itu posisi kita dimana, akan mengawali dari mana dan akan kemana,"
Respon selanjutnya dari Kang Alfian pegiat Maiyah Cirebes, "Tema kali ini, semoga teman-teman bukan termasuk orang yang mengharam-haramkan musik," lanjutnya. "Apa yang bukan lagu dalam kehidupan? Hidup ini bagi saya juga sebuah lagu. Bahkan quran bagi saja adalah lagu dengan irama yang luar biasa. Saya sendiri pemusik, dari genre hip-hop. Setiap rapper itu sebenarnya mereka sedang mengaji. Kalo kita perhatikan lagu-lagu jaman ini, itu sangat berbeda dengan lagu-lagu jaman 90-an, lagu-lagu itu masih enak dinyanyikan jaman ini, berbeda dengan lagu jaman ini," Kang Alfian juga mempertanyakan apakah industri permusikan sekarang hanya urusan uang? Semua artis yang tadinya memproduksi lagu kritik sosial, ketika sudah dihadapkan dengan jaman, mereka semua berubah ke arah materialis. Dan ketika ada artis-artis yang menyanyikan kemanusiaan, maka akan ada gelombang yang menjatuhkannya.
Satu nomor musikalisasi dari Kang Anis, solo gitar. Dan dilanjutkan pembacaan puisi oleh Kang Rizky dan sholawat sholallahu robbuna yang dikomandani Kang Fahmi.


Respon selanjutnya dari Bang Ardo dan Kang Awaludin, seniman lintas alam, yang menanyakan tentang poci maiyah itu apa, dan sudah berapa kali acara ini digelar juga materinya apa yang dibahas. Kemudian bang Ardo juga menyumbang dua lagu improvisasi malam itu.
Direspon oleh Kang Fahmi, "Di Poster bulan ini, adalah edisi spesial, ada nomor edisinya, yaitu edisi 31. Kita sudah 31x mengadakan ini." Kang Fahmi juga menjelaskan proses Poci Maiyah yang sampai hari itu adalah sebuah proses pemberian dari Allah yang Maha Luar Biasa.
Sinau bareng dilanjutkan dengan tanggapan dari Kang Fahmi yang menceritakan proses bermaiyah dari pengajian ke pengajian. Mulai dari Ust. Yusuf Mansyur, Habib Umar, dan akhirnya ke Maiyah. Menanggapi apa yang disampaikan Kang Alfian, untuk menghargai siapa saja yang masih belajar di forum-forum pengajian lain di luar maiyah. "Tidak perlu dibanding-bandingkan, kita semua punya proses masing-masing. Ambil yang baik-baik dari forum manapun,"
Respon selanjutnya dari Kang Eddy yang menanyakan bagaimana caranya agar kita menyukai genre-genre musik lain yang tidak kita sukai, kaitannya dengan laguning urip.
Respon dari Kang Eddy langsung ditanggapi oleh Mbah Nahar, "Itu sama dengan ketika suka dengan satu genre, kemudian kita membenci genre yang lain, itu kan nggak usah seperti itu," respon antara Kang Eddy dan Mbah Nahar ini menjadi amtsal, perumpamaan dari apa yang disampaikan Kang Alfian sebelumnya. Saling belajar.
Selanjutnya Kang Lu'ay menambahkan, "Maiyah itu tidak akan merebut jamaah siapapun, kalau panjenengan sudah ikut jamiyah, monggo lanjutkan, fa idza faroghta fanshob, yang penting istiqomah," lanjutnya. "Kenali dirimu, khilafahi dirimu sendiri, jangan sampai kita paksa orang lain menjadi seperti diri kita. Kita apresiasi orang-orang yang membuat forum-forum seperti ini. Karena kita dalam forum-forum seperti ini kita ikut menjaga keamanan Masyarakat. Kita asyiki maiyah dan al qur'an,"
Setelah Kang Lu'ay meluruskan banyak hal yang nampak tak seimbang dari respon dan pertanyaan jamaah, dua nomor jaman wis akhir dan duh gusti didendangkan interin band.
Sinau bareng lanjut dengan pertanyaan dari Kang Gusdur dari Kalisoka, "Menanyakan ayat di mukodimah, kang. Kenapa ayat itu tak boleh ditanyakan?"
Pertanyaan kedua dari Kang Sehan yang menanyakan, "Ketika saya ingin menjadi manusia yang baik, dengan kapasitas saya, ingin mengabdi pada Tuhan dengan sholat lima waktu, tapi terkadang terbentur kebutuhan, meremehkan ajaran nabi, nah pertanyaan saya, apakah proses seperti ini juga berada dalam laguning urip?"
Pertanyaan selanjutnya dari Kang Aris, "Hidup ini kan ada sedih dan senang, bagaimana cara menyikapi agar mudah menerima keadaan yang diberikan Tuhan,"
Mbah Nahar mengawali respon dari Kang Gusdur, "Sebenarnya yang lebih paham menjawab Gus Lu'ay ya. Tapi kalau boleh saya menebak, ini adalah pancingan, agar para pembaca tertarik untuk menanyakannya," dilanjutkan merespon pertanyaan Kang Sehan, "Saya juga sholatnya jarang, mas. Sholat subuh, jeda, sholat duhur, jeda…" jamaah tertawa segar. Kemudian Mbah Nahar meneruskan, "Kalau kita renungkan ya, sholat itu kan pas dijadwal istirahat dari kesibukan. Kalau subuh itukan memang jam-jam terbaik untuk bangun, bangkit dan mengawali hidup kembali. Dan menanggapi pertanyaan dari Kang Aris, bagaimana cara nerima ing pandum, memang searusnya kita ridho dari apa yang dikehendaki gusti allah,"
Respon selanjutnya dari Kang Lu'ay, "Yang harus kita pelajari memang memaafkan semuanya. Belajar memaafkan kehidupan, dunia, segala hal yang kita alami. Selama itu belum mampu, itu akan menjadi bara api di dalam diri," beliau melanjutkan. "Suatu ketika Rabi'ah al adawiyah membacakan syair di makamnya rasulullah. Setelah dibacakan, syair permintaan maaf pada rasulullah, karena dia lebih mencintai allah. Kemudian kanjeng rasul hadir, dan di dalam makan menjadi berisik terdengar dari luar oleh penjaga makam. Itu karena para malaikat yang gaduh. Kemudian dibukakannya hijab antara dia dengan iblis, kemudian rasiah al adawiyah melambaikan tangan pada iblis, tanda bahwa ia memaafkannya,"
Satu nomor sebelum penutup dari Letto, sebelum cahaya. Kemudian, jam menunjukan pukul dua pagi, gelaran sinau bareng edisi bulan agustus ini ditutup dengan doa oleh Mbah Nahar.

