Berguru Pada Debu

Angin kumbang selatan menderu
Menerbangkan apa saja yang menghalangi
Termasuk debu ikut melayang kemanapun angin membawanya
Tak pernah bertanya atau protes
Kepasrahan adalah jalan hidupnya
Debu menempel pada kaca  mobil yang mengkilap
Menempel pula pada lantai-lantai yang halus dalam megahnya tempat berteduh
Debu dianggap mengotori dan biang kotor
Yang harus dilap dibersihkan dan dibuang
Tapi tak pernah rendah diri walau dicap sebagai partikel yang kotor
Debu diambil untuk menutupi kotoran manusia dan hewan
Menempel pada najis
Bagaimana debu tak malu ketika menutupi kotoran dr mahluk lain
Ikhlas guna membuat orang tidak menutup hidung dan menutup mata sebab jijik melihat kotoran
Saat darurat kau mensucikan diri dengan debu sebab mau mendirikan kewajiban terhadap Illahi
Najis kecilmu rontok sebab debu
Tapi apakah sombong sebab berguna mensucikan?
Tidak
Mahluk mulia yang diciptakan pertama sang khalikpun dari debu
Tapi apakah merasa menjadi pahlawan karenanya?
Tidak
Debu tetap taat kepada penciptaNYA
Aku berguru pada debu
Tentang keikhlasan
Aku berguru pada debu
Untuk tidak dikasihani oleh sesama
Aku berguru pada debu tentang kepasrahan
Aku berguru pada debu akan ketaatan
Dan aku berguru pada debu tentang cinta yang tak minta berbalas kebaikan
Sebab cinta adalah muara kesucian yang bernama bahagia
Aku masih berguru pada debu.

*Retno A.S
(09.43 pm samping lelaki kecil yang terlelap)

Postingan terkait:

1 Tanggapan untuk "Berguru Pada Debu"