Tadzim (Murod-Alim #1)

Diantara banyaknya jumlah santri-santri Pondok Pesantren Attauhidiyah, Kang Murod lah yang paling terkanal, bahkan ketenaranya itu bagaikan selebritis dari Ibu Kota, begitu juga dengan gosip tentang dirinya. Puncaknya adalah dua hari yang lalu, yaitu ketika ia dipaksa sowan oleh pengurus pesantren agar meminta maaf dan mengakui kekeliruannya kepada Kiai Khasan, beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren ini. Setelah kejadian itu, banyak dari santri-santri yang membicarakan Kang Murod, terutama saat mereka sedang asik ngopi di warung sebelah pojok pesantren. Begitu juga dengan Aku dan Mas Alim, kami pun kerap ikut-ikutan menggosipi Kang Murod.
“Entah apa yang ada dalam pikirannya ya? kenapa ia senekat dan sekonyol itu, berani betul ia kepada Kiai Khasan,” kata Mas Alim.
“Nggak tahu kenapa Mas, dia nggak pernah ngaji ta’lim mungkin.
“Siapa bilang saya nggak pernah ngaji ta’lim, bahkan semenjak hampir sembilan tahun nyantri di sini, saya sudah khatam hingga tiga kali lho,” tiba-tiba terdengar suara Kang Murod dari arah belakang kami.
“Tapi kitab ta’limmu itu hannya kau taruh di lemari saja rod, tak ada satu pun yang masuk dalam otak dan hatimu, kelakuanmu waktu itu edan bercampur nekat rod,” Mas Alim menimpalinya.
 Sementara itu aku hanya mampu terdiam, sedikit malu juga dengan Kang Murod karena kepergok sedang membicarakan dirinya. Setelah memesan kopi ia pun ikut duduk dan ngobrol-ngobrol bersama kami, membicarakan kelakuannya saat dua hari yang lalu, namun ternyata menurut pengakuannya itu, ia masih belum sepenuh hati meminta maaf kepada Kiai Khasan, semua itu ia lakukan hanya untuk menuruti perintah pengurus pesantren saja. Katanya, suatu saat nanti ia pasti akan membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.
Suara jangkrik sudah mulai terdengar di telinga kami, bagaikan lonceng tanda hari sudah mulai larut malam. Setelah membayar beberapa cangkir kopi dan rokok, kami pun kembali ke bilik pesantren untuk beristirahat malam.
Kang Murod itu memang pintar bahkan sedikit cerdas, terlihat saat kami ngobrol-ngobrol di warung tadi, mulai dari ilmu nahwu, shoroh, dan tafsir sepertinya sudah sangat begitu ia kuasai, bahkan untuk memperkuat argumennya, tidak jarang ia melontarkan beberapa hadits beserta arti dan halaman yang tertulis dalam kitab shokhih bukhari. Seribu nadhom dalam kitab al-fiyah pun katanya sudah ia hafal di luar kepala. Sangat jauh berbeda jika dibandingkan denganku, diam-diam aku pun sedikit mengagumi kecerdasan Kang Murod.
Waktu terus saja berjalan bersamaan dengan kisah tentang kehidupan, satu detik saja takkan pernah mampu terhentikan. Musim panas bulan yang lalu telah terlewati, rintik hujan pun berganti datang membasahi pesantren kami. Hingga suatu malam hujan lebat turun begitu deras, beberapa jerambah pesantren terlihat becek dengan genangan air, begitu juga dengan ndalem Kiai Khasan. Beberapa santri terlihat sibuk sedang membersihkannya, termasuk juga dengan Mas Alim. Dari arah kejauhan terlihat juga Kiai Khasan sedang membersihkan saluran got yang mampet, Mas Alim bergegas menghampiri beliau, bermaksud untuk ikut membantu Kiai Khasan.
“Biar saya saja Kiai yang membersihkan,” kata Mas Alim.
“Nggak usah cung,” Kiai Khasan menolaknya. Beliau memang terbiasa mengerjakan apa saja dengan tangannya sendiri. Sangat jarang beliau menyuruh orang lain atau santrinya.
“Nggak apa-apa Kiai, biar saya saja,” Mas Alim sedikit memaksa.
“Ya sudah, tapi hati-hati ya, terimakasih ya cung,” beliau pun kembali masuk ke ndalemnya.
Mas Alim memang begitu, ia selalu berusaha patuh terhadap perintah pengasuh pesantren, bahkan kerap kali ia meminta agar Kiai menyuruhnya mengerjakan sesuatu apa saja. Terkadang tak disuruh pun ia sering memijat Kiai Khasan ketika baru pulang dari luar kota dan telihat lelah. Namun sayangnya ia bukanlah termasuk santri yang begitu pintar, ketika di Madrasah Diniyah saja ia sering dihukum gara-gara setoran hafalannya tidak sampai tuntas, walaupun sekuat tenaga ia telah berusaha. Namun sikapnya yang patuh terhadap Kiai dan tekun itulah yang membuat kami sangat menghormati dan mengaguminya.