Rabu, 17 Juli 2019

Meneguk Setetes Air Cinta Nabi


Reportase Poci Maiyah Juli 2019
Oleh: Rizky Eka Kurniawan

Nuansa Maiyahan malam kali ini terasa benar-benar berbeda, melihat cuaca yang sedikit mendung dengan angin yang semilir-semilir membawa hawa dingin kepada para sedulur maiyah tak menyurutkan semangat mereka untuk tetap hadir bermaiyahan bersama, meskipun tempat rutinan gelaran Poci Maiyah selalu diadakan di tempat terbuka dan sama sekali tak ada teduhannya yang mungkin sekali apabila terjadi hujan sewaktu-waktu ketika bermaiyahan mereka semua akan langsung kehujanan, namun kekhawatiran semacam itu seakan-akan telah hilang dari pikiran mereka terbukti dengan cukup banyaknya orang yang hadir membuat keadaan tetap terasa hangat, acara malam ini menjadi lebih istimewa dengan hadirnya Ki Haryo, seorang pedalang asli Tegal yang terkenal dengan wayang santrinya sekaligus putra dari Mantan Bupati Tegal (Bpk. Ki Enthus Susmono)

Acara dimulai dengan lantunan wirid & doa-doa untuk para sesupuh yang dipimpin langsung oleh Kang Fahrudin setelah itu dilanjut Kang Mustofa mengajak para sedulur maiyah untuk berdiri senantiasa menyayikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dan para sedulur maiyah pun kembali dipersilahkan untuk duduk setelah selesai menyayikannya. Selebaran mukadimah mulai dibagikan kepada para sedulur maiyah yang turut hadir meramaikan acara malam hari ini dan satu nomer shohibu baity dinyayikan bersama-sama menambah suasana menjadi semakin hangat dan mesra meskipun semilir angin terasa dingin. Atmosfire-atmotfire maiyah mulai terbangun dengan kehangatan, cinta kasih dan kegembiraan para sedulur maiyah kali ini. Seperti biasa jauh sebelum meyelam jauh ke pembahasan mula-mula diawali dengan tadarus mukadimah yang diringi dengan backsound untuk menambah nuansa lebih mendalam kepada para pembacanya. Pembacaan mukadimah berlangsung secara bergantian dari paragraf awal hingga akhir cukup memancing reaksi dari para sedulur maiyah untuk bertanya-tanya dan berfikir tentang tulisan yang telah terlampir, dan setelah selesai pembacaan mukadimah tiba-tiba dengan sendirinya banyak orang yang bertepuk tangan, apa yang sebenarnya mereka tepuk tangani? Selama ini disetiap gelaran Poci Maiyah disetiap bulannya tak pernah ada tepuk tangan setelah pembacaan mukadimah tapi gelaran kali ini terasa benar-benar berbeda dan inilah pertama kalinya tepuk tangan berdatangan dari para sedurur maiyah setelah pembacaan mukadimah selesai, apakah tepuk tangan mereka karena terkesan dengan mukadimah kali ini? atau karena suasana maiyahan malam hari ini benar-benar mesra dan membuat bungah suasana hati para sedulur maiyah. Seakan ada yang wah yang membuat mereka bertepuk tangan. Mereka memiliki jawaban sendiri atas pertanyaan ini, barangkali memang kejujuran dari dalam perasaan mereka yang penuh dengan kecintaan yang saling merindukan untuk berkumpul melingkar setiap bulannya secara tak sadar terexpresikan melalui tepuk tangan mereka.

Kebetulan tema yang diangkat Poci Maiyah kali ini adalah As-Shidiq sebuah judul tema yang sangat erat sekali dengan salah satu sahabat Nabi yaitu Abu Bakar As-Sidiq seorang yang terkenal akan kejujurannya dan rasa cintanya kepada Nabi Muhammad Saw. Kang Fahmi mencoba mengulas pembahasan “perjalanan tema ini sebelumnya adalah obrolan saya dan Kang Luay tentang pengalaman yang kemudian muncul kata as-Shidiq, kita berdua mencoba bertadabur tentang Khalifah Abu Bakar as-Sidiq yang tampa sengaja ternyata sama dengan mukadimah yang dibuat oleh Kang Farid. 

