• MENCINTAIMU

    Mukadimah Poci Maiyah Februari 2019

    Kepada puisi dan amtsal-amtsal, kepada syair, sajak dan rasa, izinkan Poci Maiyah di Februari ini mencecapi manismu. Mereguk setetes kata, sesamudera makna dalam lima huruf susun rasi bima sakti berbagai bahasa, ia bernama Hubb, Amor, Ai, liefde, Prema, Pyar, Gra, sarang, Sevgi, amare, iyubov,agapi, tresno dan CINTA.

    Kala itu Simbah pernah berujar ;
    “Diatas hukum ada akhlak. Diatas akhlak ada taqwa. Diatas akhlak ada sabbah-quds-thohar. Dan diatas itu semua ada Cinta.”

    Apakah dicintai sama halnya dengan mencintai? Apakah ikhlas mencintai sama halnya dengan ikhlas dicintai? Apakah bobot makna kata “mencintaimu” menjadi sama? bagi mereka yang telah bersusah payah jatuh, bangun, terseok, terjerembab, luka, hancur kembali mewujud menapaki jalan cintanya, menuju tebing curam keabadian dengan mereka, yang sedikitpun tak mengalaminya? Dan apakah cinta mampu dibendung dengan satu kata atau lahir menjadi ayat-ayat, isyarah-isyarah, tanda-tanda, simbol ekspresi, dari gemuruhnya gelitik rasa di dada, linunya rindu di tulang-tulang sendi, atau hampanya harapan dalam sirnanya, dan ringkikannya di belakang bulu roma leher kita? Ada kekacauan tak terbendung, ada keteraturan tak terbantahkan. Ada gelap dalam terang, ada terang dalam pekatnya kegelapan, dan ada spasi diantara keduanya.

    Maka tak ada lagi rasa yang bisa dijelaskan dengan kebakuan-kebakuan kalimat, hanya metafor yang sedikit banyak bisa menerjemahakan jeroan jiwanya. Cinta tanpa laku fasiklah engkau, dan laku tanpa cinta timpanglah jiwamu.

    Adalah kemudian Poci Maiyah, malam ini, disini, detik ini juga, mengajakmu-ku terbang melintasi sidratil muntaha, menyelami samudera bintang antariksa, mengarungi sumber cahaya ke dalam jiwa-jiwa para Pecinta masyhur dan mastur. Di silau-gelapnya sirr para Penggila yang benar-benar telah benderang diketahui manusia atau hanya aromanya yang sayup-sayup gontai seperti lilin yang tak kunjung redup meski angin zaman berusaha mematikannya.

    Tariklah nafas dalam-dalam dan hembuskan, tekan kuat-kuat tubuh materimu, hingga otot-otot dan pembuluh nadi tubuhmu seakan hampir-hampir meledak dan lepaskan, kemudian, lenyapkanlah segalamu saat ini untuk kembali menyelami makna “MENCINTAIMU’;

    ___________________________________

    Setiap bentuk yang engkau ketahui,
    Mempunyai “mata-air-tetap” di alam tak bertempat :
    Tiada mengapa apabila bentuk itu musnah,
    Karena aslinya kekal.

    Setiap wajah indah yang pernah kau ketahui,
    Semua perkataan penuh-makna yang pernah kau dengar;
    Janganlah bersedih apabila semua itu hilang;
    Karena ia sesungguhnya tidaklah begitu.
    (astaghfirullah.. astaghfirullah.. astaghfirullahil ‘aliyyil adzyim )

    _________________________________

    Apabila mata-air-sumber tak berhenti,
    Cabangnya terus mengalirkan air.
    Karena itu, apa yang engkau keluhkan?

    Pandanglah jiwa seperti hulu,
    Dan semua ciptaan ini seperti sungai:
    Ketika hulu mengucur,
    Sungai mengalir dari situ.

    Letakan kesedihanmu
    Dan teruslah minum air-sungai ini;
    Jangan fikirkan kapan surutnya;
    Aliran ini tiada berhenti.
    (ilahiiy... ilaahiiy ... ilahiy Anta maqsudiy)

    ____________________________________

    Dari semasa pertama engkau memasuki alam wujud ini,
    Dengan tangga ditaruh dihadapanmu,
    Supaya engkau dapat menapak naik.
    Pertama engkau merupakan mineral,
    Dan engkau berubah menjadi tumbuhan,
    Kemudian engkau menjadi hewan:
    Bagaiamana hingga perkara ini sempat menjadi rahasia bagimu?
    ( hasbiyAllah... hasbiyAllah.. hasbiyAllah)

    ____________________________________

    Kemudiannya engkau menjadi insan,
    Dengan pengetahuan, ‘aql dan kepercayaan.
    Pandanglah raga ini,
    Yang tersusun dari tanah-liat-kering:
    Pandanglah bagaimana dia sudah berkembang dengan sempurna

    Apabila engkau berjalan terus dari insan;
    Tiada keraguan lagi engkau akan menjadi malak.
    Apabila engkau sudah meninggalkan bumi ini,
    Kedudukanmu di langit.
    (subbuhun quddusun Robbuna wa Robbul malaikati wa Ruuh)

    ____________________________________

    Lewatilah ke-malak-anmu:
    Masukilah samudera itu
    Supaya tetesanmu menjadi laut
    Yang tidak-terhingga luasnya.
    Tinggalkan kata “putera,”
    Katakan “:yang Maha Esa”
    Dengan seluruh jiwamu.
    (Solallahu ‘ala Rosulillah ... Solallahu ‘ala Rosulillah Muhammad)

    ____________________________________

    Tiada soal jika raga menjadi tua, lemah dan lusuh;
    Ketika jiwa senantia muda.

    [Rummi, Divan Syamsyi Tabriz no 12 : Pancuran Jiwa]
  • Rekomendasi