Menang Tanpo Nga(n)shorake #2 (Murod-Alim #15)


"Islam yang saya tahu adalah menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakan sholat, berpuasa di bulan romadhon, menunaikan zakat dan haji bagi yang mampu."

Rozak menjawab dengan penuh ketegasan, lalu Abduh menambahi dengan lebih lembut; 

"Maka mengajak siapapun kedalam islam, baik bagi islam sendiri maupun yang belum mengenal islam adalah kewajiban bagi siapapun pemeluk islam Kyai."

Kyai Khasan menyandarkan tubuhnya di pilar bambu gubug, memejamkan mata sembari telapak kanannya menepuk lutut dan sesekali mengangguk. Abduh dan Rozak menunggu respon Kyai Khasan. 
Kyai Khasan membuka mata dan tersenyum kepada keduanya, dan keduanya merasakan lega. Sepertinya mereka tidak menemui kesulitan meminta izin kepada Pemuka desa ini. 

DUAK!!! 

Suara benturan di pintu mengagetkan kedua orang tersebut. Alim hanya melongo meliat murod kembali kemari dengan papan di tangannya. Dan kenapa pula dia bisa seteledor itu menabrak pintu. 

"Eh? Lho? Abah Yai masih disini ternyata? Hehe, maaf mengagetkan, ada tamu sepertinya, saya didalam aja kalau gitu bah yai."
"Ehem.. Kesini rod!! "

Mendengar kalimat tersebut wajah murod langsung pucat pasi, keringat muncul seketika di dahinya. Menatap Alim penuh kelemahan dengan maksud

-Tulungi aku lim, aku emoh di hukum lagi-

Alim mendesah sambil menatap Murod menggelengkan kepalanya. 

-Sorry Rod, ini masalahmu, kamu berani kabur tadi dengan cencang-cenceng tanpa kesopanan, santai, kalau kamu dijemur lagi nanti aku bawain nasi padang.-
-Nasi padang ndashmu-

Murod tetap berdiri dipintu dan memberanikan diri menjawab Kyai Khasan

"Kulo didalam aja bah, ada tamu, takut menggangu"
"Sini Rod"
"Di dalem aja bah"
"Kesini"
"Dalem aja bah"
"Ehem.. kalo ndak kesini tak bakar lagi kamu!!!"
"....." Abduh
"....." Rozak

Rozak dan Abduh menarik nafas panjang, punggung mereka berkeringat seketika. Ekspresi mereka langsung berantakan.
Bakar? Bukannya disini hanya ada Pesantren salaf yang mengajar ngaji? Bukan padepokan kanuragan kan? Kyai macam apa yang mengancam santrinya dengan dibakar? Lalu, kalau kami berdua membuat kesalahan tanpa disengaja, nasib apa yang menanti kami? dibakar? sekalian aja SATE KAMI!!!

Khayalan Abduh dan Rozak buyar ketika pemuda dengan nama Murod muncul di depan gubug dengan menunduk malu di hadapan Kyai Khasan. Wajahnya, postur tubuhnya, dan papan di tangannya sejelas musim panas Gunung Slamet. Mereka berdua langsung mengenalinya. 

"Lho,  Mas killing spri?"

Abduh langsung terkesiap menunjuk, Murod mendongak melihat dua orang di depannya, menyipitkan mata. 

"Eh,  kalian berdua? ...  Babi.."
"....." Rozak
"....." Abduh

Alim tersedak terbatuk-batuk. Melotot ke Murod. 

-Babi? ndashmu sing babi rod, ini tamu abah Kyai, beraninya kamu mengatakan mereka babi-
"Ahahaha... sepertinya panjenengan berdua sudah mengenal Murod. Murod ini Mas Abduh dan Mas Rozak. Mas-mas, ini Murod, salah satu santri saya"
"Sudah Kyai, malah kami belum sempat berterima kasih ke Mas Murod setelah menyelamatkan kami dari insiden kecil tadi. Itu juga yang membuat kami cukup terlambat hadiri di kediaman Mas Mus."
"Benar kamu menyelamatkan mereka Rod?"
"Umm..  kira-kira begitu Bah yai."

Kyai Khasan cuma menatap tajam ke Murod, sedang Murod sendiri merasa bahwa tatapan Kyai Khasan lebih dan lebih tajam lagi, tanda bahwa dia tidak akan selamat dari hukuman. 

"Duduk di sebelah Alim Rod. Nah, sekarang saya ingin pendapat kalian berdua tentang niat Mas Abduh dan Mas Rozak untuk berdakwah di depan ini."

Alim terkejut, melirik ke Murod yang sedang mengerutkan keningnya. Kesempatan pikir Alim. 