***
Setelah beberapa tahun terlewati di pesantren, kini sahabat-sahabatku pun mulai menghilang tertelan oleh waktu. Mereka Kang Murod dan Mas Alim telah terlebih dulu kembali ke kampung halamannya, mereka berdua terpaut tiga tingkat di atasku, wajar saja jika mereka telah lulus terlebih dulu dari pesatren. Sementara itu aku harus terus meneruskan pendidikanku di pesantren ini selama dua tahun lagi. Sudah hampir dua tahun kami tak pernah bertemu. Begitu juga dengan Kiai Khasan, kami para santri-santri sudah tak mungkin dapat berjumpa dengan beliau. Diusia yang belum begitu tua, beliau sudah terlebih dahulu maninggalkan kami, pergi sowan kepada sang Gusti. Kiai Khasan meninggal dunia tepat setelah acara pernikahan putra pertamanya, dan kini pengasuh pesantren digantikan oleh putranya yang baru saja menikah itu, beliau adalah Gus Muh.
 Saat acara khaul pertama Kiai Khasan, banyak dari para alumni yang sengaja datang ke pesantren, termasuk juga dengan Mas Alim. Dan di sinilah aku dapat kembali berjumpa dengannya, ternyata ia sama sekali tak pangling dengan wajahku. Justru aku yang sedikit lupa dengannya. Pertama kali melihatnya, aku kira ia adalah bejabat Negara yang secara khusus diundang dalam acara khaul, tubuhnya yang semakin gemuk, kumisnya yang tebal, dan mobil berplat nomor warna merah itulah yang membuat aku tak mengenalinya. Namun tiba-tiba perlahan ia menghampiri aku yang sedang duduk di jerambah masjid pesatren.
“Soleh ya? Ini saya leh, Mas Alim.
“Ya Allah, aku pangling denganmu Mas,” lalu kami pun saling berjabat tangan.
Setelah itu kami berjalan bersama menuju tempat prosesi acara khaul dan makam Kiai Khasan, selesai membaca tahlil dan memanjatkan do’a bersama untuk Kiai Khasan, kami saling bercerita tentang kenangan masa lalu katika Mas Alim masih di pesatren ini. Tidak ketinggalan juga ia bercerita tenang perjalanan hidupnya, hingga ia menjadi seperti saat ini, seorang Wakil Walikota di tanah kelahirannya. Ini semua sebab barokah Kiai Khasan, katanya. Ketika sedang asik ngobrol, tiba-tiba aku teringat dengan Kang Murod. Seorang santri yang dulu pernah aku kagumi karena kepintarannya, aku pun menanyakan kabarnya kepada Mas Alim.
“Lalu bagaimana dengan kabar Kang Murod Mas? Mungkin nasibnya jauh lebih beruntung dari sampeyan ya Mas, sampeyan saja bisa jadi Wakil Walikota, apa lagi dengan Kang Murod yang jauh lebih pintar, hahaha…”
“Bisa saja kau ini,” kata Mas Alim.
“Begini leh, almarhum Kiai Khasan itu orang hebat, beliau mampu saja mengelabui kita. Subakhanallah, beliau itu ternyata selama ini berpura-pura. Seperti riya’ agar tak dianggap betul-betul taqwa kepadaNya, terlihat sombong agar tak seperti betul-betul ikhlas hanya karenaNya, tak begitu mengharapkan simpati orang lain, namun diam-diam beliau mendoakan.
Sebetulnya aku sendiri masih sedikit heran, mengapa Mas Alim membahas Kiai Khasan, bukankah yang aku tanyakan tadi itu adalah kabar Kang Murod. Setelah sejenak menghelakan nafasnya, Mas Alim pun kembali dengan sangat hati-hati menjawab pertanyaanku.
“Tugas kita sebagai santri atau pelajar hanyalah menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, bukan sibuk mencari kesalahan guru-guru kita atau mencari pembenar bagi diri kita, kau ingat peristiwa Kang Murod saat di pesantren dulu? Itulah sebabnya saya tak pernah setuju dengan yang ia katakana, ia terkelabui oleh ke waro’an Kiai Khasan, dan kini ia pun harus menanggung resikonya, kenapa dulu ia tak betul-betul meminta maaf kepada Kiai Khasan, bukankah itu perkara yang mudah. Kepintaran bukanlah jaminan kesuksesan seseorang leh.
Angin yang dari tadi berhembus seakan-akan tak lagi meniupkan sejuknya, suasana hening menghampiri kami. Sepatah kata pun tak dapat terucapkan dari lisanku, hanya mampu mendengarkan dengan hikmat apa yang disampaikan oleh Mas Alim, ucapannya bagaikan sabda-sabda suci yang turun dari langit, menusuk dan menghuncam dalam sanubariku.
“Hai, kok bengong,” Mas Alim mengagetkanku.
“Sepertinya sudah sore leh, setelah sowan ke Gus Muh, nanti aku langsung pulang ya, aku pasti akan kembali merindukanmu leh.
“Iya Mas, hati-hati di jalan ya.
Setalah saling berjabat tangan Mas Alim pun kembali perlahan pergi meninggalkanku, sementara itu aku masih saja sedikit meresapi kata-kata Mas Alim yang tadi. Mungkin inilah yang disebut dengan barokah dari sami’ na wa atho’na kepada sang guru. Hingga Mas Alim mengakhiri ceritanya, aku pun masih belum begitu faham dengan kabar Kang Murod. Dan memang aku sudah tak ingin begitu tahu, karena saat ini ada yang lebih penting yang harus aku ketahui, yaitu etika santri atau pelajar dalam menuntut ilmu.

Postingan terkait:

1 Tanggapan untuk "Tadzim (Murod-Alim #1)"