Napak Tilas Sang Maestro Part II (Murod-Alim #3)

"Itu rombongan apa man?"
"OH NOOO!!!
Aku tertegun dengan ekspresi Maman, dia adalah seniorku di At Tauhidiah, kami selisih satu angkatan, aku mengenalnya ketika tiga bulan lalu sampai di Pesantren ini, dan kebetulan satu kamar dengannya di asrama. Sebagai orang betawi, logatnya sangat kental, dan warung kopi Yu Sumi ini menjadi tempat favorit para santri untuk menikmati waktu luang, termasuk kami berdua. Dulu waktu kutanya, alasan dia setelah lulus SMP kenapa nyantren disini, jawabannya malah absurd.
"Aye pengen kebal bro"
"Kanuragan man? Pondok Pesantren ini kan ga ada ngajari itu?"
"Ebussseh, jangan salah, nyang ane pengen Kebal hati, agar kuat menerima penolakan dari perempuan-perempuan di Indonesia. tsaaaah"


Sejak saat itu kami menjadi akrab satu sama lain. Tapi sore ini ada rombongan laki-laki memasuki gerbang Pondok, dari style busana mereka jelas santri pastinya. Nah, kenapa Maman kaget itulah pertanyaanya.

"Mereka memang siapa man?" Maman tidak langsung menjawab, matanya menyisir tajam satu-satu wajah belasan santri dalam rombongan tersebut.
"Ada pembuat onar, judeg banget ane ma diye. Suwer, usilnya kaga nahan, hampir tiap minggu ada aja warga kampung yang ke pondok karena diye, bikin ulah mulu. Untung ada Bang Alim nyang rada bener bisa ngerem diye"
"Alim? maksudmu rombongan itu angkatannya Kang Alim-Kang Murod, yang sering diceritain temen-temen? yang katanya sesaji orang kampung disawah malah dia colong?"
"NAAAAH NTUU DIYEEE! hilang sudah ketenangan pondok selama enam bulan ini. Owh Tuhaaaan"
"Tuhan mana ni man?"
"Gua tampol jadi onta lu leh!"
Aku tertawa mendengar jawaban Maman. Iya, panggilanku Soleh, Solihul Sohih. Putra ke tiga dari lima bersaudara Bapak Ismaja, seorang mudin di kampung rejo jawa tengah. Lulus Mts, bapaku menyuruh aku tabarukan pada Kyai Khasan Mangun Rejo, di PonPes At Tauhidiah ini. Dan seperti umumnya Pondok Pesantren salaf lainnya, selalu banyak cerita unik, menarik, bahkan mistis. Termasuk fenomena duo santri yang Maman ceritakan tadi Alim-Murod.

Suatu ketika, katanya, asrama sempat digegerkan dengan kemunculan Pocong. Setiap kisaran pukul 01.00-02.30 dini hari ada perwujudan putih-putih melewati kamar-kamar santri, asrama heboh, namun tidak sopan bila sampai Kyai Khasan yang turun tangan. Akhirnya para pengurus sepakat mengadakan jam malam,  ronda, dan mencari tahu kebenarannya. Maman menjadi salah satu santri baru yang terlibat.

Dimulailah malam pertama ronda,  nihil! tidak ada apa-apa. Malam kedua dan ketiga, sama, penampakan tersebut tidak muncul. Hingga satu minggu full ternyata tidak apa-apa, dicabutlah sistem ronda tersebut. Namun suatu malam, Maman berinisiatif akan menambal kitab Kuning pengajian subuh yang ia lewatkan, biasa, karena ketiduran saat pengajian. Kang Alim adalah rujukan utama para santri untuk menambal kitab karena beliau sangat telaten, sayangnya Maman ada urusan setelah isya,  dan Kang Alim menyanggupi membantu Maman menambal kitab di kamarnya diatas pukul 23.00.

Maman menuju kamar kang Alim, melewati koridor asrama. Jam menunjukan setengah dua belas malam,  ntah karena mungkin hari jemuah, dimana kegiatan Pondok libur, dan sebagian santri biasanya pergi keluar. Ada berziarah atau sekedar nonton tivi dan siaran bola di warung Yu Sumi jika ada jadwal. Asrama menjadi sangat hening dan remang, lampu-lampu penerangan sudah dimatikan dari pukul 22.00.