"Ngapunten Abah, kulo tidak punya ilmu, wawasan dan pengalaman terkait masalah ini. Baik dari budaya masyarakat, pondasi corak islam, serta mentalitas warga menerima hal baru, kulo tidak menemukan kesimpulan yang jelas, mungkin Murod yang bisa menjawabnya"

Murod yang bisa...
Murod yang bisa...
Murod yang bisa... 

Suara Alim menggema seperti petir di otak Murod. Matanya melirik Alim dengan penuh nafsu mencabik-cabik. 

-Jangkrik!!! kamu jual aku lim, sedulur macam apa ini!!!-

Jika tatapan bisa melukai, mungkin Alim sudah dipotong menjadi empat bagian, bukan, tapi enam belas potongan kecil-kecil. 

Murod mengatur nafasnya, mengumpulkan ketenangannya. Bibirbya komat-kamit membaca do'a. Entah apa yang dibacanya.  

"Jika Abah Kyai adalah mata air, maka Mas Abduh dan Mas Rozak adalah manusia yang akan mendorong orang lain menuju mata air tersebut. Sudah lama Pesantren kita ngurip-nguripi semua mushola dan masjid disekitar desa dengan jamiyahan rutinan, pengajian setiap mingguannya, namun belum ada orang-orang yang secara intens mengajak warga untuk rajin berjama'ah setiap harinya dan yang hadir di jamiyahan rutin juga cenderung masih sedikit. Disini Mas Abduh dan Mas Rozak mungkin bisa menjadi solusi yang akan mengajak warga kampung untuk giat mengajak berjama'ah ke mushola atau masjid dan belajar mencintai masjid sebagaimana zaman para sahabat-sahabat Rosul dulu. Sehingga rutinan jamiyah bisa semakin semarak dan ramai menyambut bulan Ramadhan." 

Rozak dan Abduh tidak bisa menyembunyikan kekagetan di ekspresi mereka. Mendapati bahwa semuda itu Murod memiliki jawaban yang dalam dan bijaksana. Terlebih Alim juga menjawab dengan penuh pertimbangan dan kehati-hatian,  tidak seperti kebanyakan santri yang hanya ingin mengesankan orang lain dengan jawaban-jawaban ngasalnya. 

Rasa penasaran melintas di mata mereka berdua, tentang seperti apa sebenarnya Pesantren asuhan Kyai Khasan, apakah santrinya memang semenakjubkan dua pemuda di hadapan mereka. 

"Tapi..."

Murod menatap penuh tanya kepada Abduh dan Rozak. 

"Silahkan di teruskan Rod... ga papa,  ini proses istifham ko"
"Enggeh bah yai"

Murod berdehem membersihkan tenggorokannya. 

"Tapi Mas Abduh dan Mas Rozak, saya harap berkenan untuk nderek ngaji secara khusus ke Abah Kyai Khasan.  Apalagi tentang bab fiqih"

Kyai Khasan semakin mengembangkan senyumnya ke Murod. 

"Fiqih? kalau boleh tahu kenapa mas Murod."
"Karena saya melihat mas-mas berdua tadi langsung mandi, berganti pakaian dan sholat ashar di mushola. Tanpa terdahulu mensucikan pakaian atau badan mas-mas. Kelemahan mengidentifikasi jenis najis bisa mengurangi kesempurnaan ibadah mahdoh kita. Padahal jelas apa yang njenengan alami tadi berurusan dengan babi. Babi itu masuk kategori mugholadoh, jadi.. "

"Tunggu sebentar Rod"

Penjelasan Murod disela oleh Kyai Khasan. 

"Lim, Aku pengen ngopi, kedalam bilang ke Sumi untuk menyediakan kopi dan gula, biar ngraciknya disini aja. Tremosnya jangan lupa ya"
"Enggeh bah"

Alim segera memenuhi perintah Kyai Khasan. Beberapa menit kemudian Alim membawa nampan berisi gelas, kopi dan gula. Sedang di belakangnya ada Kang Mus membawa tremos. Setelah meletakan itu semua, Alim kembali duduk di sebelah Murod dan Kang Mus masuk ke dalam lagi menjaga warungnya. 

"Monggoh,  silahkan di racik sendiri. Saya pernah dengar kalau kopi racikan teman-teman dari jama'ah njenengan itu yang terbaik."

Abduh dan Rozak tidak keberatan, mereka berdua langsung meracik kopi di gelas-gelas yang disediakan seterampil barista profesional. Meski tidak menambahkan gula tapi wangi kopi terasa lebih khas ketimbang racikan Alim yang jago bikin kopi, meski level Alim masih jauh di bawah Kang Mus dan Yu Sumi, tapi level Abduh dan Rozak tidak kalah dengan Kang Mus dan Yu Sumi. 