Mari kita menyelami kata as-Shidiq secara estimologis yang berasal dari kata Shodaqoh” sedikit pematik dari Kang Fahmi telah membuka pikiran orang-orang akan tetapi serasa kurang bila sholawatan belum dilantukan malam ini mulailah Kang Fahrudin kembali memimpin para jama’ah bersama-sama bersholawat alfasalam dan setelah sholawat Kang Fahmi teringat “ternyata as-Shidiq juga merupakan salah satu sifat Nabi Muhammad, Shidiq, Tabliq, Amanah, Fatonah”. Pembahasan mulai lebih mendalam dan Kang Fahmi mencontohkannya seperti ketika seorang yang sering berkhutbah di masjid yang suatu ketika lupa membawa catatan kecil yang biasanya dibawa oleh para khotib, karena lupa membuat catatan kecil maka dia membawa buku besar agar tetap bisa berkhotbah, mekipun kadang ada yang berkata “lhoo khotib kok bawa buku besar?” karena biasanya khottib terlihat cakap dan hafal akan semua materi yang akan disampaikan akan tetapi menurutnya keputusan untuk membawa buku besar tidak ada salahnya bagi seorang khotib itu malah sebuah kejujuran pada dirinya sendiri ketimbang tiba-tiba harus bikin catatan kecil mendadak dan tidak siap itu malah akan membuat tergesa-gesa tegasnya. Mbah Nahar mulai merespon dari tulisan di mukadimah, sebelumnya dia bertanya pada Kang Mus “Kapan Pertama kali dirimu berbohong?” “Mungkin sekitaran waktu SD” jawab kang Mus. “SD sudah terlalu tua untuk berbohong masalahnya anak kecil biasanya sudah mulai terbiasa berbohong seperti saat anak kecil memakan chiki ditanyai orang tua karena takut memnimbulkan batuk “kamu habis malan chiki kan?” karena anak itu takut dimarahin orang tuanya maka dia menjawab “nggak”. menurutmu itu umur berapa?” tanya Mbah Nahar. Kang Mus akhirnya tersadar ternyata iya sekitaran umur 4-5 tahunan manusia sudah mulai berbohong dan pertanyaan dari Mbah Nahar muncul kembali “kira-kira yang mengajari kita berbohong siapa?”. Lalu Mbah Nahar menjalaskan yang namanya kejujuran haruslah dengan presisi yang pas, tidaklah mungkin seorang orang tua membohongi anaknya jika efek yang ditimbulkan itu lebih besar manfaatnya, seperti ketika orang tua melarang anaknya untuk membeli es krim karena khawatir batuk maka orang tua bilang kepada anaknya “jangan beli es cream pait” dalam konteks ini kebohongan menjadi lebih baik dari pada kita berbicara jujur ada beberapa kondisi yang membuat kobohongan lebih baik dari pada jujur contoh lain ketika seorang anak menggambar sesuatu dengan bentuk gambaran yang tak jelas kepala manusia dikasih warna kuning, rambutnya putih pokoknya tidak sesuai realita tapi saat dia bertanya kepada orang tuanya “gimana gambar adek?” pastilah jawaban orang tuanya “wah gambarnya bagus” dalam hal lebih baik berbohong untuk menambah semangat anak daripada jujur malah akan membuat sang anak patah semangat, contoh lain lagi ketika ada seorang dikejar depkolektor akan dipukuli lalu dia bersembuyi dan depkolektor itu bertanya pada kita “tadi orangnya yang lari kemana ya?” dalam hal ini juga tidaklah mungkin kita akan jujur niat utama kita adalah menolong orang jika kita jujur maka orang yang bersembuyi itu akan terkena pukulan depkolektor maka dalam hal ini kita harus berbohong, tertulis pada mukadimah di terminal pertama.

Lalu Mbah Nahar mencoba membahas terminal kedua, membahas tentang kejujuran Abu Bakar dalam menyakinkan umat Islam saat kejadian Isra Miraj, akan sangat susah memang untuk dilogikakan dari Makkah menuju Palestina hanya dalam waktu satu malam itupun Allah untungnya memisahkan peritiwa Isra Miraj dalam al-Qur’an, peristiwa Isra ada di surat al-Isradan Miraj ada di surat an-Najmdan kalimat yang pertama digunakan adalah “Subhaana” kalimat yang kaitanya dengan pendekatan keimanan karena sangat susah dilogikakan oleh akal dan peristiwa itu kemudian diimani oleh Abu Bakar karena pendekatan yang dipakai adalah pendekatan iman bukan pendekatan akal bahkan Abu Bakar mengatakan “Kalo ada peristiwa lebih besar dari Isra Miraj selagi yang mengatakan adalah Rosulullah maka aku akan langsung mempercayainya”

Setelah itu Kang Luay mulai berbicara dan bertanya kepada para sedulur yang hadir “apa perasaan kalian semua dari tadi duduk di sini? Dingin? Jelas... Expresi apa yang kalian rasakan hari ini? Kenapa? Karena malam hari ini tidak ada yang mempermasalahkan pakaian yang kita kenakan, ternyata kedekatan kita, cara kita mbrayan dan menjaga paseduluran kita ternyata lebih penting dari pada apa yang kita kenakan lalu kenapa tema yang diangkat kali ini adalah as-Shidiq? Hal ini diangkat agar kita bisa merasakan kejujuran dalam diri kita sendiri, persaan kita sendiri bisakah mempertahankan itu atau tidak? Karena hal yang terbaik sebelum semua dalil bertemu dengan njenegan adalah hal terjujur di alam semesta yang njenengan temui”. Pembahasan ini pun berlanjut kepada cerita Kang Luay tentang kesalahan kodok karena setiap ada anak jatuh orang tua pasti bertanya “kodoknya di mana? Kodok?” ketidakjujuran pertama adalah kita suka menyalahkan sesuatu yang tidak kita sukai, kedua Kang Luay bertanya pada para sedulur apa hubungannya hujan dengan mantan? Apabila hujan turun satu persen yang diingat adalah mie gorang sembilanpuluh sembilan persen mantan itu hubungannya apa??? Dengan nada bercanda Kang Luay menanyakan itu dan seruh jama’ah tertawa. Kang Luay juga mewanti-wanti kepada para calon ibu-ibu untuk nanti jangan terlalu memberikan informasi bohong kepada anak seperti ketika orangtua akan pergi ditanyai anaknya “maa mau kemana?” kebanyakan orang tua jawabannya berbohong sering kali yang kerap akrab didengar di telinga orangtua selalu menjawab “mau suntik nak” padahal asliya pergi kepasar, seterusnya ia melanjutkannya tentang penjelasan bahwa anak kecil tidak akan mudah diajak berbicara akan tetapi mereka akan selalu pandai menerikan seseorang, “Coba saja tadi anaknya Kang Edy si Fattan diajak ngomong untuk diam pasti tambah lari-lari kecuali jika Bapanya ikut lari-lari pasti dia diam bertanya “Bapanya aku lagi apa ya??” tawa para jama’ah pun mebludak kegirangan mendengar itu suasana semakin malam terasa semakin menyenangkan dengan humor-humor yang dibawakan Kang Luay dan sekali lagi dia menceritakan lagi tentang soerang anak kecil dan ibunya yang rusuh, di suatu hari seorang ibu mengajak anaknya kepasar akan tetapi jauh sebelum berangkat ibunya sudah memperingati kepada anaknya untuk tidak membeli apapun dan si anak menuruti omongan ibunya tapi namanya anak-anak pastilah banyak keinginanannya ketika sampai di pasar si anak melihat banyak aneka mainan dan jajanan sampai ketika ia melihat dawet si anak meminta kepada ibunya “bu dawet”, “gausah gaenak” “dawet bu pokoknya dawettt klo gak nanti ibu dak demo” canda kang luay,  “okeh tapi kalo gak enak jangan neyesl yaa?”. Saking gemesnya sang anak menjawab “Iya buuu” si ibu pun membeli dawet tersebut sambil berbisik kepada pedangganggya “dawet satu jangan di kasih gula”. Es dawetpun siap untuk disajikan si ibu langsung memberinya kepada si anak dan ketika si anak meminumnya rasanya hambar dan dia bilang keibunya “iyaa bu hambarr gak enak” sambil mengasihkan es dawet pada ibunya. “tuh kan gakenak dibilangin rewel” ucap sang ibu kepada anaknya lalu kembali mengampiri pedagang es dawet tersebut dan bilang “mas ini dawetnya belum dikasih gula” dikasihlah gula pada es dawet itu dan si ibu meminum dawetnya sampai habis dan si anak tetap percaya bahwa dawet rasanya hambar.