Maman mengetuk Pintu, mengucapkan salam, tidak ada respon. Kamar Kang Alim sudah gelap, Maman ragu, tapi Kang Alim sudah berjanji pikirnya. Maman mengetuk kembali, tidak ada respon.
Koridor asrama gelap, remang, kamar Kang Alim juga gelap, hanya ada siluet-siluet cahaya menembus jendela kamar itu, akhirnya Si Maman memberanikan diri memutar gagang pintu kamar untuk masuk kedalamnya. Saat pintu terbuka ada suara "AAAAAKHG" seperti orang tercekik dari arah depan, Maman melotot. Merinding, Panik, Kaget, Shock!. Melihat ada sosok makhluk terbungkus putih-putih dari kaki hingga kepala. DIDEPAN MATA MAMAN PERSIS, wajahnya Putih retak dengan lingkaran Hitam disekitar dua mata makhluk itu. Sontak Maman berteriak "COOOOOONNNNGGGGG!!!!" "AKKKKKKKHG"

Suara ngeri itu terdengar kembali, Maman terjatuh, kitab berserakan, mencoba lari terbirit-birit pergi, tapi Si Pocong malah melompat kearahnya. Maman ngesot dengan kecepatan buaya buntung menjauh dari kamar Kang Alim, tapi makhluk itu malah mengejar. Keringat sudah mengucur deras, Maman pasrah, dia diam, menutup matanya dan mulai merapalkan ayat kursi. Maman melek, Si Pocong malah semakin mendekat jaraknya, maman menutup matanya kembali. Al falaq, an Nas Maman baca, Ia buka mata, Si Pocong beridiri didepannya tidak bergeming. Hampir seluruh do'a Maman baca, tapi Makhluk Putih-putih itu tetap ada ketika maman buka mata, Maman takbir!.Adzan sepertinya, tapi karena panik, dia malah takbiran ala hari raya idul fithri. "LAAAA ILAA HA ILLALLAHUALLAHU AKBAR, ALLAHUAKBAR WALILLAAAAHI HAMD"

Sudah pada ambang batas, Maman akan kencing dicelana, tapi suara cekikan muncul dari arah depannya "Hihihihi, huahahaha, hehehehehehe"
"Man" Namanya dipanggil, tidak asing, itu suara Kang Alim. Maman mendadak tenang, dan berani membuka Mata. Koridor Asrama masih remang, wajah Kang Alim terlihat dengan peci hitam dan baju batiknya membungkuk didepan Maman. "Cong bang, COONG" Suara Maman masih bergetar parau.
Kang Alim berdiri, Maman melotot kembali, ternyata sosok putih itu masih ada dibelakang Kang Alim. "HIIIY" Nafas Maman kembali seperi tercekik. Tapi kang Alim santai mendekati sosok putih itu dan Menabok kepala si Pocong. si Pocong mengaduh, eh, ko bisa?
"RAIMUU ROD!!! UWIS HE! Ketakutan dia itu!"

Sosok putih berpose kacak pinggang, petentang-petenteng sambil masih tertawa, Kang Alim menyalakan lampu koridor. Dan jelas terlihat bahwa makhluk itu adalah paduan dari mukenah dan wajah yang di make up bedak, hitam lingkaran matanyanya mungkin diambil dari celak mata.

"Aku kaget lim, ashli Shock!!! Lagi dandan ada yang masuk kamar kita, sumpah kaget, bahkan suaraku kaya kambing yang kecekik ikat lehernya. Si Bocah ujug-ujug muncul, ya tak kira maling, aku ya lupa kalo lagi pake kostum ini, ya tak kejar! EH Dia malah baca ayat kursi, ya ga sadar aku, yang penting ngejar! Hua hahahhahaha!"
Maman akhirnya tersadar dan bangkit menyeruduk Murod, memukulinya, tapi Murod dengan enteng menghindar
"Bangsat!!! kutu kupret! Dinosaurus!! Kadal Buntung! SINI LU ROD! JANGAN LARI, Bangkeeeeeeee!"
dan sekarang Si Pocong Murodlah yang dikejar-kejar si Maman.