"Monggoh Kyai, Mas Murod dan Mas Alim, gulanya silahkan disesuaikan dengan selera masing-masing"

Kyai Khasan, Murod dan Alim tidak menunggu lama,  mencampur gula dengan takaran dan mengaduknya. Alim yang pertama meneguk kopi tersebut. 

"WAAAH, nikmat e Rod."

Murod masih menatap kopi yang dia pegang dan Kyai Khasan tersenyum sambil meneguknya perlahan. 

"Kalau boleh tahu kenapa bisa senikmat ini, Mas Abduh- Mas Rozak?"
"Tidak ada resep rahasia Mas Alim, kami hanya mengikuti standar pembuatan kopi,  apalagi asal kopi yang disediakan Mas Mus sudah sangat baik, hanya saja,  di awal,di proses, dan di akhir kami meminta kepada  Allah agar kopi ini dijadikan enak. Karena kami memang terdidik untuk hanya berharap ke Allah dan bukan kepada selain-Nya."

Alim penuh kontemplasi, memandang Murod yang baru saja menyeruput kopi tersebut dan penuh tanya, seolah-olah seluruh pemahamannya tentang segala sesuatu harus di kaji ulang sepasca ini. 

"Ehem..  kenapa mempelajari islam tidak langsung dari Al qur'an yang jelas-jelas adalah firman Allah sekaligus mu'jizat terbesar Rosulullah? Kenapa harus repot-repot mendaki anak tangga lewat ulama dan orang-orang solih?"

Abduh dan Rozak terkejut mendengar pertanyaan Kyai Khasan. Mendadak rahasia apa yang menjadi keyakinannya seperti sedang di gulung ombak besar. 

"Meski tidak bisa di samakan, tapi ada pola-pola yang bisa dikatakan dengan panjengan berdua meracik kopi tadi. Jika Al Qur'an dan Hadits adalah sumber semua tentang islam dan pemersatunya, maka tremos adalah sumber segala pemersatu racikannya. Mustahil bagi kita yang awam memahami islam dengan melompat langsung mempelajari Al qur'an dan al hadits, level kita terlalu rendah memahami itu semua. Sedang yang paling otentik dengan itu semua adalah para sahabat dan tabi'in yang di ajar oleh para sahabat."
"Namun jelas kita tidak termasuk dalam era tersebut, maka kita butuh tangga untuk menapakinya. Sama halnya dengan kopi ini,  kita masih butuh gelas, mustahil kita langsung meminumnya dari tremos. Maka, saya memberi panjenengan berdua untuk berdakwah di desa ini sesuai dengan apa yang Murod sampaikan.  Adapaun hari ngajinya adalah rabu pagi,  hari dimana cahaya di ciptakan. 
"Apakah mas-mas bisa menerima kondisi ini?"

Abduh dab Rozak masih mencerna apa yang disampakaikan Kyai Khasan, namun langsung menjawab;

"Sami'na wa atho'na Kyai. Terima kasih atas kemurahannya. dan terima kasih juga atas ilmu-ilmu yang di berikan sore hari ini,  juga kepada Mas Murod, Mas Alim dan Mas Mus sekeluarga."
"Jadi begitulah, monggo silahkan undur diri. Saya juga mau balik ke pondok, sudah hampir maghrib ini."

Murod dan Alim berdiri setelah merapikan sandal Kyai Khasan dan bersiap mengantar Abah Kyai ke pondok. 

"Eng..  nganu Kyai.."

Kyai Khasan berbalik, Murod dan Alim bergeser membelakangi Kya Khasan.

"Oh, ada lagi Mas Abduh, silahkan di sampaikan, kalau bisa ringkas nggeh."
"Ah.... "

Abduh memutar otaknya dengan cepat, menyusun yang ingin disampaikannya. Rozak bingung dengan apa yang sedang Abduh lakukan. 

"Terkait insiden tadi, dan pembicaraan Kyai ke Mas Murod tentang hukuman bakar. Saya melihat mas Murod bisa ilmu kanuragan atau silat, pastinya saya yakin pesantren yang mengajarkannya. Kalau diizinkan, saya juga ingin menimba barang satu atau dua gerakan agar dakwah kami kedepannya bisa lebih baik karena ada pegangan bela diri."

Kyai Khasan mengerutkan alisnya, melihat ini Abduh semakin gugup dan melepaskan semua yang ingin disampaikannya. 

"Khususnya Tendangan Killing Sprii Kyai, mohon di pertimbangkan".

"......" Kyai Khasan
"......" Alim
"......" Murod


*Muhammad Fatkhul Bary Lu'ay

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Menang Tanpo Nga(n)shorake #2 (Murod-Alim #15)"

Posting Komentar