Setelah selesai cerita Kang Luay menegaskan hal pertama yang perlu kita nikmati adalah kejujuran kita kepada perasaan kita sendiri untuk menikmati iman, akan tetapi orang yang berlaku jujur tidak berarti berlaku dzolim, mengatakan “kamu jelek banget sh” kepada orang lain bukanlah suatu kejujuran melaikan perbuatan dzolim, bagaimana bisa kita jujur terhadap diri kita sendiri apabila kita menyakiti orang lain?Seperti dalam bahasanya Mas Sabrang “kejujuran adalah memberikan rasa nyaman dan keselamatan pada orang lain” itu tertumpu dalam kata iman dan islam, apabila kita menjadi orang yang beriman maka kita memberikan rasa keselamatan kepada siapapun, apabila kita muslim mak kita berikan rasa selamat pada siapapun, baik itu harkat martabatnya, harta benda maupun nyawanya.

Setelah Kang Luay selesai bicara Mba Intan menawarhan kepada para sedulur barangkali ada yang mau merespon atau menanggapi dari beberapa pernyataan yang tadi dan Kang Hafiz dari slawi pos mencoba mengulas mukadimah pada teminal ke tiga ia mengatakan ketika seorang mencintai sesuatu maka akan ada pengorbanan seperti ketika orang berpacaran ia akan berkorban muntuk membuat pacarnya bahagai entah itu memberikan hadiah atau segala macamnya begitu pula saat seorang mencintai Allah dan Rosulullah lalu dilanjut Mas Cecep dari Tembok Kidul menanggpi penyataan Kang Luay tetang laku pendidikan orangtua  yang menurutnya salah ia beranggapan ketika seorang anak disuruh beribadah dengan iming-iming hadiah adalah sesuatu yang salah membuat anak menjadika berkarater materialismungkin akan lebih baik apabila saat menyuruh anak beribadah tanpa iming-iming materi sebagi contoh“nak sholat biar disayang Allah” Mas Cecep juga menanyakan sesuatu hal menurutnya kita adalah korban sejarah dari kejadian Adam dan Hawa yang makan buah kuldi sehingga ia diturunkan di dunia seandainya saja itu tidak terjadi pastilah kita sudah disurga dan apakah benar Nabi Adam itu manusia yang pertama yang diciptakan oleh Allah atau manusiayang pertama disempurnakan oleh Allah? Sedangkan di surat al-Baqoroh ayat 28-32 disitu menjelaskan tetang penciptaan manusia yang disitu ada kata ja’ala dan khalaqo yang berati menjadikan dan menciptakandan disitu para malaikat protes akan penciptan manusia bahwa akan terjadi pertumbahan darah serta ada pula kata Kholidina fi abda, kekal didalamnya akan tetapi jika kekal kenapa manusia diturunkan disurga dan mengapa di surga ada Iblis?

Sembari menunggu para jama’ah mempersiapkan jawaban untuk merespon pertanyaan Mas Cecep satu nomer lagu dari Ed Sheeran Perfect dan satu nomer lagi lagu berjudul akad khusus dinyayikan oleh Kang Fahmi untuk Kang Luay yang baru menikah.


Lanjut kembali ke pembahasan seseorang tak mau mengenalkan namanya ikut merespon tentang keluarnya Nabi Adam dari surga menurutnya keluarnya adam dari surga memang sudah direncanakan Nabi Adam mengetahui bawasanya ia akan menjadi khalifah di bumi. Lalu Kang Fahmi merespon pertanyaan dari Kang Hafiz tentang bagaimana cara mencintai Rosullah secara singkatnya seperti ini terkadang ketika kita mencintai sesuatu bisa jadi itu bukan mencintainya melainkan kita mencintai diri kita sendiri dengan tuttutan yang kita inginkan darinya, mungkin susah untuk memahami makna mencintai tapi setau aku setiap orang yang mencintai Rosulluah namanya abadi seperti Abu Bakar, Umar, Bilal bin Rahbah meskipun hanya seorang muazin tapi namanya abadi samapai sekarang, berikutnya Mbah Nahar kembali merespon beberapa pertanyaan yang diajukan para sedulur pertama tentang cara menindidik anak dengan iming-iming materi todak sepenuhnya salah karena memang mendidik anak kecil butuh keluesan tidak bisa langsung disuruh sholat dengan lilahitala semuanya bertahap, kedua tentang manusia sekarang berada di bumi bukanlah korban dari kelalaian Nabi Adam memakan buah kuldi melaikan memang nantinya manusia akan dijadika kholifaf di bumi perihal dulunya ada di surga biar nanti ketika turun ke bumi membawa nilai-nilai surgawi, ketiga tentang keberadaan Iblis disurga itu sebenernya dulu Iblis namanya Azazil dan dia taat pada Allah, kesalahannya Cuma ketika ia merasa sombong dan tak mau sujud pada Nabi Adam maka dikeluarkanlah ia dari surga dan berubah menjadi Iblis. Dilanjut dengan tambahan dari Kang Luay bahwa kita harus bersikap pada kemurnian untuk tidak berprasangka buruk terhadap apapun termasuk kepadakapitalisme, materialisme, empirisme, rasionalisme sampai skolastik dan sebagainya dari peradaban barat yang sering sekali kita bentur-benturkan dengan peradaban timur jangan diuzoni terlebih dahulu semisal materialisme tidak baik, padahal kita hidup dalam dunia materi, termasuk jazad tubuh kita adalah materi, maka kita harus bersikap pada kemurnian karena tidak semuanya buruk ada porsi dan takaran tertentu yang akan menjadi baik bila ditempatkan dengan pas, pembahasan dilanjut dengan metodelogi berfikir orang Indonesia yang kadang keliru untuk membedakan gula dan manis, kebanyakan orang menggagap gula dan manis itu sama padahal berbeda, terbuktu buah mangga tanpa gula tersa manis hal ini perlu dibenahi sebelum melakukan proses tadabur, Kang Luay juga membeberkan pemaknaan tombo ati yang berjumlah lima namun sejatinya semuanya adalah yang pertama, apabila salah satu dari lima itu dilakoni secara otomatis maka dapatlah semuanya, Kang Hafiz juga ikut ditanggapi Kang Luay perilah merasa berkorban itu hanya akan terjadi kepada krang yang meresa memiliki, apabila dilogikakan dengan inalillahi rojiun maka apa yang kita miliki saat ini? Tangan? Milik Alllah, tubuh dan seluruhnya adalahlah milik Allah? Lantas apa yang kita korbankan? Seluruh kehidupan manusia telah diatur dan salah satu yang bisa dikendalikan manusia Cuma satu kehendak”
Haripun semakin malam namun para sedulur maiyah masih tetap bertahan untuk sinau bareng dan Kang Mustofa mengajak Ki Haryo untuk ikut angkat bicara.