****
"Woyooo vrooh, yo Maman! "
dua orang pemuda dengan ransel besar di punggungnya menghampiriku dan Maman, yang satu berkulit sawo matang, wajahnya teduh, berpeci, mengenakan sarung dan baju koko, "ini pasti Kang Alim". Dan satunya mengenakan kaos bertulis -Pupuk pilihane wong tani- bercelana Jeans tak berpeci, dan membawa tongkat panjang.
"APA LU CONG,  SYUUUH SYUUH! ngapain dimari? nyang lain masuk pondok lu malah mampir sini!"
sudah pasti yang sedang tertawa berkaos pupuk itu adalah Murod.
"Suka-suka gua Man, sebodo amat lu ngusir, ini warungnya Yu Sumi ko! Kopi Yu dua, biasa. Ah ya, Kang Mus mana Yu Sum? Aku ada oleh-oleh"
"Bapak masih dibelakang tadi mas, nanti juga kesini. Gimana Bakti keagamaannya? tiga bulan di Alas Liyo betah? Mas Murod, Mas Alim? "
"Alhamdulillah Yu Sum, semua lancar"
"Iya Yu, si Alim malah mau diminta jadi mantu disana, hahaha!"
"Wah wah wah, berkah dan sukses berarti bakti keagamaanya"
"Amiiin". Keduanya menjawab ucapan Yu Sumi.

Kang Mus muncul dari dalam. Wajah Maman kecut ada Murod.
"Wah sudah pulang semua dulur-dulur lanangku!"
Murod dan Alim segera bersalaman dan mencium tangan Kang Mus.
"Kang Mus ni oleh-olehnya, bener kata sampean, aneh bisa tumbuh disitu"
Kang Mus menerima tongkat kayu tersebut, sebuah Kayu Jenis Stigi, yang bila dijatuhkan di air akan tenggelam dan hewan-hewan melata berbahaya seperti ular, kodok beracun atau kalajengking biasanya menjauh karena aroma kayu tersebut. Padahal jenis kayu tersebut biasanya tumbuh di pantai-pantai, tapi Murod menemukannya di Alas Liyo.
"Wah saya cuma ngomong kamu malah sampe bawain, makasih rod-lim"
Yang merespon hanya Murod, sedang Kang Alim sedang menanya ini-itu kepadaku, dari nama, asal, pesantren sebelum disini dan sebagainya.
"Tabarukan ya? apik apik, yang penting istikomah ya leh"
"Insya Allah kang Alim"

Kami berlima sekarang satu meja; Aku,  Maman, Alim,  Murod dan Kang Mus. Kopi baru telah tiba, lima cangkir. "Jika iya ahsani taqwiym, ada istilah khoir, hasan,birrun atau mabrur. Kemudian ada title ulin nuha,  ulil abshar, ulul albab. Maka, apa arti Solih bagimu? "
"Kumat!  ospek dadakan dimulai!"
Maman mencibir, Murod cuma tersenyum, bukan, bukan Murod lagi bagiku, tapi Kang Murod. Tiba-tiba menembak pertanyaan itu langsung padaku. Aku masih hijau, tapi baru ini bertemu seseorang yang memiliki pandangan sedalam dan setajam Kang Murod diarahkan kepadaku, bahkan rasanya pertanyaan itu menimbulkan -getaran- kepada "Aku" yang selama ini tertidur didalamku, yang nanti aku mengetahuinya bahwa itu adalah rasa yang disebut dengan "kegelisahan eksistensial" para manusia.


Panggilanku Soleh, Solihul Sohih. Putra ke tiga dari lima bersaudara Bapak Ismaja, seorang mudin di kampung rejo jawa tengah. Lulus Mts, bapaku menyuruh aku tabarukan pada Kyai Khasan Mangun Rejo,  di PonPes At Tauhidiah ini. Dan seperti umumnya Pondok Pesantren salaf lainnya,  selalu banyak cerita unik, menarik, bahkan mistis. Termasuk fenomena duo santri yang ada dihadapanku sekarang ini, Kang Alim- Kang Murod. 


Oleh : Muhammad Fatkhul Barry Lu'ay

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Napak Tilas Sang Maestro Part II (Murod-Alim #3)"

Posting Komentar