Ki Haryo bercerita waktu dia bertemu Mbah Nun untuk menyerahkan wasiat dari Abahnya Ki Enthus Susmono, suatu hari di rumah kediamannya Abahnya sedang duduk merokok sambil nonton Mbah Nun di youtube memanggil Ki Haryo dan bilang “tolong carikan alamat Mbah Nun abah ingin memberikan gendang jaipong satu set” “Lhaa kenapa bah?” jawab Ki Haryo “Iyaa Abahh sering menggunakan pemikiran Mbah Nun di pemerintahan dan pewayangan” namun ternyata keinginan itu terlupa karena kesibukan Abah Entus menjabat bupati Tegal dan cuti untuk berkampaye sampai-sampai akhirnya meninggal dunia, anaknya Ki Haryo yang dipesani untuk mencarikan alamatnya Mbah Nun juga ikut terlupa karena kesibukannya dan setelah beberapa lama terlupa suatu hari Ki Haryo berkali-kali berminpi Abahnya Ki Entus mengingatkan wasiatnya untuk memberikan kendang jaipong kepada Mbah Nun akhirnya Ki Haryo langsung memesan kendang jaipong itu pada temannya dari sunda dan menghubungi Gus Misftah dari pesantren ora aji Jogja dan Mas Sigit dari Sedhal Waton yang pada akhirnya dapat kontak Mas Zaki adeknya Mbah Nun dan akhirnya dengan berbagai perantara Ki Haryo bisa bertemu dengan Mbah Nun di pendopo Kiai Kanjeng iapun langsung menyampaikan wasiat Abahnya untuk menyerahkan kendang jaipongan.

Setelah itu Ki Haryo juga ikut merespon tulisan di mukadimah ia memberi contoh ada seorang suami istri yang selingkih namun khilaf tapi ketika bersatu kembali timbul dua perasaan yaitu sakit hari dan cinta, Ki Haryo beragapan dua hal itu adalah kejujuran baik rasa sakit hati maupun cinta padahal berlawanan dan yang menjadi pertanyaan bagaimana menanggapi kedua kejujuran itu? Opsi pertama mempertahankan hubungan dan teringat rasa sakit hati dan opsi kedua adalah bercerai dan hal itu akan menimbulkan banyak resiko perasaan lain akan tumbuh juga, dalam hal ini bisa disimpulkan bahwa untuk kejujuran kita perlu membohongi kejunuran yang lain.

Setelah Ki Haryo berbicara dilanjut dengan persembahan puisi dari Bu Retno dan perlahan hujan turun mengguyur para sedulur maiyah, semakin derasnya hujan tak membuat para sedulur berpulang mereka masih tetap duduk melingkar yang akhirnya dilantunkanlah sholawat Indall Qiyam pada malam itu untuk menghangatkan suasana. Sejenak hujan reda namun setelah itu kembali turun bertambah deras akan tetapi para sedulur maiyah masih tetap bertahan hujan-hujanan dengan rindu yang amat tebal dalam hatinya, entah apa yang membuat mereka tak mencari-cari tempat teduhan dan tetap bertahan di tempat terbuka untuk bermaiyahan, namun sayang sekali seluruh peralatan elektronik termasuk microphone dan alat musik harus diamankan untuk mencegah terjadinya konsleting dan mau tak mau acara harus kami selesaikan dan akhirnya para sedulur besalaman sambil diringi lagu Hasbunallah. 

Maiyahan kali ini terasa begitu spesial seakan Kanjeng Nabi mendengar rintihan rindu para sedulur yang bermaiyahan kepadanya sehingga semesta takjub dan menurunkan hujan yang mungkin ini adalah pertanda bahwa Nabi Muhammad juga merindukan umatnya, Shollu Ala Nabiy.

Rabu, 03 Juli 2019

As Shidiq



Mukadimah Poci Maiyah Juli 2019
Oleh : Abdullah Farid 

Assalamualaikum, wr. wb.

Pertemuan bulan ini, Poci Maiyah akan mengajak sedulur-sedulur untuk piknik, rihlah, wisata, atau setidaknya ziarah. Qul sirru fil ardli fandhuru kayfa kana aqibatul minal mukadzibin. Yap, mukadzibin, para pendusta. Kita akan berjalan-jalan, melakukan petualangan spiritual dan intelektual sampai dini hari nanti, untuk semakin mengenal diri dan mudah-mudahan semakin mesra frekuensi keimanan kita pada Allah dan Rasulullah.

Lawan dari 'as shidiq', yang paling sederhana kita pahami adalah dusta, para pendusta, al mukadzibin. Apakah kita termasuk itu?

Sebelum berangkat berjalan-jalan, kita akan mengawalinya dengan empat terminal. Ash Shidiq yang dimaknai kejujuran (terminal pertama), ash Shidiq yang dimaknai 'yang membenarkan kebenaran rasulullah' (terminal kedua), ash Shodiq/shodiqoh yang dimaknai teman seiman, se-frekuensi (terminal ketiga), dan shodaqoh yang dimaknai memberikan apa yang kita cinta untuk Tuhan atau utusannya. Kita jelajahi dulu saja terminalnya satu-satu, sebelum bus poci maiyah berangkat. Mari...

Terminal pertama adalah ash Shidiq yang dimaknai kejujuran. Kualitas diri yang di jaman ini semakin direndahkan, seperti akhlak nabi yang lain, saking tingginya martabat manusia jaman ini. Ada kecenderungan peradaban yang semakin 'jereng', juling, yang menganggap akhlak nabawi adalah hal murahan, sedangkan bermegah-megahan dalam bentuk apapun diperebutkan. Tak bisa membedakan mana roti dan mana tai. Di maiyah kita belajar untuk menyederhanakan yang rumit, dan menyelami kesederhanaan yang ternyata dinamis, memiliki keruwetan ketika kita mendalaminya. Ada kejujuran yang justru menyelamatkan, tapi juga ada kondisi-kondisi tertentu yang jika kita jujur saat itu bisa celaka kita. Misalnya, jujur ketika masakan istri ternyata nggak enak, dsb. Ada kondisi-kondisi yang mengharuskan kita untuk bohong, bukan untuk menyelamatkan diri sendiri, tapi lebih besar dari itu. Misalnya ketika Mbah Nun menghadang rombongan truk di kalimantan sana berdialektika dengan bahasa yang sangat baik, demi tidak terjadinya perang yang lebih besar antara dayak dan madura. Ada kejujuran yang dikemas dengan bahasa yang bertele-tele, ada orang yang sengaja menerima kebohongan untuk menyelamatkan harga diri orang yang berbicara dengannya (seperti apapun engkau lukai aku, bohongi aku, hati ini tetap mencintaimu), ada juga kejujuran yang harus dimodifikasi karena aturan yang justru menuntut orang-orang di dalamnya untuk berbohong. Terminal satu, luas juga ya.

Terminal kedua adalah ash Shidiq yang dimaknai 'yang membenarkan kebenaran rasulullah'. Kisah ketika abu bakar 100% yakin dengan kisah isra mi'raj sang nabi. Melakukan perjalanan mekah-palestina hanya semalam, yang di jaman itu belum ada pesawat terbang, jet, atau ojek/onta online. Kabar menggemparkan yang menjadikan banyak orang mukmin meragukan kerasulan Muhammad Ibn Abdullah, sebagian murtad, dan hanya setengah jumlah orang mukmin saat itu yang masih menjaga keimanannya. Ahadzaladzi ba'atsallahu rasula? mereka yang murtad dan keimanannya goyah termakan omongan orang-orang kafir quraishi. Bahasa tegale, 'Nyong yakin sampean rasul, tapi ya aja mblandrangen nemen. Mekah-Palestina kok ya sawengi?'. Tapi juga masih ada yang tetap dalam keimanannya, dan mereka diimami oleh Abu Bakr yang kelak mendapat gelar 'ash shidiq', yang membenarkan kebenaran. Orang-orang dengan keimanan konstan, ajeg, badai atau kabar buruk seperti apapun, allah dan rasulullah tetaplah yang nomor satu dalam hatinya. Huwa anzalas sakinataw fi qulubil mukminin liyazdadu imana ma'a imanihim. Lalu, itu kan dulu. Memangnya kita juga bisa menjadi golongan orang-orang yang membenarkan kebenaran rasul di jaman yang seperti ini?

Terminal ketiga adalah ash Shodiq/shodiqoh. Teman seiman, sefrekuensi, yang dalam hal ini, tak mungkin kita datang di poci maiyah bukan karena (setidaknya) getaran frekuensi yang sama. Karena tak mungkin, frekuensi yang berbeda itu mau membaur berlama-lama bersama. Marojal bahroyna yal taqiyan, baynahuma barzakhu la yabghiyan. Akan selalu ada batas antara dua hal berbeda sekalipun berada dalam satu dimensi. Dan dalam jalan nabi, kita diajarkan bukan hanya untuk berteman, bersaudara sepintas lalu saja. Pertemanan kita adalah ikatan dunia akhirat, tak terbatasi waktu, tak terputus wilayah. Allahumaghfirlana wali-walidayna, wa lil mukminina wal mukminat al ahya'i minhum wal amwat. Meski memang tak bisa kita video call dengan mereka yang sudah di alam kubur. Susah.

Terminal terakhir adalah shodaqoh. Mengorbankan diri, memberi apa yang kita cinta demi allah dan rasulullah. Tak harus materi, karena ternyata meluangkan waktu untuk berdzikir setelah subuh, atau kapanpun kita mampu, itu juga shodaqoh. Tersenyum pada saudara, juga shodaqoh. Tapi tentu itu tak bisa kita samakan dengan kencleng jumatan yang melewati kita. Mensenyumi kencleng justru akan terasa tempang (Otaknya). Dan apa yang lebih besar dari jual-beli, memberikan apa yang kita cinta untuk allah dan rasulullah? Innallahasy taroo minal mukminina anfusahum wa amwalahum. Kita telah dibeli dengan pembelian yang sangat besar, tidakkah kita berpikir, jika kita ini milik-Nya, mengapa Dia harus membeli sesuatu yang sudah Dia miliki?

Nah, bus poci maiyah hendak berangkat. Kencangkan sabuk pengaman. Siapkan snack, karena ini akan lebih lama dan asyik ketimbang menonton Avenger : Endgame. Insya Allah Bismillahirrohmanirrohiim.

Selasa, 25 Juni 2019

Beberapa Cara Hidup Bahagia

Pagelaran poci maiyah dengan tema bungah kepanggih alif. Satu persatu perkata dibahas mulai dari kata bungah yang dalam bahasa Indonesia berarti bahagia, kepanggih adalah bertemu, dan alif adalah salah satu rumpun dari huruf hijaiyah yang katanya; alif adalah huruf yang paling ikhlas, ia ada namun tak pernah menyombongkan diri. Ba.. bi.. bu.. ba.. dan seterusnya bisa hadir dan menampakan keeksistensiannya, namun tidak dengan alif, jika ada a.. i.. u.. maka dia bukan alif melainkan adalah hamzah. Alif adalah hilir mudik dari titik satu ke titik yang lain, ibaratnya adalah dari titik awal manusia diciptakan hingga titik akhir yakni mudik keharibaanya.
Begitu ada lafadz alif yang terlintas dalam benak saya adalah tentang cerpen buah karya Gus Mus dengan judul tulisan kaligrafi (alifku berdiri tegak dimana-mana). Sebuah kaligrafi lafadz Allah yang gagal sehingga penulisnya tidak melanjutkan, ia menulis dan berhenti pada huruf alif tanpa meneruskan pada lafadz lillah. Cerpen-cerpen karya Gus Mus memang luar biasa, apa lagi yang dengan judul "Gus Jafar" namun tentu kita tidak akan membahasnya disini. 
Alif memang memiliki banyak makna dan nilai filosofi yang bikin mumet bro. Apa lagi alifnya para jomblo "berdiri tegak tanpa tau arah jalan pulang". haha.. Selain itu urusan utang piutang juga belum selesai, kan jadi tambah mumet.!!😋 mending kita ngobrol tentang kebahagiaan (bungah). Agar menjalani hidup yang memang penuh dengan beribu problematika bisa kita selesaikan dengan cara gembira.

Yang paling menarik dari pagelaran semalam di poci maiyah adalah, apa yang disampaikan oleh salah satu dari jaamaah poci maiyah, yang kurang lebih adalah seperti ini. "bahwa kebahagiaan (sa'adah) bisa terwujud dengan cara meperoleh ketenangan di hati". Maka timbul satu pertanyaan lagi, yakni bagaimana kita bisa memperoleh ketenangan hati? coba kita rasakan dengan dalam. Menurut orang alim, bahwa ketenangan dalam hati bisa kita peroleh dengan cara tidak melakukan kesalahan dalam bentuk apapun dan dimanapun. Kita akan merasa gelisah ketika melakukan kesalahan di lingkungan keluarga, tempat kerja, dan lain sebagainya. Dan puncaknya adalah ketika kita melakukan kesalahan dalam beragama (hati tidak akan merasakan tenang). Seorang pencuri mungkin akan bangga ketika ia berhasil mencuri, namun hidupnya selalu dihantui perasaan was-was dan hatinya tidak tenang sebab terbayang resiko jeruji besi atau dibakar masa ketika kesalahannya (mencuri) diketahui orang lain. Hal ini mungkin selaras dengan apa yang disampaikan oleh abu Hamid al-Ghozali dalam kitab Ihya' Ulumiddin.
"Assa'adatu kulluha fi ayyamlika rojulu nafsahu, wassyaqowatu fi antamlikahu nafsuhu". (Kebahagiaan adalah ketika seseorang mampu menguasai nafsunya, kesengsaraan adalah saat seseorang dikuasai nafsunya).

Kecenderungan dari perkara melakukan kesalahan adalah ketika kita tidak mampu lagi menguasai nafsu, tentu bukan sebatas nafsu birahi, namun juga terkait nafsu atau keinginan-keinginan yang memang tidak bersandar pada apa yang Allah ridho. Dan marilah kita beristiqomah untuk terus bisa mengendalikan nafsu agar tetap tidak melakukan kesalahan sehingga kita memperoleh ketenangan hati, yang membuat hidup dan mati kita bahagia (mati tersenyum atau cekakakan ala wongedan).

Maka berbahagialah bagi mereka yang membahagiakan orang lain, minimal dengan cara tidak menyakitinya, tidak merampas haknya, tidak merendahkannya, dan meyelipkan namanya di setiap doa.

*M. Samsul Hadi

Selasa, 04 Juni 2019

BUNGAH KEPANGGIH : ALIF

Mukadimah Poci Maiyah Juni 2019 
Oleh: Rizki Eka Kurniawan

Alif...

Jika dibaca huruf itu berbuyi tapi membisu, tak memiliki presepsi bermakna suyi. Cobalah kalian pikirkan dengan akal rasional tentang “Alif”, maka yang terlintas tak lain adalah huruf yang ramping berbentuk vertikal, sekali lagi jika dibayangkan huruf itu sangat sederhana dan kebanyakan kita hanya mengetahuinya sebagai huruf hijaiyah biasa, akan tetapi terkadang sesuatu yang bermakna dalam tersembuyi, Alif melambangkan keheningan, maka dari itu sifatnya diam. Keterbukaan makna pada Alif hanya akan terjadi ketika kamu tetap diam dalam keheningan seperti Musa yang tak boleh bertanya pada Khidir, dan ajibah Ilahi yang akan menuntunmu untuk memahami.

Alif...

Tak terlepas dari kemistikannya dia mendarisari penciptaan huruf lainnya, jika Alif dibengkokan maka akan melahirkan huruf baru, Alif hadir disetiap surah tanpa disadari, ia telah memenuhi prinsip dasar segala sesuatu, ia hadir disegala sesuatu dan tak berlawanan dengan lainnya, ia tunggal tapi bermakna tak terhingga, kasat mata dan tegak dengan sedirinya.

Maka sekali lagi aku ajak kalian untuk membuyikan “Alif” dalam keheningan...

Berbuyi tiga...

Alif, Lam, Mim...

Alif, Lam, Ro...

Antara pecinta, yang dicinta, dan cinta berjarak rindu... Tetapi apa hubunganya Alif dengan Bunggah Kepanggih? Karena kali ini mereka yang berjarak rindu sedang menuju untuk bertemu bersama menemukan kebahagiaan, semesta menyaksikan ada rindu yang dipendam begitu lama oleh para perantau di luar kota sana untuk kembali bertemu sanak keluarganya di kampung-kampung halaman, setelah sekian lama dipendam karena beberapa alasan kewajiban untuk memenuhi kebutuhan, mencari nafkah untuk anak dan istri mereka, melanjutkan sekolah, dan berbagai alasan lainnya, kini arus akhir ramadhan seakan membawa mereka untuk kembali pulang dan sejenak meninggalkan perihal urusan-urusan dunia, pikiran-pikran mereka telah tertuju pada hari raya sebagian mereka telah bersiap-siap dengan kedaraan-kedaraan mereka, sebagian lagi sedang menata-nata barang yang akan di bawa pulang sebagai oleh-oleh dan perbekalan. Mereka para perantau adalah para perindu yang memiliki hak untuk bertemu, tetapi mereka harus bersabar karena mereka juga memiliki kewajiaban yang harus ditunaikan agar sekembalinya mereka bisa “Manggih Bunggah Kepanggih” jangan sampai sekembalimu ke kampung halaman hanya akan merepotkan keluargamu saja, kepulanganmu harus bisa membuat mereka bahagia dan kembali mesra dengan suasana desa. kewajiban-kewajibanmu harus kamu tunaikan lebih dulu sebelum kamu pulang, sehingga keluarga dan masyarakat sekitar menyambutmu dengan senang tanpa ada celaan yang meyakitkat.

Dan syukur alhamdullah Tuhan memberikan jalan kepada masyarakat untuk berpulang setiap tahunnya, masyarakat kita memimiki tradisi mudik di setiap tahun menjelang lebaran idul fitri, para pemudik itu tidak hanya berjalan dari luar kota ke kampungnya melaikan sedang menunaikan suatu hal teologi yaitu inallahi rojiun, perjalanan mereka bukan semata-mata perjalanan yang bersifat material melinkan juga perjalanan batin yang menuntun mereka lebih dekat dengan Tuhan, mereka sedang berlatih untuk kembali kepada asal musal penciptaannya, mereka sekan sedang diajak sebentar untuk beriti’kaf dari segala permasalahn dunia yang hampir membuat pecah kepala, berdiam sejenak mengkosong hati yang tadinya terisi oleh banyak keinginan-keinginan, harapan-harapan, angan-angan yang belum tertunaikan sampai sekarang, sehinggga hati kita dikuasai dunia seutuhnya, kali ini kita mencoba mengkosongkan itu semua dan menyisakan Allah saja dalam hati dan ingatan kita, menjadikan hati sebagai baitullah karena sesungguhnya Dialah pemilik hati kita, Dialah Tuan Rumahnya, Sang Penghuni Qolbu yang sesungguhnya. Sebentar ber’itikaf telah membebaskan jiwa dari dunia alangkah baiknya jika hal itu kita sinambungi dengan tafakur sesaat untuk membuka cakrawala pengetahuan, sesuai dengan Hadis Nabi “Tafakur sesaat lebih baik daripada beribadah 70 tahun” luangkan waktumu sesaat untuk merenung-renungkan tentang apa yang telah dilakukan hari ini? Bagaimana rencana kedepan?, mencoba memetahkan rencana untuk sebuah hari yang lebih baik dengan rumus perhitungan yang mantap, sehinggah langkah perjalananmu tidak lagi terbata-bata alif-ba-ta-tsa, kamu sudah bisa membaca semesta ini dengan mudah, mampu membaca cuaca dan kondisi kehidupan, dengan begitu maka maka kamu akan ridho dan diridhoi-Nya dan perintah Tuhan tak sengaja telah kalian tunaikan, karena Allah SWT berfirman:

"Yaaa ayyatuhan-nafsul-muthma`innah, irji'iii ilaa robbiki roodhiyatam mardhiyyah”

"Wahai jiwa yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya." (QS. Al-Fajr 89: Ayat 27-28)

Dan mungkin di gelaran poci maiyah kali ini para perindu itu sedang duduk melingkar bersama dengan perasaan bunggah sehabis bertemu keluarga dan mencoba menemukan kembali kebahagiaan baru di setiap pertemuan, maiyah seakan memiliki magnet yang menarik mereka untuk hadir bertemu meskipun itu hanya sekedar diskusi, ngobrol, ngopi, udud, nlemprak di dinginnya malam, kali ini poci maiyah menyambut mereka dengan kehangatan, membuat mereka kembali mesra dengan keadaan sekitar, bersama-sama menciptakan atsmofir yang sejuk untuk dihirup. Atau mungkin maiyah juga sudah menjadi bagian dari tujuan mereka pulang ke kampung halaman untuk Manggih Bunggah Kepanggih? Meskipun kita telah sadar bahwa hidup hanya sekedar peralihan rasa, hari ini kita bertemu dengan perasaan bahagia nanti esok kita berpisah dengan perasaan sedih dan hal itu terjadi berulang kali sampai kita mati, tapi bukankah perpisahan diciptakan untuk kita bisa saling merindu memendam rasa ingin bertemu?, bukankah rindu adalah kesakitan yang nyata bagi pecinta? Sehingga kehadiran kekasih menjadi obat di setiap pertemuannya, maka kerinduan yang telah lama kalian pendam, di hari ini telah terobati oleh Bunggah Kepanggih, akan tetapi serasa ada yang kurang jika kita belum menemuian makna “Alif”. Maka kali ini Poci Maiyah mengajak para perindu itu untuk menemukan makna “Alif” disetiap Kepanggih (Pertemuan) agar bisa Manggih (Mendapatkan) rasa Bunggah (Senang), cobalah untuk kembali diam merenungkan arti dari setiap kata yang telah terbaca, dengan keheningan malam ini bersama lagi membuyikan huruf “Alif” maka ia berbuyi diam, Dia yang menciptakan segala apa yang ada, Dia tetap hadir disetiap kehadiran, Dia tak berlawanan terhadap segala hal, Dia berjarak rindu denganku, aku dan Dia terikat dalam Tajali cinta, maka makna “Alif” adalah... Diam, suyi kembali disetiap pemaknaan.